[TIPS KITA] WriterTalk #7 : Scriptwriting – Write Technically and Think Visually!
Minggu lalu, saya bertemu dengan JC Deveney, seorang penulis buku dan skenario yang berasal dari Perancis. Beliau sudah menulis skenario selama 14 tahun! Dalam kesempatan belajar dengannya, saya mendapatkan banyak hal baru yang tentu akan saya bagikan dalam seri WriterTalk ini. Seluruhnya akan saya bahas dalam WriterTalk edisi ke-tujuh sampai dengan ke-sepuluh. Nantikan, ya! Yuk sekarang kita mulai dengan serba-serbi menulis skenario, terutama untuk film animasi. Check this out!
Semua film, iklan atau video yang kamu tonton berasal dari skenario!
Dibalik kisah yang kamu lihat secara visual, baik itu dalam bentuk film, iklan atau sekedar video berdurasi pendek selalu ada orang yang berperan dalam menuliskan skenarionya, dia adalahscriptwriter. Pekerjaan kreatif semacam membuat film adalah pekerjaan yang menuntut kerjasama tim, scriptwriter inilah yang biasanya menjadi orang pertama yang bertugas sebelum anggota tim yang lain memainkan perannya. Untuk film animasi, proses selanjutnya setelah penulisan skenario adalah penggambaran storyboard, pembuatan art concept, character and environment modeling, rigging, animating serta diakhiri dengan proses compositing dan editing. (If needed, kapan-kapan saya mungkin akan bahas singkat tentang proses-proses ini). Proses-proses lajutan ini berpatokan pada skenario yang dibuat di awal.
Apakah menulis skenario sama dengan menulis pada umumnya?
Menulis skenario berbeda dengan menulis artikel, cerpen, novel atau posting tumblr. Titik tumpunya tetap sama, yaitu menyalurkan ide dan gagasan dalam bentuk tulisan. Namun, menulis skenario berarti menulis dengan mematuhi berbagai aturan-aturan teknis tertentu. Ya, menulis skenario memang sangat technical. Elemen teknis yang ada dalam skenario terdiri atas scene heading atau slugline(berfungsi untuk menjelaskan kepada pembaca tentang waktu dan tempat sebuah adegan terjadi),general description (berfungsi untuk menjelaskan deskripsi visual dari scene heading), character nameatau nama karakter/tokoh, dialogue, parenthetical (keterangan perasaan atau gesture karakter), shot(penggambaran angle kamera) dan transition (bagaimana visualisasi perpindahan satu scene ke sceneyang lain).
Bagaimana caranya agar kita dapat menulis skenario yang sesuai dengan standar teknisnya? Tentunya dengan mempelajari teknis penulisan skenario dan banyak berlatih. Awalnya memang membingungkan, tapi lama-kelamaan pasti akan menyenangkan.
“When you write for script, especially animation script, think that you are working for the moving images!”
Yup, menulis skenario, terutama skenario untuk film animasi, menuntut kita untuk dapat berpikir secara visual. Kita dituntut untuk bisa menerjemahkan bahasa-bahasa tulisan menjadi bahasa visual. Mengapa? Skenario dibuat dengan tujuan agar suatu cerita dapat tergambarkan secara visual. Oleh karena itu, di dalamnya juga mencakup penggambaran outline dan latar cerita secara detail, dari mulai penggambaran sudut kamera, dialog, aksi, sound effect sampai dengan penggambaran bagaimana satu frame berpindah ke frame yang lain.
Ketika menuliskan novel atau jenis tulisan lain selain skenario, pembaca memiliki kebebasan untuk memvisualisasikan apa yang mereka baca. Namun, menulis skenario tidak demikian. Seluruh anggota tim yang membuat sebuah film harus memiliki penggambaran visualisasi yang sama, atau minimal senada. Hal ini bukan hanya dilakukan dengan membuat skenario yang benar-benar detail, tapi juga dengan melakukan komunikasi dan diskusi yang sehat.
Bagaimana caranya agar kita bisa membiasakan diri untuk berpikir secara visual? Banyaklah menonton, melihat gambar atau memperhatikan pemandangan visual yang ada di sekitar kita. Dari satu gambar yang kita lihat, kita bisa membuat cerita lho!
Menulis skenario berarti menulis dengan cara yang berbeda, dengan proses kreatif yang juga berbeda. Gimana, mau jadi penulis skenario?
Ditulis oleh: @novieocktavia
Diambil dari: novieoctavia