#EpisodeBerdialog 4 :
Sinkronkan Tujuan dan Makna Hidup : Belajar Melepas Rem dan Tetap Melaju
Tujuan hidup, makna hidup dan produktivitas adalah 3 insight yang saya dapat dari narasumber saya kali ini. Narasumber kali ini adalah seorang teman lama saya ketika kuliah. Saat ini dia menyibukkan diri menjadi seorang trainer dan motivator dengan produktivitas yang gila-gilaan. Awalnya memang produktivitas menjadi topik pembicaraan utama kami, tetapi lebih dari itu, saya menemukan fondasi yang melatarbelakangi produktivitasnya yang luar biasa, yaitu bagaimana ia memegang erat tujuan dan makna hidupnya dan konsisten menjalankannya.
Sebelumnya mari kita definisikan 3 insight kali ini...
Tujuan, menurut McKnight dan Kashdan (2009) adalah “pusat, tujuan kuat mengorganisir hidupnya sendiri yang mengatur dan menstimulasi tujuan, mengelola perilaku, dan memberikan rasa makna”
Pusat artinya adalah bagian yang konsisten dan dominan dari kepribadian seseorang, mengorganisir hidupnya sendiri akan tampak pada penyediaan framework untuk pola perilaku sehari-hari, dan tujuan hidup dalam arti bahwa sesuatu yang terus-menerus dikejar dalam hidup. Kashdan dan McKnight (2009) menggambarkan tujuan sebagai kompas—yang memberikan arah pada kehidupan, tetapi seseorang dapat memilih untuk mengikuti instruksinya atau tidak. Jadi tujuan, di bawah kerangka ini, membutuhkan pilihan yang disengaja untuk mengikuti panggilan hati seseorang.
McKnight dan Kashdan (2009) lebih lanjut menyatakan bahwa ada 5 indikator seseorang dikatakan memiliki tujuan hidup:
konsistensi perilaku,
meraih perilaku yang memotivasi,
fleksibilitas psikologis (Baca di #EpisodeBerdialog 3),
alokasi sumber daya yang efisien yang mengarah pada aktivitas kognitif, perilaku, dan fisiologis yang lebih produktif, dan
tingkat pemrosesan kognitif yang lebih tinggi oleh korteks serebral (yaitu, tujuan tidak didorong dari motivasi utama seperti makanan, keamanan, atau kesenangan).
Viktor Frankl (1963) berbicara tentang makna dan tujuan sebagai fenomena yang terkait erat: ia memahami tujuan sebagai produk sampingan dari upaya individu untuk membuat hidup bermakna. Ia menjelaskan bahwa ada “keunikan dan kemanunggalan yang membedakan setiap individu dan memberi makna pada keberadaannya”
Makna hidup, didefinisikan oleh Viktor Frankl (1963) sebagai kehidupan di mana seorang individu memilih untuk bertindak dengan cara yang secara unik dan tepat memenuhi tugas (menyenangkan atau tidak) yang ditetapkan kehidupan di hadapannya.
Bagi sebagian orang, tujuan hidup mungkin untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. Orang lain mungkin percaya bahwa tujuan hidup adalah untuk menemukan dan mencapai pemenuhan pribadi. Dan beberapa orang mungkin merasa bahwa tujuan hidup hanyalah untuk menikmatinya sebanyak mungkin. Bagi sebagian orang, tujuan hidup mungkin adalah untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. Orang lain mungkin percaya bahwa tujuan hidup adalah untuk menemukan dan mencapai pemenuhan pribadi. Dan beberapa orang mungkin merasa bahwa tujuan hidup hanyalah untuk menikmatinya sebanyak mungkin.
Tetapi apapun tujuannya, tidak akan tercapai jika seseorang tidak melakukan sesuatu untuk mencapainya. Dan alat bagi seseorang bergerak dan berperilaku untuk mencapai tujuan kita kenal sebagai produktivitas.
Produktivitas umumnya mengacu pada kemampuan individu, tim, atau organisasi untuk bekerja secara efisien dalam waktu itu untuk memaksimalkan hasil.
Produktivitas individu bergantung pada energi mental dan rasa motivasi internal dan eksternal. Seringkali muncul secara alami dari pekerjaan yang mereka temukan secara bermakna atau berharga. Dan meskipun tidak semua yang harus dilakukan setiap hari dapat memiliki makna pribadi yang mendalam, para peneliti menemukan bahwa mempertahankan fokus pada tujuan jangka panjang yang lebih besar dapat membantu mengaktifkan dorongan dan energi untuk melakukan tugas sehari-hari yang lebih membosankan.
Nah, tujuan hidup, makna hidup, dan produktivitas dapat disimpulkan saling berkaitan satu sama lain. Keterkaitannya akan lebih kita pahami dari dialog saya dengan narasumber kali ini. Simak yuk!
................................................................................................................................
Narasumber :
Alif Robath, S.Psi,CHt,CT (Motivator Humor Psikologi dan Penulis 4 buku berjudul : Aku Bojonegoro, Millenials Begin, Millenials Family dan Tuhan-kah Engkau?)
Instagram : @alif_motivamor
................................................................................................................................
Kenapa dulu pilih jurusan psikologi? Apa yang Anda harapkan ketika belajar dalam studi tersebut?
Berawal dari hobby membaca ketika SD. Awalnya ia suka membaca buku-buku cerita dan sejarah. Kemudian berkemang ketika SMP dan SMA dia mulai berkenalan dengan buku pengembangan diri dan psikologi modern. Buku yang berjudul "The Secret" yang ditulis oleh Rhonda Byrne menjadi buku pertama yang membuatnya tertarik pada bidang psikologi terutama dalam memahami pikiran manusia. Kemudian ketika SMA semakin banyak membeli dan membaca buku pengembangan diri, kemudian termotivasi oleh Mario Teguh. Ia terpukau dengan bagaimana cara beliau (baca : Mario Teguh) dapat menggerakkan banyak orang hanya dengan berbicara selama 1-3 jam setiap episodenya. Jadi, tujuan awal untuk belajar psikologi adalah untuk meraih mimpinya sebagai trainer dan motivator, menjadi orang yang memberikan pengaruh positif melalui bicara. Tetapi ia mengaku tidak ingin menjad psikolog karena kurang suka mendengarkan curhatan oranglain. Saat itu ia berpikir kalau satu-satunya jurusan yang dapat membantu mencapai mimpinya adalah jurusan psikologi.
Apakah ekspektasi Anda dengan realita selama studi sesuai?
Ekspektasinya menjalani studi di psikologi adalah belajar memahami oranglain. Ia percaya ketika ingin menggerakkan oranglain, ia harus memahami siapa orang yang ingin ia gerakkan. Ternyata selama kuliah di psikologi menurutnya menjawab segala ekspektasinya. Tetapi belum semua ilmu terpakai.
Ilmu yang menurutnya menarik adalah ilmu mendengarkan, aktivitas yang awalnya ia hindari dari studi psikologi. Dengan menjadi pendengar yang baik, ia mampu mengembangkan empati, merasakan dan berpikir seperti orang yang ia dengarkan sampai pada menyampaikan gagasan yang sesuai. Ilmu dasar yang melekat baginya adalah nature vs nurture di mana perilaku manusia dipengaruhi oleh banyak hal, mulai dari gen sampai dengan lingkungan yang lebih besar secara langsung dan tidak langsung. Dasar-dasar ilmu tersebut menurutnya menjawab kebutuhannya untuk menjadi motivator. Ia merasa beruntung atas pilihannya dan sesuai dengan jalan yang ia pilih.
Bagaimana dinamika dan hambatan selama studi dan setelah menyelesaikannya? Bagaimana cara Anda menghadapinya?
Baginya hambatan adalah sesuatu yang ia ciptakan sendiri, bukan sesuatu yang lingkungan berikan padanya. Hambatannya selama kuliah adalah kebiasaan buruk mengerjakan tugas dengan sistem kebut semalam dan ketidakseriusannya dalam belajar. Tetapi sepanjang menjalani studi ia tidak merasakan dinamika yang berarti karena menurutnya kuliahnya baik-baik saja. Tetapi hambatan yang lebih besar ia hadapi setelah menyelesaikan studi. Ia awalnya kebingungan mengaplikasikan ilmu yang ia pelajari ke mana. Hambatan selanjutnya adalah keinginannya yang spesifik, yaitu mengaplikasikan hasil studinya di bidang trainer dan motivator, yang mana kesempatan kerjanya kecil. Ia mengaku tidak ingin menjadi HRD, meski kesempatan kerjanya cukup luas, karena tidak sesuai dengan tujuan awalnya dan bertugas lebih banyak di bidang administrasi. Ia menyadari kekurangannya dalam bidang ketelitian yang sangat dibutuhkan di dunia kerja yang bersifat administratif.
Ia ingin menjadi spesialis dalam dunia trainer dan motivator. Konsekuensinya ia harus bersedia bekerja berat di awal dan membangun kepercayaan publik dengan melakukan berbagai metode Personal Branding di 2-5 tahun awal membangun karir. Ia melakukannya dengan menulis buku yang berjudul "Millenials Begin : This is Millenial" dan juga mendokumentasikan performa kerjanya di media sosial untuk mengenalkan kompetensinya pada calon klien.
Hambatan selanjutnya, setelah ia menjadi trainer di sebuah agensi besar, ia ingin membangun usaha sendiri di bidang yang sama. Tetapi karena covid datang membuatnya harus bertahan di awal, karena pekerjaan trainer lebih banyak mengumpulkan orang dalam ruang tertutup, yang mana saat awal covid datang hal itu tidak diperbolehkan. Konsekuensinya ia harus mengambil uang tabungan untuk bertahan hidup dan bersabar di awal.
Apa saja kesempatan yang Anda dapatkan selama dan setelah studi? Bagaimana Anda memaksimalkannya?
Kesempatan selama studi, ia mendapat beasiswa selama 6 semester. 2 Semester dari BRI dan 4 Semester dari kampus. Ia juga memaksimalkan kesempatannya selama berorganisasi dan tergabung dalam kepanitiaan sebagai momen pengembangan dirinya.
Kesempatan pertama setelah studi yang ia dapat adalah ketika ia diterima bekerja di sebuah perusahaan dengan nama besar sebagai HRD. Tetapi karena gaji yang tidak sesuai ekspektasi dan pekerjaan yang lebih ke arah administrasi, tidak sesuai dengan tujuannya, maka ia menolak dan melewatkan kesempatan tersebut.
Selanjutnya kesempatan yang ia dapatkan adalah informasi lowongan untuk menjadi trainer dari temannya, Sukma. Tanpa berpikir panjang ia langsung mendaftar. Kemudian ketika wawancara ia dihadapkan dengan realita bahwa jumlah pendaftarnya 300 orang dari berbagai kalangan, bahkan ada lulusan S2 UGM. Awalnya ia merasa minder dengan seluruh kualifikasi yang dimiliki pesaingnya, tetapi ia yakin memiliki kompetensi dalam public speaking yang menjadi keterampilan dasar yang dibutuhkan. Ia juga tetap meyakini bahwa ini adalah jalannya. Kemudian ia percaya Tuhan mentakdirkannya untuk lolos dan masuk menjadi salah satu trainer dari agensi tersebut.
Kemudian setelah resign, meskipun covid datang dan menghambatnya di awal karir, ia tetap fokus pada tujuannya dengan membangun kembali personal branding-nya melalui buku yang akan segera rilis (judul dan tema masih dirahasiakan, juga saya lupa mencatat). Ia juga berusaha menerima seluruh permintaan klien meski dadakan, karena ia ingin memaksimalkan kesempatan yang datang. Hasilnya mulai terasa. Beberapa lembaga memilih mengundangnya lebih dari 2 kali.
Apa makna produktivitas bagi Anda?
Makna produktivitas menurutnya adalah bagaimana seseorang membuat karya. Bukan hanya tampak pada frekuensi pekerjaannya tetapi lebih kepada bagaimana seseorang melalui prosesnya secara utuh sampai menghasilkan sebuah karya. Ia membedakan produktivitas dengan rutinitas. Baginya, rutinitas adalah kesibukan yang cenderung tidak menghasilkan sesuatu. Ia menitikberatkan produktivitas pada proses dan hasil karya. Contohnya ketika ia menulis buku pertamanya selama 3 bulan. Baginya produktivitas bukan hanya dilihat dari apa yang ia hasilkan, tetapi sejak pertamakali memulai proses menulis itulah produktivitas telah dimulai.
Adakah momen kegagalan yang bermakna buat Anda? Pelajaran apa yang Anda ambil dari kegagalan tersebut?
Pengalaman kegagalan terbesarnya bukan terkait dengan karir yang sedang ia bangun, tetapi pada kehidupan pribadinya yaitu ketika ia gagal menikah. Pengalaman tersebut sempat menjatuhkan mentalnya hingga ia seperti menjadi orang linglung kurang lebih selama 3 bulan. Awalnya ia pendam sendiri, yang mengetahui hanya dia dan ayah ibunya. Kemudian setelah 3 bulan berlalu ia mulai mencoba menyalurkan emosinya melalui tulisan-tulisannya di story instagram. Dengan bercerita ia mulai dapat berdamai pelan-pelan dengan kondisinya dan mulai bangkit untuk melanjutkan tujuannya kembali.
Pelajaran yang ia ambil dari pengalaman tersebut adalah bahwa ia tidak boleh berharap kepada manusia. Kemudian ia juga belajar menerima takdir dan yang telah dilalui. Ia percaya kalau tidak bisa berdamai dengan masa lalu akan menghambatnya untuk melanjutkan hidup di masa depan. Baginya saat ini "what is done, is done!"
Adakah masa di mana Anda mengalami kebingungan melanjutkan langkah? Bagaimana cara Anda bisa memantapkan hati melangkah?
Kebingungan personal untuk melanjutkan langkah tidak pernah ia alami, karena sejak awal ia selalu memilih menjalani sesuai dengan tujuannya. Kebingungannya terletak pada bagaimana ia bisa menjalankan bisnis yang ia mulai se-efektif dan se-efisien mungkin. Karena ia tidak bisa memprediksi kapan ia akan mendapatkan banyak job, kapan job-nya akan sepi. Karena selama ini ia sering diundang secara mendadak dan perlu mengestimasi banyak hal. Kemudian untuk saat ini ia fokus mengenalkan kompetensinya kepada siapapun yang mengundang, sehingga sebisa mungkin ia terima berbagai tawaran yang mendadak tersebut.
Adakah cerita di mana Anda merasa berada di titik terendah dalam hidup? Bagaimana cara Anda bangkit?
Titik terendah dalam hidupnya saat ini adalah momen kegagalan yang telah ia ceritakan sebelumnya. Ia menganalogikan caranya bangkit dari titik terendah seperti seseorang yang sedang mengendarai mobil (inilah yang menjadi inspirasi judul episode berdialog kali ini hihi). Ketika seseorang ingin mobilnya melaju kencang, maka ia harus melepaskan rem tangan yang telah ia pasang sebelumnya. Rem tangan adalah ibarat kegagalan itu sendiri. Ketika ia tidak mau berproses untuk melepaskan dan berintrospeksi diri, atau malah terus meratapi kegagalan dan menyalahkan semua orang dan lingkungan sekitar, maka ia akan terhenti dan terjebak di situasi tersebut. Rem tangan yang ia pasang hanya akan menjadi beban untuknya ketika ia akan melaju.
Keyakinannya untuk menerima takdir dan berprasangka baik bahwa Tuhan sedang memberikan yang terbaik membuatnya mampu melepas rem, terus melaju dan mencegahnya untuk benar-benar jatuh. Ia meyakini bahwa ia tidak boleh berputus asa atas Rahmat Tuhan.
Adakah momen di mana Anda memaknai itu sebagai titik balik? Seperti apa ceritanya?
Ia mengaku belum memiliki momen besar yang menjadi titik balik di mana ia menemukan tujuan besarnya. Ia menemukan dirinya melalui akumulasi dari ratusan buku yang telah ia baca, sehingga membentuk pola pikir, keyakinan dan believe system-nya. Buku yang telah ia baca menyadarkannya bahwa dunia itu begitu luas. Bukan sekedar lulus kuliah, kerja kemudian pensiun. Tetapi ada hal lain yang bisa lebih dieksplorasi seperti yang ia jalani saat ini. Karena ia gila baca, maka momen menemukan dirinya kembali lagi pada buku.
Setelah ini apa yang ingin Anda capai?
Ia memiliki tujuan jangka panjang yaitu ingin memiliki 1000 karyawan dan mencetak 1 juta pengusaha baru. Saat ini ia fokus menginspirasi dan menggerakkan orang untuk terjun ke dunia enterpreneur / usaha baru. Ia mendo'akan mimpinya ini setiap hari. Bantu do'a ya teman-teman pembaca :)
Quote favorit / motto hidup?
"Selalu ada keajaiban di setiap langkah bersama Tuhan"
adalah motto hidup yang ia tulis di buku kenangan SMA-nya dan menjadi pegangan hidupnya hingga saat ini.
Adakah buku yang dapat Anda rekomendasikan untuk dibaca?
Buku favoritnya adalah 7 Keajaiban Rezeki, karya Ippho Santosa.
Baginya, inti dari buku itu adalah di bagian pertama dan kedua. Bagian satu tentang pencarian potensi , kelebihan kelemahan , serta passion. Bagian keduanya tentang bagaimana menyelaraskan impian, cita-cita dan harapan itu untuk membuat impian itu lebih cepat tercapai, membuat jalan lebih mudah yaitu dengan menyelaraskannya dengan orangtua dan pasangan. Kalau bertentangan itu akan merusak hubungan dengan orangtua, ketika hubungan dengan orangtua rusak itu akan mempengaruhi hubungan dengan orang lain.
Sekian #EpisodeBerdialog 4 bersama Alif, semoga pembaca dapat mengadopsi makna dan tujuan hidupnya untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sampai jumpa di #EpisodeBerdialog selanjutnya
Referensi :
Brooks, M. (2020, October 8). What Is the Purpose of Life? Why are we here? Here's a reasonable answer. Retrieved November 8, 2022, from Psychology Today: https://www.psychologytoday.com/us/blog/tech-happy-life/202010/what-is-the-purpose-life#:~:text=Our%20purpose%20is%20to%20%22evolve,is%20to%20continue%20to%20evolve.
Psychology Today Staff. (n.d.). What Is Productivity? Retrieved November 8, 2022, from Psychology Today: https://www.psychologytoday.com/us/basics/productivity#:~:text=Productivity%20generally%20refers%20to%20the,in%20order%20to%20maximize%20output.
Rainey, L. (2014). The Search for Purpose in Life: An Exploration of Purpose, the Search Process, and Purpose Anxiety. Master of Applied Positive Psychology (MAPP) , 1-110.
'What's the Point of Life?': Why You Might Feel This Way
. (2022, May 19). Retrieved November 8, 2022, from verywell mind: https://www.verywellmind.com/whats-the-point-of-life-why-you-might-feel-this-way-5272182















