Desa Longgosipi terletak di Kecamatan Watubangga, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, dan masih menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Secara wilayah, desa ini menjadi bagian dari Indonesia bagian tengah sehingga memiliki perbedaan waktu 1 jam lebih cepat dari Ibukota Jakarta. Longgosipi adalah desa yang secara administratif terbentuk pada tahun 1998, tepatnya di akhir tahun tersebut. Desa transmigran ini merupakan salah satu desa yang tertua di Kolaka. Saat ini telah membentuk 3 desa pemekaran dari Desa Longgosipi yaitu Desa Ranusangia, Desa Mataosu, dan Desa Anauwa. Pemekaran terjadi karena luasnya wilayah Longgosipi pada saat itu.
Menurut sejarah yang diceritakan oleh warga asli desa, Longgosipi berasal dari Bahasa Mornene “Lingkusipi” yang artinya belokan yang sempit. Pada saat itu memang untuk mencapai desa ada belokan yang cukup sempit jalannya, tetapi saat ini jalan tersebut sudah dilakukan pelebaran. Warga sengaja menggunakan nama yang menjadi ciri khas lokasi desa tersebut agar mudah diingat. Berbeda dengan beberapa desa di Pulau Jawa yang dinamai sesuai kisah legenda atau mitos yang terjadi di desa tersebut.
Desa ini terletak sejauh kurang lebih 90 km dari pusat pemerintahan Kabupaten Kolaka. Untuk mencapai desa ini bisa menggunakan jalur darat dengan berbagai jenis kendaraan darat. Dari Kabupaten Kolaka hingga Kecamatan Watubangga jalan sudah beraspal walaupun masih banyak lubang-lubang sepanjang jalan menuju kecamatan. Pemandangan biru teluk bone dan hutan lindung Kolaka menjadi pemandangan paling umum yang ditemui pada jalur perjalanan dari kabupaten menuju kecamatan. Saat sudah sampai Kecamatan Watubangga jalan berubah menjadi jalanan tanah merah berbatu sehingga kepulan debu adalah sahabat selama perjalanan menuju desa. Jalanan off road ini harus dilalui kurang lebih 13 km dan biasanya memakan waktu 50 menit perjalanan hingga sampai ke desa. Jalanan yang berdebu jika kemarau namun menjadi lumpur ketika hujan.
Suku asli Longgosipi adalah Suku Mornene yang juga merupakan suku asli Kabupaten Kolaka. Namun karena Desa Longgosipi adalah desa transmigrasi, kini di desa tersebut terdapat pula Suku Jawa, Sunda, dan Bugis. Bervariasinya suku di desa tersebut membuat bahasa yang digunakan juga bervariasi, namun yang paling umum digunakan adalah Bahasa Bugis. Walaupun Bahasa Bugis yang umum digunakan tetapi suku-suku lain juga mempelajari Bahasa Jawa ataupun Sunda. Bahasa Mornene paling jarang digunakan, hanya sesama orang Mornene saja berkomunikasi menggunakan Bahasa Mornene. Masyarakat desa terbiasa berbicara dengan suara lantang, mungkin karena jarak antar rumah mereka yang cukup jauh. Jarak antara rumah di desa ini antara 5-500 meter. Cukup jauh memang, sehingga warga sering menggunakan motor untuk berpergian bahkan untuk ke rumah tetangga. Letak desa yang berada di perbukitan dengan tanah cadas membuat sumber air sulit ditemukan karena keras untuk digali. Hingga saat ini warga memenuhi kebutuhan airnya dari sumur-sumur umum yang berada dibeberapa lokasi. Tetapi ketika musim kemarau datang maka sumur-sumur tersebut kering, hanya 1 atau 2 sumur yang masih ada airnya. Hal tersebut membuat warga harus rela mengantri berjam-jam untuk mendapatkan air.
Desa Longgosipi memiliki luas daerah sekitar 390 km2 dengan 300 kepala keluarga yang tersebar di empat dusun. Dusun 1 dan 4 banyak dihuni oleh suku mornene dan jawa, dusun 2 banyak dihuni oleh suku Bugis, dan dusun 3 oleh suku maros. Mata pencaharian mayoritas warga Longgosipi adalah berkebun dan menyengso (mencari kayu di hutan). Jenis tanaman yang ditanam masih bervariasi tetapi ada satu komoditas andalan yaitu minyak nilam. Nilam ditanam sebagai investasi jangka pendek karena dalam waktu setahun warga mampu memanen hingga 2 kali, sedangkan investasi jangka panjang warga adalah menanam kelapa sawit, kakao, jambu mente, kelapa biasa, dan pohon jati. Nilam ini baru mulai muncul di desa sekitar 6 tahun lalu, sebelumnya warga sangat bergantung pada kelapa sawit dan kakao, namun kurang menjajikan dibandingkan dengan nilam. Awal kemunculan nilam di desa, warga menjual bahan mentah saja berupa daun yang sudah kering. Baru 3 tahun ini warga mulai mengolah daun kering tersebut menjadi minyak melalui proses penyulingan. Bulan agustus 2016, harga minyak nilam di Kolaka mencapai 475.000 rupiah per kg. Biasanya untuk 300 kg bahan baku kering dapat menghasilkan minyak 7-10 kg, hasil tersebut tergantung dengan kualitas bahan baku dan teknis dalam proses penyuligan.
Meskipun Desa Longgosipi merupakan salah satu desa tertua di Kabupaten Kolaka tetapi desa ini masih tergolong desa terpencil. Hingga saat ini belum ada jaringan listrik terpusat yang masuk ke desa. Sempat beberapa tahun lalu desa mendapat bantuan listrik dari pemerintah dan PT. Aneka Tambang berupa Solar Home System (SHS). Namun saat ini sudah banyak warga yang menjualnya dengan alasan aki yang diberikan telah rusak dan mahal jika harus beli kembali. Selain menggunakan SHS, beberapa warga yang mampu membeli solar dapat menggunakan genset untuk kebutuhan listrik mereka. Mesin genset biasanya hanya dinyalakan 5-7 jam yaitu dimulai dari jam 18.00 hingga tengah malam tergantung kebutuhan warga. Ada yang menghabiskan 2 liter solar dalam waktu sehari, ada pula yang menghabiskan 1 liter solar dalam sehari.
Sejak Mei 2016 sedang berjalan pembangunan PLTS terpusat yang merupakan bantuan dari Kementrian ESDM. PLTS tersupat 30 kWp yang sedang dibangun merupakan bantuan dengan APBN 2016. Secara umum Kabupaten Kolaka pada tahun ini mendapatkan 7 PLTS terpusat yang berada di 6 desa dan 2 kecamatan, Desa Longgosipi adalah salah satunya. Hingga saat ini pembangunan PLTS tersebut masih berjalan dan diprediksi akan selesai bulan oktober nanti. Pembangunan yang sudah mencapai setengahnya berkat dukungan dan gotong royong warga desa dalam memasang beberapa bagian dari PLTS, seperti tiang distribusi kabel, pembangunan rumah pembangkit, dan loading logistik. Nantinya PLTS akan mengaliri dua dari empat dusun di desa, yaitu dusun satu dan dua. Hal ini dikarenakan jarak dusun 3 dan 4 yang sudah diluar jangkauan PLTS. Total rumah yang teraliri sekitar 117 rumah, namun belum semuanya sudah dipasangi instalasi karena masih ada beberapa rumah yang belum selesai dibangun. Tiap rumah akan mendapatkan daya 300 watt sehari, sedangkan fasilitas umum 600 watt untuk masjid dan kantor kepala desa.
Warga berharap PLTS terpusat dapat segera rampung dan menyala karena dari sana desa mereka mulai terang. Jika saat ini mereka yang tidak mampu membeli solar hanya menggunakan pelita di malam hari, maka nanti saat PLTS menyala mereka bisa juga menyalakan lampu di malam hari. Masjid yang saat ini hanya mengumandangkan adzan hanya pada saat maghrib, nanti mampu dalam 5 waktu sehari mengumandangkan adzan. Anak-anak yang kini hanya dapat belajar di sekolah pada siang hari, maka nanti dapat belajar di malam hari di bawah lampu rumah kayu mereka. Setelah bertahun-tahun lamanya desa gelap, hanya saat pada terang bulan desa menjadi lebih terang dari hari-hari biasa. Warga bertekad untuk menjaga PLTS ini bersama agar desa mereka tetap terus terang dan terus maju berkembang.