pagi tadi dapet berita duka, berpulangnya ibu dari seorang sahabat terdekat. malam ini dapat berita kelahiran. bener-bener siklus hidup. rasanya bingung dan linglung. harus switch perasaan dari grieving ke happy tuh gimana, bingung.

#dc comics#dc#dick grayson#dc fanart#batman#tim drake#batfam#batfamily#bruce wayne

seen from United States
seen from United States
seen from Netherlands
seen from Germany
seen from South Korea
seen from China
seen from Japan
seen from China
seen from United States
seen from China
seen from China
seen from United States
seen from Georgia
seen from Netherlands
seen from China
seen from United States
seen from Brazil
seen from China
seen from Malaysia
seen from Canada
pagi tadi dapet berita duka, berpulangnya ibu dari seorang sahabat terdekat. malam ini dapat berita kelahiran. bener-bener siklus hidup. rasanya bingung dan linglung. harus switch perasaan dari grieving ke happy tuh gimana, bingung.
“Kesel kamu tu sama aku, ngaku kamu! Iya kan kesel kan?!”
He take a deep breathe and smiling, saying “kesel, tapi ga mau marah-marah. Tau ga kenapa aku ga mau marah sama kamu?”
“Karena kamu sayang aku kan?”
“Itu betul. Tapi ada satu lagi. Tau ga?”
“Apa?”
“Aku ga mau, dan jangan sampai terjadi, marahku melukai kamu. Makanya, kamu jangan sering bikin aku kesel ya.. karena aku sayang kamu.”
X: “Jadi gimana lu akhirnya bisa dapet izin nyokap lu?”
Y: “Gua ga minta izin. Pemberitahuan aja.
X: “Hah gimana?”
Y: “Minta izin kan nanya boleh apa engga, pasti ga dibolehin. Jadi gua pemberitahuan aja ‘besok ga pulang aku pergi sama A,B,C, sampai hari Z. Walau diomelin tapi keputusan udah dibuat dan dia ga punya pilihan untuk nolak.”
X: “Lo gila sih”
Apa benar hal-hal yang "dirasa" benar adalah suatu kebenaran? Gimana kalau ternyata hal-hal yang "dirasa" benar ga sepenuhnya benar? Kebayang nggak, berapa banyak kesalahan dan kebodohan yang sudah kita lakukan hanya karena dapat pembenaran "rasanya benar kok... rasanya ini hal yang benar kok..." Pertanyaannya, apakah sebuah kebenaran mutlak? Bukannya kebenaran tergantung dari perspektif mana kita melihat? Mau sampai kapan menipu diri dengan melakukan pembenaran dan berlindung dengan "rasanya ini udah bener kok..." "it feels right.."? Lagi-lagi mikir session kali ini mengingatkan saya betapa pentingnya untuk reality check. Harus terus dan selalu reality check. Contohnya; ini beneran kah rasa patah hati sesakit ini? Separah itukah patah hati saya kali ini? Jangan-jangan sebenernya cuma lecet aja tapi emosi berhasil memanipulasi rasa yang ada sampe rasanya kayak patah, padaha cuma lecet? Semangat ya teman-teman. Semangat untuk selalu berusaha jernih, dalam tindakan ataupun pikiran.
Kamu kemana aja kemarin waktu aku perjuangin kamu?
Kamu kemana aja kemarin waktu aku mohon supaya kamu ga pergi?
Kamu kemana aja kemarin waktu aku nunggu kamu?
Kamu kemana aja waktu aku minta kamu balik?
Kamu kemana aja?
Kamu lepasin aku demi ngejar dia yang ngelepehin kamu? Rasain. Mang enak. Karma mu dibayar kontan.
Kadang aku berpikir untuk ga nikah tau. Soalnya, emang ada laki-laki yang mau nerima semrawutnya keluargaku? Walaupun di awal mereka bilang mereka ga akan ninggalin aku dan akan selalu ada, kalau ditengah jalan mereka memilih menyerah, aku paham kok. Aku bisa mengerti betapa sulitnya.
Aku pernah bilang sama seorang teman, kalau nanti pun aku ga menikah, insya allah aku ikhlas. Mungkin takdirku memang merawat ibu dan adik. Tapi yang temanku ga tau, saat aku berkata begitu, hatiku sakit sekali rasanya. Membayangkan aku akan sendirian diujung hidupku, rasanya sedih sekali. Aku takut sekali.
Aku pernah bilang kan, untuk selalu detil saat berdoa? Doaku kini sudah berganti jadi permohonan; “ya Tuhan, kirimkan aku satu orang saja. Satu orang yang bisa bertahan dan tidak akan menyerah kepadaku bagaimanapun keadaannya. Satu orang yang mau menerima dan berjuang bersamaku sampai akhir. Yang menerima dan mencintai keluargaku seperti aku mencintai mereka. Kalau satu orang itu sudah datang, jangan biarkan aku melepaskannya.”
Tolong kabulkan ya, Tuhan?
Aku hanya minta satu orang saja.
Gue emang belom pernah jadi orang tua. Tapi kalau kita jadi orang tua, jangan sampai kasih sayang kita malah menyulitkan anak di masa depan. Terlalu sayang sampai memanjakan, sehingga ketika dewasa anak tidak mandiri dan tidak siap dilepas menghadapi dunia yang berat, keras, dan kejam ini.