RESENSI : LET GO KARYA WINDHY PUSPITADEWI
Let Go bercerita tentang Caraka Pamungkas dan ketiga temannya: Nathan, Nadya dan Sarah. Keempat pribadi yang saling bertolak belakang ini dipertemukan dalam satu komunitas Majalah Dinding Sekolah Veritas. Nathan si Sinis, Nadya si Keras Kepala dan Sarah si Penakut; kombinasi yang menurut Raka tak masuk akal, ditambah dengan dirinya yang membuat segalanya lebih aneh lagi!
Bu Ratna, wali kelas Raka, jelas memiliki alasan tersendiri untuk melibatkan Raka dalam Mading Veritas. Beliau berharap, intervensi Raka dapat membuat keajaiban. Sebuah keajaiban, yang dapat merubah pola pikir ketiga temannya yang dengan background masing-masing, memiliki masa depan masing-masing pula.
Caraka atau akrab dipanggil Raka, dengan wajah security dan hati hello kitty, merupakan pribadi yang blak-blakan ketika berbicara. Ayah Raka, sesosok pahlawan yang menurutnya sempurna, telah wafat akibat kanker paru-paru, meninggalkan ia dan ibunya. Hal ini membuat Raka benci rokok ketika mayoritas temannya justru menghisap nikotin batangan tersebut.
Nathan, yang sikapnya dingin, yang selalu memisahkan diri dari kerumunan, yang selalu mendapat dispensasi olahraga. Dengan sisa waktunya setelah vonis tumor otak, berusaha untuk mengisolasi dirinya dari dunia luar. Hal ini, di mata Raka, justru terlihat sebagai kemunafikan. Nathan justru ingin hidup, ia ingin seseorang mengingatkannya tentang hidup yang layak diperjuangkan ― Raka adalah orang yang menyadarkannya akan hal ini.
Nadya, Sang Ketua OSIS, ketua kelas dan anggota Mading Veritas yang khas akan kepala batunya. Nadya memusuhi siapapun yang berani mengasihaninya, tipikal pribadi tangguh yang tak butuh bantuan. Akan tetapi, pada dasarnya, Nadya hanyalah seorang gadis yang punya batas kemampuan, dan Nadya memahami hal tersebut setelah belajar tentang cara meminta tolong dari Raka.
Sarah, sebagai ketua Mading Veritas, kedudukannya hanya dipaksakan oleh kakak kelas karena ia tak mampu menolak. Hingga pada suatu hari, ia merengek pinta pada Bu Ratna untuk dikenalkan kepada teman-teman yang bias membantunya mengurus Mading Veritas. Sifat penakut dan penurut Sarah membuatnya sering dimanfaatkan dan diolok-olok. Raka memodifikasi sifat tersebut menjadi keberanian yang tetap rendah hati.
Raka yang doyan ikut campur masalah orang lain menjadi jembatan bagi ketiga temannya yang tersesat. Nathan kehilangan motivasi untuk hidup sejak kematian ibunya. Nadya runtuh akibat gengsi dalam meminta tolong. Sarah miskin percaya diri dan keberanian. Sementara Caraka? Ia punya cara tersendiri untuk menyadarkan teman-temannya.
Konflik utama dalam cerita Let Go merupakan hubungan persahabatan Caraka dan Nathan. Bagi Nathan, Caraka adalah tukang ikut campur. Bagi Caraka, Nathan tak sedingin yang orang-orang katakan. Nathan mengidap tumor otak stadium akhir. Ia menolak dioperasi karena tak memiliki alasan hidup. Ibunya yang sangat Nathan sayangi telah meninggalkannya sejak kelas 3 SMP.
“Hanya keajaiban yang bisa membuat saya mau dioperasi.”
Sesungguhnya Nathan sangat peduli pada Raka. Hal ini diperlihatkan dari sikap Nathan yang biarpun sinis, ia tak pernah benar-benar bisa meninggalkan Raka sendiri ketika Raka berkutat dengan masalah. Nathan meminta maaf ketika Raka ada salah paham dengan teman-temannya akibat Nathan. Nathan membela Raka di depan teman-teman sekelas ketika Raka dicemooh oleh gurunya. Nathan menjadi tutor Raka dan teman-temannya untuk membantu mereka lulus sekolah dengan lancar. Nathan menyadarkan Raka bahwa sesungguhnya Raka tak membenci ayahnya.
“Maaf. Gara-gara aku, kamu jadi nggak ikut latihan sama yang lain. Dan kita juga nggak jadi bikin tugas fisika.” ― Nathan kepada Caraka.
“Orang yang baca banyak buku dan menguasai sejarah kayak kamu nggak mungkin bodoh. Kamu cuma sial karena hidup di tempat dan waktu ketika kamu dibilang bodoh kalau nggak pintar sains. Apa salahnya hebat di bidang yang nggak berhubungan dengan angka?” ― Nathan kepada Caraka.
“Kamu nggak benci ayahmu. Kamu pura-pura benci justru karena kamu sangat mencintainya. Kamu nggak sanggup menerima kenyataan kalau dia sudah meninggal.” ― Nathan kepada Caraka.
Nathan yang apabila menolak cewek selalu dengan kata-kata kasar, Nathan yang bersama Nadya dapat membuat suasana membeku layaknya Benua Antartika, Nathan yang selalu bersikap sinis pada teman-temannya. Raka tahu, semua sikapnya hanyalah kedok. Sebuah topeng yang dipakai Nathan demi melindungi dirinya dari apapun, atau siapapun yang akan membuatnya tak rela meninggalkan dunia.
Rencana itu cukup berhasil, Nathan mengklaim. Hingga Raka datang dan mengintervensi hidupnya; memperkenalkan Nathan pada mimpinya untuk menjadi sutradara, pada kehidupannya yang membuat Nathan merasa empati, pada teman-temannya yang didambakan Nathan.
“Kamu datang dengan segala mimpimu, kehidupanmu, dan teman-temanmu, lalu menyeretku ke dalamnya. Kamu seakan mengejekku dengan memperlihatkan semua hal yang udah nggak mungkin bisa kumiliki. Kamu membuatku merasa tak rela harus meninggalkan dunia ini. Kamu telah menggagalkan rencanaku.” ― Nathan kepada Caraka.
“Kamu masih bisa memiliki dan merasakannya! Kalau memang mau mati, kenapa kamu nggak diam di kamar dan tunggu sampai waktunya? Kamu masuk sekolah justru karena kamu masih ingin hidup! Kamu itu salah satu yang layak diperjuangkan bagiku!” ― Caraka kepada Nathan.
Konflik utama ini dibumbui beberapa konflik sampingan yang agak ringan. Misalnya tentang rasa suka Sarah kepada Raka yang diawali dari dukungan Caraka untuk memberanikan Sarah ikut lomba essay yang dilarang oleh kakak-kakak kelas Sarah. Sarah yang sebelumnya hanya mengangguk ketika dimintai tolong, kini memiliki keberanian untuk menolak. Sarah yang penakut berubah menjadi Sarah yang tegar ketika ditolak Caraka.
“Maaf! Aku nggak mau! Kuharap kakak-kakak memaklumi keegoisanku ini. Karena kalau soal mementingkan diri sendiri, kayaknya kalian lebih tahu dari aku!” ― Sarah kepada Kakak Kelas.
“Ini kali pertama, aku suka sama seseorang…” ― Sarah kepada Caraka.
“Ini juga kali pertama ada yang bilang suka sama aku. Seharusnya aku lebih tegas sama perasaan sendiri. Terimakasih.” ― Caraka kepada Sarah.
Alasan Raka menolak Sarah sangat jelas, sejelas perasaannya yang tertaut pada Nadya. Nadya merupakan sesosok wanita yang luar biasa di mata Raka. Tangguh, namun tak kehilangan sisi manisnya. Raka membuat Nadya menyadari akan pentingnya meminta tolong saat kesulitan, dan bagaimana Raka akan selalu memihaknya bahkan ketika orang-orang menganggapnya gadis cengeng. Dengan hobby sama, dua pribadi ini ditakdirkan bersatu dalam novel Let Go.
“Ternyata, aku nggak sehebat yang kupikir. Ternyata, aku lemah. Mengerjakan hal-hal sepele aja aku nggak bisa. Bodoh banget kalau aku ingin mengerjakan hal-hal yang hebat. Bodoh banget kalau aku ingin diakui sebagai orang yang hebat.” ― Nadya kepada Caraka.
“Kamu nggak lemah, kamu cuma lupa meminta tolong.” ― Caraka kepada Nadya.
“Aku nggak bawa helm.” ― Nadya kepada Caraka.
“Aku selalu bawa karena aku selalu nunggu-nunggu kesempatan begini.” ― Caraka kepada Nadya.
Di akhir cerita, Caraka berhasil meyakinkan Nathan untuk menjalankan operasi tumor otaknya. Caraka memberikan segalanya yang dibutuhkan Nathan untuk bertahan hidup: Sesuatu untuk diperjuangkan. Atau lebih tepatnya, seseorang. Caraka adalah seseorang itu, bersama dengan Nadya, Sarah, dan teman-teman sekelas.
“Kalau emang menyakitkan, kalau emang berat untuk pergi dan melepaskan persahabatan kita, ambil kesempatan sekecil apapun. Demi dirimu sendiri dan demi aku.” ― Caraka kepada Nathan.
“Kalau aku meninggal di meja operasi, aku akan menghantuimu.” ― Nathan kepada Caraka.
Nathan meninggal setahun kemudian. Tumornya berhasil diangkat, namun karena telah menyebar ke berbagai daerah vital tubuhnya, tak ada lagi harapan. Caraka berjanji akan membenci Nathan selamanya, sama seperti ia membenci ayahnya, agar tak perlu melupakan Nathan.
Dalam edisi Veritas yang ditunjukkan untuk Nathan, Sarah mengutip kata-kata George Bernard Shaw: “Aku bisa kehilangan teman seperti itu dengan kematianku, namun tidak dengan kematiannya.”
Hal yang membuat saya menyukai novel ini adalah karena terdapat banyak pelajaran mengenai masalah psikologis kebanyakan remaja: Harga diri yang tinggi, sifat mudah takut dan tak berani mengungkapkan pendapat. Ketiga masalah ini seringkali membentuk suatu pribadi yang introvert.
Pesan moral yang dapat diambil dari novel ini, antara lain:
Manusia adalah makhluk sosial. Takkan mampu bertahan sendiri. Maka jangan pernah ragu untuk meminta tolong bila berada dalam kesulitan.
Jangan pernah takut untuk mengutarakan pendapatmu sendiri. Rasa takut dapat membunuh kreatifitasmu.
Tidak pintar sains bukan berarti bodoh. Menganggap seseorang bodoh hanya karena tak pintar angka sama saja berkata bahwa Beethoven itu bodoh, Van Gogh itu idiot, dan Shakesphere itu tolol.
“Pada akhirnya, cinta yang kita terima sama dengan cinta yang kita berikan.” ― The Beatles
Tak perlu mencari-cari keajaiban. Bisa jadi, keajaiban itu sedang kamu alami, kamu rasakan dan kamu jalani saat ini.










