Ketika Bersamamu (Lagi) - Part II
Mobilku sudah selesai diperbaiki. Meskipun ongkos perbaikkannya banyak memotong tabunganku, aku tidak punya niat sama sekali untuk meminta ganti rugi kepada Rio. Hari minggu ini, aku coba mengendarainya keliling kota, berusaha menghilangkan rasa takutku memegang kemudi lagi. Aku merasa senang bisa mengendarainya lagi.
Bayu coba menghubungiku dari semalam. Hanya satu kali dari beberapa panggilannya yang aku jawab. Aku pun beralasan 'sedang sibuk'. Aku coba menjaga jarak dengannya (saat ini). Entah kenapa, setiap kali mengingatnya, aku merasa bosan bercampur kecurigaan kalau saja ia hanya memanfaatku.
Matahari baru saja tenggelam dan aku masih ingin berada di luar rumah, berkendara dengan mobil ini. Pada akhirnya aku menjemput Kiki, mengajak untuk berkeliling sebentar. Sambil memesan makanan cepat saji, kitapun bercerita banyak. Aku yakin akan semua hal yang aku bicarakan padanya, namun aku tidak bisa bercerita tentang kecurigaanku pada Bayu. Aku hanya menceritakan bagian 'indah' ketika bersama Bayu kemarin. Karena aku belum yakin atau mungkin hanya asumsiku saja untuk hal yang tidak-tidak kepada Bayu.
Hari ini aku bangun pagi sekali karena bunyi telepon dari Bayu. Aku pun berusaha menjawab sebaik-baiknya. Ia memang sengaja menelpon untuk membangunkanku, Bayu ingin mengajakku makan siang di kantor nanti dan ada beberapa hal yang ingin ia bicarakan juga. Setelah selesai mandi dan sarapan, akupun siap untuk pergi ke kantor.
Ditengah perjalanan, sebuah mobil berusaha membalapku dan mengelaksoni mobilku terus. Lalu ia mensejajarkan mobilku dan tetap memberiku bunyi klakson. Aku terpaksa berhenti dan menepi sebelum mobil itu bersikap lebih aneh lagi. Aku berusaha untuk tidak keluar mobilku sambil menggenggam sebuah 'spray' pelembab untuk kulit. Dengan sedikit takut, aku melihat orang yang mengelakson mobiku berjalan mendekat. Ternyata itu Rio, orang yang berusaha membalapku dari tadi. Aku sama sekali tidak mengenalinya mobilnya, karena ia menggunakan mobil yang berbeda dari kemarin. Tak lama setelah itu, aku pun keluar mobilku.
"Hai Lis" dengan napas terengah-engah sambil memegang kaca pintu mobilku
"Sebenarnya, aku terus menunggu menelpon nomorku, dan kamu tidak kunjung memberiku kabar. lalu, habis berapa biayanya untuk perbaikan mobilmu ini?" tanyanya serius
"Sudah Yo. Tidak perlu kamu ganti. anggap saja ini biaya karena aku jarang merawat mobilku ini" jawabku sambil tersenyum kepadanya
Rio terus memaksaku untuk menyebutkan berapa biaya yang aku keluarkan untuk memperbaiki mobil ini, namun aku selalu saja menolaknya. Hingga akhirnya, aku terpaksa meninggalkan dia tanpa jawaban dariku karena aku harus tiba di kantor tepat waktu. Bagaimanapun juga, ia tampan sekali pagi ini, mengenakan kemeja kotak-kotak dan juga terlihat cukup putus asa karena tidak bisa mengganti uangku. Sepanjang jalan aku berkhayal, merasa ingin libur kerja dan menghabiskan waktu seharian bersama dengan Ryo. Aku masih tersenyum-senyum sampai di kantor. Aku berharap dalam hati, mungkin nanti ada saat yang tepat untuk menghubungi Rio, agar tidak kejar-kejaran seperti tadi di jalan.
Aku terbayang masa laluku dengan Ryo. Entah kenapa aku menjadi tidak napsu makan sama sekali. Aku terus memandangi kartu namanya sudah kupajang di dinding kubikalku.
Tidak lama, Kiki datang bersama Bayu setelah istirahat siang usai, mereka membungkuskanku makanan. Aku teringat kalau Bayu menungguku di kantin sejak istirahat tadi. Ternyata aku tidak mengecek ponselku yang masih di dalam tas dari tadi pagi. Untungnya Kiki bilang kepada Bayu kalau aku sedang fokus menyelesaikan tugasku. Setidaknya sedikit membantu agar Bayu tidak marah kepadaku.
"Kamu sedang jatuh cinta kepada seseorang?" tanya Bayu tiba-tiba
"Ah.. apa.. siapa yang sedang jatuh cinta" jawabku sambil melirik Kiki
Kiki memberikanku ekspresi muka yang datar. Bayu sepertinya tahu kalau aku bertemu lagi dengan Rio. Lalu apa semua ini salah? "Ini semua kan bukan kehendakku!" ucapku dalam hati. Aku pun meminta maap kepada Bayu karena tidak jadi makan siang. Tak lama, mereka berdua pergi meninggalkan mejaku untuk kembali bekerja
Sebelum pulang, seseorang menelpon ke kantorku. Ia mengaku teman dekatku menurut info dari 'frontdesk'. Tidak banyak yang tahu kalau aku kerja di sini. Aku memeriksa ponselku, barangkali ia sudah menelpon ke ponsel dari tadi. Ternyata setelah diperiksa tidak ada pemberitahuan terbaru.
"Halo, dengan Lisa" ucapku ragu
"Halo Lis, ini Rio" jawabnya
".." mendengar suaranya sudah membuatku senang.
"Kamu tahu kalau aku kerja di sini. atau kamu membuntutiku sampai kantor?" tanyaku
"Aku lihat dari tanda pengenalmu tadi pagi. dan aku berpikir kalau kamu kerja di sana" jelasnya
"Hmm,, bagaimana kalau nanti malam aku ajak kamu jalan-jalan" sambung Rio
"Iya aku bisa" jawabku singkat
Rio menungguku di sebuah taman tak jauh dari sekolah kita dulu. Dengan memegang sebuah rangkaian bunga mawar putih, ia menatapku dan berjalan menghampiriku. Taman ini sudah ada sejak kita sekolah dulu, hanya saja kita jarang pergi ke sini malam hari. Kita mulai bercerita mengenai kehidupan masing-masing, sampai aku berani menanyakan 'siapa wanita itu?'.
"Dan wanita yang kemarin itu??" ucapku
"Dia hanya temanku Lis" jawabnya sigap
Rio menceritakan bagaimana hubungannya dengan wanita itu. Ia pernah dekat sebelumnya, sampai akhirnya kemarin dia memutuskan untuk tidak lagi berhubungan dengan wanita itu. Rio berusaha untuk menjemputnya waktu itu karena merasa ingin menolongnya saja. Sesaat sebelum mobilnya menabrak mobil Lisa, ia bertingkah sangat aneh. Tiba-tiba ia berteriak histeris di dalam mobil, menggoda sambil mencoba membuka bajunya, lalu mengajaknya bercinta sambil berkendara. Sampai akhirnya Rio berhasil mengembalikan wanita itu kepada orang tuanya dan menjelaskan bagaimana perasaan Rio yang sudah tidak ingin lagi punya hubungan dengannya.
"Aku minta maap Lis, waktu itu.." ucap Rio
"Sudah, aku sudah memaapkan dirimu kok" sautku sambil mendekapnya erat
Dan sepanjang malam, kita bercerita di taman itu. Malam ini aku dibuatnya bahagia. Candanya, senyumannya, semua tentang Rio membuatku bahagia. Kita juga mengulang beberapa kenangan yang pernah ada antara aku dan Rio. Aku senang bisa dekat lagi dengannya. Dan aku akui kalau malam ini aku jatuh cinta (lagi) padanya.
Sepulang kerja, aku bermaksud bertemu dengan Kiki. Ia mengundangku makan malam di sebuah restoran Jepang. Sampai di sana, aku langsung menuju bilik 'reservasinya'. Entah percaya atau tidak, Rio juga berada di sana. Aku melihatnya sedang mencium Kiki. Aku pikir mungkin aku pergi saja dari sana sebelum mereka menyadari kedatanganku. Air mataku terurai, aku terpaksa berhenti di sisi jalan bebas hambatan. Pikirku, mengapa Kiki tega melakukan itu di depanku.
Kiki masih mencariku. Ia menelpon ke ponselku karena aku tidak mengabarinya atau bisa dibilang tidak jadi datang. Aku yakin kalau ia sama sekali tidak melihatku datang. Aku benar-benar hilang 'feeling' kepada mereka berdua. Selang lima menit, ponselku kembali bergetar. Kali ini bukan Kiki yang menelpon.
"Halo, sedang apa kamu Lis?" Ternyata Bayu yang menelpon menanyakan kabarku
Aku mendatangi Bayu yang tak jauh dari rumahku. Kebetulan ia sedang ada urusan di sini. Sejak bertemu, tidak banyak kalimat yang ku ucapkan. Aku terus menunduk, menahan air mata, dan Bayu masih setia duduk di sampingku. Bayu pun juga ikut diam. Hingga aku merasakan pikiranku sedang melayang-layang.
"Owh, maapkan aku Bay?" tanpa sadar aku sudah bersandar pada Bayu
"Tidak Lis, tidak apa-apa." jawab Bayu
Waktu pun berlalu. Aku sudah cukup tenang. Aku merasa beruntung bersama Bayu malam ini.
Pagi hari, Kiki berusaha mendatangi meja dan menanyakan kabarku tadi malam. Awalnya ia menyapaku dengan riang, seperti biasanya. Tapi, setiap pertanyaannya sebisa mungkin aku jawab dengan singkat. Ia mungkin menyadari sikap dinginku kepadanya dan berkata "Aku sungguh minta maap atas semua yang sudah terjadi" lalu pergi meninggalkan mejaku.
Aku terkejut. Mengapa Kiki bisa berkata seperti itu? Seharusnya ia tidak menyadari kalau sebenarnya aku sudah sampai di restoran tadi malam. Apa mungkin dia memang sengaja berbuat demikian. Aku langsung mencari Kiki ke mejanya untuk menanyakan maksudnya itu, namun ia tidak ada. Setengah jam berlalu, ia masih tidak ada di meja kerjanya. Ternyata benar dugaanku, sudah pasti Kiki berada di sana, parkiran mobil di bawah pohon. Ia sesekali berada disana, tempat ia merokok.
"Hai, Ki" ucapku pelan sambil duduk di sampingnya
"Maapkan akuuuu.. Lisss.." menangis sambil memelukku
Kiki menceritakan apa yang sudah terjadi semalam. Sebelum hari ini, Bayu berusaha mendekatinya dengan mengajak Kiki ke sebuah 'bar'. Kiki memang menyukai Bayu dari dulu. Ia terpaksa minum-minum di sana sampai tidak sadarkan diri. Beruntungnya ia bisa pulang ke rumah malam itu. Esok harinya, Bayu menunjukkan sebuah foto kepada Kiki yang sedang merangkulnya di 'bar' itu (dalam keadaan mabuk). Ia sempat diancamnya. Foto itu dimaksudkan untuk ditunjukkan kepadaku, supaya aku patah hati dan membenci Kiki.
Kiki harus melakukan beberapa hal. Ia menyesal sudah mengambil nomor Rio yang berada di kartu nama yang tertempel di kubikal. Ia menelpon Rio dengan alasan kalau aku menunggu Rio di restoran tsb. Rio tidak mungkin curiga, karena aku sendiri belum pernah memberitahu nomor teleponku. Disamping itu, Rio memang orang yang terbuka dengan orang baru dan ia juga pendengar yang baik.
"Saat tahu kalau kamu sudah sampai di restoran itu, aku sengaja menyuruh Rio mencium wangi parfum yang menempel di pundakku. Aku, maksudku, kita sama sekali tidak berciuman seperti yang kamu lihat. aku sungguh takut dengan Bayu, aku takut kamu marah kepadaku jika melihat foto itu. aku mohon kamu memaapkan aku, Lis" ucap Kiki sambil terus meneteskan air mata
"Aku sudah memaapkanmu Ki. walau bagaimanapun, aku kenal kamu cukup lama. aku yakin kalau kamu tidak mungkin bertindak seperti itu" jawabku sambil tersenyum
Aku coba menghubungi Rio kembali, kali ini aku menggunakan nomor ponselku. Hubunganku dengan Kiki pun semakin baik, bahkan kita sering mengajaknya ikut saat bersama Rio. Ia sudah seperti adikku sendiri. Jika Rio memang ditakdirkan untukku, ia pasti akan datang untukku (lagi) seperti saat ini. (End)