BALADA UNTUK PARA PEMAKAN RAKYAT
Kau duduk di singgasana yang dibangun dari karung beras
—butiran padi yang seharusnya mengisi perut anak-anak nelayan—
sementara kalkulumu menghitung nol di belakang koma
lebih cepat daripada detak jantung pengemis di halte bus
Di balik kaca mobil mewah yang kau beli dari uang bansos
bayanganmu berubah menjadi monster bermata dolar
mulutnya mengunyah sertifikat tanah janda-janda miskin
kukunya yang panjang mencakar dana bansos
hingga luka di tubuh ibu-ibu berbalut sarung
Apa kaudengar ketika kau menandatangani kebohongan?
—tangis bocah yang putus sekolah
gemuruh perut kosong di gubuk reyot
derap sepatu lusuh buruh yang kau potong upahnya—
semua kau bungkus dalam amplop tebal
bersegel “PROYEK NASIONAL”
Kau pikir emas di brankas itu akan menyelamatkanmu?
Lihatlah:
logam mulia itu berkarat menjadi lumpur
mengalir ke selokan-selokan kumuh
menyuburkan benih-benih kutukan
yang akan tumbuh menjadi pohon duri
menusuk generasi keturunanmu
Istana megahmu yang dijaga satpam bersenjata
hanyalah kuburan mewah
tempat arwah-arwah rakyat kecil bergentayangan:
guru honorer yang gajinya kau korupsi
menulis daftar dosamu di dinding marmer
dengan kapur tulis terakhir
Dan ketika kau bersembahyang di masakat mewah
—sujud di atas sajadah emas—
Allah mendengar rintih lebih kencang dari tasbihmu:
doa ibu yang anaknya mati karena tak mampu berobat
dari dana kesehatan yang kau sikat
Tidakkah kau dengar?
Batu nisanmu sudah dipahat
dengan pahat kehinaan
oleh tangan-tangan yang pernah kau remas
di ruang pengadilan yang kau bajak
dengan uang haram
Kau yang mengira diri pahlawan
padahal kau hanya perampok bersetelan jas
pencuri waktu dan harapan
pembunuh masa depan dalam gelas anggur
Tunggulah:
angin pengadilan abadi sedang berembus
membawa bau busuk dari brankasmu
menyapu topeng-topengmu yang berlapis emas
hingga yang tersisa hanya tengkorak
berlabel KORUPTOR
di museum aib sejarah














