Pagi ini sambil cuci piring dan merapihkan dapur bekas sahur tadi aku memutar kisah mengenai Ibrahim bin adham.
Ia adalah seorang raja yang memiliki segala kekuasaannya, namun hatinya kosong sehingga ia melakukan perjalanan untuk mencari makna kehidupan dengan melepaskan segala kemewahan kerajaan.
Ia sangat menikmati perjalanan imannya itu, ia terus beribadah, ia berdakwah menyebarkan ilmu, ia pun bekerja keras untuk menghidupi dirinya sendiri.
Sampai suatu saat anaknya yg dulu masih dalam timangan sekarang telah tumbuh dewasa dan memiliki tekat untuk berkelana juga untuk menemukan ayah tercintanya.
Saat tawaf keempat mata (ayah dan anak) itu bertemu, terdiam dan badan mereka merinding karena pertemuan itu, tapi tak sedikitpun kata yg terucap, hingga mereka saling berpisah kembali. Ayah dan anak itu merasa gelisah selepas pertemuan tadi, tapi sang ayah bertekad jika benar itu putra nya, ia tidak ingin berjumpa lagi, karna jika berjumpa dan berdekatan kembali ia tidak mampu untuk melepaskan mereka dan perjalanan nya akan terhenti.
Murid² Ibrahim bin Adham iba melihat sang guru yg terus gelisah, maka dengan rasa iba itu merekapun mencari sang anak, mereka mencari di perkemahan mewah kerajaan jamaah haji disana. Dan menyampaikan kepada pemuda putra Sang guru, jika ia ingin menemuinya, maka mereka akan mengantarkannya.
Bertemulah ayah dan anak itu dengan penuh haru, memutus sejenak beratnya kerinduan. Berbincang keluarga itu ayah, ibu, dan sang putra. Sampai beberapa waktu, sang ayah menyampaikan "inilah saatnya, Ayah harus pergi melanjutkan perjalanan iman ini, tidak bisa Ayah untuk terus bersama kalian"
Sang anak dengan setumpah tangis cinta dan rindunya memeluk sang ayah, ia peluk kuat ayahnya, dan meminta sang ayah untuk kembali bersama nya.
Sang ayah berada diposisi yang sangat kebingungan, ia sangat ingin melanjutkan perjalanan tapi ia pun tak juga mampu meninggalkan anak kesayangannya dan keluarganya, dalam pelukan itu ia berdoa dengan sangat jujur keinginan besarnya untuk melanjutkan perjalanan tapi ia pun juga tak mampu menolak keinginan putranya. Ia meminta kepada Allah untuk diberikan jalan keluar...
Maka dengan suara lirih sang anak mengucapkan "laillahaillah muhammad darasulullah" Sang putra wafat dalam pelukan cinta Sang ayah.
Disitulah Ibrahim bin adham bersyukur, Allah memberikan jalan keluar atas kekhawatirannya. Putranya tidak lagi menanti ayahnya di dunia dengan kerinduan yg menyakitkan, tapi putranya menantinya nya di tempat yg penuh dengan kebahagiaan yang rindu nya tiada lagi rasa sakit....
Jawaban atas permintaan Ibrahim bin adham, terkabulnya permohonan atas doa yang dipanjatkan. Bagi kami orang awam sungguh mengagetkan, "benar ini jawabannya?"
Dan Ibrahim bin adham diberikan pemahaman atas jawaban yg diberikannya. Membuatnya menjadi tenang, membuatnya semakin kokoh imannya, tapi bagaimana dengan kami?..
Kadang kamipun mengalaminya, jawaban atas doa terasa berat sekali dipikul, kadang justru karna keburukan diri justru berakhir pada kecewa dan suudzon atas takdir. Bertambah tambah kekhawatirannya... Bahkan lisan juga sering kali menyampaikan. "Doaku kurang lengkap, doaku kurang spesifik"
Ya Rabb ampuni kami atas kesalahan, ketidaktahuan, dan kebodohan kami.
Bimbing kami untuk memahami atas setiap gurat takdir yg Engkau tetapkan,.. bantu kami, bantu hati kami untuk kuat kokoh bahwa setiap takdirmu adalah yg paling terbaik bagi kami, karna cintaMu pada kami lebih besar daripada cinta orang tua kami sendiri.