Inilah Mengapa Saya Memilih Mencegah Korupsi
Sebagai seorang anak perempuan yang tumbuh bersama dengan kedua orang tua di sebuah kota besar, saya merasa saya telah mendapat cukup keamanan dan perlindungan dari mereka. Saya merasa tidak takut untuk melakukan apapun. Saya juga tidak takut berkenalan dengan orang banyak karena sekalipun orang-orang itu punya niat buruk terhadap saya, ada orang tua saya yang akan terus melindungi dan membela saya. Namun setelah saya tumbuh menjadi remaja, saya mulai tahu bahwa dunia saya tak lagi seaman dan sedamai itu, walaupun saya masih bersama kedua orang tua saya.
Kini saya mulai mengerti bagaimana sistem di kehidupan yang sebenarnya. Hal itu saya sadari semenjak saya menginjak bangku Sekolah Menengah Atas. Saya tersadar ketika ada hal yang sangat tidak sesuai dengan apa yang saya dapat selama saya belajar di sekolah. Saya rasa tiap guru mengajarkan hal yang sama, yakni untuk tidak mengambil yang bukan milik ataupun haknya. Namun, di satu hari, saya mulai sadar bahwa ketika dalam keadaan “kepepet”, tindakan seseorang tidak akan sesuai dengan apa yang telah diajarkan kepadanya.
Kejadian itu telah membuat saya takut akan lingkungan dan bahkan kota saya sendiri. Harapan serta apresiasi saya terhadap orang-orang itu hanya menjadi ilusi; walaupun ini yang mendorong saya untuk membuat perubahan. Saya mencoba memulai perubahan dari diri saya sendiri. Saya mulai mencari tau apa sebutan untuk tindakan-tindakan diatas. Mereka semua disebut melakukan “korupsi”, yang mana sekarang ini sudah menjadi masalah yang mengakar di kehidupan bermasyarakat. Kenapa mereka korupsi? Karena mereka punya kuasa untuk melakukan itu semua, diluar rasa terpaksa ataupun sedang dalam keadaan “kepepet”.
Kuasa merupakan faktor utama yang tidak dapat dielakkan sebagai penyebab terjadinya korupsi. Namun Indonesia memiliki banyak tradisi dan adat istiadat luhur yang mengatur bagaimana seharusnya sikap orang-orang yang memiliki kuasa, termasuk Riau yang memiliki khazanah budaya Melayu. Penggalan syair melayu berbunyi “Merendah tidak membuang meruah, meninggi tidak membuang budi” yang berarti selalu lah berpegang pada kebaikan walau menjadi orang yang berkuasa sekalipun.
Dilansir dari Indonesia Investment bahwa Transparency International, institusi non-partisan yang berbasis di Berlin (Jerman) menerbitkan Indeks Persepsi Korupsi tahunan (berdasarkan polling) yang menilai “sejauh mana korupsi dianggap terjadi di kalangan orang-orang yang memiliki kuasa” di Indonesia. Indeks Persepsi Korupsi Tahunan ini menggunakan skala dari satu sampai sepuluh. Semakin tinggi hasilnya, semakin sedikit (dianggap) korupsi yang terjadi.
Sumber: Transparency International
Angka-angka di atas menunjukkan bahwa Indonesia melakukan perbaikan yang stabil dan nyata. Hal ini tentu saja tidak lepas dari peran penting KPK dan kebebasan media Indonesia dalam mencegah korupsi sehingga mereka perlu diberikan pujian ataupun apresiasi. Selanjutnya, apa yang bisa kita pribadi lakukan juga untuk mencegah korupsi? Saya memulainya dari lingkup yang terdekat. Ayah merupakan sosok yang saya anggap sebagai panutan. Dari kecil ayah mengajarkan saya untuk jujur terhadap diri sendiri, bersyukur dan belajar bertindak sesuai dengan kebenaran. Ayah secara pribadi juga telah menerapkan itu di kehidupan bermasyarakat.
Pernah satu hari, ayah dihadapkan pada pilihan yang sulit yakni menerima sebuah pekerjaan dengan keuntungan yang melebihi pendapatan ayah biasanya atau tetap pada posisi ayah sekarang walaupun hanya dengan pendapatan yang pas-pasan. Pastilah itu menjadi godaan yang besar mengingat akan jumlah tanggungan ayah dan banyaknya kebutuhan yang harus dipenuhi. Awalnya ayah mencoba menerima pekerjaan itu, namun ayah merasakan ketakutan dan ketidaknyamanan setelah melaluinya. Akhirnya, ayah memutuskan untuk kembali ke posisi awal dan ayah berkata “Memang lain rasanya mengambil yang bukan hak kita, menakutkan”.
Begitu juga yang saya rasakan ketika saya masih di bangku sekolah. Mungkin kebanyakan anak-anak ditemani oleh orang tua untuk sekedar belajar membaca dan berhitung. Saya? Saya mencari tahu dan mempelajari itu semua sendiri, dan setelah itu saya mengajarkan adik saya tanpa ditemani kedua orangtua kami. Bukan karena kami kekurangan perhatian ataupun kasih sayang, tapi itu sudah menjadi karakter kami yang telah dibentuk kedua orang tua kami. Bisa dikatakan saya sangat menghindari yang namanya mencontek. Ketika saya melakukan itu, tangan saya bergetar dan saya ketakutan. Dari situ saya tahu, bahwa saya masih punya rasa takut karena saya tahu itu perbuatan salah.
Hal itu saya lalui hingga saya lulus kuliah. Saat ini saya sebagai lulusan baru justru dihadapkan dengan permasalahan baru. Ya, ketika berada di puncak sulitnya mencari pekerjaan, orang-orang akan mulai berpikir untuk mengambil jalan pintas atau istilah sekarang punya “backingan”. Miris hati saya melihat orang-orang yang hanya mengandalkan kekuasaan dari kerabat atau bahkan keluarganya hanya untuk mendapatkan pekerjaan. Sementara lulusan-lulusan lain yang sangat berkompeten mati-matian untuk mendapatkan pekerjaan. Melihat itu, orang tua saya merasa iba. Namun saya mencoba meyakinkan orang tua saya dengan berkata “Bukan nya kami (sebutan saya untuk diri sendiri di rumah) menolak, Ma. Tapi biarkan kami berjuang dan mencari pekerjaan sesuai dengan kemampuan kami, tanpa ada bantuan dari orang-orang terdekat. Kami masih mampu dan kami merasa masih layak mendapatkan pekerjaan tanpa mama harus menyogok atau memelas dengan orang lain”. Seketika kedua orang tua saya diam dan ada sedikit rasa bangga dari mereka karena saya masih memegang nilai-nilai kebenaran.
Kini saya tahu bahwa kita pribadi bisa mencegah korupsi itu sendiri, dengan cara-cara yang saya sendiri telah melakukannya seperti berikut:
Selalu mendekatkan diri kepada sang Pencipta karena dengan begitu akan timbul rasa takut untuk melakukan perbuatan yang salah.
Edukasi diri dengan mencari tahu sendiri tentang sesuatu hal yang kita belum ketahui. Dari sini saya akan tahu mana yang benar dan salah sehingga kita tidak gampang terjerumus ke hal-hal yang salah.
Selalu berusaha jujur terhadap diri sendiri sebagai bentuk apresiasi terhadap diri. Dengan begitu, saya akan terbiasa untuk jujur terhadap orang lain.
Refleksikan ke diri saya apapun yang hendak saya lakukan terhadap orang lain. Bagaimana rasanya jika hak saya yang diambil orang lain.
Maka dalam peringatan Hari Anti Korupsi Internasional, saya ingin membuktikan melalui tulisan ini, bahwa saya telah ikut mencegah korupsi. Sekali lagi, semua nya kembali ke diri kita. Jika bukan kita sendiri yang mengubahnya, apa bedanya kita dengan para koruptor yang meneriaki koruptor? Inilah mengapa saya memilih mencegah korupsi.