Festival Film Tegal 2019 : Sebuah Catatan di Penghujung Tahun
Kita lazim mendengar bunyi peribahasa Gajah mati meninggalkan gading, dan Macan mati meninggalkan belang. Namun apa yang tertinggal dalam sebuah penyelenggaraan Festival Film ?
Sebelum sampai ke sana, mari sejenak kita menengok ke belakang.
Tepat pada 124 tahun yang lalu, yaitu tanggal 28 Desember 1895, untuk pertama kalinya film dipertontonkan secara luas oleh Lumiere Bersaudara di Grand Café di Paris.
Kemunculan film disambut dengan penuh suka cita karena film dipandang sebagai alat perwujudan mimpi masyarakat Barat yang ingin mengabadikan realitas.
Para penonton berbondong bondong datang dan membayar seharga 1 Franc untuk dapat menikmati pertunjukan film. Peristiwa ini merupakan sebuah model dari ritus sosiologis menonton film yang kita kenal sampai saat ini, yakni menonton film beramai ramai di sebuah bioskop dengan membayar tiket.
Salah satu reaksi masyarakat yang paling sensasional dari awal awal masa kemunculan film adalah saat para penonton berhamburan melarikan diri dari gedung pertunjukan ketika diputarkan film berjudul “ Kedatangan kereta di Stasiun La Ciotat ” ( L’arrive d’un train en gare de La Ciotat), yang memperlihatkan sebuah kereta api sedang masuk ke stasiun.
Para penonton pada masa itu belum terbiasa dengan gambar bergerak sehingga merasa ketakutan dengan kereta yang seperti akan menabrak mereka. Hal ini disebabkan oleh impresi atas realitas dari gambar bergerak yang dihasilkan oleh film yang berkesan sangat nyata.
Demikianlah sinema lahir dan memulai perjalanan sejarahnya untuk kemudian terus berkembang dan menjadi matang. Hingga hari ini, sinema terus memperbaharui dirinya dengan berbagai macam kecanggihan teknologi, kaidah estetika dan artistik serta sebagai sintesis dari berbagai lintas disiplin ilmu pengetahuan.
Dan cara pandang kita terhadap sinema sudah tidak lagi sama seperti pada saat kelahirannya.
Sinema hari ini dibuat dan dinikmati dengan cara yang terkontrol dan formulaik. Dari segi pembuatan, standar film “bagus” dan “menarik” acapkali merujuk pada film yang menceritakan kisah tokoh tokoh besar, peristiwa peristiwa besar berikut narasi lengkap tentang tragedi kemanusiaan yang menimpa tokoh utamanya. Karakterisasi tokoh dipoles sedemikian rupa sebagai alat untuk membangkitkan simpati dan daya tarik ke penonton.
Sedangkan sebagai tontonan, aktifitas menonton film telah menjadi ritual yang rigid dan baku. Meski ditonton secara beramai ramai, film tidak lagi dinikmati sebagai pengalaman komunal, melainkan individual. Melalui perkembangan konstruksi naratif film yang dinikmati di dalam ruang gelap dan didukung dengan teknologi audio visual yang sedemikian rupa, para penonton bersedia melepas sekat imajiner antara realitas dirinya dengan film yang ditonton, sehingga rela untuk hanyut dalam ruang penceritaan dan terlibat secara emosional pada tokoh dalam film.
Namun anehnya, di saat yang bersamaan, para penonton itu juga memasang dinding pembatas dengan penonton lain. Sebisa mungkin, keberadaan penonton lain tidak boleh menginterupsi kekhusyukan menontonnya. Sehingga muncullah berbagai macam konsensus – baik tertulis maupun tidak- yang menjadi tata tertib dalam menonton di bioskop. Para penonton dilarang memainkan gawai dan mengaktifkan mode diam sepanjang pertunjukan berlangsung, dilarang berisik, adanya klasifikasi pembatasan umur dan sebagainya dan sebagainya.
Bahkan terkadang tertawa keras atau mengomentari film dianggap sebagai tindakan yang mengganggu. Meski para pelanggar tata tertib tersebut tidak dianggap sebagai pelaku kriminal yang pantas dipenjarakan, setidaknya mereka mendapat sanksi sosial berupa cibiran dan cemoohan, atau kalo lagi apes ya jadi bahan gunjingan yang viral di media sosial.
Apalagi sekarang bermunculan layanan OTT di berbagai platform, di mana para penonton bisa mengakses film melalui piranti pribadinya secara langsung. Pengalaman sinematik jadi makin individualistik dan terasing.
Bisa dikatakan, sinema telah menjadi medium terpenting di abad 20. Nyaris setiap orang pernah bersinggungan dengan produk sinema, meski ia lebih banyak didiskusikan di ruang berpenyejuk udara dan dinding linimasa oleh kaum terpelajar, serta ditonton oleh mereka yang berkecukupan modal untuk membayar tiket masuk dan sanggup tampil necis untuk hadir di ruang pertunjukan yang berada di tengah tengah pusat perbelanjaan di pusat kota. Dalam konteks kekinian, produk sinema juga siap melayani mereka yang bersedia membayar premi bulanan.
Pendek kata, sinema telah menjadi komoditas ekonomi yang seksi. Pada akhirnya, produk sinema memang diciptakan untuk kepentingan massa yang dalam banyak hal menentukan asal muasal konsumsi tersebut sehingga diciptakan dengan perencanaan yang strategis dalam hitungan bisnis.
Hal ini persis seperti yang Adorno sebut sebagai “Industri Budaya”. Adorno menjelaskan bahwa produksi budaya ditandai oleh beberapa karakteristik, yaitu standarisasi, massifikasi dan komodifikasi. Dengan menggunakan konsep industri budaya, Adorno sebenarnya ingin menekankan bahwa budaya yang diproduksi secara massif dan standard bukanlah berasal dari eskpresi kultural rakyat kebanyakan, tetapi produk dari industri semata.
Tentu tidak salah untuk menempatkan sinema sebagai bahan industrialisasi dan komodifikasi. Sebaliknya, ini adalah praktik yang sangat sah, terlebih dalam situasi kapitalistik seperti sekarang ini. Bahkan akan jadi sangat naif jika kemudian kita menegasikan industrialisasi dan komodifikasi sinema. Apalagi mengingat fakta bahwa ada sangat banyak orang yang menggantungkan hidupnya pada perputaran ekonomi dalam industri ini.
Namun sayangnya kita seringkali lupa, bahwa praktek publisitas media massa dengan tujuan komersil, telah merampas subjektivitas individu sebagai konsumen aktif. Di samping itu, persebaran roda ekonomi dalam industri ini hanya berpusat pada kota kota besar yang dipenuhi oleh masyarakat kelas menengah. Kita jadi abai, bahwa kita juga seharusnya memposisikan rakyat bawah sebagai pelaku atau subyek, bukan lagi sebagai obyek seni dan korban kebudayaan yang pasif.
Berbekal kesadaran ini, lahirlah Festival Film Tegal 2019.
Sejak awal gagasan, Festival Film Tegal 2019 memang diniatkan untuk menjadi sebuah perayaan kebudayaan yang bermanfaat bukan hanya sekedar pesta yang dinikmati. Artinya, berbagai kegiatan di dalamnya tidak boleh lepas dari peran masyarakat. Yang ditawarkan dalam penyelenggaraan Festival Film Tegal 2019 adalah pendekatan yang dialogis. Dalam dialog, setiap orang adalah subyek. Media dialog yang ditawarkan adalah kesenian. Kami sepakat bahwa pada hakekatnya rakyat bawah lah yang menguasai kesenian.
Ketika festival film di kota kota besar memilih galeri atau ruang ruang kebudayaan lain yang megah dan bersih sebagai representasi ideologisnya, Festival Film Tegal 2019 justru memutuskan untuk membawa sinema untuk keluar dari zona seni tinggi (fine art). Kami mencoba mengajak masyarakat untuk turut aktif terlibat dalam proses berkesenian dan bukan hanya menjadi obyek seninya. Sinema harus terjun langsung ke kalangan rakyat bawah dan memberikan manfaat. Baik dalam bentuk perluasan horizon pengetahuan, maupun dalam pemanfaatan transaksi ekonomi.
Kami mengimani bahwa semua orang adalah sama dan setara di hadapan seni, dan tidak ada satupun bentuk atau medium seni yang lebih tinggi atau lebih rendah dari bentuk seni lainnya. Untuk itulah kami menampilkan pertunjukan sinema bergandengan dengan pertunjukan kesenian rakyat lainnya, seperti debus, tari tarian lokal, hadroh dan rebana, pantomim, pentas sanggar anak, komunitas teater setempat, bahkan komunitas ibu ibu PKK. Kami percaya bahwa setiap orang memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk mengekspresikan kesenian yang digemarinya. Untuk itulah kami memilih tema “Egaliter” dalam perayaan festival perdana kami.
Dalam proses pengerjaan, alih alih mengajak para mahasiswa kampus yang mewakili kaum terdidik, kami justru lebih memilih untuk berkolaborasi dengan para pemuda Karang Taruna setempat. Justru dari situlah kami menemukan spontanitas sebagai bentuk ekspresi yang asyik dan otentik. Meski sering terbentur dengan kendala pengorganisiran, tapi kami justru mendapatkan suasana guyub khas pemuda kampung. Situasi yang barangkali sulit ditemukan jika bertemu dengan metode ala mahasiswa kampus.
Dalam penerapan gagasan tentang sinema untuk rakyat, ada 2 hal yang dijadikan ujung tombak dalam penyelenggaraan Festival Film Tegal 2019.
Yang pertama adalah tentang konsepsi ruang pertunjukan. Sinema harus dilepaskan dari konteks menara gading dan dihempaskan ke kantong kantong rakyat yang sebenarnya. Sinema tidak hanya bisa dinikmati di dalam ruang nyaman dengan atmosfir tertentu yang mendukung kekhusyukan menonton. Tapi sinema juga bisa dinikmati di tempat yang bahkan susah dibayangkan. Untuk itulah diadakan “Nobar Bioskop Misbar” (Nonton Bareng Bioskop Gerimis Bubar).
Berbeda dengan konsep bioskop misbar di kota kota besar yang hanya menawarkan kesenangan nostalgik dan sensasi eksotisme, yang terkadang sudah menyediakan mantol sebagai antisipasi jika hujan memang benar benar datang. Apa yang dilakukan dalam Festival Film Tegal adalah sebenar benarnya pergumulan ruang dialektis. Setidaknya terdapat 12 titik acara Nobar Bioskop Misbar yang tersebar dari desa terpencil di kaki gunung, ujung gang sempit di tengah pemukiman padat penduduk, halaman parkir rusunawa di area pesisir, hingga ke lapangan besar di samping areal pemakaman.
Sepanjang pertunjukan berlangsung, angin bisa dengan bebas menggoyang layar dan menerpa tengkuk belakang. Alih alih bau wangi popcorn rasa karamel, yang tercium justru semerbak harum kopi sachetan seharga dua ribuan, terkadang diselingi bau rebusan mie ayam, gorengan, cilok dan jagung bakar dari pedagang setempat. Tak jarang pula tercium semilir wangi bunga kamboja, dan bahkan bau prengus serta tai mendil dari kandang kambing di sekitar. Bangsat!
Di sinilah menariknya, sinema kembali berada di ruang komunal. Para penonton bisa dengan bebas berkomentar dan saling bersahutan. Para penonton tersebut bisa melepaskan diri dari sekat di antara mereka dan saling berinteraksi satu sama lain.
Di sisi lain, aktifitas semacam ini juga mampu menggerakkan perputaran roda ekonomi masyarakat setempat. Bukan hanya milik mereka yang mampu melakukan monopoli sebagai kerangka pemaksimalan profit pribadi dan golongan.
Pada kesempatan lain, Festival Film Tegal juga mengajak mereka untuk masuk ke dalam bioskop dan menyaksikan karya mereka atau rekan mereka ditampilkan di layar lebar. Banyak dari mereka yang merasa takjub dan bangga saat melihat muka mereka sendiri atau teman teman mereka ada di layar bioskop. Padahal tak sedikit dari mereka yang baru pertama kali menginjakkan kakinya di dalam gedung bioskop.
Sungguh menyenangkan melihat antusiasme para penonton dalam penyelenggaraan ini. Para penonton Festival Film Tegal 2019 berhasil menikmati reproduksi realitas dalam bentuk dan cara yang lain. Barangkali tak berlebihan jika membandingkan antusiasme masyarakat ini sama seperti saat pertama kali sinema diperkenalkan oleh Lumiere Bersaudara.
Bedanya, pertunjukan yang diinisiasi oleh Lumiere bersaudara itu berbayar seharga 1 Franc. Sementara di Festival Film Tegal 2019 dilakukan secara gratis. Hal ini dapat dipahami karena memang orang Prancis itu terkenal pelit dan perhitungan, sementara kita semua tahu bahwa orang orang Tegal itu dermawan dan penuh kemurahan hati. Itulah kenapa banyak dari orang Tegal yang rela merantau ke kota kota besar dan memberi kalian makan di warung warung mereka. Wahaha….
Poin kedua adalah tentang perayaan Lokalitas
FESTIVAL SEBAGAI PERAYAAN LOKALITAS
Di tengah massifnya gempuran narasi tentang pentingnya globalisasi dan universalitas, isu tentang identitas kelokalan justru makin menggeliat. Jika globalisasi bisa melipat jarak melalui distribusi benda, cara berkomunikasi dan persebaran informasi di seluruh penjuru jagat raya, lokalitas justru sanggup meluaskan dunia yang sempit (terbatas) dengan menyuguhkan kompleksitas dengan cara yang sederhana.
Dalam penyelenggaraan Festival Film Tegal 2019 terdapat kompetisi berupa submisi karya film. Karya karya ini memperebutkan penghargaan di penghujung penyelenggaraan Festival. Ada 38 karya film kategori pelajar dan umum dari Kota dan Kabupaten Tegal.
Namun sejak awal kami mencatat baik baik, bahwa hasil akhir produksi karya film yang berujung pada kompetisi bukanlah tujuan utama. Yang dipentingkan adalah terjadinya peristiwa dialog dan keterlibatan berkesenian masyarakat sehingga membuka ruang ruang kemungkinan baru yang lain di masa depan. Pada akhirnya, para pemenang dari masing masing kategori hanyalah sebagai bentuk bonus apresiasi.
Pada film film hasil submisi tersebut, kami menemukan hal hal menarik tentang cara bertutur. Bisa jadi, cara bertutur para pembuat film di Festival Film Tegal ini sangat berbeda dengan pakem pakem konvensional yang ada. Apalagi jika dibandingkan dengan pakem bertutur ala Struktur Holywood Klasik. Bisa jadi ini disebabkan karena keterbatasan wacana dan pengetahuan mereka tentang konsep naratif. Tapi juga bisa jadi ini adalah bentuk ekspresi bertutur mereka dengan cara yang jujur dan otentik, cara bertutur yang jauh dari polesan bedak dan lipstik.
Bisa jadi, ini adalah cara Masyarakat Tegal dalam merayakan indahnya lokalitas. Kami ingin melihat dunia dengan cara pandang lokal. Mungkin inilah saatnya kami menatap dunia dengan cara kami sendiri dan sesekali memaksa orang lain untuk melihat dunia dengan cara kami.
Apa yang diilakukan oleh Festival Film Tegal 2019 tentu bukan peristiwa yang baru, karena memang tidak ada yang baru di bawah matahari. Kami hanya ingin melangsungkan tradisi baik di rumah kami sendiri. Tapi tentu saja usaha ini tak bisa dilakukan jika kami sendirian. Kami butuh bersinergi dengan banyak pihak agar usaha ini bisa berlanjut sebagai sebuah kesinambungan yang konsisten.
Pada akhirnya, apa yang tertinggal dalam penyelenggaraan sebuah festival film bukan hanya tentang kenangan melankolis sebuah peristiwa atau pencapaian sesaat tentang prestasi tertentu. Festival Film tidak bisa disamakan dengan pekik keriangan dan taburan kembang api di langit di malam tahun baru. Ia tidak meledak dan bersinar untuk kemudian dilupakan oleh rutinitas keseharian yang garing dan membosankan. Festival Film adalah tentang warisan pengetahuan dan perayaan bersama.
Semoga Festival Film Tegal 2019 bisa menjadi permulaan untuk membuka banyak ruang ruang kemungkinan yang lebih baik di masa yang akan datang.
Selamat tahun Baru 2020. Semoga sukses untuk kita semua…!!!