Takbir berkumandang di seluruh penjuru kota. Bersahut-sahutan menyemarakkan suasana malam ini, malam lebaran. Suara deru mobil-mobil di jalan kecil di depan rumahku bercampur dengan suara anak-anak yang tertawa riang sambil sesekali ikut bertakbir dan juga suara tabuhan bedug membuat suasana malam yang biasanya kelam dalam kepekatan hitam dan tenggelam dalam nyanyian sunyi kini berubah meriah, ramai dan penuh suka cita.
Sungguh berbeda dengan suasana di rumahku.
Sepi dan senyap begitu menyesakkan, berpadu dengan atmosfir udara, mendentingkan alunan nada mereka sendiri yang tak bisa kudengar. Memecah keramaian yang terjadi di luar sana, seakan rumahku terpisah dari dunia ini, tidak ikut berputar dalam setiap ritme bumi, tidak mengarungi cakrawala waktu. Hanya keheningan yang bisa ku dengar di sini.
Kegelapan begitu bersinar di dalam rumahku yang amat sederhana, hanya ada cahaya lilin yang apinya terus saja bergoyang karena tertiup angin kencang yang berhasil menerobos kisi-kisi rumah kami yang hanya terbuat dari ayaman bambu yang sudah banyak berlubang.
Angin malam semakin kencang, menenggelamkan aku dalam kegelapan yang sejati, membekukan setiap tetes darah yang harusnya tetap mengalir di setiap pembuluh nadiku, memati rasakan syarafku, memucatkan setiap inci kulitku, mengecilkan semua pori tubuhku. Dingin yang membuatku semakin meringkuk dalam pelukan pada kedua kakiku.
“Nak, tolong..” Aku mendengar suara Ibu meminta tolong padaku dengan suaranya yang ringkih. Sudah seminggu ini Ibu sakit parah, tapi beliau bersikeras tidak mau berobat. Kata beliau uang yang kami kumpulkan lebih baik disimpan untuk lebaran. Padahal menurutku, kesehatan Ibu harus diprioritaskan. Percuma jikalau lebaran kita tidak bisa merayakan kemenangan hanya karena sakit.
“Tunggu, Ibu…” aku meraba permukaan meja demi menemukan sekotak korek api. Setelah aku mendapatkannya dalam genggamanku, aku menyalakan percikan api kecil itu untuk menjadi pelita di atas sumbu lilin yang hanya tersisa setengah. Setelah api memakan sumbu hitam itu, tanganku mengangkat tutup kaleng bekas kue yang digunakan sebagai alas lilin. Tanganku satunya melengkung, menghalau hembusan angin malam agar tidak memadamkan api kecil kami. Dengan hati-hati aku meletakkan lilin itu di tanah dekat Ibu kemudian menghampiri wanita yang telah melahirkan aku itu. Mengamati garis kerutan di wajahnya yang bertambah banyak seiring bertambahnya usia beliau, seiring berlalunya waktu. Matanya yang terpejam menahan sakit yang beliau rasakan membuatku tidak yakin apakah aku sanggup menahan bulir airmata yang siap turun.
Beliau adalah wanita terkuat yang pernah aku kenal.
Semenjak Bapak pergi ketika aku masih kecil, Ibulah yang bekerja, menghidupi aku, adikku, Kakek dan Nenek yang sudah renta. Setiap hari beliau membanting tulang demi kami. Saat itu aku masih berumur sembilan tahun. Jelas tidak bisa membantu Ibu. Ibulah yang bersikeras aku tidak boleh menjadi pengamen apalagi pengemis yang hidup dari belas kasih orang lain. Selama masih bisa berusaha, maka berusahalah. Ibu pula yang memaksaku untuk tidak boleh putus sekolah. Ibu yang menyuruhku untuk belajar dengan giat agar kelak nanti aku bisa memberikan kehidupan lebih baik bagi kami semua. Walau hanya sekolah di SD terbuka, aku tidak malu, yang penting aku masih bisa menuntut ilmu sambil berjualan koran.
Rupanya Tuhan masih ingin menguji kami dengan cobaanNya. Dua tahun setelah Bapak pergi, adikku pun menyusul menghadap-Nya. Tentu saja Ibu yang paling terpukul atas musibah yang menimpa kami. Aku masih ingat beliau mengatup bibir pucatnya saat melihat jenazah adikku ditimbun tanah. Mencoba tegar dan tabah menghadapi cobaan demi cobaan yang silih berganti di dalam hidupnya.
Tak lama setelah adikku pergi, giliran Kakek yang pergi disusul Nenek seminggu setelahnya. Penyakit disentri menyebabkan mereka berdua pergi secepat itu, itulah yang dikatakan Pak Abdul, seorang dokter di puskesmas yang mau mengobati Kakek dan Nenek secara cuma-cuma. Sayang, pertolongan datang terlambat, Kakek sudah terlanjur banyak kehilangan cairan dan faktor usia menyebabkan sulitnya penyembuhan beliau.
Tidak hanya kehilangan keluarga, di tahun ’98 Ibu juga kehilangan pekerjaannya. Pemutusan hubungan kerja karena pabrik tempat Ibu bekerja dulu mengalami penurunan pendapatan yang tak lama kemudian tetap saja menggulung tikar. Kami benar-benar tak punya uang, tak punya harta, tak punya keluarga lagi, Ibu hanya punya aku dan begitu pun sebaliknya. Kami berdua mencoba bertahan hidup di tengah kondisi yang serba kekurangan dan krisis moneter yang menambah kawat berduri yang mencekik leher kami.
Dan lagi-lagi Ibu bersabar.
Ibu, apakah aku bisa setabah Ibu?
Saat Ibu menghadapi cobaan, Ibu masih bisa bertahan.
“Nak,” panggil Ibu lembut. Bisa kurasakan sentuhan tangan yang ringkih itu membelai kepalaku yang tertunduk menahan bulir-bulir airmata yang tidak berhenti turun beriringan entah sejak kapan. Aku mengusap pipiku dengan punggung tanganku dan menatap wajah Ibu yang masih terlihat cantik meskipun di usia mendekati senja.
Aku diam saja saat Ibu membelai lembut kepalaku. Malah aku menunduk menikmati usapan demi usapan penuh kasih dari tangan beliau. Hangatnya kasih Ibuku yang penuh cinta, tak akan bisa kujelaskan dengan kata-kata. Sebesar dunia, sedalam lautan, seluas alam semesta bahkan tak mampu menandingi tulusnya kasih Ibu kepada anaknya, kepadaku. Ibu satu-satunya keluargaku, yang menemaniku setiap harinya, yang berjuang keras demi menghidupiku, dan demi Ibu pulalah aku bekerja keras agar bisa menyenangkan beliau. Dan mimpiku yang ingin kuraih adalah memberangkatkan Ibu ke tanah suci, itu yang beliau idam-idamkan sejak dulu.
Ya Allah, jikalau ada secercah kebahagiaan untuk kami, maka berikanlah semuanya pada Ibu…
“Nak, jangan lupa tegakkan sholat, rajinlah berpuasa dan jangan pernah putus asa untuk meminta pada Allah, kalau doamu belum dikabulkan sekarang, pasti di akhirat nanti semua doamu akan membantumu sebelum dihisab.” kudengar Ibu berkata lirih dan terputus-putus. Aku mengerjapkan kedua mataku dan mendongak pelan. Kutatap mata Ibu lekat. Sebersit rasa tak enak hati menyempil dalam relung hatiku, yang semakin membesar dan terus membesar. Apalagi saat tangan Ibu semakin melemah dan jatuh tak berdaya di kasur tipis pemberian tetangga.
Mata Ibu terpejam, nafasnya menderu sesak. Dadanya naik turun sedikit, tetapi dari kerongkongan Ibu kudengar seperti orang yang sesak nafas.
Baru saja aku berdiri maksud hati mau meminta pertolongan tetangga, atau kalau sempat aku mau memanggil Pak Abdul, takutnya kalau penyakit Ibu semakin parah; aku mendengar Ibu berkata dengan segenap kekuatannya yang ada,
“Laa… Illaaha… Illallaaaah…” kata Ibu, tak lebih dari sekedar desahan pelan yang mengalir tersendat di tenggorokan Ibu. Detik berikutnya aku melihat Ibu menutup mata.
Tanpa pikir panjang aku berlari keluar. Kubuka pintu rumah kami yang bobrok itu keras, tak peduli jika perbuatanku itu bisa saja membuat pintu itu jebol. Tak ada yang penting lagi kini selain meminta pertolongan tetangga.
Tak tahu seberapa kencang aku berteriak, yang kulihat dalam waktu sekejap orang-orang berbondong-bondong mendekatiku dan sebagian masuk ke dalam rumah terlebih dahulu. Semua yang kulakukan di luar kesadaran, seakan bukan aku yang melakukannya. Aku bisa mendengar deru nafasku sendiri. Mendengar dentum kencang jantungku yang sepertinya siap merobek dadaku. Semua rasa seperti berpacu ingin berkuasa mendera tubuh ini, tapi rasanya tubuh ini bukan tubuhku.
Aku tidak merasa berpijak di kakiku lagi. Tidak lemas, tapi aku merasa aku melayang menuju ke tempat Ibu yang kini terbujur kaku. Aku melihat Ibu Annisa sedang meletakkan ketiga jari di pergelangan Ibu, lalu berpindah ke leher Ibu kemudian beliau menggelang.
“Innalillahi wa inna ilaihi roojiuun” itu yang kudengar. Semua harapanku sirna. Seakan ada perasaan yang kosong berbentuk sebesar gunung yang menghimpit dadaku. Sakit sekali, tapi tak bisa di keluarkan. Aku meremas baju tapat di dadaku, mencoba mengusir batu penghimpit yang semu itu hilang, tapi tetap saja rasa sakit itu masih ada, malah semakin menjadi-jadi. Pandanganku memburam, dan berikutnya aku merasakan pipiku basah dan dingin saat tertiup angin. Tapi semua yang ada di hadapanku terasa tawar. Termasuk rasa dingin yang mencekam ini, terasa hambar. Bahkan ketika petir dan hujan beradu gemuruh di telingaku, sepertinya hujan petir di tengah malam sekalipun bukan menjadi momok menakutkan bagiku kini. Meskipun rasanya tanah dan tembok kami bergetar saat dentum petir menyambar sesuatu tempat tertinggi yang dekat dengan rumahku, aku sudah tak peduli.
Aku terduduk di pojok ruangan, hanya bisa melihat satu demi satu orang pergi keluar dari rumahku. Semua rasa dingin yang menusuk tadi akibat pintu yang tak ditutup kini tak mampu membekukan airmataku yang terus mengalir dalam diam.
Ya Allah, cobaan apa lagi yang Engkau berikan pada hamba-Mu ini?
Hamba tak sanggup lagi. Sekarang tak ada lagi yang menjadi tujuan hamba hidup. Semuanya sudah tak ada, Ayah, Ibu, Adik, Kakek, Nenek hamba sudah pergi menghadap Engkau.
Mengapa hamba dibiarkan hidup sebatang kara?
“Allahu Akbar…. Allahu Akbar… Allahu Akbar… Laa ilaaha illallahu Allahu Akbar… Allahu Akbar wa lillahi lhamd”
Suara takbir dari toa masjid masih terus bergema hingga pagi, tapi baru kali ini gema suara takbir di malam hari raya terdengar pilu di telingaku.