Betapa sering kita sebagai hamba memandang luka lebih lama daripada nikmat.
Mengingat kehilangan lebih lama daripada pertolongan.
Menghitung apa yang telah diambil, tetapi selalu lupa berterima kasih atas apa yang masih Tuhan berikan.
Kita menangisi satu pintu yang tertutup, sementara seribu pintu lain masih terbuka lebar.
Kita meratapi satu kehilangan, seolah-olah seluruh hidup telah dirampas dari genggaman.
Anehnya, saat nikmat datang bertubi-tubi, kita menyebutnya hal biasa. Namun ketika satu harapan tak terpenuhi, kita seakan menagih Tuhan dengan nada kecewa.
Padahal, jika Tuhan memperlakukan kita setimpal dengan kurangnya syukur yang kita berikan, mungkin tak banyak yang masih tersisa untuk kita nikmati hari ini.
Sungguh, bukan Tuhan yang kurang memberi. Kitalah yang terlalu sibuk menghitung apa yang tidak ada, hingga lupa betapa berlimpahnya apa yang telah ada. Sebuah sikap yang hanya lahir dari hati yang terlalu sering meminta, namun terlalu jarang berterima kasih.
Written by Aftansa










