My Taurus Therapy:
☕ Coffee favorit
🍝 Good food
🎧 Playlist Lana Del Rey
🛏️ Kasur + AC
🧸 Piyama lucu + lilin aromaterapi
📺 Netflix

gracie abrams

blake kathryn
Fai_Ryy
TVSTRANGERTHINGS
NASA
The Bowery Presents
untitled
Xuebing Du
Game of Thrones Daily
No title available
Show & Tell

ellievsbear
Monterey Bay Aquarium
sheepfilms

tannertan36
official daine visual archive
No title available
ojovivo
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
seen from Malaysia
seen from Belgium

seen from Malaysia
seen from Singapore
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from Colombia
seen from Malaysia

seen from Singapore

seen from Brazil

seen from Hong Kong SAR China
seen from United Kingdom

seen from Türkiye

seen from Netherlands
seen from United Kingdom

seen from Malaysia

seen from Vietnam

seen from Türkiye
seen from United States
@aftansa
My Taurus Therapy:
☕ Coffee favorit
🍝 Good food
🎧 Playlist Lana Del Rey
🛏️ Kasur + AC
🧸 Piyama lucu + lilin aromaterapi
📺 Netflix
Yang kau lihat mungkin hanya seseorang yang tersenyum seperti biasa. Yang tidak kau lihat, la sedang menahan ribuan perang di dalam kepalanya agar tidak tumpah menjadi air mata. Setiap pagi ia mengumpulkan kembali serpihan hatinya, lalu berpura-pura kuat agar dunia tidak semakin gaduh.
Maka sebelum kau melontarkan kalimat yang menurutmu hanya candaan, ingatlah mungkin bisa jadi ia sedang bertahan dengan sisa kekuatan yang bahkan tak cukup untuk membenci hidupnya
Tidak semua perjuangan meminta tepuk tangan, dan tidak semua penderitaan mampu bercerita. Ada yang memikul dunia di kedua bahunya, tetapi masih sempat bertanya apakah orang lain sudah makan. Ada yang hatinya porak-poranda seluas langit, namun bibirnya tetap mengucapkan, "Aku baik-baik saja."
Jika kau tak mampu menjadi tempat pulang bagi lelahnya, setidaknya jangan menjadi batu yang menambah berat takdir yang sedang ia pelajari untuk dicintai.
Written by Aftansa
Aneh sekali, manusia begitu mudah menjadi hakim atas hidup orang lain, seolah-olah timbangan keadilan ada di tangannya.
Kita sibuk menghitung dosa yang terlihat di mata orang lain, sementara dosa sendiri disimpan rapat hingga terasa lebih sepi daripada dasar lautan. Lidah berlari lebih cepat daripada hati, mengabarkan aib dari satu telinga ke telinga lain seakan itu sebuah kebenaran yang harus dirayakan. Padahal belum tentu orang yang sedang kau bicarakan lebih jauh dari ampunan Tuhan dibanding dirimu.
Barangkali yang membuat kita merasa tinggi bukan karena kita lebih suci, melainkan karena terlalu sering berdiri di atas kesalahan orang lain.
Bukankah kita semua pernah jatuh dengan cara yang berbeda? Bedanya, ada dosa yang disaksikan banyak mata, dan ada yang hanya diketahui langit. Maka sebelum sibuk menggunjing hidup seseorang, cobalah bercermin lebih lama.
Sebab bisa saja, dosa yang paling berat bukanlah yang sedang kau ceritakan, melainkan kesombongan yang diam-diam tumbuh di dalam hatimu hingga menjulang lebih tinggi daripada gunung.
Ternyata dunia memang pandai bercanda ya. Ada orang yang meninggalkan luka sedalam samudra, lalu melangkah pergi seolah tak pernah menjatuhkan siapa pun. Mereka tidur setenang bayi, tertawa selepas angin, dan memeluk kebahagiaan baru seakan masa lalu tidak pernah meminta pertanggungjawaban. Sementara aku masih sibuk mengumpulkan serpihan diri yang berserakan ke segala penjuru, seperti seseorang yang diminta menyusun kembali langit setelah bintang-bintangnya dijatuhkan satu per satu.
Lalu hidup berbisik, “Tenang, semua akan adil pada waktunya.” Aku sempat ingin tertawa. Sebab ketika lukaku terasa sebesar semesta, waktu justru berjalan selambat siput yang kehilangan arah. Namun mungkin keadilan memang bukan selalu tentang melihat mereka hancur. Bisa jadi, keadilan yang sesungguhnya adalah saat aku tak lagi membawa mereka di dalam kepalaku, sementara mereka hanya menjadi satu halaman kecil di buku hidupku. Dan mungkin, itulah kemenangan yang tak pernah bisa dirampas oleh siapa pun.
Written by Aftansa
Mereka bilang matamu indah. Aku justru menganggapnya berbahaya. Sebab tak ada yang pernah selamat setelah menatapnya terlalu lama. Tatapanmu seperti laut yang menelan kapal-kapal tanpa meninggalkan puing, membuat siapa pun lupa jalan pulang, termasuk aku. Lucunya, meski tahu akan tenggelam, aku tetap memilih menatapmu sekali lagi. Sebab ada kehancuran yang terasa lebih indah daripada keselamatan.
Written by Aftansa
Ada kebahagiaan yang tak pernah bisa diukur dengan apa pun bentuknya. Menemukan seseorang yang membuatmu tak lagi sibuk menyembunyikan diri. Di hadapannya, percakapan mengalir seperti sungai yang tak pernah kehabisan arah. Hal-hal yang bagi orang lain terdengar remeh, berubah menjadi cerita yang layak didengar berjam-jam. Kau bisa tertawa terlalu keras, membahas hal paling konyol, melompat dari satu topik ke topik lain tanpa takut dianggap aneh. Rasanya seperti menemukan rumah setelah bertahun-tahun berjalan sambil membawa seluruh isi semesta.
Lucunya, orang ternyaman bukan selalu yang paling pandai berbicara. Kadang ia hanya duduk, menatapmu dengan mata yang penuh rasa ingin tahu, seolah setiap kalimatmu adalah cerita terbaik yang pernah ia dengar. Ia tak menyuruhmu menjadi lebih lucu, lebih dewasa, atau lebih sempurna. Bahkan sisi paling kekanak-kanakan dalam dirimu yang selama ini kau sembunyikan, justru ia sambut dengan senyum paling tulus. Dan entah bagaimana, tawa sederhana bersamanya terasa mampu mengalahkan lelah yang telah menumpuk setinggi langit.
Kalau suatu hari kau dipertemukan dengan seseorang seperti itu, jangan buru-buru menganggapnya biasa. Sebab di dunia yang semakin pandai berpura-pura, menemukan tempat di mana kau bisa menjadi dirimu sendiri adalah kemewahan yang tak bisa dibeli dengan apa pun. Tidak semua orang cukup beruntung memiliki seseorang yang membuat pulang terasa ada pada satu tatapan, satu pendengaran yang sabar, dan satu hati yang tak pernah lelah berkata, “Lanjutkan ceritamu, aku masih ingin mendengarnya.”
Written by Aftansa
Di negeri yang sama, masih ada orang tua yang menghitung receh sebelum membeli beras, mahasiswa yang mengubur mimpinya karena uang kuliah, dan pekerja yang menggadaikan tenaganya demi upah yang habis sebelum bulan berganti.
Yang dicuri bukan hanya uang negara tapi sekolah yang tak pernah berdiri, rumah sakit ya g kekurangan alat, jalan yang tak pernah selesai, dan masa depan yang terus dijual sedikit demi sedikit.
Bajingan…
Bahkan seribu kehidupan mungkin belum cukup untuk mengenal diri sendiri. Kita terus berubah, berkali-kali runtuh, berkali-kali tumbuh. Mungkin, itulah harga untuk tetap hidup.
Tidak ada manusia yang benar-benar selesai menjadi dirinya. Setiap hari selalu ada sesuatu yang patah, tumbuh, hilang, lalu lahir kembali di dalam hati.
Ada hari ketika kita merasa setangguh gunung, lalu pada hari lain satu kalimat sederhana saja mampu mengguncangkan seluruh isi dada. Begitulah manusia; belajar tanpa pernah lulus, bertahan tanpa pernah benar-benar terbiasa.
Barangkali kesempurnaan memang bukan tujuan kita. Sebab jika seluruh luka hilang, seluruh takut lenyap, dan seluruh tanya terjawab, mungkin kita telah berhenti menjadi manusia.
Kita sering tergesa-gesa ingin sampai, padahal semesta tidak sedang menilai seberapa cepat langkah, melainkan seberapa berani kita tetap berjalan meski rasanya seluruh dunia sedang runtuh di atas bahu.
Sebab menjadi manusia bukan tentang akhirnya berhasil mengalahkan semua badai, melainkan tetap memilih hidup ketika hati terasa lebih berat daripada seluruh langit yang sedang memikul hujan.
Written by Aftansa
Tuhan dituding memberi takdir yang keji, seakan manusia tak pernah ikut menciptakan tragedinya sendiri. Saat doa tak berujung pada yang diingini, langit dituduh tak peduli. Manusia begitu cepat menggugat Sang Pencipta, seolah hidup memang berutang kebahagiaan tanpa jeda dan luka tanpa makna.
Mereka meminta hujan, lalu mengeluh saat jalanan menjadi becek. Meminta kekuatan, tapi marah ketika diuji. Meminta perubahan, namun membenci proses yang menyakitkan. Anehnya, yang salah selalu Tuhan, sementara keserakahan, ego, dan pilihan-pilihan buruknya sendiri dibiarkan lolos dari pengadilan.
Barangkali yang keji bukan takdirnya, melainkan hati yang hanya pandai bersyukur saat diberi, lalu berubah menjadi hakim ketika kehilangan. Tuhan tetap dipersalahkan atas segala duka, padahal sering kali manusialah yang menanam duri, lalu menangis saat kakinya sendiri berdarah.
Written by Aftansa
POV: You’re eating your gains.
Good food. Better energy. Best investment.
Kaukah Anak Perempuan Itu?
Yang berjalan sambil menyembunyikan runtuhan dunia di balik senyumnya. Yang punggungnya dipenuhi musim-musim yang tak pernah selesai, tetapi tetap memaksa dirinya tegak seolah langit akan runtuh jika ia ikut rebah. Dunia memanggilmu kuat, padahal tak seorang pun benar-benar mendengar suara tubuhmu yang telah lama retak.
Aku sering bertanya, sejak kapan pundak sekecil itu sanggup menggendong gunung tanpa mengeluh? Sejak kapan air mata belajar mengalir ke dalam, hingga dadamu berubah menjadi samudra yang menenggelamkan ribuan badai setiap malam? Barangkali kau telah terlalu sering menjadi rumah bagi luka orang lain, sampai lupa bahwa tubuhmu sendiri juga membutuhkan tempat untuk pulang.
Jika benar kau anak perempuan itu, berhentilah sejenak membuktikan bahwa kau mampu menahan seluruh semesta. Sebab bahkan matahari pun tenggelam setiap senja untuk mengistirahatkan cahayanya. Tidak ada yang berkurang dari dirimu hanya karena memilih lelah. Sebab manusia tidak diciptakan untuk menjadi langit yang terus-menerus memikul petir.
Dan bila suatu hari dunia masih memaksamu menjadi kuat, ingatlah bahwa bunga tidak pernah meminta maaf karena mekar dengan kelopak yang rapuh. Mungkin selama ini yang paling berani bukanlah caramu bertahan, melainkan kenyataan bahwa, setelah berkali-kali dihancurkan, kau masih percaya esok layak disambut.
Written by Aftansa
Dunia gemar bertepuk tangan untuk mereka yang tampak kuat. Setiap senyum dianggap bukti bahwa semuanya baik-baik saja, seolah tidak pernah ada badai yang mengoyak dadanya.
Tak banyak yang bertanya berapa banyak mimpi yang dikubur hidup-hidup, berapa kali ia menjahit ulang hatinya dengan benang yang bahkan sudah putus, atau berapa lautan air mata yang ia telan hingga samudra pun terasa terlalu sempit untuk menampungnya. Ketegaran sering dipuji, tetapi harga yang dibayar untuk memilikinya nyaris tak pernah dihitung.
Padahal, menjadi kuat bukan berarti tidak terluka. Ada orang-orang yang setiap harinya berjalan sambil memikul gunung di bahunya, namun tetap diminta tersenyum agar tidak merepotkan siapa pun.
Mereka mengorbankan waktu, perasaan, bahkan sebagian dari dirinya sendiri hingga perlahan menjadi asing di hadapan cermin. Mungkin yang paling mereka butuhkan bukan pujian atas ketegarannya, melainkan seseorang yang bertanya, “Bagaimana kabarmu?” sebelum seluruh semesta di dalam dirinya benar-benar runtuh tanpa suara.
Written by Aftansa
Thanks to everyone who gave me 5000 likes! 💖
Rindu ini tidak lagi mengetuk, ia mendobrak seluruh isi dadaku tanpa izin, membuat tulang-tulangku menjadi penjara yang mengurung diriku sendiri.
Aku kewalahan, sampai tubuh ini seperti bukan lagi milikku, ia hanya ruang gelap yang terus mengulang namamu tanpa ampun.
Written by Aftansa
Aku tersenyum seperlunya, agar tak ada yang tau bahwa “baik-baik saja” hanyalah nama samaranku.
Padahal tiap kali aku berkata tenang, dadaku pecah seperti bumi yang kehilangan seluruh gravitasinya,
dan aku terus jatuh tanpa pernah menemukan dasar, tanpa pernah diizinkan sampai selesai hancur.
Written by Aftansa
Malam ini, jangan datang sebagai apa pun bentukmu.
Jangan menjadi sunyi, jangan menjadi mimpi, jangan menjadi kenangan, biarkan rindu ini kehilangan jalan pulang untuk sekali saja.
Aku sudah terlalu lelah menjadi reruntuhan dari kenangan yang tak pernah selesai menghabisiku.
Kasihani aku…
Written by Aftansa
Kau tau betapa menderitanya aku merindukanmu?
Aku menjadikan setiap malam sebagai makam,
lalu menguburkan namamu di sana
namun setiap pagi, ia hidup kembali.
Written by Aftansa