Begini ...
Jadi begini, coba kita berandai seluruh indah karena senja itu kosong.
Bayangkan seluruh nikmat yang disesap itu sebetulnya bohong.
Namamu juga cuma sekadar tulisan.
Lalu kira-kira, kapan indera ini sepenuhnya berhenti menyala?
One Nice Bug Per Day
TVSTRANGERTHINGS
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

shark vs the universe
wallacepolsom

Product Placement
dirt enthusiast

⁂

Kaledo Art
sheepfilms

No title available
he wasn't even looking at me and he found me
AnasAbdin
tumblr dot com
almost home

Origami Around

oozey mess
Three Goblin Art
hello vonnie
occasionally subtle
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Bolivia
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Brazil
seen from Brazil
seen from Brazil
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
@aimeely
Begini ...
Jadi begini, coba kita berandai seluruh indah karena senja itu kosong.
Bayangkan seluruh nikmat yang disesap itu sebetulnya bohong.
Namamu juga cuma sekadar tulisan.
Lalu kira-kira, kapan indera ini sepenuhnya berhenti menyala?
Yang kau tantang sabarnya, justru telah hilang rasanya.
Aku merindu jalanan sempit di bayangan gemerlap Jogja, di gang antara tembok-tembok yang menua dan kucing liar berkeliaran. Pada waktu yang mulai masuk malam, sementara turis lalu lalang entah mau ke mana dan dari mana.
Aku merindu jalanan sempit di arah rumahku, pada kelokan di pusat sana. Sementara kendaraan bermesin banyak dan selalu lewat, nyatanya kaki lebih ingin melangkah dan mengingat sendiri tujuan biasanya.
Aku merindu jalanan sempit di depan mataku, saat bisa kulihat mana yang memang mau kulihat. Kemudian kadang memang jadi kabur, akupun sendiri tak yakin apa yang maya atau apa yang nyata.
Aku merindu jalanan sempit di dalam kepalaku, walau banyaknya kelokan buntu namun aku ingat rasa menyusurinya. Saat ia mulai punya pilihan untuk terus, saat itu pula ia tahu kapan waktunya untuk henti.
Bolehkah aku bercerita lagi di sini?
hai mbak, ini ada titipan puisi buat kamu: kealpaan semesta mewujudkan senyawa kita di udara.
"udara".
Do I really deserve this?
"Why did you try to kill yourself?"
"You told me to be happy."
Dear, Anya.
Anggap ini sebuah intro, sebelum kalian punya pikiran, “Wah, tumbenan Mayang menulis seperti ini (secara rutin)” atau “Mayang sehat?”.
Saat-saat ke depan, setidaknya selama sebulan sekali (yang kemudian direncanakan dua minggu sekali), akan aku unggah tulisan-tulisan aku tentang karya-karya penulis lain yang (berani) menuangkan pikirannya dalam berlembar-lembar halaman (serta menerbitkannya).
Kawan masa sekolah menengahku -Anya- adalah seseorang yang sedari dulu kukenal selalu punya tabungan semangat berlimpah. Tunggu, memang betul, bahkan aku tak pernah melihatnya sekalipun meneteskan air mata sedihnya.
Runtutan kegembiraan dan daya juangnya untuk apapun pasti disetujui oleh setiap yang mengenalinya. Banyak ide jenius datang darinya, termasuk proyek kami berdua ini.
Simpel saja, kami akan bertukar buku, lalu menghabisinya, kemudian menceritakan ulang apa yang sudah kami lahap dalam lantunan kalimat a la kami masing-masing.
Jadi... Selamat memulai tugas kita, dear Anya!
NB: karyanya bisa diintip dalam https://kurakurangkasa.wordpress.com/, di sana bahkan sudah terpampang tugas pertamanya dalam proyek ini. Nah, percaya kan, betapa semangatnya dia pada segala hal?
Hampir habis bulan ini, hampir sampai ke bulan delapan. Hujannya kian deras, dan angin pun mengencang. Kamu bersiap terbang, dan apalah lagi yang bisa menahanmu?
matahari atau bulan?
Mana yang tak semu.
Yang perlu kau tahu, ruang dan waktu selalu bersekutu.
3
Sesiangan tadi, aku cukup tercampur aduk dengan apa yang aku baca.
Menurutnya, rata-rata setiap individu memiliki kesempatan sebanyak 3 kali untuk jatuh cinta.
Pertama, kesempatan untuk merasakan fairy tale love.
Biasanya akan dialami pada cinta pertama, yang begitu memabukkan, menyenangkan, tak ada cela, sempurna, and so on, and so on.
Kedua, kesempatan untuk merasakan complicated love.
Tepat begitu membaca bagian ini, serasa mata begitu panas dan entah mengapa lalu merebak begitu saja.
Ah... Masing-masing tentu pernah melewati suasana yang begitu kompleks, begitu rumit, begitu jauh dari jawaban yang simpel.
Lalu, ketiga, kesempatan untuk merasakan mature love.
Katanya, kita akan merasakan kesempatan ini dalam waktu yang tak terduga, saat yang tak dinyana.
Katanya, kita akan merasakan kesempatan ini tiba tanpa kita tunggu, muncul tanpa kita tahu.
Begitu saja kita akan berjumpa dengan orang yang tepat, begitu saja kita dekat dengan orang yang tak pernah kita kira kehadirannya akan begitu membuat kita berbeda.
Namun,
apakah bagi orang itu,
kita juga merupakan kesempatan ketiganya?
Turbulensi
Berawal dari percakapan sederhana, sesederhana pertanyaan yang aku lontarkan, lalu tiba-tiba aku tersangkut pada satu kata ini,
turbulensi.
Dalam benakku, bila turbulensi jadi analogi, maka pergolakan batin bahkan juga keseharian menjadi kenyataannya.
Pernahkan kamu mengalami turbulensi dalam hidupmu, entah apapun yang jadi sebabnya?
No one is free, even the birds are chained to the sky.
Bob Dylan
udah jarang ke pantai ya mbak??
iya.
sore ini kuhabisi,
duduk dalam aquarium,
pesan secangkir besar kopi susu,
beserta buih yang selalu menempel di bibir atasku.
di luar hujan rintik,
sesekali menderas,
dan banyak yang memandanginya kesal.
lalu berganti pula,
sore pergi, datang pekat,
dan guyuran hujan tak henti,
tak bosan,
dan tak segera usai.
meja ini masih kutempati,
kursiku ini masih tetap di sini,
dan kursi di depanku kosong,
diam,
menghadapku,
memintaku untuk mengajaknya,
melampaui batas kenangan.
Senja di Belakang Kita
tak terasa sudah ada di kota ini lagi,
yang senyatanya begitu besar,
begitu megah.
minimal,
punya jalanan-jalanan lebar.
punya gedung-gedung,
yang saling berlomba menentang langit.
sementara itu,
malam selalu rubuh,
tak lagi punya misteri,
semua terbuka,
telanjang,
meskipun tak seorang pun yang tak pernah curiga.
begitu pula,
si bulan tak perlu lagi sombong,
congkak,
seolah dia yang begitu dipuja.
nyatanya,
masih ada selalu yang menjadi lebih hebat.
kulewati di hari itu,
dan aku tepat di balik badanmu.
ketika,
senja,
di belakang kita.