Ini bukan rasa rindu, pikirnya. Ini hanya memori yang kebetulan berenang ke permukaan. Namun tubuhnya menyangkal semua pikiran itu. Dadanya terasa nyeri sekali. Jendela matanya mulai berembun. Tangisnya nyaris tidak terdengar, namun dalam kepalanya dia membayangkan dirinya sedang meraung. Suaranya menggaung di sisi-sisi tembok. Membuat kaget karena baru disadari betapa kosong ruang sembunyinya itu. Berapa banyak hal yang sudah dia singkirkan dari hidupnya? Sampai tak tersisa apa-apa kecuali kesedihannya sendiri.











