so fucking obsessed with this election and I’m not even american
Show & Tell
occasionally subtle

Kaledo Art
he wasn't even looking at me and he found me
NASA
No title available
ojovivo
sheepfilms
Alisa U Zemlji Chuda

ellievsbear
Stranger Things

❣ Chile in a Photography ❣

blake kathryn
TVSTRANGERTHINGS
todays bird
Monterey Bay Aquarium
trying on a metaphor
Cosmic Funnies

@theartofmadeline
No title available
seen from United States

seen from South Korea
seen from T1

seen from Belgium
seen from Türkiye

seen from Canada

seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Norway
seen from United States

seen from Netherlands
seen from Brunei
seen from Argentina
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Saudi Arabia
@ajumariu
so fucking obsessed with this election and I’m not even american
Slowly.. Slowly :)
Ada banyak hal yang numpuk di kepala tapi rasanya sayang kalau ngga dituangin. Hal hal yang ngga baru tapi menjadi sangat fresh buat aku Ibu yang kebingungan masuk ke dunia yang serba semua harus bisa sendiri padahal kaga pernah diajarin. Dimana tsunami informasi luarbiasa dan aku secara mental belum siap dan belum punya filter yang aku yakini tepat. Allahummahdinii fii man haadaiit🥺🤲🏻
Sebelum semuanya, keteguhan dan kesabaran adalah dua hal yang penting dalam menuntut ilmu. Yg akhir akhir ini dirasakan lebih ke kesabaran sama diri sendiri ;' kadang ekspektasi tinggi banget jadi pas ngamalin ilmu terus masih jauh gitu pengen stop aja. Padahal misal, hari ini mentoknya bisa tuh 0,5%..its okay, sabar.. Besok kita coba lebih baik. Toh stengah persen sehari dalam waktu 160 hari bisa jadi 80% kan. Segala di bumi butuh waktu untuk tumbuh.. seperti bayimu, dan kamu juga :)
Okay bismillah
Takeout pertama, dari mbak ita.
((Baiknya Allah, Allah tuh ngga pernah jelasin teori parenting yang kudu A kudu B kudu C. Bahkan keseharian rasul membesarkan anaknya aja ga sebegitu terbuka dan banyak hadits yang jelasin secara rincinya.. Karena islam itu untuk semua masa dan syumul, untuk semua kalangan. Jadi ngga dirincikan karena khawatir dianggap sebuah hukum yang nantinya bisa memberatkan beberapa kalangan :"") Yang jelas dalam Al-Qur'an udah ada semua caranya, dan satu referensi itu cukup. Tambahan tambahannya adalah how to yang mendukung hal hal yang wajib dan mendasar (mengajarkan anak laa tusyrik billah, menjadikan anak khalifah di muka bumi dst dst.. Jangan sampai how ini yang banyak bgt versinya dari versi barat dan buku kece sampai versi selebgram yg punya anak cepet jalan di IG, malah lebih penting dan jadi prioritas yg kalo engga bikin kita insekyur sendiri.. Tapi yg fundamental kita lupakan. Jangan salah prioritas, mana yg pondasi mana yang cara. (Ini PR juga cari cara BLW yang minim mubadzir))
Takeout kedua, dari Bunda Ambar
((Kita seringnya di rumah jadi human doing atau human being bu? Kalau ngerawat ngedidik manusia itu human doing atau human being? Seringkali Ibu rumah tangga terlalu sibuk sama urusan rumah tangga sampai lupa jadi Ibu. Lupa hadir buat anak. Yang penting dapur bersih rumah rapih, anak dan tangisannya hanya selingan. Naudzubillah. Kalau multitask coba perhatikan fokus utama dan fokus secondary kita. Pastikan fokus utama kita anak dan sambilan kita adalah secondary nya. Jangan terbalik ya, Ibu. Kasian anak kita dibesarkan sama robot yang ngga mentransfer emosi dan empati yang dibutuhkannya utk mendidik nuraninya. :""" )))
Takeout ketiga, dr Ust. Harry
((Bu, dalam doa untuk orangtua diksinya adalah 'rabbayaani shagiira' yaitu mendidik/mentarbiyah/mensuburkan kesadaran keimanan kita di waktu kecil. Jadi cara menyayangi anak adalah dengan membuat mereka berkesadaran dengan islamnya dan juga menularkan adab (ta'dib')
Menyusui adalah tugas langit. Jangan disambi.. Proses tersebut adalah proses pengenalan anak tentang image Allah baginya kelak. Anak saat lahir menangis mencari rabb yang di alam ruh dilihatnya. "Ayna rabbi..ayna rabbi.." Ibu menjadi perantaraNya yang Maha Memberi Rezeki, Maha pemelihara. (Dalam paper nya yaqeen juga anak yang diberi didikan keras maka image Tuhan Maha menghukum lebih melekat dibanding anak yang diberi didikan yang lembut yang lebih mudah menerima dengan nurani sifat sifat sayangnya Allah)
Fitrah terbagi dua. Ada fitrah ghalizah (yg ditanamkan dalam diri manusia dan alam) ada fitrah munazalaah (yg diturunkan dr langit berupa Al Qur'an, wahyu ke Nabi SAW berupa sunnah dan hadits hadits. Keduanya harus sejalan dan saling menyala, melengkapi. Kalau tidak maka akan ada krisis manusia, juga krisis alam. (Fitrah manusia suka berkembang dan belajar juga ya.. Makanya kalau umma mager males belajar jadi krisis diri deh soalnya ga sesuai sm fitrahnya. Yuk mangats umma..) Ke Qur'an lagi, ke Qur'an dulu. Ada semua mua :)
Takeout keempat, dari Pak Dodik (sungkem! Makasi banyak pak sudah menyederhanakan arti sukses dan berkembang :"")
((Dalam membuat kurikulum belajar, buat yang belum biasa istiqomah belajar, buatlah note yang sederhana, mudah dipahami, dan menggerakkan. Sederhana woi :"") Kadang pengen idealnya gitu kan, semua muanya ditulis pengen dibenerin pengen dipelajarin ujung ujungnya terhenti karena dirasa gamungkin ah males itu kebanyakan bgt ga mungkin (sambil liat kerjaan rumah wk). Tapii kapan sih kita punya waktu ideal? Disederhanakan. Belajar 15 menit sehari. Baca buku 10 menit sehari. Videonya dipotong2 jadi 18 menit setiap malam atau pas anak bobo. It's okay. Pelan tapi memaknai. Pelan tapi di praktekkan. Sedikit tapi berkah (berkah tidak selalu tentang kuantitas yang banyak, tp yg sedikit namun mengisi jiwa dan membawa perbaikan itu cukup). Kalau perkembangan mikro kita apresiasi, perkembangan mikro anak juga kita akan notice dan jadi berharga sekali :"
Last, Ust. Aad (dari mendengar kelasnya suami pas bolak balik ruang depan. Sedikit tp jlebb)
- Apapun cara mendidik yang saudara yakini, jalani dengan kesadaran
- Musuh terbesar parenting adalah ketidaksabaran
- Parenting itu mendidik pada waktunya, bukan lebih cepat lebih baik. Jangan sampai keburu buru, tapi karena latah sama zaman sekarang dan ngga berkesadaran
- Kuantitas itu penting. Kadang kita sering denger yang penting kualitas yang penting kualitas. Kuantitas itu penting, repetisi itu penting. Sekarang anak banyak yang masih kecil udah harus bisa ini itu sendiri.. Padahal ada sentuhan, kepedulian, cinta pada tangan Ibu yang dibutuhkan untuk membangun pondasi nuraninya. Tangan yang menyuapi, tangan yang mengelus sebelum tidur, tangan yang memandikan, tangan yang memakaikan baju, tangan yang menggendong. Sering sering, bu. Cuma sampai 7 tahun..
🥲
Tinggal pengamalannya nih. Tolong ya Allah🥺🤲🏻
We go forward.
This is too deep to comprehend.
Stop it
I THOUGHT THIS WAS GOING TO BE FUNNY
:(((((
Untukmu Akun Dakwah
@edgarhamas
Suatu kali murid-murid Abdullah bin Mas'ud bertanya padanya, “Wahai guru, bukankah lebih baik jika setiap hari kita mendengar nasihatmu dan menerima ajaranmu?”
“Walakin, sa'atan wa sa'atan”, lebih baik sesaat demi sesaat.
Perkataan Ibnu Mas'ud tentu berpijak pada mutiara nasihat sang Nabi. Suatu hari Hanzalah pernah menanyakan hal serupa pada Rasulullah, kemudian beliau menjawab bijaksana,
“Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya. Seandainya kalian mau kontinu dalam beramal sebagaimana keadaan kalian ketika berada di sisiku dan kalian terus mengingat-ingatnya, maka niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian di tempat tidurmu dan di jalan. Namun Hanzhalah, lakukanlah sesaat demi sesaat.”
Hari-hari ini alhamdulillah makin banyak akun-akun dakwah bermunculan. Tumbuh subur hijau seperti rumput-rumput menghias perbukitan Madinah. Kita tentu mensyukurinya, di akhir zaman ini semangat hijrah menjadi-jadi.
Namun problematika muncul ketika niat mulia untuk berdakwah itu berdiri di atas pondasi pengetahuan yang masih perlu dibangun pondasinya lebih kokoh. Tema-tema yang diangkat dimaksudkan untuk mengajak teman-teman di media sosial, namun kok makin kesini orang-orang mulai bertanya, kenapa tema yang diangkat itu-itu saja.
Nikah muda misalnya. Menikah itu bagus, memuliakan sunnah. Tapi jika setiap hari layar gadget orang-orang dipenuhi dengan ajakan-ajakan nikah melulu, muncullah orang-orang yang nanti antipati. Dan ini ada, mereka jadi ketus dengan kata-kata hijrah dan menganggapnya hanya istilah yang sempit.
Karena kita sendirilah yang menyempitkannya.
Sebenarnya saya sangat setuju jika nasihat untuk menikah itu berasas pada persiapan dan perencanaan, dirangkai dengan argumen, malah sangat bagus. Yang disayangkan adalah ketika isinya mulai provokatif tanpa argumentasi.
Ada juga akun-akun dakwah yang dibuat oleh teman-teman kita yang sedang semangat sekali belajar agama. Setiap hari memposting artikel ini dan itu tentang Islam. Namun semakin hari, mulai ada feed yang mengkritisi ustadz yang bukan pengajiannya, mencela mereka hanya karena punya perbedaan furu'iyah.
Ada pula akun-akun yang sangat perhatian pada memberi nasihat. Namun problem muncul ketika akun-akun ini tidak paham realitas objek dakwah, dan menciptakan sekat besar antara dirinya dan manusia. Maksudnya untuk mengingatkan, tapi ia tak tahu bahwa memberi nasihat pun ada seninya.
Manusia-manusia paling mulia seperti Rasulullah dan sahabatnya saja memberi waktu dan porsi khusus untuk majelis ilmu dan nasihat. Dan tentu, yang disampaikan adalah ilmu yang berdasar kuat lagi kokoh.
Ini barangkali reminder untuk kita, akun-akun dakwah sedunia; perhatikan konten postingan dan jagalah hati objek dakwah. Jangan hujani dengan cara tanpa hikmah sehingga yang aku takutkan mereka berbalik jadi galau, atau lebih parah lagi; antipati.
Akun-akun dakwah membawa nama Islam. Kita berdoa, agar jangan sampai orang-orang malah berpaling justru karena cara kita yang asal-asalan. Semua orang pasti suka diberi permata. Tapi tak ada satupun orang yang suka jika kepalanya berdarah dilempar kerasnya berlian.
I don't know what to do without you;;
Dalam segala proses yang panjang ini aku bersyukur punya mas. Dalam segala usaha yang kita lakukan dari awal, hingga berlanjut ke masa kehamilan, few breakdowns during post-term, dan sekarang saat anak kita harus langsung berjuang begitu hadir di dunia ini. Tak terbayang jika tidak ada mas di sampingku dalam setiap tahapan itu. Terima kasih atas segala support, semangat, ketenangan yang mas berikan, teguran-teguran agar aku bisa jadi istri dan ibu yang lebih baik lagi..
Saat kemarin kita mengantar Osman ke RS dan ternyata baju yang dia pakai harus digunting karena tangannya dipasang infus, kau masih bisa membantuku menemukan hal-hal untuk disyukuri seperti fakta bahwa di pagi itu kebetulan Osman sedang pakai baju lama Qimmah karena baju lengan pendeknya masih kotor semua. Terima kasih. Segala banyolan dan celutukan usil yang kau lemparkan untuk mengalihkanku dari rasa sedih berkepanjangan dan agar aku fokus pada apa yang bisa dilakukan. Terima kasih. Kau yang baru saja pamit untuk mengantarkan asi ke RS sambil berkata "Pengantar kehidupan, nih". Terima kasih..
I love you.
Belakangan ketimbang Kurulus Osman, aku lebih nikmatin nonton Uyanis : Buyuk Selcuklu. Belum dapet feel nya sama sekali sama Osman. Sedang di Buyuk Selcuklu, tiap dialognya padet banget dan bisa diambil poin-poin penting dasar pemikirannya. Feeling nya mirip kayak nonton Ertugrul sama Payitaht.
Episode semalem juga begitu.
So here it is, setelah sekian lama ga 'gushing' di sini tentang apapun yang lagi kusuka heheh, a (soon to be growing) list of things I caught from Uyanis : Buyuk Selcuklu~
Tentang Ghazali. Perumpamaan yang dia pakai saat adu pikiran sama Batini; "Ibarat kita mau lihat warna, yang dibutuhkan bukan cuma mata aja atau cahaya aja, tapi dua-duanya. Begitupun agama ini. Ada ayat kauniy, ada qouly."
Dan respon Senjar ke Hace terkait peristiwa itu; "Kau menemukan pena untuk bersanding dengan pedang." Ngadepin Batini ga cukup cuma pakai pedang aja. Butuh orang cerdas kaya Ghazali buat counter pemikiran-pemikiran mereka dan kasih pencerahan buat ummat.
Itteber sama Hace sama-sama mau basmi Batini. Bedanya di cara dan pendekatan yang mereka pakai. Di sini kelihatan banget, Itteber itu contoh orang yang menyelesaikan masalah gusra-gusru, cuma memahami permasalahan sampai kulitnya. Cara yang dia tempuh juga bar-bar dan ndak sabaran. Dan itu ga akan bisa tuntas menyelesaikan permasalahan. Sedang Hace, jelas dia tipe yang ambil waktu buat analisis dan mencoba memahami sampai ke akar permasalahannya. Pendekatan yang dia pakai lebih tenang, dengan perencanaan rapi, dan keputusan yang diambil juga setelah dia well informed sama fakta-fakta di lapangan. Ini kalau ditarik ke zaman kita sekarang juga bakal banyak ketemu korelasinya. Betapa sekarang banyak orang yang ndak sabaran, solusi yang ditawarkan hanya menyelesaikan permasalah sampai permukaan, ndak fundamental..
Bukan hikmah sih.. tapi cuma mau noted kalau Batini rapi banget nget. Kebayang aja kalau kedzoliman serapih itu ndak kita imbangi dengan kebaikan yang lebih rapih dan terorganisir... habis lah kita. Ini menimbulkan pertanyaan selanjutnya; bagaimana dengan barisan kita sekarang? 😶
“The moment we allow anything, other than our Creator, to define our success, failure, happiness, or worth, we’ve entered into a silent form of slavery.”
— Yasmin Mogahed
Narasi Ertuğrul, Kebangkitan Turki, dan Misteri Sejarah Umat Islam yang Hilang
@edgarhamas
Jujur, saya belum menonton serial Turki yang satu ini, yang penayangannya dirilis oleh Trans 7. Televisi Indonesia memang, belakangan ini seringkali mengimpor drama-drama dari luar negeri untuk mendongkrak ratingnya. Ada Mahabarata, Jodha Akbar, Mahadewa, dan banyak lagi. Emak-emak malah bisa jadi lebih tahu, hehe.
Namun serial Ertuğrul berbeda. Serial Turki yang judul aslinya ’Diriliş Ertuğrul’ atau ‘Kebangkitan Ertuğrul’ ini secara dramatis menjamur juga di dunia Arab bahkan Asia Muslim seperti India, Pakistan, Malaysia dan Indonesia. Anak-anak muda sangat menyukai karakter kepahlawanan Ertuğrul, seorang perwira Klan Kayı, suatu kabilah kecil yang secara mengejutkan, kelak akan melahirkan pahlawan Islam yang legendaris; Osman, pendiri Kesultanan Utsmaniyah, pemimpin Umat Islam 600 tahun lamanya!
Akhirnya, para sejarawan Muslim tergugah juga untuk menelisik siapakah sebenarnya Ertuğrul ini. Sampai-sampai, Jihad Turbani, Dr Jasim Al Jazza’ hingga Dr Ali Muhammad Ash Shalaby pun turun tangan. Luarbiasa. Saya sendiri merasakan ada derap langkah teratur dari Turki, yang kini mencoba mengumpulkan energinya untuk menjadi negara hebat di muka bumi. Salah satunya; dengan mengilaukan kembali lembar sejarah mereka yang agung, agar dunia mengerti siapakah Turki sesungguhnya.
Presiden Erdogan, anda luar biasa.
Dikisahkan dalam episode kehidupan Ertuğrul (1189-1281 M), semenjak kekuatan Mongol menyerang hampir seluruh daratan Asia, memporak-porandakan segalanya, membunuh penduduk kota, salah satunya Baghdad (1258 M) dan menjarah banyak peradaban, suku-suku Turki yang tadinya bermukim di Asia Tengah memutuskan untuk mencari tanah baru yang aman dari serangan Mongol. Salah satu suku itu adalah suku Kayı, yang dipimpin oleh Ertuğrul.
Ia memimpin 100 keluarga dan 400 tentara, membelah daratan sekitar daerah dekat Cina menuju wilayah beribu kilometer yang amat jauh dari tanah kelahirannya. Tanah yang ditujunya adalah Anatolia, yang sekarang menjadi wilayah inti dari negara Turki modern.
Suatu hari dalam perjalanannya mencari tanah baru, Ertuğrul mendengar deru suara yang riuh di kejauhan. Ia yakin, sedang ada pertempuran besar yang berkecamuk di suatu tempat yang dekat dengan tanah yang ia pijak. Dengan tekad bulat, ia bersama 400 tentaranya memutuskan untuk melihat siapakah dua pasukan yang sedang bertempur. Dan benar, ternyata pasukan Muslimin Kesultanan Seljuk sedang terhempas oleh kekuatan pasukan Romawi Timur. Kekalahan sudah nyaris di depan mata.
Dengan gagah berani, ia hanya dengan 400 tentaranya menyatu di medan laga, membantu pasukan Muslimin memukul mundur deru gelombang pasukan Romawi yang bengis. Keadaan seketika berbalik, pasukan Muslimin berhasil mendesak tentara Romawi lari tunggang-langgang. Kemenangan kembali diraih dengan heroik.
Pasukan Kesultanan Saljuq sangat kagum dengan Ertuğrul. Bahkan sang Sultan, Alauddin Kayqubad, mengundang Ertuğrul dan mengucapkan terimakasih karena telah menyelamatkan pasukan Saljuq.
“Apa yang membuatmu menolong kami sehingga kami bisa memenangkan pertempuran?” tanya Sultan.
“Sebab kami adalah muslim, dan agama kami menyerukan untuk membela kebenaran, menolong orang-orang yang terzalimi. Orang-orang Mongol juga adalah musuh kami dan juga musuh kalian”
Itulah jawab Ertuğrul sebagaimana ditulis Bilal Abul Khair dalam Kitab 101 Amaliqah Aali Utsman '101 Pahlawan Dinasti Utsmaniyah.’
Setelah keduanya berbincang, ternyata diketahui bahwa baik Kesultanan Saljuq dan Ertugrul sama-sama berasal dari bangsa yang sama; Turki. Sang Sultan amat bahagia bisa menemukan seorang kesatria gagah berani yang rela mengorbankan nyawanya demi menolong saudara semuslim.
“Maka, berangkatlah bersama kami, akan aku berikan satu tanah luas. Berjalanlah ke arah Konstantinopel, aku amanahkan padamu menjaga pegunungan Armenia di musim panas, dan kota Söğüt (150 km dari Istanbul) di musim dingin. Kalian memperoleh kebebasan mengelola daerah kalian, namun tetaplah bersama kami untuk berjuang melawan Romawi dan saling menguntungkan”, lanjut Sultan Alauddin.
Tidak ada yang pernah menyangka, bahwa kedatangan 100 keluarga dan 400 pasukan kecil yang dipimpin oleh Ertuğrul di kota Söğüt, adalah “batu pertama” tempat berdirinya Kekhalifahan Utsmaniyah. Kekhalifahan besar berumur 6 abad yang terbentang dari Persia di timurnya, sampai Samudera Atlantik di baratnya; 6.000.000 km², atau setara 3,5 kali lipatnya luas Indonesia!
Mengapa bisa begitu? Sebab Ertuğrul tidak mau berhenti dari jihadnya. Ia tak mau hanya hidup nyaman di kota Söğüt dan wafat di atas kasurnya. Visinya makin bening, mimpinya makin meninggi. Ia bertekad untuk; menaklukkan seluruh wilayah Kerajaan Romawi!
Dari sanalah ia meminta izin pada Sultan Alauddin untuk berjihad di batas-batas wilayah Umat Islam dan meluaskan daerahnya sampai menuju Konstantinopel.
Kepahlawanan Ertuğrul membuat kabilah-kabilah di sekitar Söğüt berkumpul dan menyatakan kesetiaan padanya. Ertuğrul akhirnya memiliki pasukan besar yang tangkas, gagah berani, dan shalih. Banyak sekali kota-kota Romawi yang dibebaskan olehnya, dan adzan berkumandang di atasnya untuk pertama kali.
Kita kemudian akan mengetahui, walaupun Ertuğrul belum bisa membebaskan Konstantinopel semasa hidupnya, namun kelak satu keturunannya yang akan menjadi panglima muda. Panglima hebat yang menjebol pertahanan kota nan megah itu, 172 tahun setelah wafatnya Ertuğrul. Siapa lagi kalau bukan; Muhammad Al Fatih.
Ertuğrul sadar, ia memang tak akan bisa menaklukkan seluruh wilayah Romawi semasa hidupnya. Ia memahami, takkan bisa “merebut” kemenangan atas musuh-musuh Islam jika mengandalkan dirinya. Sejak itulah ia memutuskan untuk “menciptakan” kemenangan. Ia mulai mendidik pemuda-pemuda kabilahnya untuk mencintai Islam dan memiliki semangat jihad yang tinggi.
Faktanya, di masa kepemimpinan Ertuğrul, tak ada satupun anak-anak usia 7 tahun kecuali pasti sudah menghafalkan Juz 'Amma, Surat Al Mulk, dan Surat Yasin. Ia ingin menciptakan generasi kuat, yang kelak akan membebaskan negeri-negeri yang belum tersentuh oleh dakwah Islam. Dan semua mimpi besarnya, ia turunkan pada anaknya; Osman bin Ertuğrul.
Osman inilah, sebagaimana kita tahu, akan menjadi Sultan Pertama Dinasti Utsmaniyah. Luarbiasa, bukan?
Itulah mengapa, teman-teman akhirnya setidaknya tahu, Ertuğrul menjadi inspirasi yang meledak-ledak, menjadi simbol yang membuat anak-anak muda Islam sadar,
“wah, ternyata umat kita ini hero-nya keren-keren banget!”
“Tahukah anda, mengapa Ertuğrul yang dipilih menjadi karakter utama? Mengapa bukan Osman?” tanya Jihad Turbani pada Dr Jasim Al Jazza’ dalam serial Mi'ah Udzama.’
“Sebab, karakter Ertuğrul ini mengumpulkan unsur-unsur yang banyak; nasionalisme Turki, keagungan Islam, kehebatan sejarah muslimin, motivasi dan harapan, yang bisa diterima semua pihak” jawab beliau.
Siapapun saat ini tahu, bahwa Turki di bawah kepemimpinan Erdogan menjelma kekuatan dahsyat yang berdiri kokoh di hadapan Asia dan Eropa. Industri pariwisata yang sangat baik, pendidikan yang mudah dan terjangkau, dan militer yang makin perkasa. Semua itu, dilakukan Erdogan dalam waktu 15 tahun pemerintahannya.
Lalu apa hubungannya dengan Ertuğrul?
Saya tidak mau menganalisa, namun saya ingin menggambarkan apa yang saya pelajari dari rangkaian peristiwa beruntun belakangan ini.
Bapak Erdogan sangat sering menggunakan sejarah agung Dinasti Utsmaniyah untuk membentuk karakter kesatria pada jiwa bangsa Turki. Dalam pidato-pidato kenegaraan misalnya, beliau pernah berbicara tentang kisah Sultan Turki yang shalih dan berani, Alp Arsalan, dengan hanya 20 ribu pasukan, berhasil memenangkan pertempuran melawan Romawi Timur yang jumlahnya 15 kali lipat pasukan Muslim; 300 ribu tentara!
Logikanya, 1 tentara muslim akan melawan 15 tentara Romawi. MasyaAllah!
Maka, narasi tentang Ertuğrul nyatanya merupakan kelanjutan dari proyek besar pemimpin Turki untuk mengingatkan rakyatnya tentang kemegahan sejarah mereka. Dan di saat yang sama, mengumumkan pada dunia bahwa Turki bukanlah yang selama ini mereka kenal. Turki bukanlah negara baru. Turki, pada hakikatnya, adalah peradaban tinggi yang berjaya dengan Islam.
Ya, Turki tidak bisa dipisahkan dengan Islam. Sampai-sampai suatu masa, Sultan Muhammad Al Fatih bertutur dengan gagah berani,
“menjadi Turki itu sulit, karena ia harus melawan seluruh dunia. Namun, menjadi selain Turki itu lebih sulit, karena ia harus berhadapan dengan Turki.”
Turki dalam kalimat di atas, maknanya adalah: umat Islam seluruhnya, yang kala itu dipimpin oleh bangsa Turki.
Saya mempelajari banyak hal dari seluruh keterkaitan ini. Semua peristiwa saling menguatkan satu sama lain, seakan menjadi sign, sebuah tanda-tanda yang menuntun kita perlahan menuju sebuah kesimpulan; jangan-jangan, sejarah bangsa Indonesia juga begitu hebat dan perkasa, namun, kamu tahu, ada pihak yang ingin kita lupa sejarah kita sendiri.
Sudah banyak ahli dan sejarawan berbicara, bahwa ada satu garis panjang episode sejarah Umat Islam, baik di Indonesia, maupun seluruh dunia, yang dihilangkan secara sengaja oleh orang-orang yang membenci Islam. Episode yang hilang itu menyisakan misteri besar. Mengapa? Karena bisa jadi, di episode yang hilang itu, ternyata adalah jawaban atas keadaan kita saat ini, dan menjadi kunci bagi kita untuk merumuskan masa depan umat ini.
Begitu terpecahkan satu puzzle tentang sejarah Umat Islam di wilayah lain, cepat atau lambat, ia akan merembet pada sejarah Umat Islam di belahan dunia lainnya. Dan nyatanya, benar terjadi. Dengan mengetahui sejarah Dinasti Utsmaniyah, yang notabenenya saat itu adalah sentral kepemimpinan Muslimin sedunia, pasti ada hubungannya yang sangat erat dengan seluruh negeri-negeri Islam.
Cepat atau lambat, kita akan tahu, ternyata selama ini kita salah menakar diri kita. Sebagaimana Turki baru saja bangun dari amnesianya, kita, bangsa Indonesia, akan mengetahui jati diri bangsa ini. Dan, apa yang akan terjadi jika sebuah bangsa telah mengenal jatidiri aslinya?
Santai saja, kita akan melakukan lompatan besar!
Baca ini lagi setelah (akhirnya) nyelesein 5 season Dirilis Ertugrul, with new feeling and understanding. And I'm overwhelmed by feelings I can't describe (yet) :"
“Don’t let your definition of success, failure, or self-worth be anything other than your position with Him (Qur’an, 49:13). And if you do this, you become unbreakable, because your handhold is unbreakable. You become unconquerable, because your supporter can never be conquered. And you will never become empty, because your source of fulfillment is unending and never diminishes.”
— Yasmin Mogahed
Hazrat Ibn'Arabi
As a mass comm major, IF THERE IS SOMETHING UNJUST OR IMMORAL BEING DONE CALL YOUR LOCAL NEWS STATION THEY WILL HELP MORE THAN ANYONE ELSE
Cities and government agencies HATE bad press. This story that was told to me by the journalist that covered this, and he showed us the piece:
There was a traffic light that was set up on the far side of an overpass, but it was improperly hung so you couldn’t see the light until it was too late. There were accidents there EVERY SINGLE DAY and calls to the city did NOTHING.
Someone had the idea to call the local news station and this dude went out to see. As he was interviewing someone, there was a wreck.
Guess what happened after that piece aired?
Suddenly the city had the time to lower the traffic light and the accidents stopped.
Journalists get a bad rep, and while big stations like Fox deserve it, I think more thought should be given to who you’re actually shitting on when you say “I hate journalists.” Because we’re overworked, underpaid, constantly shit on, but we still do the job because we want to help people. All professional, prestigious journalists that I’ve met hate the government and will do whatever they can to get the information and change that’s needed. Being a journalist is a dangerous profession: at every professional convention I’ve been at there’s a fund for the families of journalists that have been killed (there’s a lot!) and a long memoriam roll.
SUPPORT LOCAL NEWS STATIONS
“The golden rule of relationships: Every situation passes. All that remains is how you treated each other in the moment before it does.”
— Yasmin Mogahed
“Come even though you have broken your vows a thousand times, Come, and come yet again. Ours is not a caravan of despair.”
— Rumi
Kemarin nemenin P nyelesein berkas keuangan buat akreditasi hari ini, sambil cerita-cerita. Mulai dari cerita latar belakang keluarga nya P, sampai ke cerita gimana pas wawancara rekrutmen P sama umi.
P bilang, pas dateng buat wawancara, ada satu ibu-ibu yang diwawancara bareng dia. Ibu ini kebetulan saat itu lagi punya masalah keluarga, dan desperate banget buat dapetin kerja di SHU. Sampai nangis-nangis juga pas wawancara. Ngeliat itu, P jadi nggak terlalu niat pas di tes buat ngerjain neraca sama umi. Mikirnya, 'ah mending posisi ini buat ibunya aja'. Eh qodarullah, seminggu kemudian, diumumkan kalau P yang umi terima buat gabung ke SHU.
Dari cerita itu, I think I get why mom chose P over the other one. Poinnya kayaknya ada di kenapa orang tersebut mau gabung ke SHU. Umi lebih memilih orang yang berniat gabung kesini karena 'value'. P butuh buat diterima disini karena ada keinginan kuat buat berhijrah, buat dapet lingkungan yang bisa mensupport dan membantu dia buat jadi lebih baik. Meanwhile ibu tadi daftar karena ada keterbutuhan finansial. And that's fine, but it was not what mom was looking for.
Cerita P bikin aku sadar atas pentingnya prinsip dan value yang kita junjung. Dan gimana kita memposisikan diri kita sama orang lain. Umi pernah bilang, gimana aku memposisikan diriku, orang-orang disekitar ku bakal menyesuaikan dengan itu. Prinsip umi ini lah yang sekarang aku rasa membuat staf kantor loyal. Karena mereka kesini nggak cari gaji tinggi. Mereka cari maknawiyah. Aku belum pernah ngobrol sama semua banget sih heheh. Kesimpulan nya baru ku tarik dari cerita P dan ceritanya bojo tentang pak Yus.
Gaji pak Yus sebelum kerja disini jauh lebih tinggi dari gaji yang sekarang bisa SHU kasih. Tapi pak Yus lebih tenang sama kerjaan yang sekarang, dibandingkan dulu saat beliau di bank konvensional.
P pun begitu. Bahkan sampai ada cerita pas orang kantor rencana mau main ke rumah P, P takut banget bapaknya bakal bentrok sama umi atau abi, dan dia juga takut kalau itu nanti bakal berimbas ke P harus resign dari SHU (sekalipun ujungnya juga nggak kejadian😅😂). P bilang, "Aku nggak bisa mbak kalau harus balik kesana."
P cerita dia sering ketemu sama junkies lagi pada "makek" di seberang rumahnya. Temen-temen P juga mayoritas nonis karena dia dulu lulusan Kanisius. P pernah nyaris dibaptis di dua gereja yang berbeda. Kakaknya P juga masih nonis, bapaknya P nggak seneng agama. Cuma ibunya yang alhamdulilah berprogres cepat, pekan-pekan kemarin ngabarin kalau udah bisa sholat komplit 5 waktu.
Semoga Allah berkahi semua ikhtiyar mbak, Allah bukakan pintu hati bapak & kakak. Semoga lancar & berkah semua yang dikerjakan, tercapai semua yang diharapkan dan diinginkan. Semoga Allah hapuskan kekhawatiran dan ketakutan, lalu Allah ganti dengan ketenangan dan kemantapan :)
Tabaarokallah mbak P, makasih sudah kasih banyak ibroh buatku sepanjang kemarin siang sampai malem :))
Lancarkan dan mudahkan juga akreditasi hari ini sampai dua hari ke depan yaa Allaah🤲🏼
“Don’t worry that your life is turning upside down. How do you know that the side you are used to is better than the one to come?”
— Rumi
You cannot push anyone up the ladder, unless he is willing to climb.
— ﷽ (@IslamicThinking) December 11, 2019