the worst Ramadhan ever 😥😥
No title available
TVSTRANGERTHINGS
One Nice Bug Per Day

if i look back, i am lost
Lint Roller? I Barely Know Her

祝日 / Permanent Vacation

No title available

Product Placement
ojovivo
trying on a metaphor
dirt enthusiast
noise dept.
YOU ARE THE REASON

Andulka

⁂

PR's Tumblrdome
AnasAbdin

oozey mess
almost home

★

seen from Malaysia

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from France
seen from Türkiye

seen from Netherlands

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Switzerland
seen from Australia

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Spain

seen from Japan

seen from United States
@akarakarrumput
the worst Ramadhan ever 😥😥
Living with others expectation is hard.
Living with your weird dream is hard.
Then, which one do you choose ?
no one said being different was easy, but if it's worth the fight, then go ahead. because the one who knows best about you is yourself. stop being fake, and pretend to be happy.
No one say, it was easy.
But, when you think it's worth enough, just go ahead.
Pelan-pelan aja. Gaperlu buru-buru. Nanti juga sampe.
Semangat, Pril !
Tired .
Tuhan, berikan saya kekuatan untuk mengubah apa yang bisa diubah, berikan saya keikhlasan untuk menerima apa yang tidak bisa diubah, dan berikan saya kebijaksanaan untuk membedakan keduanya.
Hai 2021, semoga bisa jadi lebih bijaksana.
Jangan hilang untuk dicari, karna kesempatan keduapun tak pasti, malah bisa jadi hilang arah untuk kembali.
Rasa yang paling menyebalkan : rasa tidak dipercaya.
Yang kamu yakini benar, belum tentu benar menurut oranglain. Pun sebaliknya. Niat baik dengan cara yang salah, tetep bisa jadi salah. Kenyataannya setiap manusia itu berbeda, rumit memang tapi ya mau gimana lagi.
Tapi biasanya sih pada akhirnya Tuhan bakal mempertemukan orang-orang yang sama dalam lingkaran yang sama.
Yaudah gitu aja.
Maunya apa sih, Pril ?
Please, jangan batuu
Seperti kata yang butuh spasi untuk menjadikannya kalimat bermakna, kitapun sama, butuh ruang jeda untuk merasa.
MENERIMA
Hari ini aku belajar lagi, kalo menerima itu adalah proses pembelajaran yang nggak akan pernah selesai. Proses menerima diri sendiri sebagai manusia yang masih banyak kurang dan nggak bakal pernah sempurna, pun manusia lainnya. Layaknya proses belajar, menerima adalah sebuah kerja yang melibatkan logika. Menyimbangkan rasa dan logika, tidak mudah? Iya. Tapi bisa dilatih. Jadi mari belajar dan berlatih untuk tetap mindful menjalani hidup supaya lebih mudah menerima dan memahami apapun dan siapapun dengan cara pandang lebih luas 💙
Semarang, 26 Juni 2020
Her word is never failed to make me cry, relizing how lucky I'm.
11 April 2020. Sebuah moment berulang setiap tahun sebagai ruang untuk berefleksi. 28 tahun sudah diberi kesempatan Tuhan hidup di bumi ini. 28 tahun yang dipenuhi dengan pembelajaran berharga tentang bahagia dan dukacita. Tahun ini bahagia karena mendapatkan anggota keluarga baru.
Disisi lain, tahun ini pula penuh dukacita. Diperlihatkan langsung dengan Bencana alam, orang-orang yg meninggal secara mengejutkan dan pandemi yang semakin menyadarkan bahwa sesungguhnya kematian itu dekat.
Sebuah catatan 28 tahun yang menyadarkan akan eksistensiNya. Sebuah catatan yang menegaskan bahwa sedih dan bahagia adalah hal yang selalu berjalan beriringan. Lalu kembali bermuara pada pertanyaan berulang yang ditujukan ke diri sendiri setiap tahunnya "jadi, 28 tahun ini sudah melakukan apa? sudahkah waktu hidupnya bisa dipertanggungjawabkan?"
Terimakasih Tuhan, atas 28 tahun kesempatan yang diberikan untuk hidup di bumiMu ini. Maaf, belum bisa jadi hamba yang sepenuhnya taat. Tapi mohon, jangan ditinggalkan yaa.
Dan kepada kamu hai Aprilia. Turut berdukacita atas berkurangnya jatah hidup di bumi ini. Terimakasih karena sudah hidup baik-baik saja sampai hari ini, semoga terus begitu. Maaf jika selama ini sering terlalu keras jika lelah, gapapa istirahat sejenak tpi pastikan jalan lagi yaa. Jangan lupa untuk berusaha memegang erat prinsip hidup "sabar, syukur dan ikhlas" karena sampai saat ini sepertinya itu adalah cara paling mujarab untuk menjalani hidup dengan baik-baik saja.
Selamat bertambah umur, semoga usiamu penuh keberkahan.
Semarang, 11 April 2020
WIDE PERSPECTIVE
Menurut saya, teknik bertani itu gampang, mau model modernisasi atau model kearifan lokal, sama-sama mempunyai kelebihan dan kekurangan jika bicara soal bagaimana meningkatkan hasil dalam rangka ketahanan pangan (food security) versus keamanan pangan (food safety).
Keduanya bisa sama-sama berkelanjutan ( sustainable) dalam makna beda (memberi laba terus menerus/lestari scr ekonomi vs menopang daya dukung alam terus menerus/lestari scr ekologi) maupun sama saja (lestari ekonomi yg ditopang lestari ekologi melalui komodifikasi/kapitalisasi organik, kearifan lokal dll).
Pertanian (termasuk perkebunan dan peternakan) sebagai cara manusia mencukupi pangan populasi manusia terbentur pada persoalan yg jarang menjadi perhatian dan pertimbangan para teknokrat dalam merumuskan gagasan maupun metode tekniknya, yaitu: keadilan sosial dan perilaku sosial/masyarakat, sehingga kedaulatan pangan (food sovereignity) muncul sebagai alternatif, yang memuat konsekuensi tertentu.
Keberhasilan Revolusi Hijau dalam hal ini ialah mampu mengubah perilaku dan paradigma/nalar masyarakat, maka Revolusi Hijau tangguh dan adaptasi bentuk dari masa ke masa. Meskipun tetap saja keadilan ditinggalkan, baik sosial maupun lingkungan.
Konsekuensi dari Kedaulatan Pangan itu yg berat untuk diambil pelaku kecukupan pangan, ketahanan pangan, maupun keamanan pangan dalam nalar dan cara-cara industri.
Nalar dan cara-cara industri inilah akar masalah tak tampak dari gejala-gejala dampak negatif modernisasi pengelolaan alam, spt: erosi thd keragaman genetik dan sumber plasma nutfah, kemerosotan kualitas tanah air udara, degradasi kesehatan manusia akibat konsumsi produk tak sehat, ketimpangan yg tajam antara kaum bermodal kuat dan lemah dalam penguasaan sumber2 penghidupan, kemiskinan hingga kelaparan akibat food trade.
Dunia kadung digerakkan oleh nalar dan cara industri semenjak revolusi industri (ilmu bersanding dengan modal), yg membayangkan efisiensi hanya dapat dicapai dengan a) Produksi skala besar, b) Mekanisasi/permesinan, c) Manajemen terpusat (entah oleh negara atau lembaga swasta besar dan jejaringnya), d) Monokultur/budidaya satu jenis, e) Kontrol sepenuhnya manusia thd alam.
Imajinasi ttg kemajuan yg tidak nyambung (bahkan bertolak belakang) di level ide dan semangat dasar pun tak jarang dipaksakan, misalnya Benih Lokal pabrikan, Pestisida Nabati pabrikan, Pupuk Alami pabrikan, Komoditisasi permaculture, Pertanian organik demi pasar semata, Budidaya dalam ekosistem tertutup dengan teknologi IoT, hal-hal yg dicirikan dengan: kontrol segelintir manusia thd alam dan penghidupan sosial, termasuk cara hidup dan selera massa.
Ini adalah zaman ketika kita yg tersisih dari kuasa atas penghidupan ini kehilangan kontrol atas hidup dan diri kita.
Apakah pertanian skala rumah tangga yang nir pabrikan bisa mencukupi pangan dunia?
Jika ini pertanyaan moral, jawaban Mahatma Gandhi tegas: bumi mampu mencukupi kebutuhan seluruh penghuninya, tapi tidak satu orang serakah.
Jika ini pertanyaan politik, maka relakah negara dan pasar melepas kekuasaannya untuk rumah tangga di sektor pangan dan energi?
Jika ini pertanyaan sosial, bagaimana mengorganisasikan massa rumah tangga itu untuk berjejaring dan berdaulat dalam pangan dan energi?
Jika ini pertanyaan ekonomi, apakah makna efisiensi bisa diubah atau digeser dari nalar "menciptakan surplus atau kelimpahan hasil pada kaum kaya untuk kemudian menetes ke bawah pd kaum papa" melalui jalan industri ke nalar "kaum termiskin dan rawan pangan memproduksi pangannya sendiri" melalui deindustriisasi?
Jika ini pertanyaan budaya, bagaimana mengubah kultur masyarakat dari dependency ke independency?
Jika ini pertanyaan ideologi Indonesia, sampai di mana nalar kita ber-Pancasila dan dalam nalar apa Pancasila dirumuskan?
Siapapun tahu, bernafas dan makan hanya menunda ajal. Adakah dan/atau bagaimana cara menunda ajal yg adil bagi sesama penghuni bumi?
Ah, bukankah kita masih suka seruput kopi yg tak lain anak kandung peradaban industri? Tambah gula pasir pula...
__________________________________________
catatan diskusi di grup Sektimuda dari Pak Kus, yang membuat saya jadi merefleksikan ulang niat dan idealisme dalam prespektif yang lebih luas. Terimakasih pak Kus.
Bersyukur bisa dipertemukan dengan lingkaran ini 🙂
Terlihat seperti kehilangan arah, seperti tidak ada tujuan. Padahal enggak. Tapi juga sulit untuk menjelaskan apa tujuannya karena akan sangat panjang dan sulit di mengerti.
Pertanyaan yang selalu coba ditanyakan kembali pada diri sendiri ketika kehidupan terasa sedang tidak baik-baik saja dan sejauh ini masih bekerja secara ampuh untuk mengembalikan ruang sadar secara utuh :
"Apa sih yang dikejar?"