Membangun Indonesia Membangun Daerah: Inspirasi Dari Tri Rismaharini
Semangat reformasi di tahun 1998 telah melahirkan beberapa gagasan untuk pembangunan Indonesia yang diantaranya adalah otonomi daerah. Dari situ lahir produk hukum seperti kebijakan desentralisasi melalui UU Nomor 22 tahun 1999 dan UU Nomor 25. Seiring berjalannya waktu, rumusan UU tersebut disempurnakan dengan diterbitkannya UU Nomor 32 tahun 2004 dan UU Nomor 33 tahun 2004 dimana akhirnya UU tersebut menjadi titik tolak bagi pemerintah untuk meninggalkan sistem sentralisasi menuju sistem desentralisasi.
Tulisan ini tidak sedang mendalami teori otonomi daerah atau desentralisasi. Karena barangkali bagi sebagian orang akan menjemukan. Namun, tulisan ini sedang mengupas beragam inspirasi dari kepemimpinan anak daerah yang lahir di era otonomi daerah dan mempunyai semangat untuk membangun daerah. Bukankah memang seharusnya kita menyempurnakan perjuangan para pendahulu kita yang telah merobohkan sistem sentralisasi?
Di awal kita mengenal figur Joko Widodo, Walikota Solo yang berhasil memindahkan ribuan PKL dari kawasan Monumen 45 ke Pasar Klithikan Notohardjo tanpa tindakan kekerasan dan melalui gaya “blusukan”nya. Di Jawa Barat, figur Ahmad Heryawan tidak kalah berprestasinya. Sejak beliau memimpin Jawa Barat di tahun 2008, setidaknya ada 90 prestasi yang beliau raih. Prestasi itu ada di bidang pembangunan infrastruktur dan lingkungan hidup, sosial budaya, perekonomian, dan pemerintahan.
Memasuki Indonesia wilayah Timur, di Kabupaten Bantaeng, terdapat sosok Bupati yang cerdas dan berprestasi. Beliau adalah alumnus Universitas Hasanuddin Makasar dan University of Kyushu, Japan. Beliau adalah Prof. Dr. Ir. Nurdin Abdullah, M.Agr. Genap di usianya yang ke 50, beliau berhasil menyulap Kabupaten Bantaeng menjadi lebih tertata. Persoalan banjir beliau berhasil atasi dengan membangun cekdam sebagai pencegah banjir seluas 5 ha. Selain itu, iklim investasipun berhasil dia tingkatkan dengan menyiapkan lahan seluas 1.000 ha untuk pabrik smelter yang akan beroperasi di tahun 2015 dan 2.000 ha untuk relokasi industri dari Jepang. Dan segudang prestasi lainnya yang bisa dilihat dari (http://sosok.kompasiana.com/2014/02/23/bupati-tercerdas-di-indonesia-634027.html).
Selain tiga kepala daerah di atas, Indonesia sebetulnya masih memiliki segudang kepala daerah lainnya yang diyakini akan mampu membangun daerah-daerah yang tersebar di Indonesia. Saya yakin sosok Irwan Prayitno (Gubernur Sumatera Barat), Ridwan Kamil (Walikota Bandung), Bima Arya (Walikota Bogor), Rudy Gunawan (Bupati Garut), Dr. TGH. Muhammad Zainul Majdi (Gubernur NTB), dan Tri Rismaharini (Walikota Surabaya) bisa membawa daerahnya menjadi lebih berprestasi lagi. Dan saya berharap, akan lahir dan muncul ke permukaan, pemimpin-pemimpin atau calon pemimpin daerah yang mampu mengembangkan setiap daerah dan kawasan di Indonesia.
"Usia pelaksanaan otonomi daerah tidak lagi prematur. Impian para pendahulu kita akan lahirnya gagasan ini adalah terciptanya pembangunan Indonesia yang merata. Ingat, bahwa Indonesia bukan hanya milik DKI Jakarta!"
Inspirasi Dari Tri Rismaharini
“Saya itu dibantu Tuhan. Saya hanya sendirian. Mana mau partai-partai itu tiba-tiba semua dukung saya, termasuk partai yang mengusung saya”
Seperti pada ulasan di awal. Tulisan ini hanya akan menyoroti satu figur kepala daerah yang kebetulan saya menghadiri acara diskusi dengan beliau. Ya. Beliau adalah Tri Rismaharini. Tidak terasa, peserta diskusi dibuat tersihir olehnya. Acara yang berdurasi 2,5 jam tanpa henti itu masih menarik atensi peserta karena rasa penasaran kami yang tinggi. Barangkali karena kami yang sedang berdomisili di United Kingdom (UK) dibuatnya terpesona hanya melalui layar kaca atau berita-berita di social media.
Saya mendapatkan sejumlah inspirasi dari hasil diskusi tersebut. Dari gaya kepemimpinan hingga tata kelola pemerintahan.
Kelemahan dalam pengelolaan pemerintah daerah pada umumnya dikarenakan adanya inefisiensi. Tidak jarang kita jumpai pengeluaran-pengeluaran daerah yang sebenarnya tidak perlu tetapi karena sudah turun menurun “terpaksa” harus dilanjutkan atau bahkan diperparah. Sebagai contoh adalah belanja pegawai. Sebagian besar daerah kabupaten/kota di Indonesia menghabiskan belanjanya untuk belanja pegawai yang bisa menghabiskan 70 persen dari total belanjanya. Padahal, keperluan yang mendasar dari pembangunan daerah itu terletak pada pembangunan infrastruktur. Hal ini diperparah dengan masih belum mampunya daerah untuk meningkatkan kinerja Pendapatan Asli Daerah (PAD) mereka yang mana sumber utama pendapatan masih dari pemerintah pusat – bisa mencapai 90 persen dari Dana Alokasi Umum (DAU) atau Dana Alokasi Khusus (DAK).
Inilah yang saya lontarkan pertanyaan kepada beliau. Bagaimanakah Kota Surabaya bisa membangun taman sebegitu hebatnya dan memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya. Dan jawaban beliau sungguh tepat. Pada kenyataannya, efisiensi menjadi kunci pembangunan yang dia lakukan terhadap kota yang dipimpinnya. Tidak ada bentuk tuntutan khusus kepada pemerintah pusat untuk membesarkan porsi DAU atau DAK nya. Yang dilakukan adalah perampingan struktur birokrasi dan pengalihan dana belanja pegawai yang tidak begitu penting (missal:perjalanan dinas) untuk dialokasikan ke pembangunan taman dan penyediaan kebutuhan hidup masyarakat.
Setidaknya, Ibu Risma sudah tiga kali dirotasi oleh atasannya selama menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Sebab, dia memiliki satu prinsip yang kuat yaitu punya sikap atas tanggung jawab. Selama dia meyakini bahwa apa yang diusungnya merupakan untuk kemaslahatan masyarakat, bukan tekanan politik semata maka akan dia tuntaskan. Bahkan, dengan sikapnya yang kaku tersebut, dia sempat mengundurkan diri dari PNS.
Sebelum memutuskan solusi, yang dilakukannya terlebih dahulu adalah mendengar. Bukan tanpa alasan yang jelas Ibu Risma perlahan membubarkan salah satu lokalisasi prostitusi terbesar di Asia Tenggara, Dolly. Dia mendengar langsung dari pelaku apa yang terjadi di lapangan. Faktanya, tempat prostitusi tersebut memang menyatu dengan perumahan. Media asing maupun local yang melontarkan kritik terhadapnya atas penutupan Dolly dibantahnya dengan sederhana. Tidaklah bisa disamakan lokalisasi Dolly dengan lokalisasi di negeri lain yang mana Dolly ini merupakan kawasan pemukiman warga. Maka terkejutlah dia ketika anak di usia SD dan SMP bisa menjadi konsumen wanita paruh baya. Pemimpin mana yang mau menutup mata dan telinga atas fenomena tersebut? Terkecuali mungkin mereka yang kapasitasnya hanya mampu mengeluarkan kebijakan populis tanpa berpikir bisa berpikir lebih kritis.
Ini penting. Komitmen dia adalah menuntaskan tanggung jawabnya untuk Surabaya. Berbagai tawaran yang ia dapati seperti menjadi Wakil Presiden jelas dia tolak karena merasa tanggung jawabnya untuk Kota Surabaya belum tuntas. Selain itu, komitmen yang kuat ini membuat dirinya tidak mempersoalkan waktu keluarganya yang berkurang sampai harus dating ke kantor pukul 05.00 dan pulang larut 22.00 (bukan jam PNS pada umumnya)
Seorang pemimpin daerah jelas harus memiliki konsep yang matang untuk pembangunan daerahnya. Latar belakangnya yang merupakan teknik arsitek tersebut kurang lebih mendorongnya dapat menata kota lebih baik. Begitu banyak taman yang dia lahirkan seperti Pemugaran Taman Bungkul di Jalan Raya Darmo dengan konsep all in one entertainment park, taman di Bundaran Dolog, dan taman-taman lainnya dengan akses full wifi. Selain itu, dia juga memperhatikan para pejalan kaki dengan membangun jalur pedestrian yang langka ditemukan di Indonesia. Dan pembangunan daerah lainnya yang jelas dan terencana. Poin di sini adalah, jangan sampai seorang kepala daerah tidak mengetahui peta pembangunan daerah yang hendak dibangun hanya karena keinginannya untuk maju tidak lahir dari ambisi pribadi. Hal ini mengingat Ibu Risma bertarung di pentas politik kota Surabaya karena diusung oleh partai tertentu.
Pada akhirnya, hal itulah yang sedikit banyak dibagi oleh beliau kepada kami para peserta diskusi. Dengan menghadiri diskusi ini, saya semakin yakin untuk menatap masa depan Indonesia yang cemerlang. Bahwa impian untuk pembangunan Indonesia yang merata di seluruh daerah bisa terwujud. Karena saya percaya masih ada banyak orang baik diluar sana. Hanya saja, kebanyakan berlian yang berwujud orang baik itu tidak jarang dikalahkan oleh kepentingan segelintir kelompok yang hanya haus untuk berkuasa. Dan mudah-mudahan, berlian tersebut tidak tenggelam dalam kotornya lumpur. Bisa jadi ada sedikit goresan padanya, tapi itu tetap membuatnya memiliki nilai di mata manusia. Karena berlian tetaplah berlian dimanapun ia berada.
Birmingham, 22 April 2014
nb: alur diskusi bisa disaksikan di youtube: https://www.youtube.com/watch?v=a1NLabi6SWY
*The discussion took place in Indonesian Embassy, London, UK on 17th April 2014. She came to London to receive an honor from Europe Business Assembly (EBA) in Socrates Award Ceremony held in London on 16th April 2014. The honor is "Surabaya as an Innovative City of the Future"!*