Hari itu, tak pernah terduga sebelumnya
Aku seperti biasa berangkat dari rumah ke kampus sekitar 1 jam sebelumnya. Karena aku masih anak laju waktu itu.
Kala itu aku ingat sekali sedang dalam suasana ujian semester. Pada hari itu, jadwal ujian adalah pukul 12.30 jadi mau tidak mau aku berangkat pukul 11.00 dan harus melakukan sholat dhuhur di jalan. Aku berangkat dengan motor scoopyku dan sudah biasa sholat di pom bensin manahan yang searah dengan kampusku.
Aku tiba di pom bensin sekitar pukul 11.45 dan saat itu azan dhuhur belum berkumandang, jadi aku harus menunggu di dalam mushola sambil sedikit membuka catatan dan membaca materi untuk ujian nantinya. Sembari aku membaca, ada seorang mbak-mbak masuk mushola dengan mengenakan jilbab hitam panjang serta tak lupa ransel yang besar dibelakangnya. Perawakannya sedikit gemuk, kulit sawo matang yang khas indonesia, dan rupa yang cukup adem menurutku. Yaaa, aku yakin sekali dia juga masih kuliah karena menggunakan jaket organisasi sebuah kampus menurutku. Dan aku berpikir sepertinya dia juga ingin menunaikan sholat dhuhur disini. Akhirnya aku dan mbak-mbak itu duduk bersebelahan, sesekali melemparkan senyuman. Memang aku jarang sekali memulai sebuah pembicaraan kepada orang lain. Akhirnya mbak itu dulu yang memulai memecah keheningan diantara kami.
👱🏼♀️ aku (aku sebenernya juga ber-hijab ya teman-teman. Tetapi emojinya biar lebih memudahkan kalian untuk membedakan kami. Hehe)
👱🏼♀️ : dari rumah Mbak, mau ke kampus
👱🏼♀️: wah belum Mbak, ini masih semesteran
🧕🏻 : Oh, kalau saya sudah libur. Mbak nunggu adzan juga? Mau sholat disini?
👱🏼♀️: iya Mbak, hehe. Mbak masih kuliah juga? Dimana? Semester berapa mbak?
🧕🏻 : kuliah di iain saya Mbak, habis dari kampus juga. Ini baru nyusun skripsi
👱🏼♀️ : iya Mbak, hehe (karna nggak tau apa lagi yang mau diomongin)
🧕🏻 : Mbak ikut organisasi ya? (Aku tau kenapa Mbaknya nanya gitu, soalnya aku pake jaket bem fakultasku)
👱🏼♀️ : oh iya Mbak, hehe (aku sebenernya ikut organisasi kampus, tapi bukan bem sih. Tapi aku bingung jelasin ke Mbaknya. Jadi yasudah deh.)
🧕🏻 : boleh kenalan? Nama saya Karim. (Kata Mbaknya sambil mengulurkan tangannya padaku)
👱🏼♀️ : iya Mbak, saya Ristita.
🧕🏻: boleh minta nomor whatsapp-nya Mbak Ristita?
(Waduh, baru kenal udah minta nomor wa. Saat itu takut banget dong aku. Karena jaman sekarang penjahat nggak mengenal cowo/cewe. Dan nggak mengenal penampilan. Bahkan di beberapa media orang yang berniqab saja bisa melakukan kejahatan seperti mencuri. Tapi aku tepiskan pikiran2 buruk itu, aku nggak boleh suudzon sama Mbaknya. Karena aku tau Allah akan melindungi hamba-Nya)
👱🏼♀️ : (Kemudian, aku beri nomorku ke Mbaknya)
Sekitar pukul 12.00 azan dhuhur sudah berkumandang, kita siap-siap untuk sholat. Mbaknya ngajakin sholat tapi lagi nunggu temennya yang diluar buat masuk. Aku sebelumnya nggak tau kalau ada temennya diluar mushola. Setelah itu temennya itu masuk. Dan ternyata laki-laki. Pikiranku kemana-mana dong. Tapi aku tetap diam dan nggak mau tanya lebih lanjut.
🧕🏻 : sholat bareng ya Mbak
🧕🏻: saya sholat sunnah dulu
Mmm.... kemudian aku lihat jam yang melingkar di tangan kiriku. Ternyata sudah sekitar pukul 12.07. Aku bingung, apa aku harus menunggu Mbaknya selesai sholat sunnah? Atau aku sholat duluan? Karena jarak dari pom bensin ke kampus masih sekitar 10 menit-an, padahal ujian dimulai pukul 12.30. Lalu aku putuskan untuk sholat duluan.
Aku sudah selesai sholat dhuhur sekitar pukul 12.15 namun aku tau si Mbak Karim sudah menyelesaikan sholat sunnahnya dan sekarang sedang sholat berjamaah yang dipimpin oleh temen laki-lakinya sebagai imam. Mmmm... sedikit gagal fokus sih sebenernya. Bacaan imamnya indah dan bikin adem. Rasanya nyesel tadi nggak ikut berjamaah.
Sebenernya pengen pamitan dulu sama si Mbak Karim. Tapi ujianku sebentar lagi, dan aku harus buru-buru ke kampus. (Maaf ya Mbak) Aku langsung saja keluar, dan melajukan motorku untuk ke kampus. Aku pikir itu kurang sopan, tapi mau gimana lagi :(
[Beberapa minggu kemudian]
Ada chat whatsapp masuk.....
Assalamualaikum Mbak Ristita.
Ini saya Karim yang ketemu mbak di Pom Bensin Manahan. Saya cuma mau menjaga tali silaturahmi saja.
Wah, mbaknya masih save nomerku ternyata. Lalu setelahnya aku balas. Setelah beberapa kali chat-an ternyata Mbak Karim orangnya baik. Dia ngajakin ikut seminar kewirausahaan. Pengen ikut tapi sayangnya malam hari, dan akunya nggak berani pulang kalau malam hari. Mbak Karim sebenernya nawarin buat nginep ditempatnya, tapi aku tetep nggak enak.
Mbak Karim sering banget bikin story kajian-kajian gitu, tentang adik-adik yang belajar mengaji (menurutku), karena sering sekali Mbak Karim dipanggil ustadzah oleh mereka. Banyak kata-kata motivasi juga di status whatsapp-nya.
Wah, beruntung juga menurutku aku kenal Mbak Karim. Sedikit banyak bisa bermanfaat sih. Mungkin jika diijinkan lain kali aku ingin bertemu lagi dengan Mbak Karim, atau siapapun itu yang bisa membuatku merasa beruntung jika mengenalnya.
Jadi kalau kalian jadi aku, apa yang kalian rasakan? Merasa senang? Beruntung? Atau malah takut?
~ Yang jelas semua kejadian ada hikmahnya