Tulisan : Belum selesai sampai di situ...
Sebuah pemikiran random akibat diriku yang suka terburu-buru dan cepat-cepat.
Dulu di jaman SMA aku merasa ingin segera mengakhiri masa SMA ku. Aku ingin segera bekerja/kuliah. Sudah cukup sampai di situ. Aku tak memikirkan apapun setelahnya, yang ku tau setelah aku lulus, selesai sudah tugasku. Aku bisa dengan tenang kerja/kuliah tanpa harus ribet memikirkan matematika, kimia, fisika dan kawan-kawannya.
Sudah cukup sampai di situ.
Tapi ternyata belum cukup sampai di situ. Aku tak memikirkan betapa susahnya masuk PTN sesuai jurusanku, aku pontang panting berusaha menemukan yang cocok, tapi gagal. Coba lagi, gagal lagi. Lalu aku menyerah. Akhirnya Allah tunjukkan jalan lain. Jalan yang benar-benar berbeda dan jauuuuh dari yang ku mau. Tapi aku yakin, ini yang terbaik untukku.
Lalu saat kuliah pun sama, aku tak belajar dari yang lalu. Aku terburu-buru lulus. Aku berusaha sebaik mungkin, bagaimana caranya agar bisa cepat lulus dan aku bisa segera bekerja. Yang ku tau saat itu asal IP ku bagus, aku tak akan kesulitan menemukan pekerjaan. Aku akan dengan mudah memilih pekerjaan yang ku mau. Dan aku tak perlu ribet memikirkan tugas akhir, dosen pembimbing dan lain-lain.
Sudah cukup sampai di situ.
Tapi ternyata belum cukup sampai di situ. Aku tak memikirkan betapa ketatnya persaingan untuk mendapatkan lapangan pekerjaan dan betapa butuh perjuangan untuk memulai suatu usaha. Begitu aku lulus, aku kembali pontang panting tak menemukan apa yang ku mau yaitu pekerjaan. Ku coba berkali-kali hingga aku putus asa lagi. Akhirnya lagi-lagi Allah tunjukkan jalan lain. Sempat bekerja selama sebulan, tak nyaman, resign lalu menganggur lagi. Tak lama setelah itu Allah beri aku pekerjaan di sebuah instansi BUMN yang aku pun tak pernah menyangka bisa ada di sana.
Aku bekerja di sebuah instansi BUMN yang begitu banyak diidam-idamkan orang. Aku menikmatinya, aku berada di sebuah comfort zone. Lingkungan tinggal yang baik, rekan kerja yang baik, pekerjaan yang aku enjoy mengerjakannya. Hanya saja, aku harus hidup jauh dari keluarga a.k.a merantau (lagi). Seiring berjalannya waktu, ada hasrat ingin menikah, aku sudah terlalu bosan dengan pekerjaan dan sudah terlalu lelah berjauh-jauhan dengan keluarga. Comfort zone ku berubah menjadi zona yang paling tak nyaman. Aku ingin menjadi ibu rumah tangga biasa seperti ibu ku.
Berkali-kali gagal, berproses begini dan begitu tetap gagal, lalu aku menyerah. Hingga di satu titik lagi-lagi Allah yang masih menyayangiku mempertemukan aku dengannya. Pikirku, setelah menikah aku akan hidup bahagia selamanya.
Dan lagi-lagi aku merasa sudah cukup sampai di situ.
Aku menikah. Tanpa tau jenis kerikil dan bebatuan apa saja dalam kehidupan berumah tangga. Aku lagi-lagi terpontang panting saling beradaptasi. Terlebih ada jarak yang semakin memperburuk keadaan.
Masih perihal adaptasi, aku jatuh bangun bertahan dan satu-satunya solusi adalah melepaskan pekerjaan. Aku ikhlas, aku rela. Pikirku, setelah aku resign aku akan dapat dengan mudah menjalani rumah tangga ku. Lagi-lagi aku berpikir bahwa aku akan senantiasa bahagia. Hidup berdua dengan suami yang baik, menjalani hari-hari bersama, ah indahnya.
Sudah cukup sampai di situ.
Nyatanya, ketika aku dan suami sudah berhasil beradaptasi satu sama lain, cobaan lain datang. Ternyata belum cukup sampai di situ. Berbagai pertanyaan perihal momongan yang awalnya bagi kami terdengar biasa saja mulai terdengar risih dan menyakitkan. Aku kembali berpikir, mungkin jika aku berhasil hamil, selesai sudah permasalahan. Tak akan ada lagi pertanyaan yang membuat kami risih, tak akan lagi ada sindiran-sindiran halus yang menyakitkan. Setelah itu kami akan hidup bahagia tanpa terusik perihal momongan.
Lagi-lagi aku berpikir sudah cukup sampai di situ.
Masyaa Allah, lagi-lagi Allah tunjukkan kuasa-Nya. Allah karuniakan pada kami janin dalam rahimku. Sekarang aku tak perlu lagi risih jika ditanya perihal momongan. Tapi ternyata belum cukup sampai di situ.
Sekarang barulah aku sadar bahwa tak akan ada kata "sudah cukup sampai di situ". Aku harus memikirkan bagaimana rencana dan ikhtiar ku melahirkan yang tak akan menyakiti dan menimbulkan trauma pada ku dan pada bayi ku. Bagaimana nanti aku merawat anak ku, pendidikan apa yang akan kuberikan pada anak ku, adab-adab apa saja yang perlu ku tanamkan pada anak ku, bagaimana cara ku membentuk akhlak anak ku. Dan deretan pertanyaan-pertanyaan serta rencana-rencana mulai berbaris di otakku. Benar-benar belum cukup sampai di situ.
Akhirnya, setelah sekian kali aku terjerembab di pemikiran yang sama yaitu "sudah cukup sampai di situ", kini ku sadar bahwa semuanya BELUM SELESAI SAMPAI DI SITU. Bahkan hingga nyawa tercabut pun belum selesai sampai di situ, masih akan ada hari pembangkitan, hari pertanggungjawaban dan sederet hal-hal lain yang harus kita jalani.
Untuk kalian yang saat ini sedang berkutat pada suatu keadaan atau permasalahan, entah masalah menanti pujaan hati, masalah adaptasi ataupun masalah ekonomi. Bersabarlah, nikmatilah. Jangan terburu-buru. Sesungguhnya setelah satu masalah terlewati akan ada masalah lain yang lebih berat menanti. Manfaatkanlah segala permasalah dan ujian hidup sebagai ladang pahala (jika kita bersabar).
Selamat menikmati fase ujianmu. Ingat, jangan terburu-buru, karna semua belum cukup sampai di situ.
Sidoarjo, 27 Desember 2019 | 18.41 WIB