Hari ketiga postpartum, ga setetes ASI pun keluar. Tiba-tiba dibelikanlah susu formula dan harus dibuat saat itu juga. Malamnya aku menangis. Baby blues syndrome. Melihat anak sendiripun aku jijik. Menyesal. Kenapa harus punya anak? Kenapa aku sendirian?
Hari ketiga, kakak Al kuning. Treatment fototerapi selama 3 hari, dan bilirubin normal. Aku pompa asi hanya 20 ml, aku berikan ke klinik. Hari ke-6, bolak balik RS karena harus konsul bedah anak. Saat itu, kakak Al fimosis, harus dikhitan.
Allah, memangnya punya anak sesulit ini? Saat itu sih mikirnya sih gitu. 4 bulan mencoba memberi ASI akhirnya aku menyerah. Aku lelah, frustasi, dan mengasihani diri sendiri. Tiap liat orang bisa menyusui anaknya, aku mikir, kenapa aku gak bisa? Am I a bad mother? Baru perlahan setelah 6 bulan, kemudian 1 tahun, aku bisa belajar memaafkan diri. Ternyata bukan dari pemakluman orang lain, diri kita sendiri yang harus bangkit dan bilang ‘Its okay, you’re good and great. Anakmu sehat, tumbuh sempurna.’ dan aku mulai bisa menutup telinga dan mata, sesekali menjawab omongan orang, ‘Memangnya, aku minta uang dari kamu untuk susu anakku?’ senang sekali melihat ekspresi orang itu yang tetiba diam dan pergi. Gak usah basa-basi yang basi, pikirku.
Selanjutnya, aku mulai mencari ilmu. Berbagai ilmu menyusui dan pumping asi aku pelajari. Aku investasi beli breastpump yang cukup mahal, aku ikut kelas dan seminar menyusui. InsyaAllah, ikhtiar.
ASI ku belum ada juga. Tapi kali ini, aku santai. Mencoba breastpump pertama kali, hanya ada setitik. Alhamdulillah, pikirku. Hari ketiga, aku ke konselor laktasi ditemani suami. Kagetnya saat itu BB Zaki sudah turun 10%,
‘Jangan turun lagi ya bu, maksimal minggu depan sudah harus kembali ke BB lahir.’
Menyusui was the hardest part. Tidur 1-2 jam per hari, puting lecet, belum kejar setoran asip, dan efek oksitosin yang juga bikin kontraksi rahim saat menyusui, hem nikmat-nikmat sedap. Sakit di dada, sakit di perut bagian bawah. Berhari-hari begadang, tengkuk ku sakit. Ternyata postpartum preeklamsi, minum nifedipin seminggu dan Alhamdulillah normal lagi.
Sudah hampir sebulan. Aku excited menimbang BB Zaki, sampai akupun dengan impulsif beli timbangan bayi untuk di rumah. Wohoo akan naik, pikirku. Bayiku bertumbuh, pikirku.
Di minggu ketiga itu, untuk pertama kalinya hatiku patah. BBnya tidak naik sama sekali. Mencapai BB lahirpun tidak. Raut mukaku yang berubah dibaca oleh suami. ‘Gapapa, kita ke dokter lagi besok.’ katanya.
Kalau waktu itu gak ada dia, mungkin baby blues syndrome part ke-2. Hahaha.
Beruntungnya di Bandung, akses ke konselor laktasi mudah. Waktu itu aku berkunjung lg ke DSA sekaligus IBCLC di Limijati.
Patah hati yang kedua, hahaha. You know. When you tried your best but you don’t succeed. Ya gitu. Diuji biar ikhlas, pikirku. Alhamdulillahnya, ortuku kali ini mendukung. Suamiku siap siaga. Berkali-kali bilang ‘Its okay, yang penting anak kita sehat.’
Lalu, gimana perasaanmu, Myr? At that point, aku cuma memikirkan untuk menurunkan ego ku. Berkali-kali aku lihat ibu lain yang meninggikan ego dan pride nya untuk memberikan ASI, tapi anaknya di bawah standar garis KMS. Aku tidak mau seperti itu. Oke baik, I am not a perfect mother, but I won’t give up. And I’ll try my best. Sufor jalan, dbf jalan, pumping jalan. Gaboleh nyerah sampai diberhentikan Allah. Itu aja..
And here I am. Anakku dua-duanya sufor. Beruntungnya mungkin adeknya masih campur ASI sampai sekarang. Di tahap ini aku belajar buanyak. Untuk mengusahakan yang terbaik, belajar ikhlas menerima kekurangan diri, dan afirmasi positif. You’re doing great:)
Semangat ibu-ibu semua. Semoga pahala yang dijanjikan Allah senantiasa jadi penyemangat kita, hehehe💪