[Puisi Untuk Karanggedang] Di desa ini, Semua cerita membersit dihati; Kamilah sekelompok jiwa; Yang dijuluki mahasiswa. Kami datang dengan sederhana, Tanpa mahkota serupa raja; Datang dari kota bukan berarti orang kaya; Lihat saja pakaian kami yang jelas ala kadarnya. Banyak orang bertanya tentang apa yang kami usung, Kami menjawab sembari merenung. Kini pengabdian sudah berdengung, Walau sesederhana srawung; Diluar sini, kami sangat suka berdiskusi; Tanpa ilmu pasti dengan bukti kongkrit yang berarti. Namun desa ini adalah bukti; Bahwa ilmu tak hanya sekedar teori. Nilai semester kami biasa saja; Sekedar tidak mengulang saja sudah lega; Kami memang mahasiswa rata-rata; Tapi setidaknya kami membawa tujuan yang mulia. Di desa ini kami belajar bahwa hidup bukan hanya sekedar materi; Melainkan ketulusan menyayangi, Guyub rukun dan toleransi, juga kebersamaan setiap pagi walau hanya sekecil sarapan pagi. Kini senyum telah berganti. Pagi desa yang ramai akan menjadi sunyi. Kedatangan kami akan berubah menjadi sebuah kepergian; Keberadaan kami akan berubah menjadi sebuah ketiadaan; Dan setiap pertemuan kini akan menjadi sebuah perpisahan. Untukmu desa kami; Maaf apabila kami hanya bisa sedikit memberi; Tentang program kerja tiada arti; Tentang kebiasaan kota yang menyebalkan hati; Karanggedang yang menawan; Kedatangan kami mungkin merepotkan; Namun bagi kami disini adalah kebahagiaan; Bertukar ilmu yang belum pernah kami dapatkan; Bertemu keluarga baru dengan sejuta kesan dan pesan. Kini kami akan kembali untuk menghirup udara kota yang risih dan penuh benci, Kemacetan dan polusi yang membuat emosi, Dan bertemu kesibukan yang sering melupakan diri. Hanya kata terimakasih yang sanggup terucap; Bibir kini telah gemetar dan berat untuk mengecap; Kini kami akan pergi, Untuuk mendengar kembali dosen berbasa basi dan berteori; Bertemu kembali manusia kota yang minim empati dan tak punya hati. Desaku yang kusayangi. Semoga kelak kemakmuran senantiasa memberi; Rindu kami tiada henti; Segala kenangan tak akan hilang dan telah terpatri. Dan untuk waktu yang terus berlalu, Kini kami harus rela sepanjang waktu, Untuk menangis menahan rindu. ............. Oleh: Beni (at Karanggedang, Jawa Tengah, Indonesia)