PEMUDA TANPA MASJID “I am unmosqued, I cant find God there”, Ahmed bilang itu dengan nada nothing to lose. Kita udah jalan sekitar 9 km dari Peninsula Island, nafas mulai pendek, tapi Ahmed mulai antusias cerita. Di negara asalnya mungkin jalan kaki jarak jauh itu udah jadi hal biasa, tapi agak effort buat saya yang udah seharian berkelana. Saya bertemu Ahmed di Devdan Show sore sebelumnya, dan malamnya bertemu lagi sebagai orang-orang yang gak dapet kendaraan murah dan memilih jalan kaki dari Nusa Dua Festival ke arah pulang. ********************** Sebelumnya, saya udah bayangin keseruan nonton tari kolosal di pinggir pantai tengah malam di bawah purnama lalu pulang ke penginapan naik ojek online dengan nyaman dan murah. Tapi perjalanan mengajarkan saya untuk tidak panik pada perubahan, dan.. gak usah terlalu melankolis. Baterai hanphone tinggal 5%, power bank habis. Perjalanan pulang dari Peninsula Island ke Tuban sekitar 14 km. Dengan baterai yang tersisa, saya coba pesan ojek online. Beberapa aplikasi saya coba tapi selalu no driver nearby sampai handphone benar-benar mati. Alhamdulillah. Tengah malam di Nusa Dua ternyata gak kalah sepi dari Gunung Argopuro. Ide itu tiba-tiba muncul, puluhan kilometer udah pernah saya jajaki di Argopuro, dan gak cuma sekali, masa jalan 14 km di jalanan datar aja lemah? Pikiran saya mencoba menantang fisik saya untuk jalan kaki ke Tuban. Berhubung ego lagi tinggi, jadilah saya afirmasi ide saya sendiri walau fisik udah capek. ************************ “Hari ini saya menemukan kesamaan antara Cincinnati dan Indonesia, masjid nya sepi”, sambung Ahmed. Saya bisa paham, di kampung saya, sering kali masjid hanya dipenuhi paling banyak dua shaf, kecuali pas sholat jumat. Lalu saya hanya menyampaikan kemungkinan-kemungkinan kenapa bisa seperti itu, mulai dari pengaruh nilai-nilai modernisme sampai positivisme. “Di Ohio, kebanyakan masjid diisi orang tua”, Ahmed memberi detail. Di sana, masjid disekat-sekat. Setiap aliran punya masjidnya sendiri. Setiap jenis kelamin punya ukuran ruang beribadahnya sendiri, yang umumnya ruang ibadah perempuan lebih kecil dari ruang untuk laki-laki -“Sama di Indonesia juga!”, saya menyela!. Sudah sekitar 11 km jalan kaki, Ahmed masi antusias, nada bicaranya makin meninggi, saya juga terpancing. Saya coba bertanya tentang detail yang Ahmed ceritakan, kenapa anak muda di sana tidak banyak yang pergi ke masjid sampai masjid hanya diisi orang-orang tua saja?. Ketika saya melihat itu karena faktor dari luar, Ahmed berani untuk melihatnya dari dalam. Berani, karena itu seperti mengorek hal yang paling sensitif, mengevaluasi praktek berkeyakinan dirinya sendiri. Baginya, ada yang harus diperbaiki dari cara kita mewujudkan agama. Aksennya nada bicaranya agak tegas pada kata “cara”. “Mosques now aren’t safe for youth”. Ahmed tidak mengarahkan argumentasinya pada persoalan masjid-masjid yang sering kali digunakan para ekstrimis untuk berceramah ataupun mengurusi persoalan politik. Tapi lebih dari itu, baginya masjid saat ini kurang memiliki ruang yang representatif bagi pemuda, lack of empathy, dan kurangnya kepemimpinan bisa jadi teladan. Bagi Ahmed, ada benarnya jika ilmu pengetahuan memberikan cara pandang baru bagi pemuda. Tapi sebenarnya itu tidak benar-benar baru, hanya saja saat ini akses informasi lebih terbuka dan mudah didapat, jadi bisa dibilang lebih komperehensif lah ilmu yang didapat, sehingga cara pandang terdahulu perlu disesuaikan karena sistem yang dianut berasal dari data-data yang terbatas. Di sana kata Ahmed, orang kulit hitam punya masjid nya sendiri, aliran A punya masjid nya sendiri, aliran B, C dan seterusnya punya aliran sendiri. Ketegangan ini yang menurutnya tidak sinkron dengan ajaran agama yang penuh kasih. Awalnya saya terkejut, tapi secara pribadi saya mulai paham kenapa dia bilang “I am unmosqued, I cant find God there”. Pertemuan dengan Ahmed hari itu adalah seperti tujuan dari setiap usaha saya melakukan perjalanan, bukan untuk diterima atau ditolak, tapi sekedar melihat variasi pandangan yang dunia punya. Bertemu dengan hal-hal itu adalah seperti berada tempat wisata terindah. Akhirnya kita sampai di Bundaran Bandara Ngurah Rai. Dari situ saya lanjut pesan ojek online ke penginapan, dan Ahmed menuju ke penginapannya di seminyak. Kata terakhirnya, “We dont have to agree on faith to respect as humans – that’s true islam.”












