Whatever Will be, Will be
Izinkan aku memulainya dengan sebuah pengingat.
Dari Abdullah bin Mas’ûd, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang ada kesombongan seberat biji sawi di dalam hatinya.”
Seorang laki-laki bertanya, “Sesungguhnya semua orang senang bajunya bagus, sandalnya bagus, (apakah itu kesombongan?”)
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya Allâh Maha Indah dan menyintai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia”. [HR. Muslim, no. 2749]
Berbicara tentang kesombongan, entah sekecil apapun ia bersembunyi di balik hati, maka semoga Allah izinkan ia terhempas begitu saja ketika tiada daya dan upaya dari seorang ibu yang membawa anaknya ke rumah sakit sore menjelang berbuka puasa, di bulan Ramadhan lalu, yang.. ahh aku tak bisa menamainya, terlalu banyak yang terjadi dalam 1 bulan yang memutarbalikkan arah itu.
Meski tidak ada hal yang patut disombongkan rasanya dari diri, tapi tetaplah setan membisikkannya di setiap langkah, entah itu menuju kebaikan, apalagi saat berkubang dalam keburukan.
Sombong terhadap kebenaran, pun sombong terhadap makhluk yang lain, sama saja, membuat hati memiliki ilusi, seakan-akan kita merasa di atas, padahal, kita sedang di ambang keburukan: selangkah menuju neraka.
Pernah tidak, hatimu merasa "ah apaan sih?" ketika mendengar seseorang berbicara? Lambat laun, kamu membiarkannya, bahkan berulang. Kemudian menjadi apa? Menjadi penyakit hati. Hingga tidak ada rasa bersalah ketika rasa itu hadir, saking pekatnya hatimu oleh banyaknya titik hitam dosa, saking kamu merasa jauuh lebih baik dari seseorang yang kamu lihat dengan sebelah mata.
Saat pertemuan pertama, dokter sub-spesialis itu geleng-geleng kepala--tak mengerti dengan apa yang terjadi dengan bayi ini: terlihat baik-baik saja, tapi dengan hasil labolatorium yang di luar nalar, yang harusnya dengan angka itu, ia sudah tak sadarkan diri.
"Saya sudah puluhan tahun belajar. Dulu, ketika saya masih spesialis, saya merasa tahu semuanya. Tapi, ketika semakin lama belajar, saya menyadari satu hal bahwa: saya tahu diri saya tidak tahu."
Dokter spesialis sebelumnya mengabari bahwa masih tetap belum ada jawaban apa yang sedang terjadi dengan buah hati kecilku itu.
"Ya, saya juga tidak mengerti, kok bisa begitu ya?" Bunyi pesan seorang senior dokter kepada juniornya, yang keduanya menangani Jazary.
Akhirnya, dengan perjalanan yang rumit namun selalu ada sentuhan pertolongan Allah di dalamnya, Jazary berhasil masuk IGD rumah sakit daerah yang direkomendasikan dokter sebelumnya.
Magrib itu, sembari menemani Jazary di kasurnya, kami menjadi saksi seorang Ibu pergi meninggalkan suami dan putrinya. Menyaksikan adegan yang biasanya hanya kami lihat di sinetron: monitor yang menampilkan garis lurus dan memicu bunyi alarm panjang, tim dokter yang dengan sigap mengambil tindakan RJP, perawat yang melepas semua alat yang tertempel, selimut yang diangkat hingga menutupi wajah, hingga bednya dipindahkan dari ruang IGD menuju ruang transit jenazah.
Kami akhirnya masuk ruangan. Jazary masih terlihat baik-baik saja di pekan pertamanya di rumah sakit kedua tempat ia dirawat ini. Sampai akhirnya memasuki pekan ke-2, ia mulai rewel. 3 hari belakangan ia hanya ingin digendong dan jalan-jalan, tak ingin masuk ruangan. Hingga akhirnya kesadarannya menurun dan masuk ruang PICU selama 4 hari. Di hari terakhir ia sempat sadar, ia merengek ingin digendong, ia ingin ikut kami. Sedangkan semua alat sudah terpasang di tubuhnya. Hingga akhirnya ia ditenangkan tim medis dan kami diarahkan untuk keluar ruangan. Itulah terakhir kali aku melihat sinar matanya, sebelum akhirnya di setiap pertemuan, ia tak lagi membuka matanya.
Tiga pekan perjalanan menemani Jazary ini, di saat minggu-minggu sebelumnya ia terlihat baik-baik saja, di pekan terkahir hidupnya ini, kami menyaksikan perjuangannya. Dengan seluruh kekuatan yang ia punya, Allah izinkan ia bertahan dengan napas terengah, sembari hati ibunya ini Allah kuatkan dan yakinkan bahwa jalan inilah yang terbaik untuk Jazary. Allah mengistirahatkannya dari ditusuk berkali-kali dengan jarum suntik, dari cuci darah, dan dari segala macam penyakit yang tak mampu dideskripsikan dengan pasti hingga ia pergi. Ya, semua hasil tes yang keluar menyatakan negatif. Hingga akhirnya, dokter menyebutnya "Autoimun".
Bertemu dengan dokter spesialis yang lain, yang suami kenal di ketakmiran masjid, mengingatkan kami bahwa, "Autoimun itu milik Allah. Bersabar ya.."
Doaku mulai meluas, tak lagi hanya doa kesembuhan, tapi doa yang kuserahkan keputusan terbaiknya pada Yang Maha Menentukan. Aku membisikkan padanya, di momen terkahir kunjunganku bahwa, "Nak, ibumu telah ridho. Nak, maafkan semua kekurangan Ibu. Nak, nanti kita bertemu di surga, ya."
Sejak saat itu, aku bukan lagi aku yang biasanya memaksakan keinginanku. Aku bukanlah aku yang hampir selalu berpikir, "Ah, bisa! Pasti ada jalan!" Ternyata, sekeras apa pun mencoba, lewat jalur mana pun yang ditempuh, jika Ia menghendaki pengabulan doa dengan cara yang berbeda dari yang seorang makhluk minta, maka, seorang hamba bisa apa? Tidak ada. Hanya bisa menjalani, kemudian menerima.
Masih ingatkah dengan perkataan Sahabat Ali Bin Abi Thalib? "Jika Allah mengabulkan doaku, maka aku bahagia karena itu adalah keinginanku. Namun, jika Allah tidak mengabulkannya, aku justru lebih bahagia, karena yang tidak dikabulkan itu adalah pilihan Allah, sedangkan yang dikabulkan adalah pilihanku sendiri."
Bukankah dalam Al-Hikam, buku yang begitu kamu cinta untuk membacanya di KRL dulu, kamu pernah melewati kutipan ini?
مَتَى فَتَحَ لَكَ بَابَ الفَهْمِ فِي الْمَنْعِ عَادَ الْمَنْعُ عَيْنَ الْعَطَاء
Artinya: “Ketika Allah membukakan pintu pengertian bagimu tentang penolakan-Nya, maka penolakan itu pun berubah menjadi pemberian.”
Maka, setelah semua ini terjadi; setelah Allah pilihkan jalan terbaik, tidakkah semestinya kita bersujud lebih lama, bersyukur lebih dalam, dan mencintaiNya lebih jujur dari yang pernah kita lakukan sebelumnya?
Lalu, apa hubungannya dengan kesombongan di awal paragraf tadi? Adalah sebuah ketidakpantasan, sebuah kehinaan bagi seorang hamba untuk merasa sombong dengan segala ketidakmampuannya. Bahkan dengan segala jenis alat, dengan dokter-dokter terbaik, dengan puluhan obat-obatan yang berjejer di selang itu, tak pernah mampu mengundur barang sedetik dari takdir yang telah Allah tuliskan.
Lalu, apakah yang bisa dibanggakan oleh seorang hamba yang bahkan tidak tahu sampai kapan ia bisa menarik napasnya sendiri? Apakah yang bisa membuat kesombongan pantas untuk dimiliki seorang makhluk yang tidak pernah tahu, apakah hari esoknya akan berakhir pada kebahagiaan, ataukah penyiksaan yang abadi.
Lalu, masihkah pantas ada sebiji sawi kesombongan di hati itu? Wahai hamba yang bahkan tak mengetahui takdirnya di satu detik setelah ia menuliskan kalimat ini?
-Hamba yang sering lupa akan kehambaannya,
28-05-2026












