Yang namanya cinta, ia akan selalu rela dan tulus memberi segala yang ia punya. Tanpa pernah berpikir apakah akan terbalas ataupun tidak.
Keni
RMH
Noah Kahan

blake kathryn

PR's Tumblrdome

★
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

roma★

❣ Chile in a Photography ❣
Game of Thrones Daily
Mike Driver

⁂
𓃗

Product Placement
🩵 avery cochrane 🩵
will byers stan first human second
art blog(derogatory)
almost home

@theartofmadeline
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
seen from United States
seen from Thailand
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Brazil
seen from United States
seen from Brazil
seen from Costa Rica

seen from Nigeria

seen from United Kingdom
seen from Nigeria
seen from Uzbekistan
seen from Malaysia
seen from United States
@annilannila
Yang namanya cinta, ia akan selalu rela dan tulus memberi segala yang ia punya. Tanpa pernah berpikir apakah akan terbalas ataupun tidak.
Kadang hidup terasa berat, tapi yang mesti diingat bukan beratnya tapi syukurnya.. Syukur di tengah-tengah banyaknya masalah masih diberi nikmat yang lain..
Terlalu banyak kebersamaan yang menyenangkan sehingga saat berjauhan, jadi susah move on. -Abang
Bali
Dari dulu pengen banget ke Bali, dan ketika unit saya di kantor sepakat untuk liburan ke Bali, saya yang paling semangat. Dan hari yang kami rencanakan untuk ke Bali merupakan hari yang paling saya tunggu-tunggu. Rasanya deg-degan sekaligus senang. Finally saya bisa juga menginjakkan kaki saya di Bali, salah satu tempat yang paling terkenal di Indonesia.
Bandara International I Gusti Ngurah Rai Merupakan bandara yang paling bagus di antara bandara lain yang pernah saya kunjungi. Penataannya bagus, rapi ditambah lagi dihiasi dengan ornamen dan gaya yang khas Bali banget.
Pantai Pandawa Merupakan pantai di desa Kutuh, Bali merupakan pantai dengan patung-patung para Pandawa yaitu Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa menghiasi bukit batu yang menuju pantai.
Uluwatu Uluwatu berasal dari kata “ulu” yang berarti ujung dan “watu” yang berarti batu, sehingga makna uluwatu adalah ujung batu. Di kawasan pura ini pengunjung harus selalu waspada karena di sini banyak sekali monyet-monyet yang berkeliaran dan tak jarang monyet tersebut mengambil barang para pengunjung. Jadi, kita harus menjaga barang bawaan kita selalu, terutama handphone, kacamata, ataupun kamera.
Garuda Wisnu Kencana Di sini terdapat patung Dewa Wisnu raksasa yang merupakan karya dari pematung I Nyoman Nuarta yang direncanakan akan bisa dilihat dengan jarak pandang 20 KM sehingga dapat terlihat dari kawasan Kuta, Sanur, Tanah Lot, dan Nusa Dua. Patung tersebut sampai saat ini belum jadi.
Selain melihat patung Dewa Wisnu raksasa, kami juga berkesempatan untuk melihat pertunjukan Barong.
Bali Hai Cruise, Perjalanan ke Pulau Lembongan Dari Bali ke Pulau Lembongan kami naik Bali Hai Cruise sekitar 1 jam kemudian kami akan ditransfer ke sebuah kapal yang lebih kecil yang akan mengantarkan kami ke Pulau Lembongan.
Naik kapal juga merupakan pengalaman perdana saya, dan saya mabuk laut. Dan saya tidak mau lagi naik kapal lagi setelah ini, karena setelah sampai di darat pun perut dan kepala saya masih merasakan gelombang lautnya. I am give up! haha!
Selama di Lembongan, saya hanya bisa beristirahat di bawah pepohonan di pinggir pantai karena kebetulan saya juga sedang berada di masa haid sehingga tidak bisa bermain air seperti teman-teman saya yang lain. Sembari saya istirahat, teman-teman saya ada yang main snorkling, banana boat, dan sebagainya. Menurut pendapat mereka untuk snorkling lebih bagus di Belitung karena ikan-ikan dan terumbu karangnya bisa terlihat lebih jelas. Hem, saya tertarik untuk snorkling tapi saya mikir-mikir lagi karena di Belitung untuk snorkling harus naik kapal juga.
Foto dari hp dan kameranya Pak Obet.
Di saat saya kangen dengan keluarga di rumah, yang bisa saya lakukan hanyalah berdoa. Agar mereka selalu sehat, agar selalu kuat, dan berharap agar saya bisa segera dekat dengan mereka lagi.
Aku di sini, kamu di sana. Terpisah jarak ribuan kilometer. Tapi itu tidak akan pernah membuatku berhenti berjuang untuk membangun istana untuk kita berdua.
Dia
Secantik apapun rupa jika tidak dihiasi dengan kebaikan hati maka jadinya tidak cantik lagi. Secantik apapun itu jika ia tidak mensyukuri maka sia-sia saja kecantikannya itu. Karena itu, berbuat baiklah banyak-banyak, bersyukurlah banyak-banyak
Saya harus bisa masak yang enak!
Cita-cita baru
Makin dewasa, makin banyak cita-cita yang ingin saya capai. Makin banyak pula hal-hal yang saya pikirkan. Makin besar pula tekad saya untuk bisa bermanfaat.
Saya ingin sekali jika anak saya nanti bisa mempunyai pengalaman untuk mengenyam pendidikan di luar negeri dan kemudian kembali ke Indonesia untuk membangun dan memperbaiki bangsanya.
Dan kemudian saya harus menaikkan kualitas diri saya agar bisa mewujudkan mimpi ini.
Menjadi seorang pemimpin sangatlah sulit. Ia tidak hanya bertanggungjawab atas dirinya namun juga bertanggungjawab atas hidup dan kebahagiaan orang lain yang ia pimpin.
Persiapan Pernikahan (1)
Sampai saat ini, saya ataupun keluarga saya belum mempersiapkan apa-apa untuk pesta pernikahan saya nanti. Namun saya pribadi sekarang lebih banyak berfokus untuk memperbaiki diri. Saya lebih sering berkutat dengan bacaan-bacaan mengenai rumah tangga ataupun parenting, Namun tetap saja saya juga membaca hal-hal lain terutama hal-hal yang cenderung kritis dan menguras otak ataupun hal-hal yang memotivasi dalam hidup. Intinya, saat ini saya lebih meningkatkan intensitas saya untuk membaca dan berpikir.
Hal lain yang yang saya ubah dari diri saya adalah saya sekarang lebih happy. Saya sedang membangun kebiasaan untuk bangun pagi, sholat tahajud kemudian introspeksi diri sembari menunggu waktunya sholat shubuh. Kemudian setelah sholat shubuh saya menyibukkan diri saya dengan berbagai kegiatan yang bisa saya lakukan. Ya, saya sekarang menjadi lebih rajin dan bersemangat dalam menyambut hari. Saya juga sedang membiasakan diri untuk keluar kamar dan menghirup udara pagi yang segar dan sejuk dari atap kosan saya. Dan, itu membuat saya lebih bahagia!
Entah kenapa, saya merasa harus menjadi seseorang yang baru, seseorang yang jauh lebih baik, karena saya sebentar lagi status saya akan berubah yang tadinya adalah seorang anak menjadi seorang istri. Dan masa transisi itu juga akan memengaruhi saya bagaimana saya akan menata hidup saya ke depan. Saya harus menjadi orang yang jauh lebih sabar, jauh lebih rendah hati, dan menerima segala sesuatu dengan lapang. Karena saya yakin, kehidupan dalam rumah tangga tidak akan seindah drama korea. Kehidupan rumah tangga tidak akan semulus dan seindah para remaja yang sedang dimabuk cinta.
Saya sadar, saat ini saya masih sering labil dan kekanakan. Sehingga saya harus belajar bagaimana meredam emosi saya kelak. Saya harus bisa menjaga diri saya, menahan amarah, dan sebagainya. Karena nanti, surga itu ada pada rido suami saya.
Saya tahu, saya sudah mengenal calon suami saya sejak lama. Dia adalah sahabat saya, namun bukankah mengenal dia sebagai sahabat akan berbeda jika mengenal dia sebagai suami? Mungkin akan banyak hal yang akan mengejutkan saya nanti. BIsa jadi ternyata ekspektasi saya tidak sesuai realita. Bisa jadi apa yang calon suami saya harapkan dari saya pun akan berbeda setelah mengenal lebih jauh sebagai suami istri. Maka dari itu, saya harus banyak belajar menghadapi segala persoalan yang mungkin akan timbul nanti dengan pikiran yang jernih dan hati yang bersih.
Ternyata memikirkan persiapan pernikahan dari dalam diri ini saja sudah cukup membebani pikiran. Saya percaya bahwa dia akan menjadi suami yang baik dan bertanggungjawab. Bahkan saya yakin bahwa dia akan memprioritaskan saya dalam segala hal di hidupnya. Tapi tetap saja ada rasa takut, ya saya malah mencemaskan diri saya sendiri yang mungkin tidak cukup baik untuknya. Karena itu, saya tidak ingin berhenti belajar menjadi seseorang yang lebih baik. Yang mana dirinya akan bangga punya istri seperti saya.
... Bahkan saya pun punya mimpi bahwa saya juga akan melahirkan anak-anak yang tidak biasa. Saya akan mendidik anak-anak saya nanti menjadi manusia tangguh, kokoh, dan tak terkalahkan. Saya yakin setiap manusia pasti memiliki kegagalan, tapi saya akan menanamkan kepada mereka bahwa kegagalan, tantangan, dan masalah merupakan cara Tuhan untuk mengasah diri dan menempa diri untuk menjadi pribadi yang jauh lebih kuat. Dunia ini keras, dan hanya pribadi-pribadi yang jauh lebih kuat dan tangguh-lah yang akan berhasil mengalahkan dunia.
Sejak dulu saya sudah berjanji pada diri saya sendiri. Bahwa saya tidak akan penah menjadi seorang yang biasa-biasa saja. Saya akan sukses. Saya akan membuktikan bahwa anak kecil yang dulu selalu diremehkan akan menjadi sosok matang dan menjadi seseorang yang dicemburui oleh orang-orang di sekitar saya karena kesuksesan saya.
Merantau
Saya telah merantau sekitar 6 tahun sejak tahun 2011 hingga sekarang (2017). Bagi saya yang notabene seorang anak tunggal yang selalu dimanja dan diberi perhatian luar dalam oleh keluarga saya, merantau untuk pertama kali itu merupakan suatu hal yang luar biasa berat buat saya. Tapi kalo berat kenapa saya bersikeras untuk merantau? Karena tekad saya untuk maju lebih BESAR dari ketakutan dan kecemasan saya.
Saya lahir dan besar di Barabai, sebuah kota kecil di Kalimantan Selatan. Saya sangat nyaman di kota ini, sehingga saya merasa terlena dan saya tidak “maju”. Waktu masih sekolah di Barabai, saya kebetulan adalah juara kelas dan perwakilan sekolah dalam berbagai macam lomba, dan bagi saya untuk punya masa depan yang cemerlang, saya tidak boleh tetap di Barabai, saya harus maju, dan saya harus berani untuk mengambil segala kesempatan yang ada, saya harus keluar dari zona nyaman dan aman saya saat itu.
Ditambah lagi, saya punya segudang harapan dan cita-cita untuk Barabai, di mana saya ingin menjadi salah satu tonggak yang bisa mengubah kota kecil saya menjadi lebih baik. Dan, saat itu saya yakin bahwa untuk bisa membawa Barabai lebih baik, saya harus menjadi lebih baik. Saya harus tahu bagaimana kehidupan di luar sana, saya harus tahu lebih banyak, bergaul dengan orang yang lebih baik, dan salah satu caranya adalah dengan MERANTAU.
Kemudian, saya mendapat kesempatan untuk kuliah di Telkom University di Bandung, dan dalam pikiran saya, saya harus ambil kesempatan itu, terlebih saya mendapat beasiswa dari Gubernur Kalimantan Selatan waktu itu, Bapak Rudy Ariffin. Dan finally, saya kuliah di sana, dengan hati riang gembira karena saya merasa ini adalah one step closer to reach my big dream!
Sesampainya di Bandung dengan diantar mama dan mbah kakung, saya mulai memikirkan keberlangsungan hidup saya selanjutnya! OMG! Saya hanya berpikir akan cita-cita saya tapi saya tidak pernah berpikir bagaimana nanti saya di Bandung seorang diri? Ternyata, memang susah. Saya terbiasa menerima semuanya telah tersedia. Saya tidak pernah nyuci piring, tidak pernah nyuci baju, tidak pernah beres-beres rumah, tidak pernah menyentuh dapur selain untuk makan. Ya, begitulah saya. Sehari-harinya saya hanya tau makan, tidur, sekolah, dan belajar. Tidak ada yang lain.
Di Bandung saya memulai semuanya, mengerjakan hal-hal baru, mengerjakan pekerjaan rumah, beres-beres rumah, nyuci, nyuci piring, ngepel, dan lain-lain dengan berat hati. Namun, setelah saya lalui, pengalaman hidup saya selama merantau jauh lebih bermakna dan lebih mengubah diri saya.
Dengan merantau saya belajar banyal hal, kemandirian, kesabaran, manajemen waktu, cara mengatur keuangan, sosialisasi dengan teman, kedisiplinan, bahkan semua hal terkait dengan beres-beres rumah sudah bisa saya lakukan sendiri. Hem, dengan merantau saya juga lebih menghargai waktu dan jarak. Di saat merantau jugalah saya mengenal apa itu arti RINDU. Rindu dengan keluarga, dengan sahabat baik, dengan udara dan suasana hangat di Barabai.
Di saat merantau, pergaulan saya menjadi lebih luas. Saya berkenalan dan bersahabat dengan orang-orang dari seluruh Indonesia, dengan berbagai latar belakang, budaya, adat, dan juga pikiran. Saya belajar untuk bisa beradaptasi dan bernegosiasi dengan segala masalah yang ada. Saya berubah. Saya sekarang menjadi seseorang yang lebih kuat, lebih sabar, lebih tangguh, lebih berani. Saat merantau pulalah saya bisa mencari jati diri saya, menjadi seseorang yang “tahu” passion saya sebenarnya.
In the end, perjalanan saya sendiri pergi merantau jauh dari keluarga dan kampung halaman membuat saya lebih menikmati hidup karena hidup tidak lepas dari segala turun naiknya, hidup dihiasi kerikil-kerikil yang terkadang membuat kaki sakit kala menginjaknya, namun kerikil yang menemani tidak akan pernah menghalangi saya untuk mencapai cita-cita saya. Dan, segalanya tidak pernah lepas dari kesyukuran saya kepada Allah swt, karena Dia dengan kasih sayang-Nya menuntun saya sejauh ini, memberikan segala yang saya butuhkan, mengajari saya untuk menempa diri menjadi lebih baik,
Tugas kita bukan memikirkan takdir, tugas kita adalah beramal.
Nasihat Ustadz Badru Salam via Youtube
Sebenernya, kita sebagai manusia tuh saking ga ada ilmunya kita, yang bisa kita lakukan hanyalah menyalahkan orang lain atau menyalahkan Tuhan. Lebih sering suudzonnya daripada "nrimo"