Praktikum sore ini, padahal sebenarnya dapet dosen pembimbing yang baik banget. Mau ngedampingi nyuntik pasien, meriksa diagnosa udah bener atau belum dan ngarahin kalo ada salah. Tapii ee malah dapet pasien yang ga bisa di ajak kerja sama dan labil banget. Tadi pas di jemput di sekolahan dia paling semangat pas di ajak cabut gigi, sekarang setelah selesai diagnosa, alat udah disiapin, spuit udah di isi obat anestesi, dianya malah mellow drama.
Seketika rasanya mau teriak sama pasien. Tapi mau gimana lagi, namanya juga dia anak-anak. Sebenarnya pengen dibujuk atau dijanjiin ini-itu biar mau disuntik. Tapi rada ga tega, masak iya demi egoisnya aku dapetin target, Anak-anak jadi sasaran. Biasanya anak-anak kalo di bujuk bakal mau dengan hati tidak ikhlas. Dalam kurun waktu dekat biasanya tidak akan terjadi apa-apa. Tapi, kita tidak akan tau apa yang terjadi setelahnya. Bisa saja tindakan kita menimbulkan trauma mendalam pada anak-anak. Karena kesan pertama anak-anak datang ke klinik gigi adalah yang akan selalu membekas di hati dan fikiran mereka ketika menyangkut kesehatan gigi dan mulut.
Dosen pembimbing bantu bujuk. "Ayo neng. Ga papa kok, matanya ditutup dulu. Abis itu disuntik sakit dikit aja. Baca doa deh sambil tutup mata" abis itu anaknya tutup mata, ee ternyata sekalian nangis. Setelah anaknya benar-benar ga mau di bujuk dengan ikhlas. Akhirnya dosen pembimbing memberi mencerahan sekaligus pemendungan. "Udah, kalo anak nya ga mau jangan dipaksa. Nanti malah bikin trauma. Kan kasian" dengan senyum-senyum kasian dan mengejek. Seakan-akan dipikiran beliau lagi berkata "tuh rasain dapet anak-anak yang labil. Patah hati kan. Udah antar pulang aja anaknya"
Maaf pak, maaf. Sejujurnya itu bukan kata pikiran bapak, tapi kata otak saya sendiri.
Bukan tidak mungkin terjadi, Jika hari ini kita "memaksa" mereka dengan bujukan manis yang kita lakukan. Akan membuat mereka menganggap klinik gigi itu bukan tempat menyenangkan. Tapi, bukan berarti anak-anak ang tidak mau itu tidak bisa dibujuk. Kembali lagi kepada anaknya, ada tipe anak yang bisa di bujuk dengan mudah, dibujuk dengan usaha keras kita, atau dibujuk dengan sedikit paksaan. Yang terakhir inilah semoga tidak terjadi.
Tadi, setelah berusaha membujuk anak yang tidak mau di suntik, yang awalnya dia berkata "iya" dan baru saja mau ambil spuit dia kembali lagi dengan mellow dramanya. Akhirnya dengan perasaan sedikit kecewa pertama karena tidak jadi melakukan tindakan dan mendapatkan target. Dan yang kedua karena harus merelakan besok belum tentu dapat dosen pembimbing yang "enak"
Antat pasien pulang ke rumahnya, dengan hati yang tidak lagi dalam keadaan baik. Sampe depan ibunya berusaha menmasang ekspresi baik-baik saja. Dan menjelaskan kondisi umum kesehatan gigi anaknya, dan gigi yang pada rencana awal mau dicabut tidak jadi karena anak akut di suntik. Sekitanya ibunya marah dan keluarlah kata-kata ajaib yang ditujukan ke anak. Sebenarnya jadi ikut merasa bersalah karena saya menyampaikan itu anaknya jadi diceramahin panjang kali lebar.
Bersyukur dapat ibu pasien yang "membantu" bujuk anak dengan caranya sendiri.
Sebenarna ini hanya secuil cerita dari banyak pengalaman tentang perjuangan semester ini. Mungkin kasus dan alur nya berbeda, tapi kurang lebih seperti ini. Bagi kakak tingkat kisah seperti ini hanya menjadi kenangan ang sepertinya saat ini sedang dirindukan, selamat merindukan kak.
Bagi teman-teman yang sedang menjalani ini sekarang mungkin menjadi pengalaman "menyakitkan" dalam menjalani proses nikmat ini.
Dan bagi adik-adik yang belum menjalani ini. Selamat menuju kesini. Janan terlalu cemas karna banyak referensi yang "tidak menyenangkan" tentang kondisi ini. Tetaplah fokos pada kondisi kalian sekarang nikmatilah yang sedang dijalani saat ini. Karna segala sesuatu akan menghampiri pada waktunya.
Tapi percayalah bahagia itu memiliki porsi dan posisinya sendiri. Maka kita hanya perlu untuk menunggu dan berjuang untuk porsi dan posisi yang sudah ada itu.