It's Always You
Dalam perjalanan hidup, memegang nilai nilai kebaikan universal maupun yang sifatnya lokal, kadang kita kehilangan diri kita sendiri di tengah tengahnya. Sibuk bermanfaat bagi oranv banyak, lupa bermanfaat bagi diri sendiri. Sibuk memikirkan kepentingan orang banyak, lupa memikirkan kepentingan diri sendiri.
Kalau anak sekarang bilang, kadang kadang egois itu perlu kok. Tapi bagiku, ini justru bukan soal egoisme. Ini soal kesadaran penuh bahwa kita tidak akan pernah bisa jadi manfaat bagi banyak orang sebelum sungguh sungguh menjadi manfaat bagi diri sendiri.
Jadi, ini bukan semata perjalanan diri sendiri ke dalam diri. Namun justru perjalanab menembus banyak hati di luar sana yang hanya bisa dilakukan setelah hati kita utuh, bulat.
Kacaunya, sering kali titik pemahaman soal kebutuhan bermanfaat bagi diri sendiri ini, perlu melewati jalan yang bergelombang. This is sad. Really. Karena sejatinya perjalanan bermanfaat bagi diri sendiri bisa dilakukan bersamaan dengan bermanfaat bagi orang lain, dengan jeda di sana sini.
Soal jeda ini akan jadi sebuah bahasan menarik di dunia yang super sibuk ini kan? Di mana kaum rebahan mendapat nyinyiran terhebat dalam sejarah. Ah ini buat tulisan berikutnya ya.
It's always who needs to come first. Selalu kita, diri kita sendiri, yang seharusnya menjadi prioritas. Terlambat menyadari ini bisa jadi adalah jalan bagi tumbangnya banyak jembatan silaturahmi yang awalnya diniatkan demi kebaikan.
Terua terusan membantu orang lain sampau di satu titik, kelelahan menyeruak. Lalu tanpa sadar menyalahkan mereka mereka yang sudah kita bantu sebagai sebab kelelahan ini muncul.
Tanpa henti menyiapkan hati dan telinga untuk kesulitan orang lain, sampau suatu ketika semua energi negatif itu tak mampu lagi dikelola. Lalu begitu saja memutus hubungan dengan mereka yang membutuhkan kita. Menganggap merekalah sumber utama turunnya kobdisi mental.
Hai kamu yang selalu nampak kuat dan tegar di depan orang banyak.
Percayakah kalau kubilang, sesungguhnya alpamu memprioritaskan kesejahteraan diri, bukanlah salah siapa pun di luar dirimu. Yes sayang, ini salahmu. Karena ssudah seharusnya diri kita menajdi prioritas sejak dulu.
Look around! Hanya ketel air yang berisi yang bisa menumpahkan air. Jadi isi ketelmu, lebih dulu, selalu, sebelum mengisi gelas orang lain. Love yourself.
Ditulis sebagai self reminder, setelah melalui beberapa hari di mana mengangkat diri dari kasur adalah sebuah prestasi.











