berulang kali.
iya berulang kali.
judgement,
"anak durhaka"
"mempermalukan keluarga"
"merepotkan"
in this day and age.
masih terus berlanjut.

ellievsbear
TVSTRANGERTHINGS
RMH

shark vs the universe
Stranger Things
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
I'd rather be in outer space 🛸
ojovivo
No title available
Sade Olutola

@theartofmadeline
taylor price
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
The Stonewall Inn

Product Placement
Not today Justin

pixel skylines

tannertan36

PR's Tumblrdome
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Türkiye
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United States

seen from Chile
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Dominican Republic
seen from United States
seen from Brazil
seen from Slovakia
seen from Argentina

seen from Kuwait

seen from France

seen from Germany
@applepinnapleapplepen
berulang kali.
iya berulang kali.
judgement,
"anak durhaka"
"mempermalukan keluarga"
"merepotkan"
in this day and age.
masih terus berlanjut.
Pen bolos kuliah besok pagi tapi gue dosennya.
asli. mager tapi gabisa.
Mempertanyakan
Berselancar di media sosial, terus banyak ketemu sama kekhawatiran orang. Beberapa pertanyaan, mengusikku. Membuatku bertanya-tanya apakah aku hidup dalam bubble? Atau, serandom apa sih lingkungan seseorang hingga untuk hal yang basic aja masih dipertanyakan? Misal pertanyaan seperti ini: ada nggak sih cowok yang baik, shalat 5 waktu, tidak merokok, bertanggungjawab, tutur katanya baik, kalau suka sama cewek langsung berniat baik buat menikah, bukan buat main-main?
I mean, seperti apa sih lingkungan orang yang bertanya hingga shalat 5 waktu itu sebuah hal yang asing, bertutur kata yang baik juga hal yang asing? Aku yang hidup di lingkungan yang biasa melihat itu kan jadi bingung, itu ada di mana? Aku yang berelasi dengan teman laki-laki yang pada mashaAllah baiknya, saleh, terakhir kali aku 1on1 sama seorang laki-laki yang lagi diskusi mau nikah juga sebaik itu niatannya untuk memuliakan calon istrinya. Ini yang bertanya, berada di lingkungan seperti apa hingga ada pertanyaan seperti itu? Dan kalau sadar bahwa di lingkungannya demikian, kenapa tidak berusaha keluar dari sana? Apakah pikiranku ini jadi nirempati? Aku pun bingung.
Belum lagi pertanyaan-pertanyaan lain yang berasal dari kata tanya yang senada : Masih ada gak sih? Masih ada gak sih yang menilai seseorang bukan dari fisiknya?
Masih ada gak sih yang nggak ngumpetin uang dari pasangannya?
Masih ada gak sih yang bersedia tinggal serumah sama ortuku nanti kalau aku menikah?
Masih ada gak sih yang setia sama satu pasangan aja?
Masih ada gak sih yang ini dan itu....
Dan beragam pertanyaan mirip lainnya. Aku belum bisa memahami. Dia tinggal dimanakah? Apakah yang terjadi dalam hidupnya? Sehingga dia tidak bisa menemukan semua itu di dalam radar pengelihatan dan hati di sekelilingnya? (c)kurniawangunadi
boleh gasih, egois sebentar aja. gamau mikirin kalian semua. gamau mikirin apa-apa.
aku cuma mau aku. udah.
kamu tau nggak sih, kamu itu dalang semuanya
hari ini aku tau, kenapa mereka punya trauma akan suara tertentu.
hebat sekali,
mamaku kuat sekali.
dia cakap,
kamu kuat.
aku kata,
gak bisa berenti
hai Putri,
rasanya aku tau perasaanmu,
ketika dunia ini runtuh
ketika tujuanmu tidak ada lagi
ketika kebahagianmu perlahan menipis
ketika harimu terasa tidak nyata.
rasa ingin menyerah
tapi tak ingin
rasa tak rela
tapi tak punya daya
rasa tersenyum
tapi biru
pasrah,
pasrah,
pasrah.
aku menyerah.
selesai sudah.
tapi lagi-lagi, tak lama juga kembali. bodoh memang. aku
banyak cara orang untuk recall memori berharganya.
salah satu orang yang sempat jadi sangat berharga pernah bilang, musik itu cara dia buat kenang semua memorinya. misalnya, lagunya John Mayer bakal ingetin ke orang tertentu.
dari situ aku sadar, ternyata bukan cuma satu orang yang akan inget. tapi orang yang sering diajak dengerin musik tertentu, bakalan jadi memori juga. walaupun, orang yang diajak dengerin itu belum tentu menjadikan "musik" sebagai "media memorinya".
Menerima Orang Tua
Saat masih anak-anak, kita mungkin sangat mencintai, bahkan mengidolakan orang tua. Seiring berjalannya waktu, terkadang perasaan itu memudar. Kita mungkin merasa kesal dan marah pada keanehan mereka. Tak sedikit pula yang merasa orang tuanya telah gagal mendidik, bahkan membangun hubungan yang toxic.
Meningkatnya kesadaran akan isu kesehatan mental membuat banyak orang mempertanyakan hubungannya sendiri. Di berbagai situs web dan media sosial, ada begitu banyak pembahasan tentang toxic parents. Setelah mengetahui ciri-cirinya, kita mencocokkan dan bertanya-tanya, "Apakah orang tuaku seperti itu?"
Dugaan saya, satu dua hal pasti pernah terjadi dalam relasi kita dengan orang tua. Mereka mungkin terlalu mengontrol, memarahi dengan berlebihan, atau melakukan kekerasan fisik (di kasus yang lebih jarang).
Setelah mengetahui fakta ini, kebanyakan anak menyalahkan. Mengapa orang tua saya seperti itu? Apakah mereka tidak peduli dengan kesehatan mental saya? Mengapa mereka begitu egois? Mereka sudah lebih tua dan dewasa, mengapa tidak bisa membuat keputusan bijaksana? Tentu ini salah mereka! Saya yang masih kecil kan belum tahu apa-apa?
Betul, orang tua seharusnya lebih bijak. Namun, kita sering lupa bahwa mereka juga manusia. Lepas dari betul salahnya semua tuduhan kita, mereka juga punya kelemahan. Lepas dari penghakiman berdasarkan artikel di situs web, mereka juga bisa khilaf.
Dengan bertambahnya usia, seharusnya kita juga makin dewasa untuk menilai bahwa orang tua kita adalah pribadi yang abu-abu. Ayah dan ibu tentu punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ayah yang inspiratif dan pekerja keras mungkin sangat disiplin atau galak. Ibu yang penyayang mungkin banyak menuntut dan baperan. Kita seharusnya kian memahami orang tua sebagai sosok yang kompleks.
Bayangkan saja betapa sulitnya menjadi orang tua. Mungkin kita dibesarkan dalam kondisi yang tidak ideal sehingga Bapak harus melakukan a b c yang sebetulnya tidak terlalu baik. Mungkin kita merasa tidak dicintai oleh Bunda yang fokus bekerja demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Parenting adalah hal yang kompleks. Mengurus hidup sendiri saja sulit, apalagi membangun keluarga dan mendidik anak. Adilkah menghakimi orang tua tanpa memahami situasi yang rumit?
Mencoba mengerti segala kesulitan ini membawa kita pada langkah terakhir sekaligus terpenting dalam menjaga hubungan dengan orang tua: memaafkan.
Pepatah berkata; memaafkan bukanlah untuk orang lain, melainkan diri sendiri. Pada sebagian besar kasus, orang tua tak akan minta maaf atas apa yang Anda anggap kesalahan besar. Mereka mungkin tak sadar atau bahkan malu atas kesalahan di masa lalu. Apabila kita memilih untuk menyimpan amarah, dendam akan perlahan menggerogoti. Demi kedamaian batin, alangkah baiknya kita memaafkan.
Orang tua memang bukan superhero yang sempurna. Justru dalam setiap kesalahan atau kekurangan, percayalah bahwa mereka sudah mengusahakan yang terbaik (di waktu dan situasi itu, dengan segala keterbatasan itu). Sebanyak apapun uang yang harus dikeluarkan, selama apapun waktu yang harus dibuang, segalanya tak dihitung demi anak. Di balik semua hal yang terjadi, selalu ada cinta tulus dan harapan terbaik yang terselip dalam doa orang tua.
"oh, ku kira yang dateng Fulanah"
mari tarik selimut sampe nutupin kepala,
dan selamat datang kembali jiwa introvert.
baru dateng,
dikira bakal seneng,
nyatanya, rumah lebih bikin kangen.
fase-fase kritis.
siap-siap banyak tisu dan sendirian.
beneran takut banget buka sosmed.
bawaannya pengen istighfar mulu. bukan apa-apa ya, cuma ngeliat temen yang mulai nakal, di mana dulu taunya dia baik-baik aja tuh rasanya bertanya-tanya. alhasil jadi julit.
kalo perkara temen yang udah merit dan jadi buibu sih masih oke. cuma yang begituan tuh. bener-bener deh :")
orang-orang kenapa ngirim text nggak dipikir dulu dah. asal bacot, kirim ke orang padahal infonya udah jelas. sekalinya udah dikasi info sejelas-jelasnya nggak dibaca. yang kek gitu perlu dilemparin soto apa ya, suruh makan biar bisa mikir.