Permainan Tersulit
Tiga tahun lalu, saya membulatkan tekad untuk melanjutkan studi S3. Waktu itu, April-Mei 2022, saya belum tahu bahwa perjalanan ini akan menjadi salah satu yang paling menantang. Saya kira, perjuangan ini akan berjalan lancar tanpa hambatan yang terlampau besar. Ternyata? Rasanya seperti masuk ke dalam game yang penuh quest dan musuh di setiap sudut :))
Level 1
Sekitar 1,5 tahun pertama, saya sibuk merampungkan proposal pertama dan mengirimkan ke puluhan calon profesor yang sekiranya cocok untuk menjadi pembimbing. Pada sebagian besar kasus, sama sekali tidak ada balasan. Untuk beberapa 'keberuntungan' lain, saya bisa mendapatkan balasan setelah menunggu berminggu-minggu atau beberapa bulan.
Tak hanya mengirim langsung ke para profesor, saya juga mencoba apply ke beberapa lowongan yang mencari mahasiswa S3 secara kolektif. Hasilnya sama, semua berakhir dengan penolakan.
Dari puluhan email yang saya kirim, memang pada akhirnya terdapat dua professor dari Swiss dan Australia yang mau membimbing. Akan tetapi, skema self-funded tidak menjadi pertimbangan saya karena mahalnya biaya kuliah S3. Bagaimana tidak, rata-rata biaya yang dibutuhkan lebih dari 1 milyar rupiah (belum termasuk biaya hidup dan semua pengeluaran lain). Walau begitu, saya masih bersemangat dan terus berusaha mencari peluang lain.
Level 2
Bukan Lila namanya kalau tidak melakukan refleksi. Setelah kegagalan selama 1,5 tahun, saya merasa sudah waktunya menampar diri sendiri.
"Proposalmu berarti jelek! Kamu harus berani buang dan ganti yang baru! Kalau memang tidak berkualitas, mau dikirim ke 100 profesor pun tidak akan pernah lolos!"
Akhirnya saya buang proposal pertama itu dan segera merencanakan ide yang sepenuhnya baru. Di kala itu, saya sempat galau dan membatin, "Mau meneliti apa ya?" Lucunya, jawaban justru datang dengan menerapkan saran yang sering saya katakan ke anak-anak bimbingan skripsi:
"Mulailah dari apa yang kamu suka!"
Saya pun mulai brainstorming dan membangun draft. Tak seperti proposal awal yang harus digodok berbulan-bulan, versi 2.0 ini selesai dalam hitungan hari. Rasanya sangat mudah karena membahas hal-hal yang saya kuasai dan sukai. Dengan semangat baru, saya langsung mengirimkannya ke para profesor lain.
Belasan dan puluhan email terkirim, kali ini responnya positif. Banyak yang memuji dan tertarik pada penelitian saya, tetapi hasil tetap nihil. Ada yang sedang tidak menerima mahasiswa baru, ada yang harus mendaftar lewat universitas tapi biaya pendaftarannya sangat mahal, ada juga yang berniat mengganti arah penelitian saya.
Untungnya, di tahap ini saya juga bertemu dengan orang-orang baik. Beberapa profesor meminta saya untuk membaca jurnal dan buku lain untuk memperbaiki isi proposal. Dengan harapan besar untuk bisa diterima, saya cepat-cepat membaca dan merevisi penelitian saya. Proses ini terjadi beberapa kali dan setiap profesor selalu memberi saran untuk hal-hal yang berbeda. Seiring dengan berjalannya waktu, proposal saya menjadi semakin matang. Seru sekali karena rasanya seperti mendapatkan dosen pembimbing dari seluruh dunia :) Mungkin memang inilah tahap mengumpulkan bekal dan persenjataan untuk melawan si bos utama.
Level 3
Di tahap akhir ini, saya akhirnya menjumpai final bos - interview dan tahap akhir penerimaan. Setelah menunggu 2,5 tahun lebih, akhirnya saya mendapatkan beberapa panggilan wawancara.
Total, saya mendapatkan lima panggilan interview dari 77 email yang terkirim selama tiga tahun. Sebuah angka yang mungkin terdengar sangat kecil, tetapi sudah membuat saya bahagia luar biasa. Ternyata, proses wawancara ini pun melatih mental dan kemampuan akademis.
Wawancara pertama saya berjalan lancar, lalu yang kedua gagal total. Dari kedua wawancara itu, saya mempelajari poin-poin apa saja yang biasa ditanyakan. Saya mengapresiasi keberhasilan dan mencerna kegagalan yang muncul. Semua saya gunakan untuk berjuang lagi. Saya merasa diberi extra life untuk mengulang melawan para bos yang susah sekali ditaklukkan.
Akhirnya, di penghujung tahun 2025, saya mendapatkan kabar indah itu.
Pernahkah Anda mendapatkan sesuatu yang sudah dinanti-nanti setelah bertahun-tahun? Bagaimana rasanya?
Bagi saya, rasanya seperti kena prank, sangat tidak percaya. Sekitar 12 jam saya mencerna kabar ini dan berbahagia sendirian tanpa mengabari siapapun. Tentu langsung berdoa dan mengucap syukur walau masih diselimuti perasaan bingung. Jujur, saya takut tetiba dikirimi email yang menyatakan ada kesalahan sistem sehingga notifikasi itu sampai ke orang yang salah. Terbiasa gagal membuat saya tak cepat mengambil kesimpulan dan sangat defensif untuk melindungi diri sendiri.
Keesokan harinya, saya menerima email formal berisi kontrak beasiswa dan surat penerimaan resmi dengan kop universitas. Baru setelah menerima dokumen tersebut saya benar-benar percaya. HOREEEE LILA MAU SEKOLAH LAGIIIIII!
Fun fact, di awal perjalanan mencari S3, saya memasang target tiga tahun. Saya memulai sekitar April 2022, jadi target tiga tahun + toleransi keterlambatan adalah diterima/berangkat akhir tahun 2025. Mengingat kembali target ini membuat saya sangat terharu. Memang Tuhan mengabulkan dan membantu dengan cara dan waktu yang paling tepat. Ternyata selama ini saya masih dipersiapkan supaya bisa menjalani program S3 dengan baik.
Level 0
Petualangan mencari PhD memang sudah selesai, tetapi sekarang saya kembali ke titik nol. Sebentar lagi, saya akan masuk ke perjalanan baru yang lebih sulit. Selama empat tahun ke depan, saya yakin tantangannya akan jauh lebih menakutkan lagi. Namun, setelah berjalan sejauh ini, saya yakin sekali tak ada yang mustahil. Dengan Tuhan yang selalu menolong lewat berbagai cara ajaib dan orang-orang di sekitar saya, bos sekuat apapun pasti dapat ditaklukkan.
Please pray for me! :)















