Pernahkah kamu memimpikan sesuatu karena rindu pada suatu tempat hingga mencapai sumsum tulang?
Malam ini anak saya nangis dan tidak mau tidur. Mungkin ada sesuatu yang mengganggunya, tapi entah apa. Yang jelas dia tidak mau nen dan terus menangis walau sudah mengantuk.
Di tengah tangisannya, pikiran saya melayang ke Jl. Raya Jatinangor di masa lalu beserta kehidupan di tengahnya. Saya menghitung berapa langkah yang diperlukan dari rumah makan padang di belokan untuk nyebrang ke kecamatan. Pertokoan apa saja yang berjejer di sebelah kiri sampai saya akhirnya nyebrang ke Indomaret lalu berbelok ke Sukawening.
Ketika saya akhirnya jatuh tertidur, saya benar-benar bermimpi tentang Jatinangor. Ceritanya saya sedang mencari buku tentang Soe Hoek Gie di tukang majalah pengkolan, tempat dulu saya biasa beli majalah Kartini.
Lalu kawan saya berinsial 'D' datang dan bertanya. Saat itulah abang majalah menyodorkan tabloid 'Bintang'. Saya tidak percaya Soe Hoek Gie dimuat di tabloid gosip.
Saya kemudian diantar si D tadi, persis seperti sewaktu saya suka nebeng motornya selesai rapat di kampus. Dia bilang dia harus ambil uang di ATM. Oke, saya tunggu di luar.
Di tengah jalan, sambil dihantam angin malam Jatinangor yang dingin, kami berbincang soal kegalauan menentukan judul skripsi. D bilang, beberapa topik sudah dilarang karena terlalu gampang. Saya sendiri berpikir untuk ambil topik yang nyerempet ilmu politik, apa boleh? Pada kenyataannya skripsi saya memang politik banget yaitu tentang partai politik. Skripsi yang hingga saat ini membuat saya cukup bangga pada diri sendiri (meski bikinnya lama, tapi dapat nilai A)
Oh iya, sebelum pulang dengan si D, di kampus saya dihampiri si 'R', fakboy yang mendekati banyak wanita bersamaan. Di mimpi pun dia tetap menjadi fakboy.
Lalu saya juga sempat mencari sambal goreng ijo untuk sahur. Iya, dulu saya suka sahur pakai sambal ijo dan bumbu rendang saja. Ternyata di mimpi juga sedang bulan puasa seperti sekarang.
Mimpi diakhiri dengan saya ke Tokyo, tapi nyasar ke suatu desa di gunung namun di sisi laut, dan jadi bulan-bulanan suku etnik karena saja berhijab.
Akhir mimpinya cukup menyeramkan, tapi buat saya keseluruhan episode mimpi ini indah, karena saya bisa kembali ke masa lalu meskipun cuma sebentar.
Meskipun hanya berkisah tentang perjalanan saya dari kampus ke kosan dengan menumpang motor D.
Saya pun terbangun. Jam 4 pagi, sebentar lagi imsak kata ibu saya.
Saya menuliskan ini supaya esok paginya saya tidak lupa kalau semalam bermimpi indah. Mimpi tentang Jatinangor.
Bogor, 20 Mei 2020, during pandemic.