Tekanan Bujangan Millenial
Hai, berapa usiamu saat ini? Menginjak angka 20an ke atas? Semakin menyenangkan ataukah malah semakin melelahkan?
Wah, tidak terasa ya.. seperti baru saja kita menduplikat tugas teman ke buku tugas kita. Kita telah berada di usia dimana karena pikiran kita sendiri menjadi tertekan. Karena rasa yang kurang percaya diri kita menjadi lemah melihat kelebihan seseorang. Terlebih lagi di usia yang dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan kapan menikah? Jomblo ya? Gak laku ya? Terlalu pemilih soal pasangan ya? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang membuat sebagian hati dilema juga biasa saja.
Lagi-lagi ini soal wanita. Mulai beranjak belia ada sebagian wanita yang harus putus sekolah dan harus menikah. Tentu saja ada sebab dan akibat. Penyebab yang umum adalah terkendala perekonomian keluarga untuk pembiayaan pendidikan. Penyebab lainnya yaitu karena ada sebuah kesalahan yang telah dilakukan seorang anak remaja hingga akhirnya harus putus kuliah. Hamil di luar nikah atau pernah melakukan tindak kriminalitas hingga secara terpaksa harus mengeluarkan siswa yang bersangkutan dari sekolah.
Siapa yang salah dalam kasus-kasus moralitas semacam itu? Sang anak? Orang lingkungan sekitar? Ataukah orang tua dan keluarga? Ketika orang tua yang disalahkan tentu saja mereka tidak akan menerima. Karena semua orang tua selalu merasa bahwa dirinya orang paling utama melakukan segala hal yang terbaik untuk anak-anaknya. Menyalahkan sang anak? Pasti sang anak tidak akan merasa bersalah jika pada dasarnya mereka melakukan berulang. Menyalahkan lingkungan atau pergaulan? Tidak mungkin juga bisa disalahkan, jika seorang anak bisa mengontrol diri dan tidak mudah terpengaruh pasti bisa memposisikan pada lingkungan yang sehat. Semua keselarasan hidup akan terekam dalam sejarah pertumbuhan dan perkembangan akal manusia. Lantas siapa yang bersalah sebenarnya dalam tragedi pelanggaran moral pada remaja? Untuk menemukan jawabannya, kita perlu mengingat kembali untuk apa sebenarnya manusia itu diciptakan? Apa tugas-tugas manusia yang telah dilahirkan hingga menghasilkan keturunan-keturunan kemudian terbentuk silsilah keluarga. Sebagai khalifah adalah tugas manusia di ciptakan dimuka bumi. Anak-anak terlahir bukan dari dirinya sendiri dan bukan pula dari lingkungannya. Sebelum anak-anak terlahir mereka memiliki orang tua yang diberi tugas, diberikannya sebuah amanah untuk menjaga keturunannya dengan pengasuhan dan pengasihan terbaik. Jadi, saat seorang anak melakukan kesalahan yang berkaitan dengan nilai, etika serta moral, yang bersalah adalah orang tuanya. Kenapa? Karena masih kurang amanah dalam menjalankan amanah dari yang telah memberikannya titipan. Banyak para orang tua yang kurang pendekatan pada anak-anaknya lantaran karena disibukkan oleh pekerjaan. Anak dititipkan dengan nenek atau seorang pengasuh yang tugasnya hanya menjaga sekedarnya untuk memastika keadaan baik dan tidaj telat makan. Seorang pengasuh bukan orang tua dari sang anak tidak mempunyai tugas dan wewenang dalam pendekatan untuk memberikan perhatian khusus terkait edukasi pembentukan karakter dan moral. Jika ini sudah terjadi, banyak sekali anak-anak yang merasa bebas kemana mereka melangkahkan ruang geraknya. Kesibukan-kesibukan orang tua membuat kondisi harmonis menjadi egois. Menganggap paten bahwa mereka beruasaha mencari banyak uang untuk membayar orang pengasuh dan memberikan uang saku serta biaya pendidikan anak. Usaha mendapatkan banyak uang bagi orang tua yang terlalu milenialis adalah melakukan yang terbaik untuk keluarga. Handphone tak lepas dari genggaman tangan, perhatian untuk keluarga mengalir terabaikan.
Alasan badan capek lelah karena seharian kerja sudah menjadi makanan yang tak pernah telat terhidang diseluruh ruangan hingga sekat-sekat rumah. Jika kita termasuk anak dari orang tua demikian, bersyukurlah jika masih bisa mengendalikan diri dan sempat membaca tulisan ini. Menjadi orang tua milenial berkualitas, totalitas tak terbatas, menjadi bujangan berkualitas untuk membangun rumah tangga yang memberi nafas segar dengan sedikit mengintip kisah rumah tangga teman 😁😁😁. Maaf disini bukan berarti penulis mengajak julid, tapi mengajak kalian mengambil pelajaran dari pengalaman teman-teman yang sudah lebih dulu membangun biduk rumah tangga.
Malam adalah waktu paling nikmat untuk berbincang. Sepertinya bukan hanya satu dua orang ketika setiap kali hadir di acara pernikahan teman atau acara arisan keluarga selalu mendapat pertanyaan istimewa "kapan lulus kuliah?" Udah lulus pertanyaannya "kok masih nganggur padahal sarjana, gak cari kerja?" Ganti lagi dong "udah kerja bertahun-tahun udh beli apa aja?" "calonnya mana?" Sudah berhasil bawa calon ganti pertanyaan "kapan menikah" sudah menikah ganti lagi pertanyaan "kapan punya anak" udah punya anak tambah lagi "kapan itu punya adik? Kasihan kalo sendirian".
Sebagian dari kita mungkin menganggap bahwa itu adalah pertanyaan yang membuat kita risih, minder, dan sensitif. Tapi ada sebagian yang menganggap itu adalah pertanyaan yang wajar dan cukup direspon biasa saja.
Bagi yang menganggap pertanyaan biasa saja, tidak perlu kita bahas. Karena yang sudah bisa menjadikan pertanyaan sensitif menjadi hal lumrah berarti mereka punya lompatan pikiran yang cukup dewasa. Dan bagi yang menganggap itu pertanyaan sensitif disini bisa belajar bareng mengendalikan antara perasaan dan pikiran agar bisa menikmati tusukan jarum infus dengan tenang.
Sebelum membahas pelajaran penenangan hati yang tertuju untuk para manusia sensitif, saya sampaikan dulu penyadaran dan peringatan untuk anda yang bertanya tanpa lebih dulu memikirkan status sosial seseorang bisa jadi anda orang yang lupa mengingat perihal takaran rizki setiap umat.
Assalamu'alaikum. Salam sejahtera bagi kita semua. Bagaimana rizki kita hari ini? Masih lancar kan? Alhamdulillah, sudah bisa dipastikan yang masih bisa bernafas, melihat hingga membaca tulisan ini artinya rizkinya lancar dengan diberikannya alat vital masih sempurna berfungsi sebagai mana mestinya. Rizki tidak hanya berupa harta benda saja. Kesehatan, karir, teman baik, jodoh, bahkan sebuah masalah saja sebenarnya rizki buat kita. Bismillah, sebelumnya saya sampaikan bahwa saya bisa menulis ini karena memang ada yang diambil dari pengalaman pribadi maupun pengalaman dari orang-orang sekitar saya.
Teruntuk anda yang suka bertanya walaupun bagi anda itu biasa saja untuk basa-basi, tidak semua orang bisa menerima apa yang anda sampaikan dengan baik. Ada yang merespon biasa saja anda katakan orang itu dewasa dan yang mudah tersinggung ada katakan baperan. Jika demikian anggapan anda, maka sebenarnya anda harus belajar tentang attitude dan arti tenggang rasa. Seberapa sadar anda berbicara dengan lawan bicara? Tingkat kedewasaan orang tidak di ukur dengan suka bawa perasaan atau tidak. Sebagian orang yang selalu mengedepankan perasaan adalah orang-orang yang selalu menjaga sikapnya agar tidak menyakiti orang lain. Dan orang-orang yang bisa merespon hal yang gak enak menjadi biasa merekalah orang-orang yang sudah terlalu sering sampai bosan menghadapi orang-orang yang tidak bisa mengerti keadaan orang lain. Ubahlah pertanyaan menjadi do'a karena itu menguntungkan bagimu dan orang lain. Misal ada yang lama belum lulus kuliah, pertanyaan yang semula "kapan lulus yang lain udah pada lulus kok kamu belum? Kuliah ngapain aja?" Ubahlah pertanyaan itu menjadi do'a "semoga lekas menyusul yang lain ya, lebih semangat lagi ngerjain skripsi".
Yang pernah kuliah pasti paham alasan-alasan mahasiswa lulusnya telat dan yang tidak kuliah saya beritahu dengan gamblang karena sampai saat ini juga banyak teman seangkatan yang belum juga lulus kuliah dan hampir di Drop Out dari kampus. Pertama, tidak semuanya orang punya mental yang kuat. Tapi kita gak bisa memaksa semua orang untuk punya pikiran sama dengan kita. Ya karena memang itu sudah rencana Allah menciptakan kita dengan jalan hidup berbeda. Mereka belum lulus ada beberapa sebab sebagai berikut:
1. karena sudah dasarnya dari awal niat kuliah cuma mengejar gengsi karena temannya kuliah, jadi kuliah baginya hanya bersenang-senang bertemu teman. Pemalas, jadi mau disupport kayak apapun sama teman-temannya juga percuma, dibantuin ngerjain tugas juga cuma dilihat, gak di lanjutkan, kemudian pasrah. Apa lagi kalo pas ngalamin patah hati, bisa-bisa kayak beruang dimusim dingin. Tidooooorrr terus kayak gak punya semangat hidup.
2. Ada faktor ekonomi keluarganya, mungkin tidak bisa bayar uang semester hingga akhirnya mereka menunda beberapa semester
3. Kuliah sambil kerja, akhirnya mereka sulit mengatur waktu jam kerja dan kuliah. Akhirnya karena dia merasa uang adalah kebutuhannya biar bisa kuliah yaaaa akhirnya kuliah ditinggalkan.
4. Anak niat banget kuliah, tapi orang tua gak mendukung karena jurusan yang dia ambil tidak sesuai kemauan orang tuanya. Jadi yaaa kalo anak yang punya mental kuat sebisa mungkin buktikan kalo pilihannya gak salah, tapi yang mentalnya gak kuat ya mereka merasa sia-sia. Jadi gak punya target yg penting kapan-kapan bisa lulus.
5. Bagi yang menempuh kuliah dengan pendidikan vokasi, harus melakukan penelitian real di lapangan minimal 3 bulan. Lain lagi dengan yang hanya mencari data melalui wawancara kemudian di olah menjadi data kemudian dijabarkan dalam pembahasan Jika penelitian itu gagal maka bisa sampai 3x mengulang dan butuh waktu 1 tahun lebih sekaligus menyelesaikan bimbingan skripsi.
Tujukan pertanyaan dengan kalimat yang tepat..!!! Jika kalian melihat orang bekerja bertahun-tahun punya pangkat dan terlihat sukses tapi gak pernah beli apa-apa, kalian harus tau tidak semua orang terlahir dengan bekerja tanggal muda bisa foya-foya. Ada mereka setelah gajian uangnya habis tak bersisa. Larinya kemana? Ada yang buat bayar hutang orang tuanya, buat biaya sekolah adiknya, atau bahkan saat dia bekerja pernah melakukan kesalahan atau harus mengganti kesalahan tersebut. Cara menebusnya ya dengan mereka tanpa digaji walaupun kadang bukan sepenuhnya kesalahan mereka. Mau resign juga kalo udah kesepakatan hukum bisa dipenjara, kalo dipenjara ya mungkin dia menambah beban keluarga. Akhirnya ya cara satu-satunya menjalani apa yg harus dijalani.
Pertanyaan selanjutnya adalah soal pernikahan, kapan nikah? Jika ada yang jawab menikah itu butuh biaya juga kesiapan mental dan batin. Ada sebagian orang memaklumi tapi ada juga itu yang enteng aja bilang "alaaah udah nikah biasa aja gak perlu banyak biaya yang penting sah, setelah menikah itu pasti rejekinya banyak". Iya memang siapa juga yang tidak percaya rizki Allah setelah menikah. Kalian yang bisa bicara seperti itu kemungkinan kalian punya keluarga kompak, keuangan lancar, masih ada orang tua yang support. Nyatanya tidak semua orang kondisinya sama. Ada yang kerja tp penghasilan cuma cukup buat makan sebulan, orang tua gak ada, saudara tidak kompak, apa-apa ya harus dipikir dan dilakukan sendiri. Sekalipun masih ada orang tua, ada anak yang memang menginginkan orang tuanya cukup menikmati hari bahagia anaknya tanpa harus mikir apa lg capek ngurusin anaknya. Ada pula mereka belum menikah karena trauma pernah dikecewakan seseorang, bahkan ada yang memang karena blm dipertemukan jodohnya. Sering sekali itu ya, ibu-ibu tetangga atau teman-teman yang sudah berkeluarga menganggap yang belum menikah ini katanya terlalu banyak pilih-pilih. Sambil berpesan yang penting cari jodoh itu kerja dan ngerti orang tua. Sakit sepertinya dikatakan seperti itu, tapi memang benar dan itu tidak salah. Kita beli sayur buat dimakan sehari aja di pilih dulu, apa lagi cari pendamping yang buat seumur hidup? Okelah dipesenin yang penting kerja dan nurut orang tua, terus seandainya yang pesen itu di posisi kita dia kerja, ngerti orang tua tp gak pernah ibadah sekaligus suka main wanita kira-kira mau gak? Sekalipun kerja dan nurut orang tua kan tetep aja itu ada yg dipilih dulu. Nah setiap orang tidak bisa disamakan kriteria pilihannya, yg utama itu nyaman. Masalah ada yang begitu biar kita bisa adem ayem ngadepinnya ya cukup mikir kalo yang bakal jalanin hidup itu kita, bukan mereka. Kalo ada gak bahagianya juga mereka gak akan mau tau atau bahkan berlalu dengan tepuk tangan. Jadi, ini hidupmu jangam biarkan orang lain yang mengaturnya.
Kemudian masalah keturunan, kita ini makhluk yang harus memanusiakan manusia. Jodoh, anak dan maut adalah rizki yang sudah diatur. Tidak dapat di kurangi, tidak dapat ditambah apa lagi di tukar. Kalian yang bertanya pada pasangan yang sudah menikah lama dan belum mendapatkan keturunan, mungkin kalian tidak tau segala usaha dan upaya telah mereka lakukan. Periska dari dokter satu ke dokter lainnya, belum lagi ditambah yang rela menghabiskan banyak uang untuk program hamil hingga bayi tabung. Teruntuk kaum wanita mereka selalu merasa belum menjadi wanita sempurna ketika belum pernah melahirkan keturunan. Anda yang sudah diberi kepercayaan Allah dengan titipan seorang anak, maka tugas kalian adalah menjaga buah hati itu sebaik-baiknya. Dari pada bertanya lebih baik kalian tetap memberi semangat dan masukan untuk yang sedang berjuang memperoleh keturunan. Dan untuk kalian yang belum mendapatkan keturunan jangan menyerah, tetap syukuri perjalanan waktu yang terus berjalan. Bisa jadi karena Allah memberikan waktu banyak untuk berkencan bersama suami. Yang sudah mendapatkan keturunan juga banyak suami yang lupa perhatian bahkan banyak juga para wanita muda sudah mendapatkan status menjanda. Untuk mereka yg menjanda apa patur kita pandang sebelah mata? Tentu saja tidak, barangkali dia dipandang Allaah wanita yang kuat dan hebat. Bisa jadi kelak anak-anak mereka menjadi orang-orang yang hebat. Apapun keadaan kita sebenarnya hanya perlu saling memandang dan mengerti satu sama lain.
Teruntuk kalian teman-teman yang belum menikah saat ini, bersabarlah kita tau bagaimana kondisi san keadaanmu. Tetap tenang, manfaatkan waktu ini untuk belajar mengintip mereka teman-temanmu yang sudah berumah tangga. Pasti mereka punya banyak problem yang bisa kita ketahui, kita pelajari, kita pahami dan kita kumpulkan solusi. Setelah menikah, ternyata hanya satu dua tahun terlihat bahagia kemudian banyak hiruk pikuk masalah yg harus mereka hadapi. Ada juga yang awal menikah sudah susah, bercerai namun berapa tahun kemudian begitu bahagia membina rumah tangga. Masalah yang kerap terjadi adalah faktor ekonomi, mertua, orang ketiga, saudara, keturunan, dll. Ada mertua yg suka ikut campur urusan anak, ada juga yg suka meremehkan menantu. Tak perlu kita mengucapkan jangan sampai itu terjadi padaku. Tapi pikirkan bagaimana saat itu terjadi padaku, apa yang harus aku lakukan, bagaimana menghadapinya. Mulailah kita belajar kekompakan bersama pasangan, segera selesaikan masalah dan sama² menjaga aib pasangan itu penting. Ujian yang diberikan Allah pada umatnya pasti sama, hanya waktu dan kepada siapanya yang berbeda. Bisa jadi saat ini kita lihat orang tua teman kita meninggal, suatu saat pasti kita alami hal yang sama. Gak mungkin kan kita bilang tidak mungkin, yg kita lakukan saat itu berpikir seandainya esok itu terjadi kepada kita, apa yg kita lakukan? Yg pasti membahagiakan orang tua sebelum itu terjadi. Dan untuk kalian yang sudah ditinggalkan orang tuanya, seberat apapun hidup kalian saat ini harus selalu tabah dan kuat itu bentuk menyayangi mereka. Dan hadiah terbaiknya adalah mendo'akan. Mengapa saat orang yang kita sayang meninggal di larang menangis? Coba bayangkan, saat kalian sedih mereka masih hidup pasti bisa bertanya dan ngobrol dengan kalian. Tapi saat sudah meninggal, mereka semakin bingung karena tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan berbicara sudah tak bisa. Saat kalian bahagia, sukses, kuat mereka akan bahagia dan tenang. Karena saat itu pula mereka menganggap kamu hebat dan bisa dipercaya.
Waktu mengatakan sebuah ujianpun termasuk rizki. Karena dengan ujian itu kita sakit namun rizki yang kita dapat adalah pendewasaan diri, kekuatan dan ketabahan hati. Saat ujian terjadi pikiranmu seoalah bertanya apakah bisa menjalani ujian ini, tapi setelah mampu kita lewati, kita lihat kembali waah ternyata kita hebat bisa melewati dan sampai saat ini. Setelah ujian selesai jangan kira tak ada ujian lagi. Selama kita bernyawa akan selalu di uji dengan yang lebih dari sebelumnya. Begitu seterusnya tak berhenti sampai kita dipanggil untuk kembali. Dan ujian-ujian itu selalu diberikan dengan solusi, sesuai kemampuan diri. Maka saat diturunkan ujian, kita jangan sampai berdo'a agar disudahi ujian itu. Berdo'a agar selalu kuat ketika diberikan ujian. Karena ketika kamu minta sudahi saja dan bukan dikuatkan hadapi ujian, kalian bisa ibaratkan saat itu anda berjualan sebenarnya didepan Allah telah merencanakan laba 200.000 namun karena kau minta cukup maka pada akhirnya karena kurang sabar laba yang diperoleh hanya 100.000.
Sampai disini, untuk para bujangan apa perasaan kalian lebih tenang setelah membaca ini? Saya harap begitu. Tidak ada manusia terbaik selain mereka yang bisa berguna untuk sesamanya.