cahari
“Tolerance is giving to every other human being every right that you claim for yourself"
Taun lalu, kelas perkuliahan yang saya asuh kedatangan tamu spesial. Beliau adalah seorang pengusaha paruh baya yang telah menggeluti bisnis teknik lebih dari satu dasawarsa. Kisah-kisah kegagalan di masa lalu disampaikannya untuk membuka sharing session di depan puluhan mahasiswa kewirausahaan tingkat akhir.
Beliau membandingkan hidup seorang wirausahawan dan karyawan dari sudut pandangnya. Ucapnya sembari tertawa kecil, “Kalau jadi wirausahawan, mau liburan santai bisa kapan aja. Enggak harus nunggu akhir minggu. Lain dengan karyawan, liburnya cuma akhir minggu atau tanggal merah. Tempat wisatanya udah penuh pula”. Sebagai sesama wirausahawan, saya cukup kaget dengan penyampaiannya.
Kalau keleluasaan yang diperolehnya memang menyenangkan, semestinya beliau enggak perlu mengunggulkan profesi pribadi dengan merendahkan profesi lain. Lanjutnya lagi, “Kalau jadi wirausahawan, ngatur waktu sama keluarga lebih leluasa juga. Enggak harus nunggu jam lima sore. Lain dengan karyawan, baru santai jam lima lewat. Alhasil, tenaga, waktu dan pikiran untuk keluarga tinggal yang sisa aja”. Rasanya, merana sekali jalan hidup para karyawan dari gambaran beliau. Sambil menyimak, saya cuma membatin di baris belakang. Khawatir ada sebagian mahasiswa yang mengamini pemikiran sempit itu.
Nyatanya, merendahkan orang lain enggak pernah membuatmu betul-betul jadi lebih tinggi. Kalau iya, harusnya mereka yang congkak jadi figur paling dihormati. Saat seseorang menghina pilihan lain untuk mengunggulkan pilihannya, keyakinannya malah terlihat rapuh. Kita enggak perlu membandingkan jalan hidup satu sama lain karena pada setiap kenikmatan yang dikaruniakan-Nya ada beban tanggung jawabnya tersendiri.
Urusan pekerjaan enggak seharusnya membuat kita meninggi karena pekerjaan juga merupakan titipan-Nya untuk dipergunakan sebagai sarana menjemput rejeki. Mereka yang menyombongkan pekerjaannya, amat rentan mengecilkan ikhtiar orang lain. Enggak heran kalau masih banyak oknum yang meremehkan keberadaan asisten rumah tangga, petugas kebersihan, supir atau juru parkir. Dengan medan yang berbeda-beda, setiap orang berjuang setengah mati untuk menafkahi keluarganya.
…
Tersebutlah cerita yang masuk lewat sebuah grup percakapan. Ada seorang murid SD bernama Ceria yang dari awal sekolah selalu meraih peringkat ke-23 dari 25 siswa. Cita-citanya untuk menjadi jadi guru TK dan ibu rumah tangga dipandang rendah oleh keluarganya. Kedua orang tuanya yang gagal paham dengan cita-cita yang terlalu sederhana itu, mendorong sang anak untuk terus belajar tanpa henti.
Karenanya, Ceria pun jatuh sakit dan kedua orang tuanya tersadar bahwa ambisi keras mereka berujung petaka. Setelah kepayahan yang hebat itu, peringkat Ceria di akhir semester berikutnya pun enggak bergeming. Di luar dugaan, wali kelas Ceria mengungkap hasil jajak pendapat murid sekelas dengan judul, “Siapa Teman Sekelas yang Paling Kamu Kagumi & Apa Alasannya?”. 24 siswa di kelas kompak menulis, “Ceria”. Mereka bilang, Ceria senang membantu teman, memberi semangat, menghibur dan enak diajak berkawan.
Puji wali kelasnya, “Anak ibu-bapak kalau bertingkah laku benar-benar nomor satu”. Tersentuhlah hati orang tuanya. Ternyata selama ini Ceria menyimpan kebaikan yang luput dari pandangan mereka. Sang ibu pun menyemangati anaknya, “Suatu saat kamu akan jadi pahlawan, Nak”. Ceria hanya menjawab, “Bu guru pernah mengatakan sebuah pepatah: ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan. Aku tidak mau jadi pahlawan, aku mau jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan, Bu”.
…
Lewat mata pencaharian, kita bernyala dengan pijar masing-masing. Sebagian jadi api yang mengunggun bangga, sebagian lain jadi pendar di tengah gulita. Sebagian jadi pemimpin yang gemilang, sebagian lagi jadi pengikut yang cemerlang. Ada peran yang dibagi, ada kebermanfaatan yang terdistribusi.
Selama ikhtiarnya halal, enggak ada alasan untuk mengaitkan mata pencaharian seseorang dengan kehormatannya. Toh masih banyak mereka yang menyandang posisi terhormat tapi abai menyandang martabat. Karena martabat enggak pernah ditentukan oleh tinggi-rendahnya posisi di mata sesama, melainkan berapa lama kebaikan bisa menetap atas hal-hal yang telah diperbuat dengan mengharap rida-Nya.
Let me called it dignity.


















