Puan, ketika aku menyusun aksara ini aku sedang membayangkan lengking pipimu yang entah mengapa bisa membawaku jatuh cinta sedalam itu. Tuhan meracik senyummu dengan bambu apa ya? Sehingga candu ingin selalu menikmatinya. Atau jangan-jangan kau jelmaan narkotika.
Kau sangat paham, aku paling suka memandang wajahmu. Apalagi mendenga kau bercerita. Sembari tanganmu aktif memperagakan. Lucu sekali. Pun sorot mata yang nampaknya Tuhan ramu di kutub utara, sungguh meneduhkan.
Kau bilang aku curang sebab aku betah berlama-lama menghuni netramu. Sementata ketika kau berbalik menatap dalam aku memalingkan wajah. Maaf Puan, aku hanya tak ingin kau mendapati rona wajahku sebagai isyarat tengah malu.
Sedikit ku beri tahu sebuah rahasia. Pernah suatu ketika ku mengamatimu dari kejauhan. Dari kaca kau tengah tertawa bersama temanmu. Tahukah apa yang ada dalam benaku? Ku bilang, Ya Tuhan, bolehkah ku pandang wajah itu setiap waktu?
Puan, aku juga mencintai bagaimana kau berfikir. Coba, perihal apa yang tak membuatku mengangguk setuju? Hampir tidak ada ya. Tetimakasih sudah mengajariku tenggelam pada cara berfikirmu itu.
Jatuh cintaku kali ini terkesan lugu. Cukup melihat senyumu saja diriku sudah dimabuk kepayang.
Tuhan baik ya? Menghadirkanmu sedamai itu. Bolehkah ku bilang? Aku mencintaimu,sungguh.
3 Desember 2023




















