aku ngga pernah tau dan rasanya akan susah memahami bagaimana semesta bekerja. begitu pula dengan semua rencana-Nya. dulu sekali aku selalu mengimpikan bisa pergi ke luar negeri. akan sangat senang sekali kalau saja bisa sekalian sekolah lagi, berbagi ilmu dan berbaur dengan banyak orang dari berbagai latar belakang.
tapi niat dan rasa gigih untuk mendapatkannya pasang surut - lebih banyak surutnya sih. masih sering on fire hanya ketika dateng motivasi dan cerita kuliah di sana. tapi perjuangannya, tak ada yang sampai berdarah-darah dan terbayangkan begitu susahnya. mungkin memang menurut mereka - yang notabene sudah mendapatkan dan pulang dengan gelar - perjuangannya tak sesulit itu. tapi ... usahanya juga sebanding. nah, kata setelah tapi ini yang tidak semua orang bisa keukeuh memperjuangkannya. aku juga salah satunya.
untuk bisa mewujudkan mimpi itu, bukan hanya sekedar melangkah, meskipun memang langkah awal adalah sebuah pencapaian - setidaknya untukku - melainkan juga banyak sekali proses yang mengikutinya. aku sempat coba-coba ikut kawan yang mana lingkungkanku adalah pejuang beasiswa. jadi karna faktor sayang sertifikat bahasa ngga kepakai, ya sudah coba dulu saja.
namanya pemberi beasiswa, mana ada yang bisa meloloskan kalau niatnya cuma mau belajar. mereka pasti minta lebih dari itu. tentu saja hasil dari disekolahkan, dan kontribusi untuk negeri yang harus diberikan setelahnya. niat yang setengah-setengah ini akhirnya dapat jawabannya. ngga lolos.
ya sudah, akhirnya aku udah ngga begitu pengen buat lanjut. kebetulan dapat amanah di tempat kerja yang butuh waktu sedikit lama untuk bisa diselesaikan. lama-lama udah ngga ada motivasi buat pergi. ditambah lagi sertifikat yang sudah expired. akan butuh waktu sedikit lama untuk bisa ambil tes ulang.
suatu hari entah bagaimana caranya ada sentilan datang. bukan hanya dari satu orang - yang kembali mengingatkan bahwa aku dulu pernah punya mimpi itu. obrolan singkat itu sedikit banyak membuatku begitu bersyukur. apalagi kalau bukan karna kedatangannya yang kembali menyiram benih yang sudah lapuk.
hingga kemudian aku sempatkan waktu sebentar untuk mencari informasi terkait kampus. dan munculah Singapore di daftar teratas. negara tetangga yang sempat muncul dalam ucapan bahwa aku ingin tinggal di sana lama. aku suka dengan teknologi dan fasilitas kotanya. ngga usah dibahas soal living cost yang terkenal cukup mahal itu. duduk empat jam di cafe berhasil mengantarkan aku ke sebuah kampus yang cukup ternama dengan jurusan yang benar-benar sesusai dengan amanah yang sedang aku emban saat ini. what a destiny!
semangat masih menyala. aku lanjutkan mencari informasi tentang beasiswa yang bisa menggratiskan aku mengenyam pendidikan di sana. rupanya susah. terlalu banyak penyedia dana untuk masyarakat lokal atau permanent resident. oke, take a break. satu yang muncul di kepala saat ini adalah LPDP. beasiswa terkenal dari indonesia incaran ratusan ribu orang. aku tanya ke seorang teman dari agen rupanya memang sedikit susah untuk bisa tembus ke negeri singa itu. termasuk penyedia beasiswanya.
lalu, apakah lpdp adalah jalan ninjaku satu-satunya? semoga tidak. semoga masih ada yang bisa menerima toeflku, daripada harus tes ulang ielts. jadi, mari kita hold.
bersyukurnya lagi, pengingat itu bukan hanya dari obrolan singkat malam dengan teman. tapi juga dari tanda tangan kontrak menjadi seorang penulis buku motivasi beasiswa. iya, seorang yang lebih sering tidak merasa termotivasi harus memotivasi orang lain melalui cerita penerima beasiswa dari banyak negara berbeda. akan seperti apa hasilnya? entahlah.
tak perlu bahas berapa nominal yang aku dapatkan dari hasil menulis ini. tapi cukup satu yang tidak akan terlupakan entah sampai kapan, bahawasanya dengan menyatakan persetujuan itu, aku juga setuju untuk menjaga mimpiku, dan semoga perlahan mengakar hingga kemudian tumbuh, berkembang, dan menjadi manfaat untuk yang lain.
trus, kapan S2-nya? ehe, semoga ya.