Tentang Perempuan Yang Bekerja
“Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Al Ahzab: 33). Sudah lama saya ga buka twitter, terus iseng buka dan baca ada yang misuh-misuh soal agamawan yang katanya melarang wanita bekerja dan harusnya ada di rumah melayani suami. Salahnya di mana? Jadi geli pingin reply, tapi twitter ga bisa nulis panjang-panjang, hehe.
Saya beberapa kali dengar beberapa kajian, ada bahasan sensitif ini. Namun beberapa ustadz yang saya dengarkan tidak ada yang melarang wanita bekerja. Mereka hanya bilang ‘sebaik-baiknya wanita, adalah yang betah di rumah.’ Meraka ga bilang bekerja haram hukumnya bagi wanita, wanita yang suka di luar rumah ga baik dan lain sebagainya. Bahkan di kitab suci Al-Qur’an yang begitu mulia pun tidak diharamkan bekerja bagi perempuan. Lantas kenapa dia misuh-misuh? Masnya mungkin ketakutan, nanti kalau nikah atau sudah punya istri, istrinya ga bisa bantu-bantu dia cari nafkah hihihi.
Saya, juga ga pernah dengar ada ustadz yang melarang perempuan sekolah tinggi-tinggi. Kalau ada yang tau link bacaan atau youtube-nya boleh di-share. Karena menuntut ilmu itu ada pahalanya, jadi ga mungkin dilarang dalam Islam, kecuali ilmu yang tidak sesuai syariat.
Ada satu poin lagi, yang katanya istri harus melayani dan nurut sama suami. Poin ini juga ditolak oleh orang itu. Istri hakikatnya punya hak dan kewajiban. Dan setelah menikah ridha istri bukan lagi pada orang tua, namun pada suaminya. JADI WAJAR JIKA ISTRI DIMINTA MENAATI SUAMI, selama si suami tidak melanggar syariat Islam. La sampean mau punya istri pembangkang? Kenapa harus ngegas ketika ada nasihat-nasihat dari orang yang lebih tinggi pengetahuan agamanya ketimbang kita? Kenapa ga disaring dulu, segala yang keluar dari mulut mereka biasanya ga asal jeplak dari kepala mereka lho. Tapi berdasarkan Dalil dan Hadist. Saya ga yakin si Mas yang misuh-misuh itu sudah nonton kajian-kajian Agamawan tersebut secara utuh. Bisa aja cuma liat potongan-potongannya, bisa cuma liat dari feeds instagram akun dakwah. Belum dicerna semua-muanya dengan baik.
Saya pribadi juga kerja, tapi dari rumah hehee. Tapi tidak membuat saya tinggi hati, menilai yang masih kerja kantoran lebih rendah dan tak pantas jadi Ibu. Setiap orang itu kan punya latar belakang sendiri kenapa mereka harus kerja. Saya tau gimana kalutnya jadi Ibu bekerja, ngurus anak tapi harus tetap nyari uang. Susah, jangan bilang gampang. BOHONG itu. Setiap harus berangkat kerja sedih, kalau anak sakit kepikiran karena tetap harus kerja.Saya sudah mengalami juga, makanya saya puter otak gimana caranya bisa tetap bantu suami, tapi ga keluar rumah ninggalin anak.
Untuk itu, kenapa diringankan sama Qur’an perempuan tidak wajib bekerja selayaknya laki-laki. TIDAK WAJIB bukan ga boleh ya. Karena memang hakikatnya perempuan itu merawat anak. Perempuan adalah ‘sekolah peratama’ anak-anaknya. Jadi, kata MELAYANI SUAMI itu luas makna. Ga cuma melayani di ranjang, ngurus perut dan pakaiannya. Tapi juga mendidik anak bagian dari melayani suami. Menjaga harta benda yang dititipkan ke istri pun bagian melayani suami. Perawatan ke salon aja bagian dari melayani suami, yang mana enak buat kita dan menyenangkan juga buat suami.
Intinya ilmu-ilmu agama yang disampaikan entah itu ulama, ustadz atau teman yang sedang hijrah. Kalau tak cocok dengan pemahaman kita, masuk kuping kanan keluar kuping kiri aja. :) Saya doakan agar semua umat muslim dilembutkan hatinya saat menerima ilmu-ilmu syar’i. Jadi ga kaya makan bakso, pake urat :D















