Serius Nih Mau Bareng Sampai Ke Syurga?
Tulisan ini adalah review dari sharing online ASA Indonesia @asaindonesia bersama kang Ikhsanul Kamil (Kang Canun) dengan judul “Pentingnya Pendidikan Pranikah Sejak Dini”
Hallo, teman-teman! Apa sih yang ada di benak kalian ketika mendengar kata pernikahan? Kalau menurut saya pribadi, pernikahan adalah kolaborasi, yaitu kolaborasi antara suami dan isteri untuk melakukan sesuatu yang bisa bermanfaat untuk banyak orang. Kalau menurut kalian, apa sih? Pasti jawabannya banyak, ya! Ada berbagi, ibadah, tanggungjawab, perjuangan, pembelajaran, daaaan masih banyak lagi! Bahkan ada juga lho yang menganggap kalau pernikahan sebagai shortcut untuk mencari kebahagiaan.
Di tengah berbagai masalah di usia-usia quarter life ini, tidak sedikit orang-orang muda yang berpikir bahwa menikah adalah untuk menjemput bahagia. Seperti kisah Snow White yang hidup menderita kemudian ia melihat pernikahan sebagai pintu menuju kebahagiaan abadi. Ya, kebahagiaan dianggap sebagai kehidupan putri dan raja yang happily ever after.
Mungkinkah jika setelah menikah tema hidup kita hanyalah tentang bahagia? Hey hey, let’s think about this! Apakah ketika menikah kelak kita akan menikah dengan orang yang memiliki isi kepala yang sama dengan kita? Bagaimana dengan pola pikir, kebiasaan, tingkah laku, dan yang lainnya? Pasti berbeda dan perbedaan itu sedikit banyak pasti menimbulkan konflik. So, pernikahan harmonis itu bukanlah pernikahan yang di dalamnya tidak ada konflik sama sekali, tapi adalah pernikahan yang di dalamnya ada konflik namun suami dan isteri mampu me-manage perbedaan yang ada. Oleh karena itu, yang terpenting bukan menikah muda atau menikah tua, tapi menikah dewasa.
Data dari Kementerian Agama di tahun 2015 menyebutkan bahwa 1 dari 5 pernikahan berakhir dengan perceraian. Tentang ini, Kang Canun bercerita, katanya, “Selama 4 tahun saya berprofesi sebagai konselor pernikahan, saya menemukan, ketika memutuskan menikah untuk bahagia justru banyak pasangan suami isteri yang tidak bahagia. Mengapa? Karena pada faktanya, mereka tidak siap dengan konflik yang timbul. Hatinya hanya berharap tampungan kebahagiaan tapi tidak menyisakan ruang di hatinya untuk kecewa.”
Ternyata, memang ada jodoh yang hanya di dunia saja tapi tidak sampai ke akhirat karena pernikahannya berakhir dengan perceraian. Ada yang masa jodohnya hanya 5 tahun, 3 tahun, 1 tahun, bahkan ada juga yang hanya 1 minggu. Kita sepakat ya kalau jodoh tipe 1 ini, yang hanya di dunia saja, bukanlah jodoh yang kita harapkan. Semoga kita dan pasangan nanti tidak termasuk di dalamnya. Aamiin.
Lalu, ada jodoh tipe kedua, yaitu yang selalu bersama di dunia tapi tidak sampai ke akhirat. Lha, kok bisa sih kayak gitu? Kalau kita lihat data dari Kementerian Agama tadi, memang ada 4 yang tidak bercerai, tapi apakah bisa dipastikan jika pernikahannya harmonis? Banyak juga pernikahan yang diwarnai dengan perselingkuhan, perselisihan atau bahkan saling cuek satu sama lain. Misalnya, suami, isteri dan anak berada dalam satu meja, tapi suami sibuk main games, isteri sibuk dengan sosial media, anak-anaknya sibuk dengan mainan. They live in the same house, but they are homeless.
Apa yang terjadi jika keluarga yang tinggal dalam satu rumah mengalami homeless? Suami akan mencari ‘home’ yang lain di luar sana, bisa dengan berlama-lama di pos ronda, sering lembur terus atau bahkan mencari wanita idaman lain. Isteri juga akan mencari ‘home’ di luar, bentuk paling bahaya adalah jika ia menjalin hubungan juga dengan laki-laki lain di luar. Bagaimana dengan anak-anak? Mereka juga pasti mendapat dampaknya, mereka bisa menjadi anak-anak yang BLAST (bored, lonely, afraid-angry, stress and tired). Padahal …
Pernikahan yang harmonis adalah warisan terindah yang bisa kita berikan kepada anak-anak kita kelak.
Hmm, jodoh tipe kedua ini juga bukan tipe kita yaa. Tuh kan, mulai terasa kan kalau menikah itu memang perlu ilmu? Yuk lanjut lagi.
Ada juga jodoh tipe 3, yaitu yang di dunianya kompak, harmonis dan dipertemukan di akhirat, tapi sayang berakhirnya di neraka. Eh, kenapa sih? Kisah pernikahan seperti ini sudah ada contohnya di Al-Qur’an, yaitu kisah Abu Lahab dan Ummu Jamil. Mereka sangat kompak dan harmonis dalam membully Rasulullah dan menentang kebenaran. Dengan ending yang menyeramkan seperti kisah mereka, kita tidak ingin menjadi tipe ketiga ini, kan? Ya iyalaaaaah … Tentu saja!
After all, ada lho jodoh tipe 4, tipe kita bersama, yaitu jodoh di dunia yang begitu harmonis dan kompak lalu dikumpulkan di akhirat dan dimasukkan ke syurga. Tapi, tunggu tunggu, jangan senang dulu! Sebab, jodoh dunia akhirat itu tidak tiba-tiba datang dari langit, perlu dibentuk dan diperjuangkan. Bagaimana caranya?
Pondasi dasarnya adalah tentang niat. Mungkin ini terdengar klise, tapi niat inilah yang mempengaruhi segalanya. Niat itu seperti surat, salah tulis alamat yaudah deh sampainya juga salah. Ada orang yang berucap nikah karena ibadah, tapi dalam hatinya ia ingin menikah karena bosan hidup sendiri, ingin kabur dari rumah dan mencari bahagia. Apa yang riskan dari masalah niat ini? Nih ya coba pikirin deh, ketika menikah karena bosan hidup sendiri, akhirnya iya sih ada yang menemani, tapi akan kecewa ketika mulai ada kondisi LDR karena misalnya dinas di luar kota atau studi di luar negeri. Pada intinya, ketika berbicara tentang niat, ini tentu bukan hal klise dan ‘gitu doang’, tapi memang pondasi dari semuanya yang perlu melibatkan suara hati.
Terus terus, menikah karena ibadah itu memangnya yang kayak gimana, sih?
Satu hal yang perlu dipahami adalah bahwa dalam pernikahan dan kehidupan akan selalu ada dua titik ekstrim, yaitu kebahagiaan dan ketidakbahagiaan. Hidup memang begitu kan ya, ada sedih, senang, tawa, tangis, lapang, sempit, sakit, sehat, dan lain-lain. Apa yang salah dengan siklus-siklus hidup ini? Semuanya alamiah, kan? Ketika menikah, siklus-siklus ini bisa dirasakan dua kali lipat: kebahagiaan bertambah tapi kesedihan juga bertambah, hak bertambah tapi kewajiban juga bertambah. Ini menarik dan menantang, sebab kehidupan memang akan seperti roller coaster. Up and down, syuuuuu!
Menikah untuk ibadah adalah ketika kita mengejar barokah. Apakah itu? Barokah adalah bertambahnya kebaikan di setiap kondisi. Ketika bertengkar dengan pasangan, memang tidak nyaman, tapi bisa jadi barokah ketika kita mampu bijak melihat pembelajarannya. Ketika hal-hal menyenangkan terjadi, justru membuat semakin harmonis. Well, this is barokah. So, menikah untuk ibadah berarti kesiapan hati untuk menerima semua takdir-Nya dan kerelaan hati untuk melakukan yang terbaik dari apapun yang ditakdirkan-Nya.
Serius nih mau bareng sama pasangan sampai ke syurga? Kalau gitu, sebelum menikah, yuk perbaiki dan luruskan niat! Semoga Allah memudahkan kita untuk menundukkan nafsu, menyalakan logika dan menggunakan nurani. Sampai jumpa lagi di review-review selanjutnya! ;)