(via gambusinno's photo album: maduros | Xtube)

tannertan36
taylor price
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

Love Begins

Kiana Khansmith
Sade Olutola
cherry valley forever
ojovivo

shark vs the universe
Cosimo Galluzzi
tumblr dot com

izzy's playlists!
Misplaced Lens Cap
No title available
trying on a metaphor
Xuebing Du
Show & Tell
Mike Driver
art blog(derogatory)

❣ Chile in a Photography ❣
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Russia

seen from Qatar
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Russia

seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States
@bapakberkumis
(via gambusinno's photo album: maduros | Xtube)
(via gambusinno's photo album: maduros | Xtube)
While on vacation... > Photo #11
Pak Joko Guru Tercintaku
Pernahkah kalian jatuh cinta pada guru kalian sendiri? Pasti pernah! Ayo, ngaku saja, tak perlu malu-malu:) Saya sendiri pernah. Cerita ini terjadi ketika pada tahun terakhir SMU-ku. Pada waktu itu, ada seorang kepala sekolah baru yang merangkap sebagai guru. Dan kebetulan sekali, kelasku merupakan salah-satu dari sedikit kelas yang dipegangnya. Namanya Joko, tanpa embel-embel nama belakang. Dia memang orang Jawa asli dan logat Jawa-nya kental sekali. Pasti kalian membayangkan seorang pria jelek berkumis. Salah besar!:) Pak Joko itu tampan sekali, sama sekali tak terlihat kampungan/udik. Dan tubuhnya pun kekar bak model sampul Men's Health. Umurnya masih terbilang muda, sekitar tigapuluhan. Dia memang tidak memelihara kumis, tapi di sekitar dagunya terdapat brewok tipis. Brewok tipis itu membuatnya terlihat seksi sekali! Menurut kabar burung (burungnya siapa hayo?), Pak Joko itu masih single, alias belum married. Tiap kali dia mengajar di kelasku, saya tak pernah capek memandangnya. Aura keseksiannya begitu menggoda. Yang kusuka darinya adalah kebiasaannya yang tak pernah memakai kaus dalam atau singlet. Kemeja yang sering dipakainya pun berbahan tipis sehingga saya dapat hampir melihat tubuhnya. Sering kali, kedua putingnya yang menegang tercetak jelas di balik kemejanya itu. Tanpa malu, kedua puting itu menunjukkan diri mereka. Lekuk-lekuk dadanya yang berotot pun ikut tercetak. Beruntung bagiku karena saya duduk di meja terdepan:) Saya merasa telah jatuh cinta pada Pak Joko. Saya ingin sekali memadu kasih denganya, biarpun hanya sekali saja. Lalu sebuah ide gila menyusup masuk ke dalam otakku yang mesum. Saya mengambil secarik kertas dan mulai menulis sebuah surat cinta tanpa nama. Kupikir, itulah satu-satunya cara agar si ganteng Pak Joko menyadari bahwa dia mempunyai seorang penggemar rahasia. Suratku berbunyi: Untuk guruku tercinta, Pak Joko. Saya adalah salah satu muridmu yang jatuh cinta padamu. Tapi saya laki-laki. Biarpun begitu, saya naksir Bapak. Tubuh Bapak begitu menggodaku, sampai-sampai saya tak bisa konsentrasi belajar, terutama dada dan puting Bapak. Saya ingin meraba-rabanya, meremas-remasnya, menjilatinya. Saya ingin menyenangkan Bapak. Saya bahkan bersedia memberikan pantatku yang masih eprjaka demi kepuasan seksual Bapak. Saya akan membawa Bapak ke langit ketujuh, asalkan Bapak sudi mencintaiku. Hanya Bapak yang dapat kupikirkan siang-malam. Saya ingin bersamamu, Pak, meksipun hanya semalam saja. Ciuman mesra, Penggemar rahasiamu. Tak sulit untuk menyelipkan surat itu ke dalam tumpukan bukunya sebab saya sering ditugasinya untuk membantunya membawakan buku-bukunya ke kantornya. Sambil berpura-pura membereskan, tanganku menyelipkan surat itu. Saya tak tahu apakah dia akan menemukan surat itu atau tidak. Tapi paling tidak, saya telah berusaha. Selama berhari-hari, tak ada yang terjadi. Sikap Pak Joko pun biasa-biasa. Sampai pada suatu hari, tiba-tiba dia memanggilku untuk menghadapnya. Saya sungguh tak tahu dalam rangka apa dia ingin bertemu denganku. Begitu melihatku masuk, Pak Joko-ku yang tampan itu mempersilahkanku untuk duduk. Ruangan itu memang terletak berdekatan dengan ruang guru, tapi berhubung saya dipanggil di tengah jam pelajaran. Ruangan guru itu kosong sama sekali. Jadi saya dapat sedikit bersantai, tanpa harus khawatir ada guru-guru ynag hobi menguping. "Endy, bisa kamu jelaskan ini?" tanyanya dengan suaranya yang berwibawa. Dia menyodorkan secarik kertas yang nampak sangat familiar. Penasaran, saya memngambilnya dan.. Astaga! Itu surat cintaku unntuk Pak Joko! "Surat itu kamu yang menulisnya 'kan?" tanyanya. "Bapak mengenal betul tulisan tanganmu. Jadi kamu tak perlu berbohong." Sekujur tubuhku gemetaran. 'Astaga, apa yang telah kuperbuat? Kenapa harus memakai tulisan tanganku? Kenapa tak pakai mesin tik saja?' pikirku, keringat dingin menuruni wajahku. Tapi saya tahu bahwa tak ada gunanya untuk berbohong. Maka, dengan wajah tertunduk, saya mengakui semuanya. "Benar, pak. Surat itu saya yang menulisnya. Saya.. Saya jatuh cinta padamu.. Saya tahu saya salah. Jadi saya hanya dapat pasrah. Saya siapjika Bapak ingin mengelaurkanku daris ekolah ini," kataku lemas. Pak Joko bangkit dan memutari tempat dudukku. Kurasakan kedua tangannya yang kokoh itu mendarat di atas kedua bahuku. "Siapa yang bilang kalau Bapak akan mengeluarkanmu? Bapak harus akui, Bapak suka sekali dengan suratmu itu. Meski singkat, suratmu begitu erotis. Bapak sampai ngaceng membacanya." Tentu saja saya terkejut mendengarnya. Kubalikkan badanku dan kulihat Pak Joko sedang tersenyum ramah padaku. Kedua tangannya mulai menjalar turun dari bahuku menuju dadaku. Saya tak melawan ataupun menahannya. Saya ingin hal itu terjadi! Sentuhannya begitu menggoda, saya mendesah-desah saat kedua tangannya sibuk meraba-raba dadaku. ".. Hhohh.. Ooohh.. Pak.. Enak sekali Pak.. Aahh.." Terlena, saya memeluk tangannya dan mulai menciumnya. Tiba-tiba Pak Joko menyuruhku berdiri. Begitu saya berdiri, Pak Joko segera melucuti seragamku. Tak ada yang tersisa di tubuhku; semua pakaianku lepas. Semenit kemudian, saya telah berdiri di hadapannya telanjang bulat. Pak Joko pun, dengan bernafsu, menelanjangi dirinya sendiri. Dan untuk pertama kalinya, saya dapat melihat tubuhnya tanpa halangan. Benar-benar seperti yang kubayangkan dalam fantasi mesumku. Tubuh Pak Joko sangat sempurna! Tubuhnya sangat proposional dan ototnya pun cukup (tak terlalu bengkak seperti Hulk). Dadanya bidang sekali, ditumbuhi bulu-bulu halus. Darahku berdesir melhat bulu dadanya. Ooohh.. Jantan sekali. Di antara dadanya yang berbulu itu, sepasang puting kecoklat-coklatan menyembul keluar. Bulu-bulu itu tumbuh hampir di sekujur tubuhnya, menuruni perutnya yang kotak-kotak dan berakhir di semak-semak sekitar tempat kontolnya berada. Kontol Pak Joko lumayan besar, menggantung di sana, masih tertidur. Bagai terhipnotis, saya menjatuhkan diriku di bawah kakinya dan langsung mengulum kontolnya. Saya melakukannya dengan spontan, tahu bahwa Pak Joko juga mengharapkannya. Untuk beberapa saat, saya merasa seperti pelacur pria rendahan, haus akan kontol, tapi saya tak dapat mengingkarinya. Saya memang membutuhkan dan memuja kontol. Kontol adalah lambang kekuatan sejati pria, dan juga organ yang paling seksi. Pak Joko hanya dapat mendesah-desah keenakkan, tubuhnya menggeliat-geliat, menahan rasa nikmat yang dirasakan kontolnya. Sambil menyodokkan kontolnya ke dalam mulutku, Pak Joko memegangi kepalaku. Rambutku diremas-remas, menunjukkan padaku betapa dia sangat menikmati sedotanku. Bosan dengan rambutku, kedua tangannya menjalari punggungku dan mencakarinya. Tentu saja kuku-kukunya pendek semua. Lelaki macho sejati tidak memanjangkan kukunya seperti perempuan. Cakaran Pak Joko terasa tumpul, namun sanggup memompa semangatku agar saya menghisap kontolnya lebih keras. ".. Hhhoohh.. Ooohh.. Jilat kontol Bapak.. Aaahh.. Buat Bapak ngecret.. Hhhoohh.." erang Pak Joko. Dan saya pun semakin bersemangat menyedot seluruh isi kontol Pak Joko yang amat kucintai itu. Sesekali kuremas-remas biji pelernya berharap pejuhnya akan lebih mudah muncrat keluar. Saya sudah sering meminum pejuhku sendiri. Biasanya saya mengocok kontolku dan ngecret di telapak tanganku, lalu pejuhku kujilati habis. Saya tidak pernah meminum pejuh orang lain. Pejuh Pak Joko akan menajdi pejuh pertama dari orang lain yang kucicipi. ".. Hhhoohh.. Uuuhh.. Aaahh.. Hhoosshh.." Tiba-tiba kontol Pak Joko membesar di dalam mulutku. Nampaknya kepala kontolnya menggembung, bersiap-siap untuk menembakkan pejuh. Pak Joko mendorong kontolnya ke dalam mulutku keras-keras dan kontol itu pun meledak. CCRROOTT!! CCROOT!! CCRROOT!! Tubuh Pak Joko yang telanjang itu menggeliat-gelait dan mengejang-ngejang. Setiap kali tubuhnya mengejang, dia akan mengerang, "UUGGH!! AAHH!! UUHH!!" Napasnya memburu-buru, otot perutnya ebrkontraksi, dan keringat mulai membasahi sekujur tubuhnya. "AAHH.. UUHH.. HHOOHH.." desahnya saat tetes terakhir pejuhnya meluncur turun ke kerongkonganku. CCROOTT!! Dengan rakus, kutelan semuanya. Aaahh.. Enaknya. Manis dan agak asin. Saya amat menyukai rasa pejuhnya. Tubuh Pak Joko yang berotot itu pun lemas seketika. Dengan lembut, dia memeluk tubuhku dan membimbingku untuk berbaring di atas meja kerjanya. Sebelumnya, dengan tangannya yang kekar, dia menjatuhkan seluruh barang yang berada di mejanya. Kini mejanya bersih dan dapat kutiduri. Saya sadr apa yang dinginkan Pak Joko, dan saya akan memberikannya dengan senang hati! Apapun untuknya, asalkan dia senang. "Hhoohh.. Bapak cinta kamu. Bapak ingin mmemasukan kontol Bapak ke dalam tubuhmu. Kamu mau 'kan?" Tentu saja saya menyetujuinya. Dengan sensual, Pak Joko merentangkan kakiku selebar-lebarnya. Lubang pantatku yang ketat berkedut-kedut di hadapannya. Selama beberapa saat, Pak Joko hanya memain-mainkan ontolnya di pintu gerbang anusku. Saya mengerang-ngerang penuh nafsu, emohonnya untuyk segera menusukku. Tapi Pak Joko tak menghiraukanku. Dia menunggu sampai lubangku cukup licin dengan precumnya. Dan kemudian, setelah puas melumasi lubang pelepasanku, Pak Joko kemudian menancapkan kontolnya, jauh ke dalam tubuhku. "AARRGGHH!!" erangku, kesakitan. Untung saja ruangannya kedap suara sehingga takkan ada yang dapat mendengar erangan mesum kami. ".. Hhohh.. Hhhohh.. Sakit sekali.. Hhohh.. Pak.. Hhohh.." keluhku. "Sabar ya. Biarkan Bapak ngentotin kamu. Bapak janji, kamu akan merasa puas, oke?" Pak Joko berusaha meyakinkanku. Bagaimana saya dapat menolaknya? Pak Joko pun mulai menggenjot pantatku. AARRGGHH!! Perih sekali. Lubangku terasa penuh sekali dan bibir anusku serasa sobek. Kemudian Pak Joko menusukkan kontolnya masuk. AARGGH!! Sakit tapi nikmat. Cintaku yang begitu besar pada Pak Joko mmbuatku bertahan dalam kesakitan itu. Saya lega Pak Joko senang dengan tubuhku. Saya ingin dia memakai tubuhku terus-menerus dan membuang pejuhnya dalam tubuhku karena saya diciptakan hanya untuk melayaninya. "Hhhooh.. Hhhoohh.. Ketat.. Hhhoosshh.. Sempit.. Aaahh.. Bapak suka pantatmu.. Hhhohh.." komentar Pak Joko di sela-sela napsnya. Sambil mengentotku, Pak Joko membungkukkan tubuhnya dan mulai menciumiku dengan penuh nafsu. Tubuh kami menyatu dalam ciuman itu, dan juga dalam persetubuhan kami. Kami disatukan oleh cinta dan nafsu birahi kami. "Hhhooh.. Bapak suka kamu.. Ooohh.. Hhhoohh.. FUCK! Bapak akan ngentotin kamu.. Ooohh.. Sampai kita puas.. Hhhohh.. Aaahh.." Kini rasa nikmat mulai menghampiriku. Ternyata cerita-cerita homoseksual yang kubaca di berbagai situ-situs porno benar apa adanya, bahwa dingentotin kontol itu enak. Buktinya badanku mulai menggelepar-gelepar seperti ikan kehabisan air. Nikmat sekali ukuran kontol Pak Joko, apalagi dia mengentotinku dengan penuh nafsu dan cinta. "Hhhoohh.. Pak Joko.. Hhhohhshh.. Terus Pak.. Hhohh.. Negntotin saay.. Aaahh.. Ayo Pak.. Lebih keras.. Hhhoohh.. Bapak.. Uuuhh.." erangku, tubuhku terguncang-guncang. Bahkan meja yang kami pakai untuk ngentot ikutan berderak-derak. Saya agak khawatir jika meja itu akan rubuh. Tapi Pak Joko tak menghiraukannya. Dia tetap asyik menghajar pantatku dengan kontol supernya. "AARRGGHH!!" erangku. Seks kami menjadi semakin panas dan bergairah. Pak Joko memutuskan untuk memakai tubuhku sebagai latihan bebannya. Dengan berpegangan pada pinggulku, dia mengangkatku. Takut jatuh, saya segera melingkarkan kedua lenganku pada lehernya yang kokoh Tak lupa, kedua kakiku kupakai untuk memeluk pinggangnya. Dengan susah payah, Pak Joko membawa tubuhku ke tembok di depannya. Kontolnya masih tetap tertancap dlam pantatku, masih tetap menyodomiku. Saya hanya dapat terengah-engah saja. Rasa sakit dan nikmat yang diberikan kontolnya menjadi berlipat ganda. Sesampainya kami di tembok itu, Pak Joko mendorong tubuhku ke tembok dan mulai mengentotinku dengan liar. "Hoohh.. Hhhoohh.. Bapak akan ngentotin kamu.. Hhhoohh.. Sampai kamu ngecret.. Aaahh.. Kontol Bapak butuh pelepasan.. Aaahh.. Hhhoohh.." Pak Joko sungguh-sungguh jantan! Karena tak kuasa menahan rasa nikmat yang mendera tubuh dan kontolnya, Pak Joko menggigit leherku. Terpengaruh, saya pun balas menggigitnya. Kami saling menggigit dan meneteskan air liur ke tubuh kami. Seks kami sangat liar dan bergairah! Kami seperti sepasang hewan buas yang sedang ngeseks sejenis! Tiba-tiba kontol Pak Joko mulai mengembang dan berkedut-kedut. Kemudian.. CCRROOTT!! CCRROTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! Dengan tak terkendali, kontol sang guru itu pun menembakkan kontolnya secara bertubi-tubi. Bagian dalam tubuhku disemprotnya dnegan pejuh bergalon-galon. Dan pejuh itu bukan sembarang pejuh. Tetapi PEJUH Pak Joko! "AARRGGHH..!!" erangnya, tubuhnya kelojotan. "AARRGGH!! UUGGHH!! OOHH!! AAHH!! HHOOHH!!" dengan susah payah, dia berusaha menjaga agar tubuhku tak terlepas dan jatuh. Selama seks itu, kontol ngacengku yang terus-menerus mengeluarkan precum terperangkap antara perut kami berdua. Perut Pak Joko yang terasa seperti papan cuci menggosok-gosok kontolku dengan kasar, tiap kali dia bergerak untuk mengetotinku. Alhasil, kontolku mendapat servis coli yang paling top darinya. Ketika tubuh Pak Joko mengejang-ngejang karena orgasme, kontolku terpengaruh dan mulai menyemburkan sperma. "AARRGGHH!!" teriakku. CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! Pejuhku menyembur membanjiri perutku dan mneggenangi pusarku. Karena tubuh kami berdua terguncang orgasm, genangan pejuhku jatuh menetes ke atas lantai. Kaki telanjang Pak Joko tanpa sengaja menginjak-nginjak genangan itu sehingga membuat lantai kantornya menjadi semakin kotor. "UUGGHH!! AARRGGHH!! OOHH!! AAHH!! HHOOSSHH!! UUHH!!" erangku sampai orgasme meninggalkan diriku. Kami saling berciuman mesra ketika semuanya usai. Dengan hati-hati, Pak Joko menurunkan tubuhku. Tersengal-sengal kupandangi wajahnya. Meskipun mukanya terlihat capek, dia masih saja tampan. Kontolnya muali menciut dengan pejuh yang masih menggantung di kepala kontolnya. Ketika saya akan buru-buru masuk ke kelas, Pak Joko menahanku. Dia berkata, "Bapak 'kan juga merangkap sebagai kepala sekolah di sini. Akan Bapak katakan pada wali kelasmu bahwa Bapak membutuhkan bantuanmu. Kita berdua akan menghabiskan waktu berduaan saja di rumah Bapak." Saya tersenyum dan kembali kucium wajahnya yang tampan itu. Sambil mencium, saya mengambil kesempatan untuk meremas-remas dadanya yang sekeras batu itu.
Pakde Sarwo
Mengkhayal.., meremas-remas, mengocok-ngocok, mengisap-isap, menjilati batang kontol yang besar dan panjang dengan biji totong yang besar menggantung sambil memeganginya meremas-remasnya dan sementara itu aku terus membasahi batang kontol yang besar dan panjang tersebut dengan air ludahku dari kepala kontol yang besar merah sampai pangkal batang kontol tersebut.Mengelus-elus jembut-jembut yang lebat, hitam dan ikal, menjilatinya hingga basah hingga lidahku terus naik ke dada laki-laki yang aku khayalkan dan berakhir dengan croott.. crott. croott, muntahan air maniku di sprei, di saat aku menghayalkan perbuatanku saat itu pula tanganku meremas-remas totongku yang besar dan panjang hingga baru kusadari saat aku mendengar suara tawa begitu jelas walaupun pelan, akhh.. Ya ampun Pakde Sarwo, jelas aku terkejut melihat laki-laki tersebut sudah berada di depan pintuku. Akh, bodohnya aku kenapa bisa lupa menguncinya.Pakde Sarwo berjalan mendekatiku, duduk di sampingku sambil tersenyum."Nikmat yah", ucapnya membuatku tersipu malu."Kapan datang Pakde?", tanyaku mengalihkan perhatiannya."Siang tadi""Lho, terus kemana? Kok tadi tidak ada siapa-siapa di rumah?""Pergi sama Bapak mu jumpai teman" jawab Pakde sambil tersenyum lagi."Wah jahat tidak ngajak-ngajak", protesku."Mau Pakde ajak?""Ke mana?""Menghayal" ucap Pakde tersenyum dan tangannya yang penuh dengan bulu tersebut meraih kontolku yang telah kututupi dengan kain."Ah, Pakde, genit ah", ucapku memukul tangannya namun laki-laki tersebut tetap memegang batang kontolku erat.Pakde membuatku tersipu malu namun laki-laki tersebut malah tersenyum dan aku membiarkan tangannya yang sekarang langsung memegang kontolku dan meremas-remasnya.Remasan tangannya membuat kontolku menjadi besar dan memanjang kembali berdiri tegak menantang, aku menatap Pakde yang tersenyum, kujamah kontolnya, kurasakan, kuremas-remas, Pakde hanya tersenyum saja dan membiarkan tanganku yang terus meremas-remas totongnya hingga akhirnya retsleting celana Pakde ku buka, dan kini tanganku merasakan kontol Pakde yang sesungguhnya, gila.. Begitu besar dan panjang.Kontol Pakde sudah aku keluarkan dari lobang retsleting dan betul-betul menakjubkan kontol Pakde ucapku, melihat batang kontolnya yang besar dan sebagian batangnya dipenuhi jembut-jembut hitam dan ikal. Aku menatap Pakde lagi, laki-laki tersebut begitu serius mengocok-ngocok kontol ku, merenggangkan batang kontolku dengan kedua tangannya. Sementara tangan kanannya mengocok-ngocok batang kontolku, tangan kirinya meremas kedua biji totongku sambil menariknya. Akhh.. Desahku keenakan sambil berkali-kali menarik nafas panjang agar aku tidak dengan cepat memuntahkan maniku.Rangsangan Pakde yang membuatku kegelian sekaligus merasakan kontolnya yang besar dan panjang tersebut membuat ku semakin bersemangat dan mendekatkan kepalaku kearah kontolnya yang luar biasa besar dan panjang tersebut. Aku langsung menelan batang kontol Pakde, laki-laki tersebut ternyata membiarkan kontolnya kuisap-isap, kujilati kepala totongnya, batang kontolnya dan kulumat lagi, kutarik dengan bibirku, kutahan beberapa saat batang kontolnya dalam mulutku dan kujepit."Akhh.. Akhh.." Desah Pakde, keenakan."Terus.. Wan.. Lagi.. Lagi..", aku menjadi semangat dengan kata-kata Pakde. Dan desahannya terus keluar sambil sesekali menjilati bibirnya sendiri.Permainan Kami terus berlanjut dan Pakde membuka seluruh pakaiannya hingga telanjang bulat, Akhh, badannya atletis, tegap dengan otot-otot bisepsnya di dada dan pangkal lengan. Pakde memelukku, menciumiku, mencumbuiku, Akhh.. Ternyata laki-laki ini begitu mahir dengan cumbuannya, melumat bibirku hingga memasukan lidahnya ke dalam mulutku dan ku sambut dengan lidahku, Kami melakukannya berkali-kali, tanganku terus meremas batang kontol Pakde, dan ini bukan hayalan tapi kenyataan.Tangan Pakde meremas-remas pantatku, menarik-nariknya dan sesekali memukul pantatku dengan kuat, sensasi yang kudapatkan dari sekedar hayalan yang baru saja aku buat.Aku kembali menelan batang kontol Pakde, akh.. Rasanya belum puas dan sekarang aku bebas untuk melakukannya, aku bisa melihat besar dan panjangnya batang kontol pakde dengan jelas dan jembut-jembut yang lebat, hitam dan ikal. Batang kontol Pakde ku lumat habis hingga ke pangkalnya, untuk beberapa saat aku membetot batang kontol Pakde di dalam mulutku, sambil tanganku yang lain meremas biji totongnya yang sebesar telor ayam kampung tersebut.Aku tarik-tarik, Pakde mendesah keenakan dan memintaku untuk meneruskannya. Lidahku mulai menjulur dari kepala kontolnya yang besar dan merah tersebut hingga pangkalnya kujilati hingga batang kontol Pakde basah dengan air ludahku, sesekali kukocok batang kontol Pakde dengan tanganku dan kulumat lagi, ku isap kembali, ku telan batang kontolnya."Akhh.. Akhh.. Akh", desah PakdeAku menatapnya, menikmati permainanku, sambil kepalanya beberapa saat bergerak ke kiri dan ke kanan, matanya terpejam. Betotan mulutku membuatnya semakin kegelian dan keenakan hingga.."Akhh.. Akhh.. Ohh.." desahnya kuat membuat tubuhnya mengejang dan kurasakan mani Pakde telah keluar menyembur di dalam mulutku.Laki-laki tersebut tersenyum, melihatku, beberapa saat Kami saling berpandangan. Kontol Pakde aku jilati kembali sampai mani terakhirnya yang keluar kujilat."Akhh.. Enaknyaa", desahnya lagi.Jembut-jembut Pakde aku jilati hingga basah, batang kontolnya mendapat sasaran kemudian, biji kontolnya, pahanya yang berbulu lebat kujilati, dan belum rasa puasku untuk menikmati seluruh tubuh laki-laki tersebut yang besar dan berotot tersebut, tiba-tiba pintu kamarku diketuk dan suara Ibu memanggil kami untuk mengajak makan malam.Pakde yang menahan permainanku, laki-laki tersebut mengangkat tubuh atasnya dan duduk, menarik tanganku dan langsung memeluk tubuhku, dengan manja aku mengelus dadanya yang bidang"Ayo makan dulu", ajaknya.Yah, mau tak mau aku mengikuti juga Pakde keluar untuk makan malam padahal belum puas nafsuku dan habis itu Aku dan Pakde akan melanjutkan permainan Kami, laki-laki tersebut akan menyodomi lobang pantatku katanya, dia mau melepaskan air maninya berkali-kali ke dalam mulutku. Akhh.. Enaknya, permainan kami selanjutnya dan aku berhayal lagi untuk beberapa jam yang akan kami lakukan.Dan beberapa jam kemudian hayalanku menjadi nyata, Pakde menjadi segar setelah mandi, membuka handuk yang melilit di pinggangnya, menaiki ranjang mendekatiku yang sudah telanjang bulat.Pakde mendekatkan batang kontolnya yang lagi lemas dan pendek tersebut ke arah mulutku. Mulutku langsung menyambutnya, menelan batang kontol Pakde, kutarik-tarik beberapa lama hingga kontolnya menjadi besar dan panjang tegak menantang mulutku. Kutelan lagi dan kini kukocok-kocok dengan mulutku, Pakde pun menggerak-gerakkan pantatnya, menyodok-nyodok mulutku dengan batang kontolya. Aku menjepit batang kontol Pakde, biar dia merasakan mulutku yang tidak kalah dengan lobang perawan perempuan.Desahan-desahan Pakde terdengar saat dia mengentot mulutku, gerakan pantatnya semakin cepat maju mundur, batang kontolnya yang panjang dan batang bagian pangkalnya lebih besar dari yang lain dapat ku telan semuanya."Akhh.. Akhh.. Ohh.." desah Pakde lagi keenakan dan memperlambat gerakannya sambil menarik nafas panjang. Pakde mengeluarkan batang kontolnya dari mulutku dan memintaku untuk menjilati biji totongnya."Jilat.. Jilat.. Telan", ucapnya. Akupun menelan biji totongnya sambil kutarik-tarik dengan mulutku ke bawah, tanganku menggenggam batang kontolnya."Akh, sekarang Pakde mau mengentot lobang pantatmu"Pakde berbaring di sampingku, memelukku dan memasukan batang kontolnya ke dalam lobang pantatku, aku menggigit bibirku, Pakde menekan pantatnya hingga batang kontolnya masuk lebih dalam sambil memelukku erat dan kembali menekan pantatnya hingga tubuh Pakde lebih rapat ke tubuhku. Aku merasakan hangatnya tubuh Pakde. Sambil mencumbui leherku Pakde menggoyang-goyangkan pantatnya dengan pelan, lobang pantatku diobok-obok dengan batang kontolnya ke kiri dan kanan, hingga kemudian tubuhku bergoyang-goyang ke depan dan belakang saat Pakde mulai permainannya dengan menyodok-nyodok lobang pantatku dengan cepat."Akhh.. Ohh", desah Pakde menghentikan permainannya sesaat sambil menarik nafas mencegah maninya keluar. Pakde kembali melanjutkan dengan sodokan yang pelan, tangannya sesekali mengelus-elus dadaku, menarik-narik kedua puting tetekku bergantian.Akhirnya Pakde tidak mampu menahan klimaxnya lagi setelah kontolnya menyodok-nyodok lobang pantatku dengan cepat dan sangat cepat, hingga derit ranjang terdengar dan plok.. plok.. plok.. Bunyi pahanya beradu di pahaku. Suara desahanku dan kata-kata ku yang membuat Pakde bersemangat untuk terus menyodok-nyodok lobang pantatku dengan cepat."Akkhh.. Akhh.. Ohhkk", desah Pakde sambil menggigit leherku saking nikmatnya..Permainan ronde pertama atau ronde yang keberapalah, akhirnya kontol Pakde basah, aku menjilatinya lagi, akhh daging kenyal dan legit tersebut tidak habis-habisnya kujilati, kuciumi dan kuisap-isap. Akhh.. Pokoknya enak bah."Kemari Wan", ajak Pakde dan menyambutku dalam pelukannya.Kami berbaring sambil berpelukan, sesaat bertatapan, Pakde tersenyum, dan menciumku, aku membalas ciumannya juga. Dan tanganku tidak mau lepas dari batang kontolnya."Kontol Pakde melebihi besar dan panjangnya dari kontol yang aku bayangkan sebelumnya", ucapku. Laki-laki itu tersenyum.Kontol Pakde yang panjangnya melewati pusatnya, hingga saat kupegang dengan kedua tanganku masih tersisa 5 senti dengan besar batang kontol dibagian pangkalnya sampai tanganku tidak penuh menggenggamnya."Pakde suka juga mengentot laki-laki yah?" tanyaku."Tidak, tapi Pakde pernah mengentot dengan laki-laki waktu dipenjara, dan coba-coba mana tahu Iwan mau Pakde entot", jawab Pakde sambil tersenyum."Hasil coba-coba ternyata memuaskan yah Pakde". Laki-laki itu tersenyum."Pakde pengen bernostalgia dengan pengalaman yang lalu", ucapnya."Yah, Iwan pernah melakukannya beberapa kali", jawabku saat Pakde menanyakan.Untuk beberapa saat kami mengobrol, sambil merokok dan selanjutnya aku memberikan pemanasan kepada Pakde dengan mencumbui dadanya yang bidang, mengisap-isap kedua puting teteknya yang berwarna coklat, sambil menarik-nariknya dan menjilatinya. Kembali batang kontolnya ku lumat di dalam mulutku, kujilati kembali dari kepala totongnya sampai pangkalnya. Kontolku yang sudah tegang kutempelkan ke kontol Pakde dan kukocok-kocok bersamaan, hingga beberapa saat lamanya, mewujudkan imajinasi sex-ku.Kedua kaki Pakde aku lebarkan, lobang pantat Pakde yang berbulu tersebut aku elus yang kemudian kujilati membuat Pakde tersenyum dan kegelian. Tanpa menolak, Pakde setuju aku menyodomi lobang pantatnya. Permainanku untuk memuaskan nafsuku dimulai, aku meletakkan kedua kaki Pakde di bahuku dan lobang pantatnya ku jejali dengan kontolku yang mulai mencari sasaran, ku tekan pantatku hingga batang kontolku ambalas semua ke dalam lobang pantatnya. Aku mulai menyodok-nyodok lobang pantat Pakde dengan pelan, sambil meremas-remas batang kontol Pakde. Pakde tersenyum sesekali menghisap rokoknya dan menghembuskan asap tebal dari lobang hidungnya."Ayo teruskan", ucapnya.Aku mempercepat gerakan untuk menyodok lobang pantatnya, lobang pantat Pakde ternyata tidak hanya sekali ini di sodomi, ditandai dengan mudahnya kontolku untuk memasuki lobang pantatnya."Akhh.. Oohh", desahku menikmati kegelian, kenikmatan, akhh.. Enaknya.Pakde terus menikmati rokok keretk nya dan sesekali mendesah kegelian saat tanganku mengocok-ngocok batang totongnya yang besar, tegak berdiri seperti tugu monas.Untuk beberapa saat aku terus menyodok-nyodok lobang pantat Pakde dengan pelan dan menarik nafas panjang agar maniku tidak keluar lebih cepat, aku ingin permainanku lebih lama agar bisa menikmati lobang pantat Pakde, namun aku tidak mampu juga menahannya, sodokan kontolku semakin ku percepat saat aku merasakan kenikmatan dan kegelian yang aku rasakan semakin hebat."Aakkhh.." Desahku panjang.."Ohh", batang kontol Pakde kuremas kuat saat aku mencapai klimaks dan menyemburkan air maniku ke dalam lobang pantat Pakde."Akh.." Desahku sambil mendekati pakde dan berbaring di sampingnya."Enak.. Enak kali Pakde", ucapku.Laki-laki itu tersenyum. Aku mengelus-elus dada Pakde, menatap mukanya yang terus menikmati rokok kereteknya, sesekali tersenyum memandangku. Jembut-jembut Pakde yang lebat, hitam, ikal dan kasar menjadi sasaran tanganku berikutnya, aku elus dengan lembut, aku menjadi geram dengan jembut-jembut Pakde, aakhh.. Teriak Pakde menahan sakit saat Jembutnya aku genggam dan jambak, aku tersenyum dan melompat ke atas tubuh Pakde. Laki-laki tersebut tertawa kecil, memukul pantatku."Ayo, lakukan", ucapnya."Aku mau memuaskan Pakde.. Pokoknya malam ini aku puaskan Pakde", ucapku sambil menggenggam batang kontolnya dan memasukannya ke dalam lobang pantatku,.Perlahan kuturunkan badanku.. Aakhh.. Desahku pelan, batang kontol Pakde telah masuk ke dalam lobang pantatku sampai pangkalnya. Dengan menggerakkan pantatku maju mundur, dan kiri kanan, agar Pakde merasakan enak.. Kugerakan pantatku dengan cepat.. Ho.. Hoo.. Hoo"Bagaimana Pakde, enak.. enak..?", ucapku.Pakde menarik nafas panjang, menggerakan tubuhnya ke belakang, tangannya dengan cepat meraih tubuhku, laki-laki tersebut dalam posisi duduk memeluk tubuhku yang berada dalam pangkuannya.Pakde merangkul tubuhku, merapatkan tubuhnya ke badanku, dan menggerakan kedua tangannya yang memelukku erat hingga badanku terayun-ayun keatas dan kebawah, dengan cepat. Beberapa kali Pakde mendesah merasakan kenikmatan dan menghentikan permainannya sambil menarik nafas panjang. Rupanya Pakde menahan agar maninya tidak cepat keluar. Laki-laki tersebut dengan rakus melumat bibirku, menciuminya, memasukan lidahnya ke dalam mulutku, aku pun membalas cumbuan Pakde. Lidah kami saling menjilati, Pakde memegang kepalaku dan menjiltai mukaku, hidungku, pipiku, daguku, leherku terus bergantian mendapat giliran.Pakde meletakkan tubuhku ke bawah, mengangkat kedua kaki ku ke atas pundaknya dan menekan pantatnya dengan kuat, melakukannya dengan cepat dan menggerakan pantatnya maju mundur hingga batang kontolnya terus masuk keluar ke dalam lobang pantatku."Akh.. Akhh.. Akkhh.. Lagi.. Lagi Pakde" ucapku."Teruskann.. Teruskann..", kataku lagi sambil mengelus-elus dadanya, menarik-narik kedua puting teteknya bergantian.Gerakan pantat Pakde semakin cepat, hingga laki-laki tersebut mendesah panjang, menggelinjang menahan puncak kenikmatan yang dia rasakan, yah.. Dia orgasme dengan mengeluarkan maninya di dalam lobang pantatku. Laki-laki tersebut menjatuhkan tubuhnya ke atas badanku, dan kembali kami bercumbu, menikmati malam-malam yang semakin menyenangkan.Pakde dan aku beristirahat kembali, memulihkan stamina sambil mengobrol, tanganku yang tak mau diam terus meremas-remas, mengocok-ngocok batang kontol Pakde. Tubuhnya yang kekar padat berisi juga mendapat giliran juga.Dan entah berapa kali Pakde menyodomiku dengan posisi-posisi yang sama-sama kami ketahui untuk meraih kenikmatan dan kegelian yang membuat nafsu kami terpuaskan. Dan entah berapa kali pula aku meremas-remas, mengocok-ngocok, mengisap-isap batang totongnya yang besar tersebut.Malam terakhir Pakde di rumahku, dan aku memberikan kepuasan, kenikmatan yang tidak habis-habisnya malam itu, aku tetap mereguk, menjilati maninya yang keluar sedikit demi sedikit dari lobang kencingnya.Akkhh.. Kenikmatan yang tidak terbayangkan dengan hayalanku sebelumnya..Aakkhh.. Kenikmatan yang entah kapan lagi terulang..Aakhh.. Kenikmatan yang sungguh-sungguh merupakan pengalaman yang tak terlupakan..Aakkhh.. Akhh.. Ohh.. OhhMenghayal..Menghayall..Menghayall..Itu yang kulakukan kembali..MENGKHAYALLAH BERSAMAKU.."Aakhh.. Akhh.. Ohh!!"
SEMPAK BAPAKNYA
Iya gue udah memperhatikan Bapaknya Dani sedari dulu. Sejak pertama gue main kerumah Dani! Ada hasrat yang terpancing tiap kali gue memandangi Bapaknya Dani
Biasanya kalo lagi dirumah, Bapaknya cuma pake celana pendek (mirip celana badminton) sama kaos oblong swan. betisnya kenceng banget,pahanya gempal,kulitnya sawo matang,badannya penuh bulu yang sebagian udah ubanan,kumisnya kaya rano karno tebel bener,rambutnya dipotong rapih. Orangnya ramaaaaahhhh banget! Dia tau gue canggung pertama kali berkunjung kerumahnya tapi dia malah ngajak becanda mungkin supaya gak kaku. Pokoknya orangnya kocak gak kaya bapak bapak pada umumnya yang serius dan penuh curiga!
Karena sifat ramah yang diberikan Bapaknya Dani, gua jadi gak segan segan ngajak dia ngobrol. Kadang gue terlibat obrolan diteras belakang sambil dia ngopi sore sore. Dan saat itulah mata gue menerawang benjolan diselangkangannya dia!!! Momen momen yang sangat gue inginkan setiap maen kerumah Dani. Dari jempolnya dia,betis sampe pangkal paha gue tengok. Apalagi perutnya yang endut,pengen banget gue elus elus gemes! Rasa hati pengen bersandar gitu sama Bapaknya Dani. Tapi sejauh itu gue masih ngejaga sikap depan dia. Apalagi dia orangnya penyayang banget gak tega gue kalo sampe salah ngomong.
Kadang si Dani suka bingung karena gue lebih sering ngobrol ama bokapnya! Gua kadang suka ketawa sendiri. Yah alasan yang gue kasih karena bokapnya dia asyik dan keren! Walaaaaauuuuu sebetulnya gue punya niat terselubung!
Hari kehari jadi minggu ke bulan. Semakin lama semakin gue senang deket sama Bapaknya Dani. Apalagi nih apalagi kalo pagi gue nyamper buat berangkat bareng,pasti gue ketemu bokapnya. Dia pake pakaian dinas,alamak guanteeennggg banget!!! Wajahnya cerah menampakan sinar mentari yang hangat dan pasti dia senyum kepada gue!. Hampir aja gue pengen bilang “Bapak cakep banget…” tapi selalu tertahan! Dan kekaguman ini bertahan dihati.
Sampai disuatu sore gue sama Dani lagi maen PS dikamarnya. Gue denger bokapnya lagi mandi dibawah. Khayalan gue udah kesono kemari! Ini adalah aktivitas favorit gue. Gue gak mau gegabah,gue tungguin sampe selesai. Sekedar ngeliat bokapnya keluar dari kamar mandi pake anduk doang beraroma sabun bisa membuat gue bahagia.
Gue denger air keran udah dimatiin,dengan sergap gue izin ngambil minum kebawah. Dani cuek menatap layar tv. Dengan cekatan gue turunin tangga. Dan sampe pijakan terakhir.
Pas banget Bokapnya Dani buka pintu kamar mandi! Langkah gue terhenti. Gue pandangi ke indahan tubuh Bokapnya Dani. Mengapa engkau begitu menawan Pak!!! Dia nyapa gue sambil berlalu masuk kamar. Gue pandangi punggung bokapnya Dani,pantatnya yang bohay,dan gue bayangin peler bokapnya Dani yang gelantungan disela sela paha. Ampun!
Setelahnya gue ngambil aer yang tadi gue sebut. Sebelum naek keatas gue sempetin ngencing. Kamar mandinya masih beraroma sabun. Dan saat pintu gue tutup.
SEMPAK BOKAPNYA DANI MASIH NGEGANTUNG!!!
Sempak putih menggelayut,percaya gak percaya! Gua ambil sempak itu,gua lihat ukurannya. Jelas ini punya bokapnya Dani,ukurannya pas dengan ukuran pantatnya yang semok! Langsung gue perhatiin bagian kontolnya,ada sehelai jembut ketinggalan! Gue seneeeennnggg banget!!!! Lalu gue hirup itu sempak,aroma pesiiinnnggg semerbak masuk hidung gue! Lidah gue langsung ngejilatin sisa kontol bokapnya Dani! Gue ngebayangin lagi ngenyot kontolnya yang kayanya gede! Gue keluarin juga kontol gue. Gue ngocok sambil jilatin sempak Bapaknya Dani! Gue pindah kebagian pantat agak bau asem yah tapi biarlah gue tetap endus endus. Sambil berlutut dilantai kamar mandi kontol gue bebas dikocok. Gue ngayangin lagi ngisepin pantat Bapaknya Dani! Pasti manteb banget.
Pokonya aroma sempak Bapaknya Dani sungguh enak dihirup. Bau kontol,bau asem,jembut,bau pantat… semuanya gau nikmatin. Dan akhirnya gue gak kuat nahan ngencrot. Peju gua muncrat di sempaknya dia. Banyak banget peju gue tumpah dibagian kontolnya. Lega banget!!! Gue perhatiin sempak yang udah berlumur peju. Dan gue gantung lagi tuh sempak ditempat yang sebelumnya. Gua bersihin kontol gue dan kembali kekamar.
Dani rada kesel karena gue kelamaan. Gue bilang aja abis berak. Dan dia gue biarkan menang maen bola supaya senang! Padahal yang senang disini tuh gue karena nenu sempak Bapaknya yang gelantunhan dengan jembut sehelai!
Selepas maghrib gue pamit walau Bapaknya ngajak makan malem bareng. Gue tetep pulang. Mata gue masih jelalatan ngeliat kaki Bapaknya Dani yang dibalut sarung,kayanya gak pake sempak! Gue pulang dengan nada yang riang…
Sebetulnya Bapaknya Dani mendapati sesuatu yang aneh. Saat ia kembali kekamar mandi untuk mengambil sempaknya,ia merasa bingung kenapa ada cairan disana. Dengan perasaan bingung ia cium cairan itu dan benar saja itu adalah peju! Bapaknya Dani memikirkan hal itu sejenak,apakah anaknya yang meperin sperman ke sempaknya tapi ia rasa bukan. Dan pikirannya sangat tertuju kepada teman anaknya yang selama ini selalu mempunyai pandangan aneh terhadapnya!
Bapaknya Dani masih merasa kaget ada peju di sempaknya. Ia cium cium peju itu untuk lebih memastikan dan juga ini pertama kalinya ia menyentuh peju orang lain. Dan akhirnya sempak itu ia taro keranjang cucian. Bapaknya Dani ingin memastikan itu semua,apa benar teman anaknya yang melakukan itu…
PAPANYA TEMENKU
Awalnya sih tidak sengaja. Sudah lama aku mengagumi papa sahabatku, Benny. Sosok laki-laki jantan dengan tubuh kekar dan dada berbulu. Dia adalah seorang Oknum Polisi. Siang itu aku ke rumah Benny, sahabatku. Ternyata Benny sudah keluar, tapi papanya menyuruhku menunggu benny. Mungkin sebentar lagi juga pulang. Papa Benny menawarkan aku untuk menunggu Benny di Kamarnya atau di ruang tamu saja. Aku pilih kamar Benny saja, dari pada aku bete di ruang tamu. Kebetulan saat itu rumah Benny sepi. Mama dan adiknya juga sedang keluar. Jantungku berdebuk kencang ketika melihat papa Benny bertelanjang dada dn hanya memakai handuk mandi. Kebetulan kamar mandi terletak di depan kamar Benny. Pintu kamar sengaja aku buka. Papa Benny masuk ke kamar mandi. Sungguh aku ingin sekali mengintipnya mandi agar aku bisa melihat kontolnya yang berbulu lebat. Aku mengendap-endap menuju kamar mandi. Aku mendekatkan kepalaku di lobang kunci. Jantungku bergemuruh kencang. Aku melihat benda bulat panjang menggantung. Kontol papa Benny. Tapi mendadak saja pintu terbuka. Aku pura-pura berjalan masuk ke kamar Benny. Papa Benny keluar tanpa sehelai benangpun. Andai aku bisa melumat habit batang kontol itu, aku akan melumatnyany kuat-kuat. Papa Benny bertanya padaku. Mataku terus saja melototi kontolnya yang menggantung. "kamu punya pisau cukur?' "hhh, gak ada om." sahutnya dengn gugup. "Biasanya Benny punya ini." kata papa Benny seraya masuk ke kamar Benny. Dia mencari-cari pisau cukur. "Biar saya bantu, om." tawarku kemudian. Papa Benny hanya tersenyum. Aku mencari pisau cukur di laci bawah dan Papa Benny di laci atas. Tanpa sengaja kontol papa Benny menyentuh pipiku. Entah disengaja atau tidak aku tidak tahu. Yang jelas aku merasakan kenikmatan tersendiri. Kontolku berdenyut dan tegang. Ketita berbalik kontol papa Benny masuk ke mulutku. "Ops..maaf, Van" kata basa-basi. "Nggak papa kok, Om." kataku sambil memperhatikan batang kontol papa Benny yang luar biasa besar dan panjang. Papa Benny masih asyik mencari di balik-bali buku. Sementara aku syur sendiri memperhatikan batang kontol papa Benny. Aku sudah tidak sabar lagi. Aku berusaha memberanikan diri menjilat ujung kepala kontol papa Benny yang masih tertutup kulit coklat. Aku menjilat bibit kontol yang memerah. Kontol papa Benny pun akhirnya menegang. Dia membiarkan aku menjilatinya. Sungguh impian yang terkabul. Papa Benny merasa kenikmatan. Mulutku mau koyak rasanya. Aku melumat kontol papa Benny tanpa segn-segan lagi. Papa Benny memasukan kontolnya dalam-dalam ke mulutku. "Besar sekali, om.." pujiku. "Kamu suka?" aku hanya mengangguk sambil tersenyum. "Isap terus..." Aku terus mengisapnya hingga beberapa menit. Papa Benny mengangkat tubuhku dan dia berjongkok membuka resluting celana panjangku. Lalu mengeluarkan kontolku dari sarangnya. Pap Benny menghisap kontolku dengan hangat. "ooouuuhhh...mmmhhhh...." Nikmat sekali. Lumatan hangat yang baru pertama kali ini kurasakan. Seperti melayang-layang. Lidah papa Benny bermain-main dan memainkan kontolku di mulutnya. Mengisapnya terus-dan terus. Beberapa menit kemudian aku di rebahkannya di atsa tempat tidur. Papa Benny mengarahkan kontolnya di lubang buritku. Itu memang sangat kuharapkan. Tapi dengan kontol sebesar itu. "oow,.,..oohh..." aku merintih kesakitan. tapi nikmat. Papa Benny memasukan kontolnya lebih dalam dan melakukan gerakan maju mundur. Aku mendesah, merintih dan merasa kenimmatan luar biasa. Tangan papa Benny mengocok kontolku sambil terus memasukkan kontolnya ke buritku. Hingga aku mengeluarkan mani kental di perutku. "croooot....crooot....croocooct...." Tak berapa lama papa Benny mengeluarkan kontolnya dan mengocok kontolnya di mulutku. "crooot....coooot....croooot" manik kental dan hangat berhamburan di mulutku. Aku segera menelannya dengan nikmat. Kembali aku menjilati kontol papa Benny yang masih mengeluarkan air mani. Dia melumat bibirku dengan lembut. ooh.....permainan selesai. Papa Benny kembali masuk ke kamar mandi. Dan aku memakai pakaianku. Benny datang dengan sepeda motornya. Masuk ke kamar menjumpai aku. Aku tidak sadar kalau air mani papanya masih menempel di pipiku. Dia melihatku tajam. Lalu mendekatkan wajahnya di pipiku. Menjilati air mani itu dengan nikmat. Aku tidak bisa berkata apa-apa kalau mani itu milik papanya. Apakah Benny juga gay?
Pak Soleh
Namaku Soleh. Orang orang memanggilku Pak Soleh. Saya adalah orang yang berperawakan sedang. Tubuhku tidak begitu tinggi, dan tidak terlalu pendek. Hampir biasa-biasa saja. Warna kulitku kuning langsat, dengan dada yang sedikit berbidang . Umurku sudah empat puluh, tapi masih rajin berolah-raga, terutama lari pagi.
Saya sudah tahu kalau saya ini menyenangi sesama jenis sejak lama sekali. Kontolku selalu ngaceng kalo lihat tubuhnya pekerja-pekerja bangunan di sekitar ru-ko saya. Tubuh mereka yang hitam terpanggang terik matahari menambah nafsu birahiku. Tetek tetek hitam yang kelihatan dengan dada terlanjang sangat mengasikkan. Melihat otot-otot mereka yang menyembul ketika mengangkat besi-besi tua, sungguh menggairahkan.
Kali ini , saya akan menceritakan pengalaman saya di Puncak. Suatu hari, saya diundang oleh teman saya untuk menginap di villanya di puncak. Saya sih kegirangan sekali. Sesampainya di Puncak, saya kagum melihat villanya yang lumayan besar, dengan taman depan yang asri. Serasa di desa-desa saja.
" Mari Pak Soleh, pembantu saya akan menunjukkan kamar Bapak. " kata teman saya, Pak Hasan, menunjuk pembantunya. Dengan sigap, pembantu ini mengangkat koperku ke arah kamarku yang berada di lantai dua. Saya pun mengikuti dari belakang .
Pembantu orang india ini bernama Rajid. Umurnya kira-kira duapuluhan. Orangnya bermata lebar, berkumis hitam lebat dan kurus tinggi. Kulitnya hitam legam dengan rambut hitam ikal bergelombang. Semuanya serba hitam. Rajid hanya memakai celana pendek ketat dengan kemeja lengan pendek . Kancing kemejanya dibiarkan terbuka dua , hingga bulu-bulu dadanya yang hitam lebat menyembul keluar. Sangat menyemak pemandangan. Tanpa terasa, kontolku sedikit ngaceng melihatnya.
"Ini , Pak, kamarnya. Pak Soleh bisa istirahat dulu," kata Rajid sambil mempermisikan dirinya sendiri keluar dari pintu.
Saya kemudian menghempaskan tubuhku yang penat ke tempat tidur. Hmm. Nyaman sekali. Kulihat pemandangan di luar . Bukit-bukit hijau nan indah. Sungguh pemandangan yang menakjubkan. Tapi pikiranku trus melayang ke Rajid, pembantu India itu. Tanpa terasa, haripun sudah beranjak sore. Sayapun terlelap.
Sehabis bangun, saya pun mandi dan pergi ke ruang makan. Seusai makan malam dan ngobrol sejenak dengan Hasan, saya pun beranjak kembali ke kamar. Tak lama kemudian , ada suara ketokan di pintu.
" Siapa?" tanyaku heran. " Ini Rajid, Pak, mau mijet . Ini Pak Hasan yang mesen, biar Pak Solehnya dipijitin."
Diriku yang kegirangan langsung membukakan pintu buat Rajid. Dia pun masuk dengan membawa minyak balsem buat memijat dan segelas air putih. Tetap memakai baju yang sama dengan hanya celana pendek.
" Bapak tolong buka bajunya ya," kata Rajid .
"Oh yah." kataku sambil membuka kancing kancing bajuku .
" Celananya juga, Pak ," lanjutnya sambil membasahi telapak tangannya dengan minyak gosok.
Saya pun melorotkan celanaku. Dengan hanya bercelana dalam putih, saya pun berbaring telungkup di atas tempat tidur. Dengan sigap, Rajid duduk di sampingku dan mulai memijit-mijit pundak dan belakang punggung ku.
Enak sekali. Setelah kira-kira 5 menit. Tanpa kusadari, pijitannya yang mula-mula kuat, berangsur angsur menjadi belaian belaian halus, terutama di bagian lengan dan pundak. Kontolku yang lagi ngaceng menjadi lebih tambah ngaceng lagi.
" Pak Soleh," bisik Rajid ke telingaku.
" Yah??" kataku sekenanya.
" Pak Soleh, anunya mau dipijit?" bisiknya lagi.
" Anunya yang mana?" tanyaku lagi.
" Ini, burungnya Pak Soleh yang lagi tegang," katanya tersipu-sipu sambil meraba kepala kontolku yang menyembul dibawah pantatku. Tanpa terasa, batang kontolku yang menegang menyembul keluar dari bawah pantatku karena saya berbaring telungkup.
Saya pun membalikkan badanku dan berbaring telentang. Saya malu. Dengan tanpa sadar, tanganku ingin menutupi kontolku yang sedang tegak berdiri, tapi dihalangi tangan Rajid yang duduk si samping ku.
" Jangan Pak, biar saya pijit aja, biar lebih mantap" katanya sambil memicingkan matanya dan menjulurkan lidahnya tanda dia pun terangsang juga.
Reaksinya cepat sekali. Tanpa sadar , tangannya yang berbulu lebat itu sudah memijit mijit batang kontolku yang tegang menjulang perkasa. Kepala kontolku yang berbentuk jamur itu dibelai-belai dengan jempolnya, sedangkan keempat jarinya yang lain mengusap-usap batang kontolku yang keras tegang. Saya pun mengerang dibuatnya. Sungguh geli tapi sangat enak. Tanpa terasa, cairan bening mengalir keluar dari lobang kencing ku.
" Oh Rajid.." kataku sempoyongan. Saya sudah sangat terangsang.
Dengan sigap, tanganku mulai kujulurkan ke arah celana Rajid untuk meraba kontolnya. Ya Allah, kontolnya yang tegang mendekam di dalam celananya. Kubuka kancing bajunya satu persatu. Dadanya yang berbulu lebat bagaikan hutan rimba itu membuatku terpana. Ku belai-belai bulu -bulu dadanya itu, lalu kuremas-remas buah teteknya yang besar hitam itu. Rajid pun mendesah .
Akhirnya kubuka kancing celana pendeknya. Kulorotkan dengan paksa dan Creng...burung Rajid yang tersekap di balik celana dalam kuningnya, memental keluar bagaikan meriam yang mengacung mau perang. Batang kontolnya hitam legam, besar sekali, dan tidak disunat. Bentuknys eperti pisang raksasa. Dikelilingi dengan rambut-rambut hitam panjang, kontol Rajid bagaikan tontonan yang sangat menakjubkan. Mengacung ngacung bagaikan meriam.
Saya pun beranjak naik dan duduk di samping tempat tidur. Kutarik pahanya yang berbulu lebat untuk mendekat ke wajahku. Ditantangnya nafsuku dengan kontol raksasanya yang diacung-acungkankan ke bibirku. Saya kemudian memegang batang kontolnya dan menarik kulit khitannya ke arah belakang, tersembul keluar kepalanya yang merah daging, dengan cairan bening menetes bagaikan air ledeng tersumbat.
Nafsuku tak tertahankan lagi. Kujulurkan lidahku untuk menjilat cairan bening itu. Hmm rasanya sungguh enak. Kujilat-jilat kepalanya. Mulutku kemudian kubuka untuk menelan seluruh batang kontol hitam yang bau susu itu. Saya pun mengulum-ngulum, mengisap-isap sampai mulutku berlepotan menahan kontol Rajid yang perkasa. Kulit khitannya yang tebal itu kugigit-gigit. Uah..enak sekali. Kadang kadang kepala kontol Rajid sampai menusuk ke kerongkongan ku..Ahh..sangat menakjubkan.
" Yah, isap itu kontol, Isap trus... .yeah.." kata Rajid mengerang sambil memaju mundurkan pantatnya yang hitam itu . Dijambaknya rambutku dan didorongnya kepalaku depan belakang. Maju mudur berirama. Mataku terbelalak sambil menikmati isapan demi isapan .
Rajid mengerang semakin hebat. Kontolnya semakin cepat dimasuk-keluarkan ke mulutku. Kepalaku semakin didesak hebat dengan kedua telapak tangannya di belakang kepalaku dan rambutku dijambaknya. Kontol Rajid terus menyerbu masuk keluar mulutku.
" Engg...ahhhh..." erangnya hebat tiba-tiba.
" Minum.. nih... air susu.. ku ." lanjutnya terengah engah sambil memejamkan matanya.Tak disangka, kontolnya Rajid tiba tiba berhenti menusuk. Menggelepar-gelepar dalam mulutku. Tangan kekar Rajid menahan kepalaku hingga bibirku menyentuh rambut lebat di pangkal kontolnya. Dan terjadilah. Saya merasakan cairan panas hangat mengisi mulut dan kerongkonganku. Rajid trus mengerang hebat . Saya bisa merasakan air spermanya Rajid yang bau peju ditembakkan hingga berkali-kali mengalir di dalam mulutku . Ah...Kutelan dan kuteguk bagaikan minum susu. Susu India.
Tanpa terasa, kontolku pun tiba -tiba menegang hebat. Tanpa terasa, tanganku yang sedari tadi mengocok-ngocok kontolku sendiri, sudah membuahkan hasil. Kontolku menembakkan spermanya hingga ke atas dadaku sendiri..Ahhh.. Sungguh memabokkan.
Malam itu saya minum susu enak. Hangat lagi. Air susunya Rajid. Susu India
Pak Hendrik
Cari punya cari obeng yang aku butuhkan ternyata tidak ketemu juga. Sudah kesekeliling kamar padahal. Aku coba mengingat kembali kapan terakhir aku pakai. Akhirnya aku ingat kalau Pak Hendrik meminjamnya minggu lalu! Akupun bergegas kekamar kontrakannya yang tepat disebelahku.
Kuketuk pelan pintunya dan berharap kalau ia sedang tak tidur. Karena Pak Hendrik bekerja sebagai satpam yang kadang pulang sangat larut dan pagi hari biasanya masih tidur. Ternyata suara Pak Hendrik menyambut kedatanganku. Ia mempersilahkanku masuk karena pintunya tidak dikunci. Sesaat membuka pintu,ku lihat Pak Hendrik hanya berbalutkan sempak putih. Ekspresiku menunjukan kekagetan berbeda dengannya yang tetap cuek menyetrika baju. Dua bola mataku mencuri pandang kepantatnya yang tembem. Dan ini pertama kalinya aku melihat dirinya hampir bugil. Kulitnya yang sawo matang membuatnya semakin jantan diterpa sinar mentari pagi.
“Ada apa Pak Yus?” Ia bertanya sambil membelakangi diriku.
“Ehm… anu… Pak… ” bibir ku kelu dan fanya fokus denga kedua bongkah paha Pak Hendrik yang kencang!
Batang kontolku meracak didalam sempak. Bereaksi melihat apa yang ada didepanku. Ingin rasanya aku berlutut dan membuka sempak Pak Hendrik. Dan menjilati garis pantatnya!
Tibatiba ia berbalik. Sambil menenteng baju yang sudah disetrika. Ia melangkah santay kearahku. Sekarang pandanganku tepat kearah dada Pak Hendrik yang bidang. masih kencang dengan bulu yang lebat menghiasi,ditambah dengan pentilnya yang sangat pas bentuknya membuat diriku semakin gak karuan. Sangat berbeda jauh dengan diriku padahal umur kita tak jauh berbeda. Mungkin karena ia rajin menjaga bentuk badannya.
“Sebentar saya buatkan kopi…” ucapnya menuju lemari baju.
Aku mengambil posisi duduk sambil memperhatikan Pak Hendrik. Setiap lekuk tubuhnya membuat kontolku semakin tak karuan. Bahkan sempak ku sudah basah hanya karena memandanginya!. Aku tak pernah seperti ini kepadanya.
Dan kusandarkan tubuhku pada sofa dan mencoba rileks. Aku masih menghargai Pak Hendrik sebagai seorang tetangga. Apalagi kami kenal sudah cukup lama tak pernah membuat jengkel satu sama lain. Walau kontolku sulit diajak berdamai,ia masih tegak menantang!
Pak Hendrik membawa 2 gelas kopi dan duduk bersebelahan denganku. Semua pikiran yang telah kutepis seketika memborbardir kembali! Paha Gempal Pak Hendrik menempel pada pahaku tidak bisa konsen. Percuma aku tutupi batang kontolku yang sudah tegang dihadapannya. Dalam jarak yang dekat begini,gundukan kontolnya sangat nyata! Jembutnya sampai kepusar. Apalagi aroma tubuhnya membuatku keawang awang. Ingin rasanya aku bersandar dan menjilati pentilnya.
Sambil membakar rokok Surya Pro ia sandarkan badannya yang tegap dan mepersilahkan ku untuk menyeruput kopi. Tibatiba tangan Pak Hendrik menempel diselangkanganku! Aku yang tak siap menerimanya menjadi kaku bahkan menatapnya aku tak kuasa. Dengan pelan ia usap usap batang kontolku dari luar. Aku berikan kelonggaran padanya. Kulebarkan kedua pahaku dan mempersilahkan dirinya untuk meraba semua yang bisa diraba. Hanya suara asap yang keluar dari mulutnya dan nafasku yang menahan nafsu terdengar didalam kamar.
Perlahan kontol Pak Hendrik juga ngaceng. Sempak putih tak mampu menahan ketegangan. Kepala kontolnya pun tersembul keluar! Kutatap wajah Pak Hendrik. Wajahnya yang ditumbuhi kumis tersenyum kepadaku. Ia sangat sangat manis!
Tanpa ada suara antara aku dan dirinya,badan kami sudah merapat dan akhirnya bibir kami bertemu. Bibirnya dan bibirku saling menempel. Tidak gegabah,kami hanya saling mengenal. Mata kami kembali saling berpandang. Ia mengambil posisi bersandar dan aku ikuti. Saat itu pula lidahku mencari lidahnya. Telapak tanganku menyapu wajahnya. Pak Hendrik memejamkan matanya. Ia hanya mengusap kepalaku.
Lidahku menuruni lehernya. Ku jelajahi setiap incinya. Sampai pada akhirnya lidahku berhenti dipentil Pak Hendrik yang sudah kencang. Tanpa menunggu lama bibirku sudah mengenyot pentil kanannya. Dengan gemasanya aku berikan gigitan kecil. Ia mengerang setiap kali kulakukan itu. Pentil kirinya tak ku sia siakan. Kupelintir dengan halus. Aku semakin gemas. Ia pelorotkan sempak putihnya membebaskan batang kontolnya yang sudah basah juga. Kepalaku berpindah kepintilnya yang kiri. Hanya lidahku yang menjilatinya. Semakin ia beringas. Dengan kasar ia mengecup bbibirku. Lidahnya masuk semakin dalam kedalam mulutku. Membuat ku tak bisa bernafas.
Ia posisikan aku untuk tiduran disofa. Dengan sekejap kontolku sudah Pak Hendrik caplok. Hangat sekali rasanya…. kepalanya naik turun,lidahnya sangat handal bermain dibatang kontolku memaksa aku untuk cepat muncrat! Aku tak ingin kalah pada saat pertama. Ku robah posisinya untuk 69. Ia hisap kontolku,kuhisap kontolnya. Sambil jari kami memasuki lobang anus masing masing. Semakin dalam jari Pak Hendrik memasuki anusku semakin dalam batang kontolku didalam mulutnya. Aku meludah didalam lobang anusnya karena memang masih sangat sempit. Ia tak menolaknya,ia buka lebar lebar kedua pahanya agar jariku leluasa bermain dibibir anusnya. Wanginya yang khas membuat ku mabuk kepayang!
Pak Hendrik tiba tiba menarik batang kontolnya dari mulutku. Langsung diarahkannya kelobang anusku! Perih terasa…. karena batang kontolnya termasuk besar. Ia meludah sebanyak banyaknya. Dengan satu hentakan terakhir kontolnya sudah terbenam didalam didiriku!
Ia biarkan sedalam dalamnya. Kurasakan lobang anusku kedutan menerima benda asing masuk. Ia minta aku untuk menggoyangnya pantatku. Kutarik kudorong kutarik kudorong. Ku lihat Pal Hendrik menggigit bibir bawahnya. Selagi aku tak siap ia hentakan kontolnya! Membuat aku teriak. Serasa seluruh anusku ikut terdorong kedalam. Dengan gemas ia entot pantatku yang semok! Ia cubit cubit teteku yang gempal! Kadang ia berhenti untuk menciumku. Aku hanya pasrah menerima dirinya yang keasyikan ngentot anusku!
Ia memintaku merubah posisi. Ia menyuruhku untuk menduduki batang kontolnya. Kami saling berhadapan. Dengan hatihati kontolnya melesak kedalam anusku. Ia mengerti kalau aku masih kesakitan. Jadi ia tak langsung menggoyang ia berikan aku waktu untuk mengambil nafas. Kami berciuman kembali kali ini ia lebih pelan dan penuh pengertian. Setiap gesekan kontolnya memberikan sengatan listrik bagi batang kontolku! Kontolku masih menantang tak sekalipun lemas!.
“Yus… aku sudah tak tahan!” Bisik Pak Hendrik pada telingaku.
Dengan berpegangan pada pundaknya aku asyik menaik turunkan bongkahan pantatku. Ia mulai mendesis menerima perlakuanku. Aku bisa merasakan detik detik peju ingin muncrat. Kepala kontolnya mengembang didalam anusku dan semakin masuk kedalam. Pada hentakan terakhir dan aku duduk diam. Wajahnya memerah,sesaat itu juga peju muncrat didalam anusku! Semprotannya sangat terasa memenuhi anusku. Aku hanya bisa mengempit pantatku supaya memijit batang kontolnya. Lalu aku lanjut memutar pantatku pada anusnya! Ia merasakan kegurihan tak terkira. Kontolnya tak juga lemas. Aku yang belum keluar memanfaatkan situasi ini. Pak Hendrik meludah pada batang kontolku. Enak sekali rasanya. Akhirnya aku muncrat tepat pada wajahnya… ia kaget tetapi lanjut mengocok. Memastikan semua peju sudah keluar. Aku merinding dibuatnya.
Sebelum aku cabut batang kontolnya dari dalam diriku kami berciuman kembali. Kali ini ciumannya lebih dalam dan kurasakan batang kontolnya menyundul nyundul prostatku! Aku yang sudah letihpun memberikan isyarat untuk disudahi. Saat kontolnya terlepas,aliran peju pun ikut keluar. Menetes netes pada pahanya. Ia tersenyum kepadaku. Aku bergegas kekamar mandi. Kurasakan aneh bugil dikontrakannya Pak Hendrik. Tak lama Pal Hendrik ikut menyusul kekamar mandi.
Setelah bersih bersih Pak Hendrik membantuku membetulkan lemari yang sedari awal aku sudah rencanakan! Kami bugil selagi ketak ketok lemari. Dan aku menginginkan dientot oleh obengnya Pak Hendrik!
pak darno
namaku Rei duduk di kelas 2 SMP, rumahku berdomisili di daerah Jakarta Timur. Ayahku bekerja sebagai pegawai negeri di Jakarta sedangkan ibu seorang ibu rumah tangga. Aku tinggal bersama orang tuaku beserta 3 kakakku (Kak Dinda, Kak Bayu dan Kak Laila); aku adalah anak bungsu.
Suatu hari di sekolah setelah pulang sekolah, aku sedang duduk seorang diri dibawah pohon pinggir lapangan basket di sekolah sedang asyik membaca buku.
“Loh, kamu belum pulang ?” suara seorang lelaki kepadaku.
Setelah ku dongakkan kepala ternyata Pak Darmo; guru Fisika yang mengajari kami di kelas. Kami sering memanggilnya Pak Dar.
“Belum, Pak.” balasku sambil tersenyum.
“Kalau kamu tidak ada kerjaan mending anter Bapak pulang.” kata Pak Darmo.
“Oh boleh, Pak dengan senang hati.” balasku sambil kumasukkan buku yang aku baca.
Lalu aku membonceng Pak Dar dengan motor Honda Supraku, saat Pak Dar naik ke motor tangan beliau langsung memeluk pinggangku. Tidak ada pikiran apa-apa dalam benakku.
Saat dalam perjalanan di motor………..
“Kamu sudah punya pacar ?” tanya Pak Dar kepadaku.
“Belum, Pak……emangnya kenapa ?” tanyaku balik.
“Ah engga apa-apa kok Bapak Cuma nanya aja.” balas Pak Dar.
Namun Pak Dar mulai menaruh kedua tangannya di pahaku, aku pun masih tidak mempunyai pikiran yang macam-macam. Anehnya, tangan Pak Dar mulai mendekati lipatan pahaku dan sesekali mengusap daerah sensitifku.
“Pak, jangan malu dilihat orang.” kataku dan sambil kadang kutepis lembut tangan Pak Dar.
Awalnya kata-kataku digubrisnya namun akhirnya tangan Pak Dar lebih “liar” mengelus dan kadang meremas daerah sensitifku. Karena dipegang dan diremas, “senjata”ku mengeras juga akhirnya kudiamkan Pak Dar mengelus dan meremas tonjolanku, pintar sekali tangan Pak Dar mengelus tonjolanku.
Setiba di rumah Pak Dar, Pak Dar mengajakku mampir ke rumahnya. Namun jujur, aku agak ngeri atas kelakuan Pak Dar tadi selama aku bonceng. Dengan kucoba membuang pikiran negatifku, aku menerima tawaran Pak Dar untuk mampir ke rumahnya.
“Silahkan masuk, Nak Rei….maaf rumahnya berantakan.” kata Pak Dar.
Lalu aku masuk ke ruang tamu dan kudengar Pak Dar mengunci pintu rumah itu. Tanpa kuduga beliau langsung memelukku dari belakang.
“Pak…..pak…..apa-apaan ini.” kataku sambil kucoba melepas pelukan Pak Dar.
“Kamu diam saja.” kata Pak Dar.
Karena postur badan Pak Dar lebih tinggi dariku, aku tidak bisa melepaskan pelukannya. Kembali daerah sensitifku dielusnya dan diremasnya kuat-kuat. Dibukanya resleting celanaku dan dikeluarkannya batang kemaluanku dan dikocoknya.
“Pak, jangan……nanti dilihat orang.” kataku.
“Bapak ingin sekali merasakan penis kamu.” balas Pak Dar dengan napas sedikit tersengal.
Aku tahu beliau sudah dipenuhi napsu birahinya. Masih saja dikocoknya penisku kadang lembut kadang dikocoknya kuat-kuat.
“Pak, pelan-pelan………sakit…..oohhhhh……” rintihku.
Sambil dicumbuinya juga leherku, kemudian diriku direbahkan di sofa di ruang tamu itu. Kedua kakiku dibentangkan, dengan posisi jongkok Pak Dar “melahap” penisku degan liarnya. Dikulumnya penisku kuat-kuat……..
“Ahh…..Pak…..sakit…..pelan-pelan…..oooaahhhh…..” teriakku pelan.
Ucapanku tidak digubrisnya…..Pak Dar masih mengulum dan mengocok penisku kuat-kuat. Dan aku hanya bisa merintih dan mendesah. Ternyata rintihan dan desahanku menambah napsu Pak Dar.
“Oohhhh, Pak…….sakit-sakit.” rintihku.
Pok…pok….pok…..pok…..begitulah terdengar Pak Dar mengisap penisku. Sekitar 45 menit, Pak Dar “bermain” dengan batang kemaluanku.
“Bapak haus…..keluarkan peju kamu.” kata Pak Dar.
Masih saja dikocoknya dan dikulumnya dan diisapnya penisku keras-keras………..
“Ampun, Pak…….” rintihku.
Tak lama kemudian………….crot..….croottt…..crroottt…….
Begitu lahap Pak Dar menjilat dan menelan spermaku hingga bersih.
“Spermamu enak sekali….” kata Pak Dar.
Aku hanya bisa terdiam lemas. Masih saja dikulumnya penisku di dalam mulutnya hingga penisku melemas. Rasa nikmat campur perih yang aku rasakan.
“Ohhh………” rintihku.
“Maafkan Bapak ya.” kata Pak Dar.
Aku tidak membalasnya karena ada rasa kesal aku terhadap beliau. Penisku masih terasa perih………
Kembali penisku masih dijilatnya dan dikulumnya tapi kali ini dengan lembut, dikocoknya dimasukkan penisku kembali ke dalam mulutnya begitu bergantian.
Inilah pengalamanku yang pertama kali………..
Pak Ak
Sebut saja namaku Dian Prasetyo, umurku sekarang ini lebih kurang 23 tahun. Aku di lahirkan di kota Jambi, tanggal 28 desember 1980. Aku anak 1 (pertama) dari 3 bersaudara yaitu adikku yang kedua laki laki sedangkan adikku yang paling kecil perempuan. Banyak perbedaan sifat dan karakter di antara kami bertiga. Aku sendiri orangnya sangat kalem dan cendrung berdiam diri sehingga banyak teman temanku yang mengatakan susah untuk berkomunikasi dengan saya. Sedangkan adikku yang kedua orangnya pemalu dan bertindak sangat tegas dalam sesuatu hal, nah adikku yang cewek banyak orang bilang seperti burung nuri karena tak mulutnya selalu berkicau dan sangat ramah kepada siapapu sehingga banyak orang yang senang dan gemas melihatnya. Jujur saja kukatakan kalau aku itu adalah seorang gay dengan kata lain suka melakukan hubungan sex dengan sesama jenis baik itu laki-laki(straight), gay maupun bisex. Tetapi itu semua berawal dari keluarga kami yang tidak harmonis dengan kata lain Broken home. Sejak aku duduk di bangku kelas 1 SD, orangtuaku cerai. Bapakku sendiri pergi entah ke mana seolah olah hilang ditelan bumi, dan Ibuku menikah dengan pria lain. Sejak saat itulah terpaksa kami harus diasuh oleh nenek kami. Begitu susahnya kehidupan ekonomi kami saat itu, karena nenekku yang kesehariannya cuman pedagang nasi kecil kecilan, dan berkebun seadanya saja, terpaksa harus menanggung beban hidup kami bertiga, rasanya saat itu aku menyesal kenapa saya harus di lahirkan ke dunia ini kalau harus menderita hidup. Kami tetap sabar dan berusaha dan berjuang untuk hidup sehingga akupun sampai di kelas 3 SLTP. Saat itu pulalah aku baru menyadari tentang jati diriku maksudnya pertama kali aku melakukan sex dengan bapak guruku sendiri yang kebetulan punya kelainan sex. Bapak guruku itu orangnya sangat baik dan sangat perhatian sama saya sebut saja namanya Pak Ak, Pak Ak yang kesehariannya mengajarkan bidang study bahasa Indonesia yang sekaligus wali kelas kami kelas 3. Wajahnya yang kebapakan, meskipun usianya yang sudah hampir baya tetapi badannya masih tetap segar dan boleh di katakana atletis. Senyumannya yang manis di tambah lagi dengan wajahnya yang ganteng kadang kadang membuat birahiku kadang kadang naik di saat dia sedang mengajar di depan kelas, di tandai dengan penisku sering ngaceng cuman semua itu kupendam dan kusimpan dan di malam harinya barulah kutumpahkan segalanya dengan ngebayangin Pak Ak ada di sisiku sambil aku melakukan onani. Entah firasat darimana dan aku juga bingung apakah gerak gerikku sudah tercium oleh Pak Ak sendiri sehingga rasanya setiap hari kami semakin dekat saja, sampai.. KejaDian itupun terjadi. Awal dari kejaDian itu adalah di saat aku berada di kantin dan ternyata cuman kami berdua saja yaitu aku dan Pak Ak sendiri. Bahkan secara tak sengaja sampai ke obrolan yang sangat pribadi. Yaitu tentang pribadi saya dan juga Pak Ak. "Jadi sekarang ini di rumah sendirian donk," tanyaku! "Iya Dian, bapak sangat kesepian sekali semenjak istri bapak meninggal sekitar 2 tahun yang lalu." Dan akupun mulai bicara tentang diriku kepada Ak, "Begitu juga Dian pak, Dian sangat kesepian, dan merasa kekurangan kasih sayang karena sejak kecil Dian tidak kenal dengan wajah bapak Dian sendiri, belom lagi dengan Ibuku yang seolah olah lepas dari tanggung jawabnya dan kamipun di asuh oleh nenekku dengan penuh perjuangan. "Jadi kita punya nasib yang sama yah Dian?" Tanya Pak Ak lagi dan kubalas dengan sebuah senyuman, Pak Akpun tersenyum kepadaku. Dengan senyumannya yang manis. Dan belpun berbunyi menandakan kalau kami sudah masuk kelas dan mengakhiri perbincangan kami berdua. Hari hariku selalu bersama Pak Ak, dan cuman dialah orang yang paling dekat dengan aku saat itu, begitu juga dengan Pak Ak, dia sangat senang kepadaku dan pernah mengatakan kepadaku dia ingin terus ngobrol denganku tentang apa aja, bahkan dia kepingin lebih dekat lagi denganku, karena aku itu orangnya sangat pendiam ditambah lagi dengan wajahku yang lugu dan kalem sehingga menambah point tersendiri kepadanya sehingga hal itu enggak akan membuat orang curiga tentang kami. Makanya meskipun sebenarnya aku otakku yang enggak terlalu pintar, tetapi nilaiku selalu bagus dan aku selalu meraih rangking 1 di kelas tentunya dengan bantuan Pak Ak karena kedekatanku dengannya dan kerja sama yang baik di antara kami berdua. Dan sudah barang tentu kalau hal itupun kumanfaatkan dan mengambil keuntungan dari dia. Secara diam diam akupun ingin memanfaatkan suasana ini. Aku ingin suatu saat nanti Pak Ak bertekuk lutut di hadapanku sehingga apa yang kuminta dari dia harus ada, bukan cuman nilai yang kudapatkan, kasih sayang, harta, bahkan aku ingin mereguk kasih sayang darinya karena aku adalah orang yang benar benar kekurangan kasih sayang. Siang malam aku terus memikirkan misi itu, dan bagaimana caranya supaya aku bisa berhasil nanti. Ternyata ide cemerlang itupun datang bahkan dari Pak Ak sendiri, yaitu Pak secara tiba tiba Pak Ak mengundangku datang ke rumahnya untuk membantu membersihkan pekarangan rumahnya. Sudah barang tentu kuterima dengan senang hati apalagi dia memang menjanjikan memberikan upah kepadaku, jadi saya enggak usah terlalu repot repot untuk mencari uang lagi seperti biasa saya lakukan sehabis pulang sekolah saya harus mencari uang tambahan dengan cara mojok mojok di luaran. Sementara adik adikku sibuk membantu nenekku berjualan nasi di rumahnya. Dengan rasa bahagia kudekati Pak Ak. "Pak memangnya Dian nanti jam berapa ke rumah bapak" "Yah.. Terserah Dian aja." sahut Pak Ak! "Sehabis pulang sekolaHPun saya siap ke sana sama sama bapak," jawabku dengan semangatnya. "Oklah!" kata Pak Ak. Dan akupun tersenyum tetapi yang ada di pikiranku saat itu adalah (kamu akan tahu siapa Dian yang sebenarnya dan akupun ingin tahu apakah kamu itu sakit juga seperti saya). Akhirnya kamipun pulang ke rumah Pak Ak sama sama. Dan kamipun sampai ke rumah Ak yang memang enggak terlalu jauh dari sekolah kami, rumahnya memang sederhana dengan rumput yang sudah lumayan memblukar. Sampai di dalam rumah akupun di persilak duduk di sofanya dan Pak Ak pun bergegas ke dapur untuk mengambil minuman karena siang siang begini memang terasa haus sekali. Setelah selasai minum kami berduapun melanjutkan makan siang bersama karena memang selama ini kami sudah dekat jadi aku itu enggak ngerasa canggung lagi di rumahnya Pak Ak. Dan Pak Akpun bisa memahami itu. Saat makan siang Pak Akpun menanyakan sesuatu kepadaku. "Memangnya nanti kamu enggak dicariin nanti kenapa enggak langsung pulang ke rumah." Tanya Pak Ak.! "Oh.. enggak pa pa kok Pak sudah biasa," jawabku dengan tegas! Karena memang aku sudah tidak perduli lagi dengan sesuatu yang jelas aku itu harus bisa mendapatkannya hari ini terbesit di benakku. Enggak terasa ternyata pekerjaan itupun selesai hanya dalam beberapa jam saja dan sudah menunjukkan jam 06.00 sore, dan kami pun masuk lagi ke dalam rumah untuk beristirahat dan mandi. Selesai mandi kami pun kembali duduk duduk di sofa untuk istirahat sejenak sambil mimun teh. Suasana di dalam rumah itu memang terasa sepi karena Pak Ak sendirilah yang ada di sana, karena istrinya sudah meninggal sementara dia cuman punya anak laki laki satu dan sekarang sudah kuliah di kota. Dan kadang kadang saja anak Pak Ak itu pulang ke rumahnya untuk mengambil biaya sekolahnya. Kusandarkan pundakku di sofanya Pak Ak yang empuk itu sambil melirik lirik Pak Ak, Sedagkan Pak Ak nya sendiri kelihatannya masih sedikit capek sambil mengisap rokok di hadapanku. "Capek ya pak," tanyaku! "Yah lumayanlah Dian" jawab Pak Ak lagi! Terbukti dari tangan Pak Aku yang dari tadi terus terus mengurut pundaknya dan kakinya karena mungkin terasa pegal pegal. Akhirnya otakkupun encer saat itu karena aku enggak ingin berlama lama lagi dan aku ingin secepatnya terbang dengan Pak Ak, jadi sengajapun ku cari jalan untuk memancing arah pembicaraan yang menjurus ke arah itu. "Capek capek begini enaknya ngapain yah pak?" tanyaku kepada ak! Dan Pak Akpun melirikku dengan tatapan mata yang penuh arti, seolah olah Pak Akupun sudah paham akan sesuatunya. "Menurut Dian sendiri apa?" Tanya Pak Ak lagi. "Apa yah??" tanyaku dengan suara yang sedikit manja sambil tersenyum manis ke arahnya. Secara tak sengaja pandangan matakupun beralih ke sesuatu hal yakni aku melihat Pak Ak sedang meraba raba kontolnya dengan sangat lembutnya. Mataku hampir saja melotot melihatnya dan nafaskupun sedikit sesak seolah olah aku merasakan sesuatu bisikan, agar aku bisa menggantikan Pak Ak dengan tanganku sendiri untuk meraba raba benda yang ada di dalam celananya itu. Secara spontan kujawab sendiri pertanyaanku tadi. "Kalau bagi Dian sih pak, capek-cepek gini enaknya urut-urutan aja pak," pintaku seketika.! "Boleh" kata Pak Ak, "Bapakpun kepingin ngerasain pijatanmu Dian" sahut Pak Ak. Selang beberapa saat Pak Ak pun datang menghampiri aku dan kamipun mengambil posisi yaitu Pak Ak duduk di hadapanku ke arah depan dan akupun sambil duduk di sofa sedangkan Pak Ak duduk lantai yang memang di alasi karpet berwarna merah. Terus tanganpun memulainya, di awali dengan sentuhan sentuhan di punggungnya. Padahal sebenarnya aku itu enggak ada ilmu untuk memijit orang tetapi itu demi sebuah misi untuk mendapatkan hati Pak Ak sepenuhnya. Terserah apakah Pak Ak tahu atau enggak apakah aku cukup professional atau tidak di bidang pijat memijat, yang jelas malahan Pak Ak tetap memujiku dengan kata kata.. Enak sekali Dian.. Enak sekali.. Betapa lembutnya tanganmu.. Dan terus menerus.. Akhirnya akupun sudah tak tahan dengan kondisi tubuhku saat itu yang sudah mulai horny.. Di tandai dengan kontolku yang dari tadi sudah naik turun menempel di punggungnya Pak Ak, bahkan secara tak sengaja kontolku kugesek gesekkan di punggungnya Pak Ak. Tiba tiba Pak Ak menyuruhku membuka bajunya, katanya panas dan memang tubuh Pak Akpun sudah mulai keringatan, akupun membuka baju Pak Ak. Astaga..!! ya ampun..!! ternyata tubuh Pak Ak sangat bagus dan kekar di dadanya ada bulu bulu halus yang membuatku semakin terangsang. Matakupun tak bosan bosannya memandang tubuhnya yang sexy itu, tangannya yang berotot dan berbulu halus menambah ke sexy annya. Kontolkupun naik turun dan bergerak gerak ke sana ke mari seolah olah ingin meronta ronta. Sesekali kutahan nafas birahi itu, agar suasana tetap hangat. Sekarang jari jarikupun sudah tak beraturan lagi malahan semakin liar menggerayangi tubuh Pak Ak, belom lagi aroma tubuhnya yang maskulin menambah darahku semakin berdesir kencang. "Dian rasanya ada sesuatu yang mengganjal di punggung bapak, apa itu?" Tanya Pak Ak seketika! Akupun tersentak seketika dari kebisuanku dan menjawabnya, "Ular, pak!" candaku. "Wah ternyata selama ini kamu pintar juga yah bercanda Dian?" kata Pak Ak lagi! "Memang kenapa pak?" "Enggak soalnya selama bapak lihat kamu itu orangnya sangat lugu dan pendiam," kata Pak Ak dengan nakalnya. "Jadi ularmu kok begerak gerak terus?" kata Pak Ak lagi. "Enggak tahu.." Jawabku dengan manja. "Memangnya kenapa pak?" aku balik bertanya. Pak Ak pun tersenyum dan memandangiku begitu juga aku, memandangnya dengan hati yang bergetar geter. Pak Ak pun menjawabnya. "Ingin lihat aja Dian". "Ehmm.. Ternyata bapak suka nengok ular yah?" candaku lagi. "Ii.. Iiya.. Dian, Dian sendiri bagaimana? Suka enggak!" "Tentu donk" jawabku. Ternyata rahasia di antara kami berdua pun sudah terungkap jelas, yaitu kami sama sama sakit, sama sama suka ular alias kontol. Pak Ak pun tiba tiba meraba raba kontolku dan memandangiku dengan tajam. "Ya sudahlah Dian itu rahasia kita berdua aja ya? dan Bapak akan sayang sama kamu." "Benar, pak!!" "Yupp," kata Pak Ak, "Bahkan rasa sayangku lebih dari segala galanya kalau kamu enggak menyakiti aku, karena aku sudah lama menginginkanmu Dian, dan bapak selama ini merasa kesepian, dan bapak kepingin bersama kamu terus untuk menenemaniku, boleh kan?" "Dengan senang hati sayang..!" seketika kupanggil dia kata kata sayang dan bukan bapak lagi. Dan dia pun tersenyum tetapi tangannya terus menerus meraba raba kontolku. Tiba tiba Pak Ak membuka celananya termasuk CD nya yang berwajah putih itu, jadilah Pak Ak telanjang bulat di hadapanku. "Lihatlah ular bapak ini Dian, dia juga sangat ke sepenian dan rindu di sayang sayang, apakah kamu suka Dian?" Kupandangi kontolnya dengan perlahan lahan, dan sesekali kudekatkan bibirku di telinganya dan menghembuskan nafas-nafas asmara yang semakin membara. Seketika kamipun hanyut dalam kebisuan, dan entah apa yang ada di dalam hati Pak Ak, dan begitu juga dengan aku, apalagi ini adalah pengalamanku yang pertama membuatku kehilangan akal tak karuan, jantungnya berdetak detak kencang nafasku semakin memburu, begitu juga dengan Pak Ak, bibirnya menempererat di perutku dan wajahnya bersandar pahaku, begitu juga dengan keadaan kontolku yang sudah keras tadi sementara mataku masih tetap asyik memandangi kontol Pak Ak yang lagi berdiri, tegang dan begitu gagah, besar, panjang, dan di batangnya terdapat urat-urat yang menonjol menambah kegagahan kontolnya Pak Ak, benar benar indah kontol ini, pujiku dalam hati. Benar benar indah kurasakan saat itu, pertama kali memandang kontol dan bentuknya sangat sempurna persis seperti yang kuidam-idamkan selama ini, betapa beruntungnya aku, pikirku saat itu. Rasanya aku ingin menikmati yang lain lainnya.. Yang lebih nikmat dan.. "Masa dari tadi cuman bapak yang telanjang Dian?" tanya Pak lagi, "Dian juga donk?" "Iya.. Pak," sahutku. Akupun berdiri dan membuka satu persatu pakaianku hingga akupun sudah telanjang bulat, sekilas kupandang Pak Ak memandangku dengan tatapan mata yang tak berkedip. Sekarang posisi benar benar sudah telanjang bulat tetapi kami masih kami dalam keadaan posisi yang tadi. Begitu juga dengan Pak Ak, tangannya menggenggam kontolku dengan mesranya. "Gede juga kontolmu yah Dian?," tanya Pak Ak lagi. Akupun tersenyum. "Dian.. kontol bapak di pegang juga donk?" Tangankupun menjulur perlahan lahan ke bawah.. "Kenapa, takut yah" "Enggak sayang, enggak apa apa kok," kata Pak Ak lagi. Akupun segera meraih kontol itu dan menggenggamnya penuh perasaan. Perasaanku saat itu adalah beginilah rasanya kontol betapa enaknya memegangnya dan terasa olehku kontol itu berdenyut denyut dan di kepalanya ada cairan cairan putih seperti lender, begitu juga dengan kontolku, menandakan kalau kami sudah sama sama terangsang tinggi saat itu. Saat itu kami sudah sama sama meraba, telanjang dan horny berat. Hingga terdengar suara ohh.. ahh.. uhh nikmat nikmat.. nafas nafas kami pun semakin memburu, berdesah ke nikmatan yang tiada tara, pikiranku seolah melayang layang sampai ke langit yang ke tujuh, begitu juga dengan pahaku terus menerus di ciumnya dan di jilatinnya sesekali kutempelkan kontolku di wajahnya dan kugesek gesekkan ke sana kemari. Matanya Pak Ak terpejam dan kadang kadang memandangiku dengan sangat mesranya dan kubalas dengan senyuman. Sekilas kulihat jam sudah menunjukkan jam 19.30 malam, sungguh waktu rasanya tak terasa apalagi saat saat seperti ini. "Dian.. Gimana kalau kita ke kamar saja sayang, soalnya bapak takut nanti ada orang masuk sayang.."pinta Pak Ak lagi. Dan akupun menggangguk menandakan aku setuju, dan pintu kunci dan mematikan lampu dan Pak Ak pun mengangkatku, mengendongku ke dalam kamar tidurnya. Tubuh yang sedikit kurus, maklum saja aku baru SMP saat itu, memudahkan Pak Ak melakukannya apalagi tubuh Pak Ak sangak strong dan jangkung. Kurangkul pundaknya dengan kedua tanganku dan kugigit gigit kecil lehernya, Pak Akpun berdesah lirih dengan nafas yang tak beraturan, kurasakan detakan jantungya begitu kencang, kontolnya berdiri kedepan tepat berada di bawah pantatku dan kugenggam mesra. Begitu juga dengan kontolku di genggamnya. Sampailah kami di dalam kamar dan tubuhkupun di rebahkannya di ranjangnya yang empuk secara perlahan lahan. Kutatap wajahnya yang ganteng. Dan Pak Ak pun menindihku begitu mesranya dan begitu rapatnya, spontan kontol kamipun saling bergesekan, begitu juga dengan tubuh kami dengan goyangan erotis perlahan lahan tapi asyik, kupeluk tubuhnya yang menindihku dan kaki kami saling melilit seakan tak ingin lepas. Ohh.. Begitu nikmat.. Nikmat sekali.. Kupandangi dadanya yang kekar menempel erat di tubuhku dan kurasakan aroma tubuhnya dan sesekali bibirnya dekat di telingaku, kurasakan nafasmya mendesah desah membuatku semakin mabuk kepayang. Sesekali kujepit kontolnya di antara kedua pahaku.. Dan kontolku menempel di perutnya, bulu bulunya yang lebat kurasakan sangat nikmat, kudengar Akhh.. Ohh.. Enak kali sayang.. Enak sayang.. Betapa nikmatnya ini.. Baru kali bapak merasakan nikmat yang tiada tara, pahaku yang putih dan berkeringat menambah kelegitan kontol yang sekarang berada di antara ke dua pahaku. Pantasan saja, guruku ini mengerang nikmat dan mendesah nikmat, kami tidak perduli lagi dengan suasana di situ yang jelas cuman kami berdua saja. Dibalik desahan guruku itu.. Terasa ada air yang menetes di dadaku, ternyata Pak Ak menangis, memangis karena bahagia. Dan feelingku mengatakan kalau namaku sudah tertancap di dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Hore.. Aku tersenyum puas ternyata aku berhasil pikirku sejenak. Memang aku ingin menyerpis habis dirinya, terbukti baru di tahap starting saja, sudah kudapatkan banyak point kemenangan. Tiba tiba saja kami terdiam sejenak dan mata kamipun saling memandang. "Percayalah Dian bapak sangat menyukai kamu sayang" "Dian juga pak!" jawabku. Kemudian bibir kamipun bertemu, saling melumat dan lidah kamipun saling bertemu saling melilit, seolah olah di antara kami tak ada yang mau kalah, sesekali lidah kumasukkan ke dalam mulutnya dan Pak Akpun mengulumnya dan menariknya seolah olah ingin menelannya sedalam dalamnya, begitu juga dengan aku memberikan balasan yang sama. Bibirku yang merah dan sexy itu di lumatnya terus menerus berpindah ke leherku sampai kedua buah putingku di jilatnya dengan rakusnya, tak ketinggalan tubuhku yang putih bersih di jilatinya sampai sampai aku ohh.. ahh.. uhh.. oohh.. uhh.. nikmat Pak nikmat.. Teruskan pak. Sampai akhirnya tiba di daerah yang paling sensitiv ku yaitu kontolku sendiripun sudah mulai di hisapnya. Kurasakan hawa panas dari dalam mulutnya yang mana kontolku waktu sudah bersarang di dalam mulutnya.. Ohh.. Begitu enaknya sayang.. Hisap terus kontol Dian pak, aku seperti merengek rengek di buatnya. Tiba tiba saja Pak Ak pun sudah mendekatkan kontolnya di hadapanku, kulihat lagi kontol itu kupegang kubelai menandakan.. "Enggak pa pa Dian, hisap saja kontol bapak sayang.. Seperti yang bapak lakukan sayang.." kembali kudengar suara Pak Ak yang sudah kesetanan. "Sayang hisap sayang.. Bapak sudah tak tahan lagi sayang.. Hisap sayang," pintanya lagi. Kupandangi lagi kontol itu yang sudah berdiri tegak di hadapanku, dan akupun memulainya meskipun aku belum merasakan bagaimana rasanya kontol selama ini, tetapi apa yang dilakukan Pak Ak terhadapku sudah cukup memberikan pelajaran kepadaku. Akupun memulainya dengan mengisap kepala kontolnya Pak Ak, seketika kudengar desahannya Pak Ak semakin keras.. Ternyata kami pun sudah mengambil posisi 69, akupun semakin bergairah dan memasukkan kontolnya ke mulutku. Dan terus kuhisap kontol itu, kurasakan aroma kontol pertama kali.. Dan aku enggak tahu gimana lagi melukiskan itu semua.. Sungguh nikmat dan enak sekali.. Mengisap kontol. Kujilati batang kontolnya, kuemut dan kusedot ada rasa asin di dalam mulutku, sesekali kulepas kontol itu dari mulutku.. Dan menghembuskan nafas ohh.. ahh.. uhh enaknya.. Nikmat kurasakan saat itu dan kembali kuhisap.. Begitu juga dengan Pak Ak terus mengisap kontolku sampai aku merasakan sesuatu yaitu teryata spermaku suda mau muncrat, seiring dengan itu kupercepat goyangan kontol ku ke dalam mulutnya sampai sampai.. "Pak.. Dian tak tahan lagi pak.. Dian mau keluarr.. Dian mau keluar" "Oh ya.. Dian, bapak juga sayang.. Hisap terus sayang.. Kita keluar sama sama yah.." Kontol Pak Ak terus menerus menghujam mulutku begitu kencangnya sampai sampai ke kerongkanganku. Dan secara bersamaan tubuh kami sama sama kaku dan tegang.. Aku sudah tak tahan lagi.. Dan akhirnya.. Crett.. Crott.. Crott.. Crott.. Kamipun sama sama mencapai klimax kenikmatan itu yang tiada taranya. Spermanya Pak Ak muncrat di mulutku begitu banyaknya, begitu juga dengan diriku. Kurasakan sperma itu, bagaimana baunya dan sebagainya.. Ohh nikmatnya. Kamipun saling berpelukan, saling berciuman, meskipun sperma kami masih belum kering.. Hingga kulihat jam menunjukkan jam 21.45 malam., dan kulihat Pak Ak sudah tertidur pulas di sampingku. Dan akupun melamun sejenak sebelum mataku terpejam. Ini belum akhir dari segalanya karena hari esok masih ada. Apakah hari esok itu? Akupun tertidur..
Bapak Semangku
Pagi itu kulihat Oom Pram sedang merapikan tanaman di kebun, dipangkasnya daun-daun yang mencuat tidak beraturan dengan gunting. Kutatap wajahnya dari balik kaca gelap jendela kamarku. Belum terlalu tua, umurnya kutaksir belum mencapai usia 50 tahun, tubuhnya masih kekar wajahnya segar dan cukup tampan. Rambut dan kumisnya beberapa sudah terselip uban. Hari itu memang aku masih tergeletak di kamar kostku. Sejak kemarin aku tidak kuliah karena terserang flu. Jendela kamarku yang berkaca gelap dan menghadap ke taman samping rumah membuatku merasa asri melihat hijau taman, apalagi di sana ada seorang laki-lai setengah baya yang sering kukagumi. Memang usiaku saat itu baru menginjak dua puluh satu tahun dan aku masih duduk di semester enam di fakultasku dan sudah punya pacar yang selalu rajin mengunjungiku di malam minggu. Toh tidak ada halangan apapun kalau aku menyukai laki-laki yang jauh di atas umurku. Tiba-tiba ia memandang ke arahku, jantungku berdegup keras. Tidak, dia tidak melihaku dari luar sana. Oom Pram mengenakan kaos singlet dan celana pendek, dari pangkal lengannya terlihat seburat ototnya yang masih kecang. Hari memang masih pagi sekitar jam 9:00, teman sekamar kostku telah berangkat sejak jam 6:00 tadi pagi demikian pula penghuni rumah lainnya, temasuk Tante Pram istrinya yang karyawati perusahaan perbankan. Memang Oom Pram sejak 5 bulan terakhir terkena PHK dengan pesangon yang konon cukup besar, karena penciutan perusahaannya. Sehingga kegiatannya lebih banyak di rumah. Bahkan tak jarang dia yang menyiapkan sarapan pagi untuk kami semua anak kost-nya. Yaitu roti dan selai disertai susu panas. Kedua anaknya sudah kuliah di luar kota. Kami anak kost yang terdiri dari 6 orang mahasiswi sangat akrab dengan induk semang. Mereka memperlakukan kami seperti anaknya. Walaupun biaya indekost-nya tidak terbilang murah, tetapi kami menyukainya karena kami seperti di rumah sendiri. Oom Pram telah selesai mengurus tamannya, ia segera hilang dari pemandanganku, ah seandainya dia ke kamarku dan mau memijitku, aku pasti akan senang, aku lebih membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari obat-obatan. Biasanya ibuku yang yang mengurusku dari dibuatkan bubur sampai memijit-mijit badanku. Ah.. andaikan Oom Pram yang melakukannya... Kupejamkan mataku, kunikmati lamunanku sampai kudengar suara siulan dan suara air dari kamar mandi. Pasti Oom Pram sedang mandi, kubayangkan tubuhnya tanpa baju di kamar mandi, lamunanku berkembang menjadi makin hangat, hatiku hangat, kupejamkan mataku ketika aku diciumnya dalam lamunan, oh indahnya. Lamunanku terhenti ketika tiba-tiba ada suara ketukan di pintu kamarku, segera kutarik selimut yang sudah terserak di sampingku. "Masuk..!" kataku. Tak berapa lama kulihat Oom Pram sudah berada di ambang pintu masih mengenakan baju mandi. Senyumnya mengambang "Bagaimana Edo? Ada kemajuan..?" dia duduk di pinggir ranjangku, tangannya diulurkan ke arah keningku. Aku hanya mengangguk lemah. Walaupun jantungku berdetak keras, aku mencoba membalas senyumnya. Kemudian tangannya beralih memegang tangan kiriku dan mulai memjit-mijit. "Edo mau dibikinkan susu panas?" tanyanya. "Terima kasih Oom, Edo sudah sarapan tadi," balasku. "Enak dipijit seperti ini?" aku mengangguk. Dia masih memijit dari tangan yang kiri kemudian beralih ke tangan kanan, kemudian ke pundakku. Ketika pijitannya berpindah ke kakiku aku masih diam saja, karena aku menyukai pijitannya yang lembut, disamping menimbulkan rasa nyaman juga menaikkan birahiku. Disingkirkannya selimut yang membungkus kakiku, sehingga betis dan pahaku yang kuning langsat terbuka, bahkan ternyata sarungku agak terangkat ke atas mendekati pangkal paha, aku tidak mencoba membetulkannya, aku pura-pura tidak tahu. "Edo kakimu mulus sekali ya." "Ah.. Oom bisa aja, kan kulit Tante lebih mulus lagi," balasku sekenanya. Tangannya masih memijit kakiku dari bawah ke atas berulang-ulang. Lama-lama kurasakan tangannya tidak lagi memijit tetapi mengelus dan mengusap pahaku, aku diam saja, aku menikmatinya, birahiku makin lama makin bangkit. "Edo, Oom jadi terangsang, gimana nih?" suaranya terdengar kalem tanpa emosi. "Jangan Oom, nanti Tante marah.." Mulutku menolak tapi wajah dan tubuhku bekata lain, dan aku yakin Oom Pram sebagai laki-laki sudah matang dapat membaca bahasa tubuhku. Aku menggelinjang ketika jari tangannya mulai menggosok pangkal paha dekat kontolku yang terbungkus CD. Dan... astaga! ternyata dibalik baju mandinya Oom Pram tidak mengenakan celana dalam sehingga kontolnya yang membesar dan tegak, keluar belahan baju mandinya tanpa disadarinya. Nafasku sesak melihat benda yang berdiri keras penuh dengan tonjolan otot di sekelilingnya dan kepala yang licin mengkilat. Ingin rasanya aku memegang dan mengelusnya. Tetapi kutahan hasratku itu, rasa maluku masih mengalahkan nafsuku. Oom Pram membungkuk menciumku, kurasakan bibirnya yang hangat menyentuh bibirku dengan lembut. Kehangatan menjalar ke lubuk hatiku dan ketika kurasakan lidahnya mencari-cari lidahku dan maka kusambut dengan lidahku pula, aku melayani hisapan-hisapannya dengan penuh gairah. Separuh tubuhnya sudah menindih tubuhku, kontolnya menempel di pahaku sedangkan tangan kirinya telah berpindah ke dada dan putting tetekku. Dia meremas dadaku dengan lembut dan memelintir putting kecil itu sambil menghisap bibirku. Tanpa canggung lagi kurengkuh tubuhnya, kuusap punggungnya dan terus ke bawah ke arah pahanya yang penuh ditumbuhi rambut. Dadaku berdesir enak sekali, tangannya sudah menyelusup ke balik kaosku, remasan jarinya sangat ahli, kadang putingku dipelintir sehingga menimbulkan sensasi yang luar biasa. Nafasku makin memburu ketika dia melepas ciumannya. Kutatap wajahnya, aku kecewa, tapi dia tersenyum dibelainya wajahku. "Edo kau tampan sekali.." dia memujaku. "Aku ingin menyetubuhimu, tapi apakah kamu mau..?" aku mengangguk lemah. Memang kuakui hastar ketertarikanku pada pria, apalagi yang usianya lebih tua dariku, muncul sejak aku membaca artikel-artikel di koran dan majalah. Sedangkan kebutuhan seksku selama ini terpenuhi dengan mansturbasi, dengan khayalan yang indah. Biasanya dua orang obyek khayalanku yaitu kakak iparku dan yang kedua adalah Oom Pram induk semangku, yang sekarang setengah menindih tubuhku. Sebenarnya andaikata dia tidak menanyakan soal kemauanku, pasti aku tak dapat menolak jika ia menyetubuhiku, karena dorongan birahiku kurasakan melebihi birahinya. Kulihat dengan jelas pengendalian dirinya, dia tidak menggebu dia memainkan tangannya, bibirnya dan lidahnya dengan tenang, lembut dan sabar. Justru akulah yang kurasakan meledak-ledak. "Bagaimana Edo? kita teruskan?" tangannya masih mengusap rambutku, aku tak mampu menjawab. Aku ingin, ingin sekali, tapi aku masih agak canggung. Kupejamkan mataku menghindari tatapanya. "Oom... pakai tangan saja," bisikku kecewa. Tanpa menunggu lagi tangannya sudah melucuti seluruh kaos dan sarungku, aku tinggal mengenakan celana dalam, dia juga telah telanjang utuh. Seluruh tubuhnya mengkilat karena keringat, batang kontolnya panjang dan besar berdiri tegak. Diangkatnya pantatku dilepaskannya celana dalamku yang telah basah sejak tadi. Kubiarkan tangannya membuka selangkanganku lebar-lebar. Kulihat kontolku juga telah teracung dan terangsang keras, dengan mengalirnya precum di ujung kontolku. Oom Pram membungkuk dan mulai menjilati dada dan putting susuku. Rasanya geli dan nikmat karena gesekan kumis dan kulitku. Ciuman itu terus meluncur dengan deras, hingga terus turun ke perut, turun ke bulu-bulu kontolku hingga dinding kiri dan kanan kontolku, terasa nikmat sekali aku menggeliat, lidahnya menggeser makin ke atas ke batang kontolku, kupegang kepalanya dan aku mulai merintih kenikmatan. Berapa lama dia menggeserkan lidahnya di buah peler dan batang kontolku yang makin membengkak. Karena kenikmatan tanpa terasa aku telah menggoyang pantatku, kadang kuangkat kadang ke kiri dan ke kanan. Tiba-tiba Oom Pram melakukan sedotan kecil di kontolku, kadang disedot kadang dipermainkan dengan ujung lidah. Kenikmatan yang kudapat luar biasa, seluruh kelamin sampai buah peler, gerakanku makin tak terkendali, "Oom... aduh.. Oom... Edo mau keluar...." Kuangkat tinggi tinggi pantatku, aku sudah siap untuk disenggamai lebih lanjut, tapi pada saat yang tepat dia melepaskan ciumannya dari kontolku. Dia menarikku bangun dan menyorongkan kontolnya yang kokoh itu kemulutku. " Gantian ya Edo.. aku ingin kau isap kontolku." Kutangkap kontolnya, terasa penuh dan keras dalam genggamanku. Oom Pram sudah terlentang dan posisiku membungkuk siap untuk mengulum kelaminnya. Aku sering membayangkan dan aku juga beberapa kali menonton dalam film biru. Tetapi baru kali inilah aku melakukannya. Birahiku sudah sampai puncak. Kutelusuri pangkal kontolnya dengan lidahku dari pangkal sampai ke ujung kontolnya yang mengkilat berkali-kali. "Ahhh... Enak sekali Edo..." dia berdesis. Kemudian kukulum dan kusedot-sedot dan kujilat dengan lidah sedangkan pangkal kontolnya kuelus dengan jariku. Suara desahan Oom Pram membuatku tidak tahan menahan birahi. Kusudahi permainan di kelaminnya, tiba-tiba aku sudah setengah jongkok di atas tubuhnya, kontolnya persis di depan lubang pantatku. "Oom, Edo masukin dikit ya Oom, Edo pengen sekali." Dia hanya tersenyum. "Hati-hati ya... jangan terlalu dalam..." Aku sudah tidak lagi mendengar kata-katanya. Kupegang kontolnya, kutempelkan pada lubang pantatku, kusapu-sapukan sebentar di bongkahan dua pantatku, dan... oh, ketika kepala kontolya kumasukan dalam lubang, aku hampir terbang. Beberapa detik aku tidak berani bergerak tanganku masih memegangi kontolnya, ujung kontolnya masih menancap dalam lubang pantatku. Kurasakan kedutan-kedutan kecil dalam bibir bawahku, aku tidak yakin apakah kedutan berasal dariku atau darinya. Kuangkat sedikit pantatku, dan gesekan itu ujung kontolnya yang sangat besar terasa menggeser lubang pantatku. Kudorong pinggulku ke bawah makin dalam kenikmatan makin dalam, separuh batang kontolnya sudah melesak dalam lubang pantatku. Kukocokkan kontolnya naik-turun, tidak ada rasa sakit seperti yang sering aku dengar dari temanku ketika kontol masuk ke dalam lubang pantat, padahal sudah separuh. Kujepit kontolnya dengan otot dalam, kusedot ke dalam. Kulepas kembali berulang-ulang. "Oh.. Edo kau hebat, jepitanmu nimat sekali." Kudengar Oom Pram mendesis-desis, dadaku diremas-remas serta putting tetekku yang kecil itu diremas-remas dan membuat aku merintih-rintih ketika dalam jepitanku itu. Dia mengocokkan kontolnya dari bawah. Sementara tangan Oom Pram sibuk memilin dan meremas serta mengocok kontolku dengan penuh nafsu. Kadang pelan, kadang keras, mengikuti alunan hentakan goyangan pantatku. Aku merintih, mendesis, mendengus, dan akhirnya kehilangan kontrolku. Kudorong pinggulku ke bawah, terus ke bawah sehingga kontol Oom Pram sudah utuh masuk ke lubang pantatku, tidak ada rasa sakit, yang ada adalah kenikmatan yang meledak-ledak. Dari posisi duduk, kurubuhkan badanku di atas badannya, dadaku menempel, perutku merekat pada perutnya. Kudekap Oom Pram erat-erat. Tangan kiri Oom Pram mendekap punggungku, sedang tangan kanannya mengusap-usap bokongku dan meracau kontolku yang terus menegang dan berdenyut denyut mengikuti denyutan lubang pantatku. Aku makin kenikmatan. Sambil merintih-rintih kukocok dan kugoyang pinggulku, sedang kurasakan benda padat kenyal dan besar menyodok-nyodok dari bawah. Tiba-tiba aku tidak tahan lagi, kedutan tadinya kecil makin keras dan akhirnya meledak. Kocokan tangan Om Pram telah membuat kedutan dan kelonjjotan kontolku hingga menyemburkan spermaku dan muncrat di perut kami berdua…"Ahhh..." Kutekan lubang pantatku ke kontolnya, kedutannya keras sekali, nimat sekali. Dan hampir bersamaan dari dalam lubang pantatku terasa cairan hangat, menyemprot dinding usus besarku. "Ooohhh..." Oom Pram juga ejakulasi pada saat yang bersamaan. Beberapa menit aku masih berada di atasnya, dan kontolnya masih menyesaki lubang pantatku. Kurasai lubang pantatku masih berkedut dan makin lemah. Sementara kontolkupun telah terkulai lemah dengan ceceran sperma disana sini. Pagi itu lubang anusku telah terbobol dan keperjakaanku hilang tanpa darah dan tanpa rasa sakit. Aku tidak menyesal.
Bapakberkumis watched Pirts Stāsti | Sauna Stories - Japan Onsen Part 2 on Liveplay
Bapakberkumis watched Suhailan Mengurut on Liveplay
Bapakberkumis watched Video Hangat Pns. BKD Asik Main Camfrog on Liveplay
Bapakberkumis watched Mei 14, 2011 Ops Urut Tradisional & Miracle Pak Aji Sahak(4) on Liveplay