Hal-hal yang kupelajari saat aku tidak lagi mengalah
“Kalah sebelum perang berakhir. Ah tidak, mengalah tampaknya adalah kata yang lebih tepat. Di antara ribuan bintang yang menyaksikan kemenangannya dalam gemerlap cahaya, ada sosok yang masih mengiringi dan berdiri dengan berani. Sementara sinarku hanya mampu berhenti pada bagian cakrawala yang sunyi. Atau mungkin pada rindu yang harus diredam dan menepi?”
Sebelumnya aku menulis tentang melepaskan ketidakberanian, dan sekarang mari berbicara mengenai salah satu wajah keberanian yang lain, keberanian untuk kembali terkoneksi. Sederhananya, keberanian untuk kembali terkoneksi adalah keberanian untuk kembali mencinta. Topik yang tidak sepenuhnya mudah kutulis, sebab hingga saat ini aku masih berproses mengenali cinta. Cinta yang tidak lagi kucari di luar, melainkan yang perlahan tumbuh dari dalam diri.
Anehnya ketika keberanian untuk kembali mencinta mulai tumbuh kembali, di saat yang bersamaan justru banyak hal yang tiba-tiba terasa memantik. Seolah-olah setiap pintu yang kubuka menuju kedekatan juga membuka ingatan-ingatan lama yang belum sepenuhnya ter-release. Namun aku kembali diingatkan, bahwa ada banyak hal yang berada di luar kendaliku, termasuk kemunculan trigger dan gelombang emosi yang mengikutinya. Tentu saja karena perjalanan healing memang tidak bergerak lurus, melainkan berputar seperti spiral yang naik pelan-pelan. Setiap kali aku mampu memberikan respons yang berbeda maka ujian kecil yang datang berhasil lulus sekian persen, karena di titik lain akan selalu ada pemicu atau situasi yang serupa datang kembali. Dan jika aku masih merespon situasi tersebut dengan cara yang sama seperti sebelumnya, hampir bisa dipastikan aku akan bertemu hal yang serupa lagi. Sampai kapan? Sampai tubuhku tidak lagi bereaksi dengan cara yang lama, sampai rasa takut tidak memegang kendali. Ya memang kadang terdengar cukup bikin pusing ya.
Mengalah sebelum perang berakhir, kalimat yang terdengar heroik tapi juga cukup bodoh hanya karena ada sepersekian persen luka yang belum sepenuhnya selesai dari masa lalu. Bukan karena perangnya terlalu besar, tapi karena ada bagian yang lelah membawa ingatan yang belum sempat kuakui.
“Yang sedang memegang kemudi saat ini adalah anak kecil di dalam diriku yang takut kehilangan, dan bukan suara batin diri yang dewasa.”
Mungkin langkah pertama yang paling sulit dilakukan bukanlah melanjutkan atau melepaskan, melainkan menyadari, mengakui, dan menerima. Menerima bahwa ada bagian dalam diriku yang masih terluka. Setelah itu baru keberanian lain dibutuhkan, untuk mencari sumbernya, yang datang dari inner child di usia berapa, pada momen apa, dan dari pengalaman yang bagaimana.
Di titik inilah aku mulai belajar membedakan suara-suara di dalam diriku. Ketika kalimat yang muncul dari dalam diri berbentuk pertanyaan, biasanya ia datang dari pikiran. Pertanyaan yang membutuhkan pembuktian, seperti: “Apakah aku sudah layak dan cukup untuk dipilih?”
Namun ketika kalimat yang muncul dari dalam diri berbentuk pernyataan, ia terasa datang dari suara batin, inner knowing yang tidak berisik dan tidak meminta validasi, seperti: “Aku layak dicintai.”
Apa yang kurasakan ternyata bukan sesuatu yang muncul begitu saja, tapi merupakan pantulan yang menyentuh pola luka lama, luka yang belum sepenuhnya disadari oleh tubuhku. Ada kalimat yang diam-diam kutemui selama proses ini, “Aku bisa dekat, tapi aku tidak pernah menjadi yang benar-benar dipilih”. Ketika ada situasi yang memantiknya, tubuhku tidak sedang bereaksi pada present moment, melainkan sedang mengingat rasa sakit yang lama, itu sebabnya trigger terasa berlebihan dibanding kenyataan yang sedang berlangsung.
Melalui Bang Widhi salah satu reader blueprint jiwaku, aku pernah membaca satu kalimat, bahwa jiwaku banyak bertugas untuk melepaskan, namun di sisi lain juga terlalu sering melepaskan. Ya mungkin di sanalah letak paradoksnya, antara kebijaksanaan dan kebiasaan, antara kesadaran dan pola lama yang belum sepenuhnya 100% teratasi.
“Aku mulai melihat benang merahnya. Pola perpisahan yang berulang. Sering ditinggalkan atau diabaikan. Mengorbankan diri sendiri atau mendahulukan orang lain. Mengalah demi kedamaian. Lebih sering memilih untuk memahami daripada didengar. Berkali-kali berkata bahwa proses healingku adalah urusanku, maka pergilah dan pilihlah orang lain untuk kebahagiaanmu. Namun di balik semua kelapangan itu, selalu ada secuil ketakutan yang belum tuntas, yaitu takut kehilangan lagi.”
Di titik inilah pesan itu terasa semakin jelas, “Kamu lahir bukan untuk terus mengorbankan diri, tapi untuk menyembuhkan pola itu. Kebijaksanaan batin bukan hanya terlihat dari luar, melainkan lahir dari keberanian menyusun kembali kepingan diri yang pernah tercecer di masa lalu, hingga akhirnya bisa melahirkan wisdom yang berasal dari inti jiwa sendiri.”
Nyatanya bukan karena perasaan siapa yang lebih besar, melainkan karena di fase sebelumnya ada bagian diri yang belum sepenuhnya mampu menanggung cinta yang kuberikan pada orang lain, dan terkadang lupa memberi cinta yang cukup bagi diriku sendiri. Aku terlalu sibuk menjaga agar cinta itu tidak menyakiti siapapun hingga lupa memastikan bahwa rasa harus mengalah untuk orang lain ini mengingatkanku pada luka lama yang belum sempat kupeluk.
Ada bagian dalam diriku yang tidak ingin berkompetisi, tapi entahlah hidup berulang kali memaksaku masuk ke arena itu. Padahal setiap jiwa tidak diciptakan untuk bersaing, tapi diciptakan untuk dipilih secara sadar. Maka ketika keinginan untuk menyerah atau mengalah muncul, mungkin itu bukan karena kenyataan hari ini, tapi karena pikiran yang sedang berusaha melindungi dari luka lama. Dan ternyata bukan intuisi murni, melainkan mekanisme proteksi dari rasa sakit yang pernah terjadi.
“Dan kepada inner childku yang berusia 13 tahun, maaf karena terlambat menyadari hal ini. Terima kasih sudah melindungiku sejauh ini. Kamu benar dulu kamu sendirian, tapi sekarang kamu tidak sendirian lagi, kita adalah satu keutuhan. Aku tidak akan membiarkanmu ditinggal tanpa suara, aku yang akan berbicara jika perlu. Bukan karena takut, tapi karena sadar. Nanti kupastikan bahwa kedekatan hari ini bukan sebagai pengulangan masa lalu.”
Seharusnya rasa aman tidak datang dari kepastian orang lain, tapi dari keyakinan bahwa aku tidak akan mengkhianati diri sendiri lagi. Aku hanya perlu tidak meninggalkan diriku sendiri lagi. Dari titik inilah, aku kembali belajar menamai rasa. Keinginan untuk menyerah ini akhirnya kupahami dengan cara yang berbeda. Ia bukan tanda bahwa aku harus pergi, tetapi tanda bahwa ada inner child dalam diri yang perlu diyakinkan, bahwa kali ini ia cukup dan layak untuk menerima cinta, terutama dari diriku sendiri dulu.
“Padahal tidak semua kekalahan dan perpisahan harus kamu alami terus-menerus.”
Pada akhirnya ini tentang bagaimana aku memandang diriku sendiri di tengah relasi, apakah aku hadir sebagai seseorang yang valuenya terus berkurang atau sebagai seseorang yang tetap utuh meski memilih memberi.
Lalu jika ditanya apakah aku akan tetap mengalah dalam perang yang belum berakhir? Let’s see, namun kali ini aku ingin memastikan bahwa apapun pilihanku aku tidak lagi meninggalkan suara dari dalam diriku.