Tulisanku menjadi perpustakaan pribadiku, tempat paling aman untuk menjadi diriku sendiri, menjadikan nyata seluruh khayal yang sulit terwujud; mencintaimu.

oozey mess

Origami Around
trying on a metaphor
Stranger Things

❣ Chile in a Photography ❣
we're not kids anymore.
$LAYYYTER
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
almost home
Cosimo Galluzzi
occasionally subtle
cherry valley forever

No title available
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

No title available
No title available

if i look back, i am lost
h
macklin celebrini has autism

Discoholic 🪩
seen from Malaysia
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United States

seen from Malaysia
seen from Italy

seen from United States

seen from Canada

seen from Türkiye
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Chile
seen from Germany
seen from Malaysia
seen from United States

seen from Germany
seen from Greece
seen from Portugal
seen from United States
seen from United States
@bidadarisyair
Tulisanku menjadi perpustakaan pribadiku, tempat paling aman untuk menjadi diriku sendiri, menjadikan nyata seluruh khayal yang sulit terwujud; mencintaimu.
Meski terus kehilangan diriku sendiri, aku ingin tetap bertahan; tak peduli jika yang kulakukan saat ini hanya upaya untuk terus hidup. Meski terasa kosong dan hampa; aku ingin tetap melihat warna pelangi selepas badainya, aku ingin tetap mendengar suara-suara berisik terlepas dari aku yang sunyi.
Menjadi dewasa itu ternyata tidak menyenangkan. Saat memakai putih biru, kukira dewasa itu asyik. Bebas melihat dunia tanpa takut ada jemari yang enggan melepas, mampu melebarkan sayap tanpa berkelahi dengan sayap seseorang yang begitu dekat. Lucu ya, membayangkan bahwa dulu aku sangat ingin menjadi dewasa. Lalu setelah dewasa, masa remaja menjadi cerita-cerita yang ingin selalu kubagi kepada siapapun. Perempuan ini, pernah merasa bahagia sehingga lupa bahwa di balik tawanya telah tercipta kolam luka yang siap menelan tubuhnya kapan saja.
Lantas kenapa kalau pada akhirnya, meski telah berupaya semampunya; kamu masih menjadi poros dari segala hal yang kuusahakan saat ini? Kamu masih menjadi percakapan yang paling kusenangi saat berdialog dengan-NYA.
Makassar, 26 Oktober 2024
00.35 wita
Bidadari Syair
Berat ya? Gapapa kalo kamu mau istirahat dulu, kamu lagi ga ngejar sesuatu, pelan-pelan aja sama diri kamu. Aku tahu dan sangat paham bagaimana membingungkannya perasaan kosong, hampa, dan sepi meskipun dalam keadaan ramai. Aku paham dan sangat mengerti bagaimana rasanya tidak lagi menginginkan apapun, tidak lagi berharap apapun, dan kehilangan diri sendiri yang sedang tidak baik-baik saja. Aku paham bagaimana rasanya tidak ingin melakukan apapun dan menginginkan tenang untuk berisiknya isi kepala, untuk rumitnya labirin-labirin yang berkecamuk di dalam kepala; aku paham dan mengerti.
Mungkin saja, ini hanya jika mungkin saja yang kita butuhkan bukan lagi sekadar peluk yang menenangkan tetapi menemukan tempat bersandar yang tidak meninggalkan bagaimanapun sulitnya berjuang sekuat hati untuk tetap bertahan hidup. Mungkin saja, Sang Pencipta; Allah, sedang memanggil kita
Hai, N.
Apa kabar? Lagi-lagi, kuharap kau tetap baik-baik saja. Semoga hal-hal yang dulu mengusik tenangmu, kini telah mereda.
N, saat ini aku tidak sedang memikirkanmu, aku hanya ingin bercerita tetapi entah pada siapa. N, apa kau tahu bagaimana rasanya melanjutkan hidup tanpa peduli pada harapan-harapan kecil yang dulu diperjuangkan kini perlahan mulai redup? Maksudku, apa kau tahu bagaimana rasanya berjalan di keramaian dengan isi kepala yang sangat berisik tetapi kamu merasa sepi? Apa kau tahu rasanya?.
N, aku dan kau ini lucu, ya. Yang dulu saling mencintai sepenuh hati, kini menjadi sesuatu yang bahkan terasa asing untuk diingat kembali. Rasanya bebas dan lepas, sekaligus hambar dan hampa, kosong, sepi, dan sunyi. Apa kau tahu tentang perasaan itu?.
N, menyandingkan "kita" diantara kata aku dan kamu, kini rasanya seperti menabur garam di atas luka yang masih basah, sekaligus menyiram air di sebuah gurun. Membingungkan, tetapi aku ingin merasakan lagi debar pertama saat mataku melihatmu. Maksudku, aku ingin kembali merasakan ribuan kupu-kupu berterbangan di hadapanku, aku ingin kembali merasakan indahnya pelangi setelah hujan; tentu saja bukan denganmu, aku ingin dia, yang entah apakah dia tahu atau tidak mau tahu tentang aku.
N, aku ingin menyebut namanya di lembaran baru di dalam tubuh puisiku.
Makassar, 26 Oktober 2024
00.47 wita
Bidadari Syair
Lantas kenapa kalau pada akhirnya, meski telah berupaya semampunya; kamu masih menjadi poros dari segala hal yang kuusahakan saat ini? Kamu masih menjadi percakapan yang paling kusenangi saat berdialog dengan-NYA.
Makassar, 26 Oktober 2024
00.35 wita
Bidadari Syair
Menjadi dewasa itu ternyata tidak menyenangkan. Saat memakai putih biru, kukira dewasa itu asyik. Bebas melihat dunia tanpa takut ada jemari yang enggan melepas, mampu melebarkan sayap tanpa berkelahi dengan sayap seseorang yang begitu dekat. Lucu ya, membayangkan bahwa dulu aku sangat ingin menjadi dewasa. Lalu setelah dewasa, masa remaja menjadi cerita-cerita yang ingin selalu kubagi kepada siapapun. Perempuan ini, pernah merasa bahagia sehingga lupa bahwa di balik tawanya telah tercipta kolam luka yang siap menelan tubuhnya kapan saja.
Tidak ada yang bertanya apa aku bahagia menjalani hidupku saat ini, tidak ada yang bertanya apa aku baik-baik saja setelah terluka begitu dalam, tidak ada yang bertanya setelah melihat aku yang terlihat bahagia seolah lupa bahwa beberapa malam yang telah berlalu kulalui dengan sesak yang begitu mencekat.
Tidak ada yang peduli, tidak ada yang ingin tahu, dan tidak ada yang akan mengerti bagaimana menjalani hari hanya karena denyut masih bernadi. Tidak ada yang benar-benar ingin menyelami makna dari rumitnya isi kepalaku dan luka-luka yang kubiarkan menganga, mengering, dan terabaikan. Sembuhku menyerupai tawa paling ceria yang mampu kuperlihatkan, menjelma berisik yang sesekali mengusik orang-orang di sisiku, menjelma kesendirian di tengah riuh suara-suara asing.
Lalu beberapa pertanyaan atau pernyataan akan selalu mengusik isi kepalaku, "Aku akan baik-baik saja kan? Apa aku akan mendapatkan bahagia yang selama ini kuinginkan? Aku akan bermakna untuk seseorang yang mencintaiku, aku akan mengabdi kepada sosok yang selalu mencintaiku; urusan hatiku, biar saja seperti ini tanpa perlu dicari tahu bagaimana ia mengartikan keberadaannya."
Makassar, 12 agustus 2024
00.44 wita
Bidadari syair
Meski terus kehilangan diriku sendiri, aku ingin tetap bertahan; tak peduli jika yang kulakukan saat ini hanya upaya untuk terus hidup. Meski terasa kosong dan hampa; aku ingin tetap melihat warna pelangi selepas badainya, aku ingin tetap mendengar suara-suara berisik terlepas dari aku yang sunyi.
Hai, N. Aku datang lagi untuk mengabadikanmu lewat tulisan.
N, pagi di hari minggu yang cerah dengan terik matahari yang menyengat, lagi-lagi aku melihatmu berjalan menyusuri keramaian. Aku melihatmu dan mengabaikanmu, aku menghindar untuk terlihat olehmu, berhasil? Tentu saja, kukira berhasil.
Aku berjalan ke sebuah pusat perbelanjaan, tepat ketika kakiku melangkah masuk; kamu melihatku dengan tatapan terkejut dan terlihat resah. Seolah ada sesuatu yang membuatmu gelisah, tentu saja aku tetap mengabaikanmu hingga kudengar seseorang memanggilmu, "Sayang, cepat kemari!".
Nyeri dadaku tak bisa kupungkiri, sakit hatiku tak bisa kusembunyikan; aku terluka parah tetapi tidak berdarah. Perempuan yang memanggilmu adalah dia yang kausebut pengkhianat, dia yang kausebut melukaimu dengan hebat, dia yang kau benci sepenuh hati; dia perempuan yang kukira tidak akan mungkin memilikimu lagi.
Aku mengerti arti dari tatapanmu itu, N. Kau tidak ingin aku melihatmu bersamanya, kau mungkin tidak ingin aku terluka atas ingkarmu, kau mungkin saja tidak ingin aku semakin membenci dustamu. Mungkin saja, tetapi apapun itu, meski tidak melihatmu bersama perempuan itu; aku tetap dan telah membencimu, N. Kau menyakitiku dengan egomu, kau melukaiku dengan angkuhmu, kau membohongi ketulusanku, tidak ada alasan bagiku untuk mengharapkanmu kembali.
Terima kasih, N. Melihatmu bersama dengan perempuan itu membuatku menyadari keputusan untuk tidak lagi merendahkan diriku di hadapanmu adalah benar, membunuh diriku di kepalaku berulangkali ketika merindukanmu adalah tindakan yang tepat.
Berbahagialah agar benciku tidak menjadi sesuatu yang sia-sia, N. Berbahagialah dengannya agar aku semakin mampu untuk melupakanmu, N.
Hai, N. Aku datang lagi untuk berbagi cerita, bolehkan? Kuharap iya, karena tanpa kamu jawab ceritaku akan tetap mengalir seperti biasa. Kamu tahu, tadi siang aku ke kampus dan tidak sengaja melihat sepasang mata yang menatapku dalam diam tetapi menyiratkan kerinduan yang sangat. Dari jarak yang tidak begitu jauh, aku melihatnya terus menatapku tanpa berniat untuk menyembunyikan tatapan rindu itu. Kamu tahu apa yang kulakukan? Aku berpura-pura tidak melihatnya, lebih tepatnya aku berpura-pura tidak mengenalnya.
Kamu mungkin akan bertanya perihal sikapku itu, bukankah selama ini aku hanya berpura-pura lupa dan tidak merindukannya? Meski membencinya, bukankah aku sering menunggu kebetulan seperti ini? Lalu mengapa aku abai? Jawabannya hanya satu. Hatiku masih terlampau sakit untuk sekadar melihatnya. Aku sangat membencinya meski rinduku terus meminta persetujuan untuk menyapa, aku sangat membencinya hingga tanpa sadar yang selalu kuadukan di setiap sujudku adalah dia yang menyakitiku.
Kamu tahu, N. Siang tadi aku dan dia berada dalam ruang lift yang sama, hanya berdua. Dari cermin yang ada di sekeliling ruang, aku dapat dengan jelas melihatnya terus menatapku sementara aku sibuk melihat ponselku. Aku berusaha semampuku untuk terus mengabaikannya, dan berhasil. Meski tentu saja dengan sesak yang begitu menyiksaku, tetapi aku berhasil untuk terus berpura-pura tidak mengenalnya.
Aku sudah selesai, N. Sudah. Dan kukira luka di hatiku telah sembuh dengan satu dua orang yang kutemui dan menarik perhatianku, aku ingin selesai, N. Aku tidak ingin membuatnya semakin menjadi sosok yang sangat kubenci di dunia ini, aku sudah cukup dengan membenci satu orang saja; jangan dia. Aku tidak berharap untuk kembali lagi, tetapi melihatnya tadi siang membuatku merasa bahwa tangisku di sepertiga malam sudah cukup untuk menghukumnya.
Seandainya kaurindu, cari aku di selip ingatanmu yang rumit. Mungkin saja aku masih bersemayam di sana, menunggumu kembali menyapaku.
Seandainya kaurindu, cari sosokmu dalam ribuan syair yang kutuliskan. Mungkin saja aku masih menjadikanmu poros dalam kalam sunyi, berharap kemustahilan menjadi nyata.
Seandainya kaurindu, cari aku dalam jejak langkahmu yang lalu. Mungkin saja aku masih mengikuti bayangmu yang semakin pudar, sembari meyakini di ujung jalan ini kau ada.
Seandainya kaurindu, terima kasih.
Tetapi jangan datang dengan berlari, aku tidak ingin jatuh.
Jangan datang dengan harapan aku masih perempuanmu yang dulu, aku hanya memberi andai yang bisa kupastikan itu tidak mungkin terjadi.
Kursi-kursi yang kosong
Langkah kaki yang senyap
Ketiadaan yang riuh
Merdeka; cinta
Aku ingin pulang meski rumahku hancur
Aku ingin rebah meski kasurku lebur
Kita menjadi asing tanpa ucap perpisahan, dan hanya aku yang menganggap kita ada.
Aku selalu bisa menunggu kepulanganmu, aku selalu bisa menerimamu dengan pelukan hangat dan tatapan penuh cinta; tetapi apa yang kuharapkan dari kamu yang bahkan tidak pernah menganggapku rumah?