Dalam perjalanan yang kutempuh, aku melihat banyak luka yang perlu kusembuhkan. banyak waktu yang kuhabiskan untuk belajar tentang penerimaan dan ridho atas takdir yang Tuhan berikan untukku.
Ternyata penerimaan menjadi pintu utama dalam memperkecil sebuah penderitaan, dengan begitu kita akan lebih mudah mengenali sebuah bahagia. Seperti menerima diri kita sedang merasakan sedih, mengakui bahwa kita terluka sebab suatu hal. Meski ketika kita berusaha menyelami luka, kita akan bertemu ketidaknyamanan. Tapi, hal ini akan memudahkan kita untuk merawat luka dengan cara yang benar.
Banyak dari kita ketika terluka memaksakan diri untuk menghilangkan emosi yang sedang kita rasakan, menekannya dalam-dalam sebab dalih ingin terlihat dewasa. Padahal menjadi dewasa seharusnya juga memilliki kedewasaan emosional, dimana kita mampu meregulasi emosi dengan sehat. Mengakui dan mengenali segala bentuk emosi, sebab emosi yang hadir mereka hanya ingin dikenali dan teregulasi dengan baik.
Kedewasaan berarti terus mengizinkan emosi kita tetap hidup dan membiarkan mereka memiliki ruang dengan cara-cara yang baik untuk diri kita dan sekitar kita.















