Don't rush at a good thing.
cherry valley forever
Not today Justin
YOU ARE THE REASON
No title available
tumblr dot com
Show & Tell
Cosimo Galluzzi
Mike Driver

PR's Tumblrdome

oozey mess
noise dept.

pixel skylines
ojovivo

No title available

izzy's playlists!

blake kathryn
we're not kids anymore.
Keni
macklin celebrini has autism
Stranger Things

seen from Uruguay

seen from Australia

seen from Brazil

seen from Australia
seen from United States

seen from Ecuador

seen from Uruguay
seen from Uruguay
seen from Uruguay
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Morocco
@bukannpenulis
Don't rush at a good thing.
someday, I'll make home with you
when I think about the future, I envision a beautiful, big house. it has large, elaborately decorated rooms and plenty of spaces; the ceilings are high and the windows are huge, letting in lots of light. the kitchen is sleek and modern, ideal for cooking up delicious meals. it's everything I used to dream about—a place where every little detail just felt right.
but the more I think about this, the reality hits me, and I realize that all those details about the dream house are just secondary. it's the life we build together that matters. I begin to see a different picture where the house isn't as grand but is perfect because it would be ours.
it might be small and cozy, just big enough for us and a few things we love. maybe it's a small house with a space for sunflowers in our garden. the house may not have all the fancy features I first envisioned, but it will be full of our life and love.
this won't be a home of physical space alone but heaven where we create a warm, welcoming atmosphere, free from arguments and shouting. it will be the place to stretch out and enjoy those moments where you truly feel at home.
what makes a house special isn't the size or the embellishments but the moments spent in it and the memories we create. it's the simple moments—a shared breakfast, a movie night where we laughed together or a pillowtalk every night before bed—that matter.
so, when we finally have our home, it won't be about how grand it is, but about the love and happiness we share. we'll make a place where we both feel safe dan cherished. with you by my side, any home we have will be perfect.
home is not a place, but a feeling created by the love and moments we share.
Mengira saja sudah membuatku bahagia.
Aku berenang di semua samudera mata,
namun aku hanya tenggelam di selat matamu.
Kamu,
adalah aksara yang tak pernah selesai aku eja.
Kamu,
adalah kata sederhana yang sulit untuk aku cerna.
Kamu,
adalah cerita yang tak pernah rampung aku baca.
Apakah aku yang kurang wawasan?
Atau kamu yang sulit aku telaah?
Aku masih ingin menulis banyak tentangmu.
Masih banyak hal yang tak bisa aku utarakan, selain lewat kalimat yang bahkan tak sedikitpun akan kau baca, atau lewat doa yang tak pernah kau amini.
Maka dari itu, aku putuskan untuk merampungkan tulisanku, sampai disini.
Cukup sampai disini.
Terima kasih telah mewarnai isi kepala dan menggembirakan hatiku.
Terima kasih telah menjadi jiwa dalam setiap tulisan yang aku rangkai.
Selain bertahan, berhenti juga merupakan sebuah pilihan bukan?
Maaf jika aku memilih untuk berhenti.
Peranku untuk mengagumimu usai, puisiku selesai.
Hanya kasihku yang tak sampai.
Aku tuh kalau kangen suka uring-uringan.
Jadi, kalau suatu saat kamu ngelihat atau ngerasa aku lagi uring-uringan, itu tandanya aku kangen sama kamu.
Jika rinduku adalah hujan,
Maka binasalah daratan.
jika tak lagi ku sebut namamu dalam do'a,
aku sudah ada di kepasrahan.
tak menaruh harapku sepenuhnya padamu,
namun pada yang sesungguh-Nya memilikimu.
aku titipkan rasa ini pada Tuhan agar aku tak salah menerka.
karena aku percaya, kelak
jika waktu dan takdir itu ada, kita pasti dipertemukan.
pun jika tidak,
akan kulantunkan sekali lagi namamu dalam do'a yang sebelumnya aku panjatkan,
untuk yang terakhir kalinya.
Pada akhirnya aku ingin kita saling menemukan, bukan lagi mencari.
Menyudahi segala luka dan sedih masing-masing.
Tak lagi menyembuhkan, namun saling merawat.
Bukan sekedar mengisi, tapi memenuhi.
Bukan memulai, namun melanjutkan menyirami segala bentuk bahagia yang terlanjur ada.
Sama-sama menjadi tenang dan teduh ketika pilu.
Mengeratkan peluk saat pelik.
Menciptakan cinta untuk mencita.
Silih mengamini segala asih.
Gak diajak lari tapi dibikin capek.
Masih belum ada rumah yang bikin aku menetap dan istirahat, gitu?
Give, but don't let it empty you.
Saya pernah nemenin seseorang kemana aja, kapan aja, dan juga dalam keadaan apapun.
Dari susahnya dia waktu gak pegang uang sepeser pun, bahkan untuk beli bensin aja kebingungan. Saya tetap sama dia, nemenin dia, walaupun di luaran sana banyak yang lebih segala-galanya dibanding dia.
Pernah satu ketika dia minta maaf ke saya karena dia gak bisa beliin saya makan, dan saya bilang "Kamu gak perlu minta maaf, kan aku yang ngajak ketemu. Aku kangen sama kamu."
Dia nangis dan cuma merespon dengan senyum.
Pernah juga satu ketika, saat kita betul-betul gak pegang uang banyak. Saya lapar, dia juga sama. Akhirnya kita gabungin uang kita berdua untuk beli satu porsi nasi goreng dan satu bungkus nasi putih untuk dimakan berdua.
Definisi nasi goreng pakai nasi, hehe.
Saya gak keberatan mau bagaimanapun keadaannya. Karena saya percaya kalau saya baik dan Tuhan juga menganggap dia demikian, pasti akan selalu ada hal-hal yang bikin kita semakin erat.
Saya akui, dia gak pernah secara langsung mengekang saya, bahkan dia cenderung memberi saya kebebasan untuk ngelakuin apa yang saya suka, yang saya impikan. Dan sejak saya tahu dia punya pemikiran kayak gitu, sejak saat itu pula saya gak pengin jauh-jauh dari dia. Bareng dia, dia gak berucap pun, saya ngerasa tenang.
Saya pernah mengalami kesulitan, lantas dia menawarkan diri untuk membantu. Padahal saya tahu, hal yang membuat saya kesulitan itu adalah salah satu hal yang membuat dia khawatir. Tapi untuk saya, dia mencoba bisa.
Waktu dia daftar masuk perguruan tinggi dan saya sibuk dengan pekerjaan saya, kita jarang ada waktu untuk komunikasi secara intens. Saya paham, kalau ada sesuatu yang sedang kita perjuangkan dan saya gak masalah akan hal itu. Justru saya pengin dia bisa sukses dan bikin bangga orang tuanya.
Saat itu saya gak bisa bantu banyak hal selain kirimin doa buat dia dan sesekali kirim voice note supaya dia tahu saya gak pernah ninggalin dia.
Sampai akhirnya dia bisa lolos masuk PTN yang diharapkan orang tuanya, saya senang. Senang banget.
Kayaknya apa yang selama ini diri saya usahakan buat dia itu berhasil. Meskipun saya sadar banget kalau pencapaiannya itu pasti karena doa kedua orang tuanya. Tapi intinya saya tetap senang.
Tapi disaat bersamaan, saya mendengar kabar duka.
Saat itu, Bapaknya yang memang sedang sakit, menghembuskan nafas terakhirnya. Dia sangat terpukul. Saya sedih ketika itu saya gak bisa hadir nemenin dia karena posisi saya yang waktu itu sedang di luar negeri. Dia mengerti. Tapi saya gak lantas ikut meninggalkan dia. Saya tetap nemenin dia.
Dia menjalani hari-harinya dengan kuat setelah kejadian itu. Saya dukung apapun inginnya selama itu adalah hal positif.
Genggaman tangannya semakin erat saya rasakan, bahagia banget. Saat itu saya tahu bahwa saya sedang mencintai seorang yang hebat.
Ke dia, saya gak pernah berharap banyak. Saya cuma mau dia jadi orang yang berhasil dan selalu diliputi kebaik-baik sajaan.
Hati saya sudah mematri bahwa dia akan selalu menjadi pribadi yang baik.
Namun saya tahu dan sadar, di semesta ini gak semua hal bisa selalu berjalan sesuai porosnya. Semesta bisa kapanpun menyingkirkan seseorang yang sudah berjalan lama pada jalur yang sama.
Saya ngerasa dia mulai menunjukkan sifat aslinya. Dia merubah alur cerita yang selama ini kita berdua rangkai sebaik mungkin. Sebenarnya saya keberatan, tapi saya tahu Tuhan itu Maha Baik.
Dia memutuskan untuk pergi, dengan cara yang gak pernah terpikir oleh saya sebelumnya akan dia lakukan.
Saya pasrah, saya gak bisa menahan seseorang yang sudah memilih jalannya sendiri, yang tanpa ada saya di dalamnya.
Akhirnya, dia memang benar-benar pergi dan saya masih menjadi seseorang yang setia dipunggunginya. Dia gak pernah menoleh lagi ke saya. Dia benar-benar melangkah untuk tujuannya.
Saya gak menyalahkan keputusan yang dia buat.
Menemaninya adalah suatu hal yang saya lakukan secara sadar. Saya melakukannya dengan kerelaan, tanpa sedikitpun paksaan. Karena saya tahu, bersama dia saya selalu bisa jadi diri saya sendiri.
Kalau dibilang sakit, ya sakit.
Tapi saya berpikir bahwa hidup itu kayak puzzle. Kalau emang gak cocok, ya gak bisa dipaksa.
Bagi saya, cinta itu sebuah kerelaan.
Sama kayak apa yang saya bilang tadi. Kalau saya bisa melakukan itu dengan penuh kerelaan, seharusnya saya juga bisa untuk sepenuhnya rela ketika dia memilih untuk pergi dari saya.
Saya pernah baca, "Konsekuensi terbesar ketika dirimu sudah berani menjatuhkan hati untuk seseorang ialah kerelaan jika dirimu bukanlah menjadi tujuan akhirnya."
Akhirnya saya sadar bahwa saya memang gak jadi tujuan akhirnya. Saya cuma nemenin dan nganterin dia ke gerbang itu saja sudah membuat saya senang.
Tapi sejak saat itu, saya merasa hidup telah mengajarkan saya bahwa saya gak bisa menguasai kesetiaan seseorang sekalipun saya telah melakukan segalanya.
Bagaimana saya bersikap baik ke dia, bukan berarti dia akan selalu memperlakukan saya juga. Seberapa berartinya dia bagi saya, bukan berarti saya akan sama berharganya untuk dia.
Ternyata dan terkadang, orang yang paling saya cintai menjadi orang yang paling tidak bisa saya percayai.
Ternyata dan terkadang, orang yang paling saya cintai yang paling melukai.
belum kering luka lama,
malah kau buat semakin menganga.
Memberi jangan sampai mengungkit.
Aku pernah,
mencintai seseorang dengan amat
hingga tanpa ku sadari
dia lah yang perlahan menyakiti.
Membunuh jiwaku yang sudah terluka
namun tetap memelukku begitu erat.
Aku tahu,
sudah banyak luka yang ku rasa
tapi dengan berhasil dia merengkuh tubuhku untuk tetap berada di perangkapnya yang teramat keji.
Teramat manis di depanku,
teramat mengerikan di belakangku!
Dusta!
Kau pendusta!
Murka!
Aku murka!
Bagaimana bisa aku tak menyadari
bahwa kau telah menyiapkan belati yang tumpul untuk menikamku di malam itu?
Bagaimana bisa dekapmu lah yang pada akhirnya amat menghancurkanku?
Hancur, tak bersisa.
Bahkan kepingannya pun, rasanya tak sudi untuk ku pungut kembali.
Sengaja ku tinggalkan untukmu.
Aku tinggalkan untuk ku jadikan saksi betapa mengerikannya dirimu.
"Mati kau pengkhianat!"
"Mati!"
Kau tahu aku tak suka kopi hitam tanpa gula, tapi kau tetap menyuguhkannya untukku.
Aku tahu aku tak suka kopi hitam tanpa gula yang kau suguhkan, tapi tetap aku teguk walau aku tahu akan pahit yang aku rasakan pada akhirnya.