Aku: Sebuah Instrumen Investasi dengan Resiko Tertinggi
Mengapa kita (aku) dilahirkan?
Orangtuaku menginvestasikan sebagian besar gaji bulanannya dalam bentuk saham yang konon katanya memiliki resiko investasi yang sangat tinggi. Beberapa orang bahkan menganggap investasi tersebut sebagai perjudian. Padahal, ia dianggap perjudian bila dilakukan berdasarkan spekulasi semata, sedang orangtuaku pandai melakukan analisis fundamental dan teknikal. Bertahun-tahun sebelum ia memetik hasil investasinya, ia sudah yakin bahwa investasi itu akan memberikan warna hijau di portfolionya.
Seorang guru pernah berkata bahwa investasi saham adalah sebuah seni yang terukur dan sedikit abstrak. Terdapat pola-pola yang bisa kita pelajari, ada resiko-resiko yang bisa kita ketahui, namun terdapat faktor-faktor lain yang hanya tuhan yang tau pasti. Dengan demikian, berinvestasi dalam bentuk saham bukan lah investasi yang paling beresiko yang orangtuaku kerjakan.
Dan investasi paling beresiko yang pernah orangtuaku pilih adalah berinvestasi dalam kehidupanku.
Aku tidak terlahir dengan grafik-grafik dan laporan keuangan tahunan yang bisa orangtuaku gunakan untuk menganalisis prospek keuntungan dariku. Namun, orangtuaku tetap menginvestasikan harta dan tenaga setiap hari tanpa henti untuk makanan dan minumanku, pendidikanku, kecantikanku, pengalamanku, obat-obatanku, vaksinasiku, kesenanganku, kebodohanku, dan daftar ini tidak berhenti sampai disini.
Dan yang bisa dengan pasti kujanjikan? Tidak ada. Tidak dalam bentuk harga per lembar saham yang meningkat tiap tahunnya, tidak dalam bentuk pendapatan per lembar saham yang besar tiap periodenya, dan tidak terukur dalam persenan laba atas investasi yang positif.
Berinvestasi dalam kehidupanku betul-betul penuh resiko. Jika berinvestasi dalam saham, resiko bisa dibatasi. Orangtuaku bisa menjual saham tersebut ketika grafiknya benar-benar merah. Lah, aku? Bagaimana cara orangtuaku menjualku jika aku tidak memenuhi target? Pasar modal tidak mungkin menerimaku. Mungkin hanya pasar daging yang menerimaku.
Jadi kembali ke pertanyaannya.
Mengapa kita (aku) dilahirkan?
Bagiku, aku terlahir untuk memastikan investasi harta, tenaga, dan waktu yang orangtuaku berikan tidak sia-sia. Aku terlahir untuk mempersiapkan diriku sehingga di depan nanti aku bisa memberikan ‘laba’ atas investasi mereka.
Dan yang kumaksud dengan ‘laba’ bukan hanya yang terukur dengan angka.







