Please, atuh lah Pak - Ibu Dosen, yang ngerti isi skripsi ya cuma kita yang buat. Apa salah kami? Apaa?? Kalau mao coret coret nanti saya bawain kertas HVS satu rim Pak - Bu. *Cry Me A River

blake kathryn
art blog(derogatory)

titsay

@theartofmadeline
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
Game of Thrones Daily
official daine visual archive
ojovivo
No title available
Phantogram Three
Monterey Bay Aquarium
TMBGareOK. The Official They Might Be Giants tumblr
sheepfilms
Color Me Curious
Show & Tell

Discoholic 🪩
macklin celebrini has autism

pixel skylines

roma★

bliss lane

seen from Türkiye

seen from Türkiye

seen from United Kingdom

seen from Türkiye

seen from Türkiye

seen from Germany

seen from United States
seen from Australia

seen from Germany

seen from United Kingdom
seen from Canada
seen from Greece

seen from Canada

seen from Türkiye

seen from Türkiye
seen from Venezuela

seen from Sweden
seen from Colombia

seen from Austria
seen from United States
@catatanakhir-blog
Please, atuh lah Pak - Ibu Dosen, yang ngerti isi skripsi ya cuma kita yang buat. Apa salah kami? Apaa?? Kalau mao coret coret nanti saya bawain kertas HVS satu rim Pak - Bu. *Cry Me A River
Nyatanya, bisa tidur nyeyak ketika besok uts adalah mitos belaka.
Otak kanan kiri (17 Oktober 2016)
Awal Mula Kejeblos Di Bangku Kuliah
Jadi kenapa gue bisa ada di bangku kuliah? Sebenernya keputusan gue untuk memulai kehidupan kampus berawal dari rasa bosan gue sama kerjaan. Sebelumnya, gue sempet ikut SBMPTN tapi gagal total. 😂
Iya, gue sempet kerja selama satu tahun setelah lulus smk. Alasannya karena gue sadar bahwa untuk kuliah itu membutuhkan uang yang enggak sedikit. Jadilah gue kerja untuk ngumpulin duit buat kuliah. Meski pada akhirnya duit hasil nabung itu malah gue beliin kamera.
Gue ini bukan tipe-tipe orang yang pinter apalagi cerdas. Bukan. Gue punya otak yang biasa-biasa aja, tapi gue tetep nekat untuk nyari beasiswa buat kuliah. Dibilang rajin juga nggak, karena kerjaan gue cuma tidur doang. Gue dan kasur itu saling mencintai, jadi please jangan pisahkan kami
Dengan modal nekat akhirnya gue nyoba kirim berkas ke salah satu universitas swasta yang pada saat itu membuka jalur beasiswa. Gue juga sempat kirim berkas ke kedutaan Jepang, niatnya sih ikut beasiswa MEXT, tapi gagal juga sodara-sodara.
Gue nggak inget tanggal dan harinya, yang gue inget cuma waktu itu siang hari, matahari lagi terik-teriknya, kamar dalam keadaan panas karena nggak ada kipas amgin, kebetulan gue lagi libur kerja. Mata gue sedikit melotot ngelihat hasil pengumuman beasiswa itu, deg-degan pasti, dengan sabar gue nyecroll layar hape gue dan nyari nama gue di antara nama-nama orang yang keterima.
And Viola. Nama gue tertera di sana, coy. Seneng banget gue.
Ini berarti gue bisa kuliah gratis. Gue langsung sujud syukur, dan ngibrit ke dapur tempat nyokap lagi masak. Gue bilang bahwa gue lolos dan keterima sebagai salah satu penerima beasiswa. Nyokap gue cuma senyum senyum aja.
Jujur, sebenernya gue ngirim berkas itu tanpa berharap banyak, untung-untungan aja gitu, tapi sepertinya Tuhan punya rencana lain. Gue keterima. Keterimanya gue di univ swasta ini juga sebenernya semacam oase ditengah rasa jenuh gue dengan pekerjaan saat itu.
Dimulailah masa perkuliahan itu, gue mulai ngurusin keperluan kampus, mulai dari dari ngurus berkas yang dibutuhin, buat KTM, sampe ngukur almamater.
Owh iya, buat adik-adik yang mengira kehidupan kampus itu bebas, nggak ada tugas, kerjaannya pacaran doang. Kalian salah besar. Itu mah cuma ada di FTV, Dek. Kami para mahasiswa juga punya beberapa peraturan yang wajib dipatuhi. Dengan tugas numpuk, mulai dari paper, sampai riset. Nggak boleh copy paste kalau kalian nggak mau dapet nilai nol.
Yang perlu kalian ketahui adalah “Tuhan memberikan cobaan sesuai dengan kemampuan hambanya, tetapi dosen memberi tugas diluar kemampuan mahasiswanya.”
Hidup itu emang kejam, coy. Pahit juga kayak Long Black. Semester awal-awal gue sempet shock dengan ritme kampus. Secara di smk kalau bikin makalah biasanya cuma nyalin dari blog orang terus copy di word –jangan ditiru ya– dan jadilah. Sayangnya, di kampus gue enggak bisa ngelakuin hal itu, bisa bisa gue nggak dapet nilai. Wong, ambil sumber dari blog dan wikipedia aja enggak boleh.
Gue ngerasain bagaimana susahnya masa-masa transisi itu. Secara gue nggak belajar juga selama satu tahun, gue yakin cara kerja otak gue juga menurun. Meski pada akhirnya gue terbiasa sih. Gue juga mulai dapet temen deket. Nggak banyak, secara gue ini bukan tipe orang ekstrovert. Gue ini ambivert.
Awal-awal kuliah gue masih rajin bawa buku, nyatet, nggak pernah bolos dan merhatiin dosen. Tapi sekarang –semester 7– gue ke kampus bawa tas aja nggak ada isinya, sukur-sukur masih ada pulpen, keseringan lupa sih. Muncul rasa jenuh, entah ini wajar atau nggak, ditambah gue udah harus nyusun proposal skripsi, tambah panas lah otak gue. Dan semester ini mata kuliahnya juga semakin berat, otak gue yang memiliki kapasitas di atas rata rata anak sd ini capek lah ya ngikutinnya. Tapi gue harus bertahan demi masa depan lebih baik. Demi gelar sarjana di belakang nama, demi babeh yang selalu ngebebasin pilihan hidup gue, dan demi enyak yang jarang nyuruh gue bersih-bersih rumah (kayaknya nyokap udah lelah nyuruh gue yang nggak mao beberes rumah).
(16 Oktober 2016)
–Di dalam kamar yang pengap, padahal besok uts.–