Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok, Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok, di ruang kepala sekolah ada guru merokok, di kampus mahasiswa merokok, di ruang kuliah dosen merokok, di rapat POMG orang tua murid merokok, di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok, Bait puisi di atas merupakan kutipan puisi yang terkenal maha karya ayahanda Taufiq Ismail, yang berjudul Tuhan 9 Centi. Seluruh baitnya menceritakan tentang sebuah fenomena yang luar biasa bahwa ada sebuah benda yang begitu digandrungi oleh orang Indonesia dan dinikmati dengan cara dihisap, bernama rokok. Rokok ternyata menjadi bagian tidak terlepaskan dari aktivitas masyarakat Indonesia, baik tua muda, kaya miskin, laki-laki perempuan, bahkan pejabat penghuni gedung mewah ataupun gelandangan yang memelas penghuni kolong jembatan, amat menyukai benda ini dan aktivitas menghisapnya. Ketergantungan ini membuat rokok seakan menjadi tuhan yang disembah dimana pun, kapan pun, dan oleh siapa pun. Fenomena dahsyat ini menghadirkan sebuah fakta, pada tahun 2015 mengungkapkan sekitar 70 persen perokok aktif di Indonesia adalah remaja, sebagaimana disampaikan Hasbullah Thabrany, Pakar Pengendalian Konsumsi Tembakau,. Penikmatnya di kisaran Usia 16-26 tahun. Usia Ini memang target utama konsumsi rokok dari para produsen rokok. Bahkan Survey Lentera tahun 2015 menyebut bahwa sebanyak 45 persen jumlah remaja di Indonesia pada usia 13 hingga 19 tahun sudah merokok. Keadaan ini merupakan peningkatan dari fakta tahun-tahun sebelumnya. Data Kemenkes menunjukkan bahwa prevalensi remaja usia 16-19 tahun yang merokok meningkat 3 kali lipat dari 7,1% di tahun 1995 menjadi 20,5% pada tahun 2014. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah usia mulai merokok semakin muda (dini). Perokok pemula usia 10-14 tahun meningkat lebih dari 100% dalam kurun waktu kurang dari 20 tahun, yaitu dari 8,9% di tahun 1995 menjadi 18% di tahun 2013. Ini adalah kondisi riil pada masyarakat kita, anak-anak kita. Sebuah fakta tak terbantahkan sekaligus masalah yang harus dicari dan dilaksanakan solusinya. Kelemahan gerak terhadap isu ini membuat masyarakat semakin ketergantungan terhadap rokok bahkan mengangap rokok sebagai gaya hidup, simbol kekuatan dan kemapanan. Padahal, anggapan ini bertentangan dengan rilis yang dikeluarkan oleh organisasi kesehatan dunia, WHO, yang mengatakan bahwa lebih dari 4 juta orang meninggal setiap tahunnya disebabkan oleh rokok dan kebiasaan menghisap rokok. Rokok dinikmati oleh sebagian besar masyarakat Indonesia dengan berbagai dalih dan alasan. Pada intinya, rokok hadir sebagai bentuk substitusi dari penyelesaian masalah yang dihadapi. Maka dari itu, oleh sebagian perokok mengatakan bahwa dengan merokok membuat diri lebih tenang dan stress hilang. Padahal kondisi ini hanya sebatas perasaan sesaat atau kenikmatan semu yang didapatkan dari menghisap sebatang rokok. Setelah habis satu batang, maka perasaan stress akan terus menghinggapi dan maslh pun tak kunjung selesai. Sebuah siasat produsen dengan menyimpan satu “keuntungan” dibalik puluhan keburukan dan efek samping yang terkandung di dalam sebatang rokok. Akibat dari rokok ini dengan perlahan merusak organ vital tubuh kita, jantung, otak, paru-paru, bahkan alat reproduksi kita. Tak sedikit para perokok ini berakhir hidupnya akibat rokok yang dihisapnya. Melihat fenomena rokok dan bahaya yang ditimbulkannya, pemerintah pun mengeluarkan aturan tentang pembatasan iklan rokok,ruang bebas rokok dan mengharuskan setiap produsen mencantumkan gambar dan tulisan yang diakibatkan oleh rokok dalam setiap bungkusnya. Biar pun pemerintah sudah berusaha keras untuk mengurangi jumlah perokok di Indonesia, tetap saja kita masih sangat mudah menemui perokok muda atau tua leluasa menghisap rokoknya di sudut jalan, warung kopi, bahkan sekolah. Belum ada efek jera yang timbul di masyarakat kita dalam masalah rokok. Kembali kita lihat hasil statistik di atas tentang para perokok pemula, pelajar -red.,yang meningkat begitu drastis, tidak kah kita sebagai seorang guru, bahkan orang tua, merasa sedih dan resah bahwa anak-anak kita sedang diracuni oleh sebatang rokok. Di tengah kebingungan, kekosongan hati, bahkan mengharapkan perhatian dan kehadiran orang yang peduli dengan mereka, rokok hadir memberikan apa yang mereka butuhkan. Remaja memang merupakan masa dimana mereka sedang mengalami keadaan storm and stress, confusius dan juga fase membangun jati diri. Para remaja ini melakukan aktivitas merokok merasa bahwa merokok sebagai bentuk pengakuan “kedewasaan” dari teman dan lingkungan, yang nyatanya tidak ada kaitan antara kedewasaan dengan rokok. Mereka mengawali pengalaman merokok dengan paksaan atau hanya coba-coba saja bahkan atas nama solidaritas agar tidak dijauhi kawan. Padahal jika mereka mengalami keadaan akibat dari rokok, tidak ada temannya yang mau ikut sama-sama bertanggung jawab. Karena rokok bersifat candu, lambat laun remaja pencoba-coba rokok itu akan berubah menjadi seorang pecandu rokok agresif yang harus dipenuhi keinginan merokoknya. Jika sudah terjadi maka butuh kemauan diri yang kuat dan support yang besar untuk bisa berhenti dari rokok, karena proses ini tentu tidak mudah. Tidak ada kata terlambat untuk bangkit. Demi Alloh, anak-anak kita harus tumbuh besar dengan mimpi-mimpi besar mereka dan berjuang dengan potensi dan kemampuannya yang luar biasa. Mereka berhak mendapatkan masa depan yang cerah dan gemilang, dan kita harus menjaminnya. Karna mereka lah yang kelak akan menggantikan posisi kita hari ini. Bukankah mereka calon-calon ummat terbaik sebagaimana dijanjikan Alloh dalam Qur’an? Anak-anak kita, setiap dari mereka punya mimpi yang harus diperjuangkan dan ambisi yang mesti diwujudkan. Jangan biarkan nafas mereka malah tersenggal, lelah tak sanggup berlari. Jangan sampai mimpi yang sejatinya menyala dan bercahaya terus membesar, harus dipaksa terhenti akibat rasa sakit yang teramat sangat atau naas padam bersama ajal yang lebih dahulu menjemput. Di setiap batang rokok yang dibakar, ada pundi-pundi rupiah yang terbakar pula, yang jika dikumpulkan rasanya cukup untuk membekali cita-cita. Dan di setiap kepulan asap yang keluar dari mulut ada mimpi-mimpi yang ikut menjauh dan lambat laun menghilang. Nak, mari kita padamkan rokok kemudian nyalakan kembali mimpi kita. Karena sejatinya, memperjuangkan mimpi itu, jauh lebih nikmat dari sekedar menghisap sebatang rokok. Bandung, Mei 2017