Floating shop in Palembang, Sumatra, Indonesia
Dutch vintage postcard

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Brazil
seen from Netherlands

seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Brazil
seen from Canada
seen from Japan
seen from China
seen from China
seen from China
seen from China

seen from United States
seen from South Korea
seen from China
seen from United States

seen from Yemen

seen from Italy
Floating shop in Palembang, Sumatra, Indonesia
Dutch vintage postcard
☁️ South Sumatra: A Love Letter to the Palate
There is a specific kind of magic in the air of South Sumatra, and most of the time, it smells like spicy vinegar and toasted coconut. 🥟🥢
South Sumatra isn’t just a destination; it’s a sensory overload. It’s the sound of street vendors clanking woks, the golden hour light hitting the Musi River, and the legendary flavors that have been perfected over centuries. If food is your love language, this is where you come to find your soulmate.
The Culinary mood board:
Pempek (The Icon): It’s more than just a fishcake. It’s that satisfying crunch of the skin, the chewy center, and the Cuko—a dark, brooding sauce that hits every note of sour, spicy, and sweet all at once. 🌊
Martabak HAR: This isn’t the street food you know. Founded by Haji Abdul Rozak (hence the HAR), this is a crispy, egg-filled savory parcel served with a rich, thick potato curry that feels like a warm hug for your stomach. 🥚🍛
Mie Celor: Imagine thick noodles swimming in a heavy, creamy broth made from coconut milk and dried shrimp (ebis). It’s the ultimate comfort food for a rainy afternoon in Palembang. 🍜✨
Mie Aloi: A local secret. It’s that perfectly springy noodle texture topped with savory meats that defines the "hidden gem" experience.
A Cultural Deep Dive: South Sumatran food is a beautiful intersection of Malay, Chinese, and Indian influences. Every dish tells a story of the ancient trade routes that once passed through the Srivijaya Empire. To eat here is to taste history.
📺 Get lost in the full cinematic food documentary here: https://www.mymovietv.com/watch/video/342
Stay hungry, stay curious. 🌙🌌
👉🏻 @mymovie.media | @mymovie.tv 👈🏻 🎥MY MOVIE ☀ Removieling Life 📺
Saxan in Coral Island.
Happy New Year to you. My lazy son as NPC and LI. I think this took about a month to make. 70% of that time is taken by the wedding outfit alone. Commentary on each outfits and his personality backstory under Read More if you're interested :)
Bali
The Palembang Zine Fest takes place in Palembang, Indonesia on the 27th - 29th of July, 2023... 🇮🇩 The event will be held in a bookshop and coffee shop, with several zine communities coming together to share their latest zines, as well as their zine collections. A zine printing service will also form part of the festivities, along with live music. "Festival akan dihelat selama 3 hari di sebuah toko buku dan kedai kopi yang punya budaya perihal cerita dan kata, berkomposisikan banyak kegiatan dari membuat zine bersama beberapa komunitas, merilis zine-zine terbaru dari kawan-kawan, meghadirkan banyak zine dari koleksi pribadi, koleksi kolektif, sampai teman-teman yang sudah mengirimkan zinenya juga dari setahun lalu. Ditambah juga layanan penggandaan zine di tempat dengan kami coba menghadirkan gawai fotokopi semaksimal mungkin. Ditambah dengan tentu pertunjukan musik di beberapa bagian."
Berjalan menyusuri pasar
Zio and the beautifulize house him
Journey to Baturaja
Masih dalam perjalanan memberanikan diri bepergian di awal tahun 2023 ini. Melanjutkan ke provinsi ketiga yang kutapaki di tanah Sumatera, Palembang, Sumatera Selatan.
Palembang
Aku naik pesawat dari Belitong dan mesti transit/menaikkan penumpang dahulu di Bangka, baru ke Palembang. Kali pertama, menunggu sekitar 20-30 menit di dalam pesawat untuk penerbangan berikutnya. Mendarat di Palembang, feeling excited dan was-was karena perjalanan panjang ke depan.
Aku sudah memesan travel dari jauh hari. Jadi, setelah sampai di bandara, orang travel yang jemput. Tujuanku adalah ke kota Baturaja, which is itu sekitar 8 jam dari bandara. Dan.. travel di Palembang ini, aku harus siap merapatkan duduk dengan penumpang lain. Jadi, system travelnya adalah mereka akan jemput semua penumpang dan barang bawaannya di tempat request masing-masing dan menurunkan mereka di tempatnya masing-masing juga. Unik.
Karena pagi itu belum sempat sarapan, alhasil sarapan di mobil travel mumpung masih sepi penumpangnya, sambil mohon izin ke driver untuk makan di dalam kendaraan. Aku sempat berganti mobil juga setelah keluar bandara. Total ada 5 penumpang yang berangkat ke arah Baturaja. Karena tujuanku agak masuk ke daerah perbatasan, maka kena charge 20.000. Tapi, kata ibu penumpang sebelahku dengan tiketku seharga 200.000 harusnya sudah tak usah bayar charge, karena standarnya itu 100.000. Hmm..
Aku tiba sore hari di rumah murid dan langsung observasi ke tempat magang mereka. Malam harinya agak tidur cepat untuk isi daya esok hari. Esok paginya, aku dan murid melakukan bakti sosial di panti asuhan dekat sana. Kebetulan, nenek salah satu muridku cukup dikenal orang sekitar karena beliau mantan Wakil Bupati Baturaja masa bakti sebelumnya. Nenek yang sangat inspiratif. Beliau spesialis dokter mata dan punya klinik mata di sana. Beliau juga cukup concern mengadakan pengajian dan santunan anak-anak yatim piatu dhuafa di kota tsb. MasyaAllah..
Pulangnya, aku dan anak-anak ke pasar beli oleh-oleh dan aku berpisah dengan mereka karena mau silaturahim dengan salah seorang adik tingkat kampus yang masih aktif di Guidelight juga, Wigo. Sekaligus menyelamati pernikahannya belum lama ini. Karena sering update di status whatsapp, kutahu dia dan keluarganya punya rumah makan juga disana. Dan setelah tanya warga sana, sepertinya cukup terkenal: Rumah Makan Asri. Yang buatku melongok adalah jarak ngojek 1-2 km disana masih dihargai 5.000 wiii. Sampai tanya dua kali pas mau bayar, ini beneran 5.000 kan ya..
Kucoba hubungi Wigo karena posisi sudah di rumah makan. Tapi, kayaknya dia lagi sibuk.. setelah coba signature foodnya yakni pindang yang super unik di lidahku, aku memutuskan pulang. Detik-detik mau pulang, barulah tersambung dengan Wigo. Tapi pas ditelepon balik, lagi sibuk, kayaknya dia lagi nelepon pegawai umah makannya untuk nahan aku supaya tak pulang dulu wkwk.
Betullah, aku diantar ke rumah kakaknya dan ketemu Wigo dan istrinya. Setelah bertukar kabar, aku cerita sejujurnya lagi cari pempek dan minta rekomendasi mereka. Gayungpun bersambut! Ternyata kakaknya Wigo, jualan pempek. Dikasihlah dulu tester. Karena super duper kenyang, aku nyicip yang biasa kumakan aja. Padahal, itu dijejerin segala jenis pempek yang super wenak. Dan.. alhamdulillah, jadinya pesan di kakaknya Wigo. Hehe. Lanjutnya, jam 5-an sore, ternyata wigo dan istri mau antarkan aku ke tempat murid. Sebelum itu karena sudah tak ada kegiatan lagi, jadi aku diajak solat magrib di masjid dengan design keren ala Madinah di daerah sana dan keliling Baturaja.
Mereka juga ngajak makan bakso dan es campur terkenal. Ditawarin makan duren, tapi kayaknya lagi tak enak perutku waktu itu wkkw. Mana dibawain martabak juga buat murid-muridku.. masyaAllah.. moga berkah yaa Wigo dan famili!
Esok paginya, jadwal pulangku ke Jakarta. Travel jemput pukul 08.30-an. Setelah pamit dengan orangtua murid, ku berangkat. Alhamdulillah dapat kursi depan karena barang bawaanku agak heboh sama oleh-oleh dari 3 kota yaa haha. Seperti biasa, driver menjemput penumpang lainnya dulu. Ada orang tua yang bawa 2 anak kecil di kursi paling belakang, di tengah ada 3 orang dan 1 anak, aku di paling depan, dan supir. Itu bener-bener lebih crowded dibanding saat berangkat. Sekitar zuhur, kami mampir di rest area. Kusempatkan juga makan pagi gabung siang a.k.a brunch. Pilihanku jatuh pada menu ayam serundeng dilengkapi dengan gulai nangka dan sambal hijau. Enak. Dan… baru kali pertama nyobain mocktail es jagung enak parahhhhhhhh. Manissss banget which is aku suka banget! Di Jakarta bogor mah adanya jasuke, kalau ini beda, es jagung. Semoga bisa ketemu lagi itu es di lain tempat yang deketan.
Next, karena travelku tidak lanjut sampai bandara, akhirnya aku request diturunkan di stasiun MRT. Wih keren, Palembang ternyata juga punya MRT! Naik MRT ke bandara, barang 3 stasiun dengan harga 10.000/orang. Seru, petugasnya sempat bantuin karena barang bawaanku yang tidak sedikit haha. Alhamdulillah dapat duduk dan pesawat juga on time.
Finally, terbang dari Palembang ke Jakarta dan dijemput umi-abi-adek-kakak disana. Wkkw berasa abis melancong lama banget. But, that’s true. This is my first nekat journey by myself and i’m pretty proud of it. Much having fun during this adventure and also life lessons! Thanks for all students, friends, parents, teachers, that have supported and prayed for me!
Thank Allah for this wonderful journey!