Disclaimer: Tulisan ini (harusnya) selesai di 31 Desember 2023 atau 1 Januari 2024, tetapi sekarang sudah 7 Januari 2024. Just an annual reflection. As usual. An honest one, without “beautification”.
Satu-satunya tulisan yang masih saya upayakan tulis secara rutin setiap tahun, meski sudah lupa caranya. Kebanyakan menyusun surat-surat formal ya sepertinya. Jadi tidak kreatif dalam menemukan kata-kata untuk bercerita. Padahal, dulu saya sering sekali berbicara, “tulisan apapun yang berasal dari hati akan sampai ke hati lainnya (yang membaca), bagaimanapun bahasanya”. Namun, mungkin perlu saya revisi, hukum tersebut berlaku secara kondisional, yaitu kalau penulisnya dapat menemukan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang ingin ia ceritakan. Jika tidak ya sama saja haha.
2023 was a turbulence. Lol. To summarize it all, too many failures. Or may be, “finally” failures. Big shots. A lot of unexpected things happened.
Hal-hal yang besar yang pada akhirnya membuat saya kembali sadar bahwa ada tujuan-tujuan yang harus saya capai. Sayangnya ya kenapa harus mengalami serial kegagalan dan baru tersadar. Sadar bahwa selama ini jalan di tempat, sadar bahwa terlalu banyak berjalan, lambat, sadar tidak bergegas, sadar mengalami kemunduran yang begitu besar.
But in terms of career, friendship, love, and family, one thing that I’m grateful is my realization towards family. I went home a lot this year. Paling lama mungkin 3 bulan saya gak pulang. Sisanya rutin, hampir setiap bulan atau dua bulan sekali. This may sounds meaningless for others, pulang hanya untuk tidur, itu pun tanpa cuti yang entah kenapa ga pernah bisa saya ambil. Jadilah saya pulang Sabtu pagi dan berangkat lagi Senin dini hari, masih dengan tiga moda transportasi yang harus digunakan haha. People may say that I haven’t “build” my own family and I’m flexible enough to work more or to stand by, even during holiday. Turns out, no. Sejak bekerja di sini, I turned into orang yang “kalo sempet ya pulang”. Terlebih, belum berkeluarga sendiri bukan berarti gak punya keluarga. Debunk it. Pulang selagi bisa, pulang selagi ada. Pulang ke rumah. Pulang kampung, ke rumah orang tua. A place where I can sleep, safe and sound, tanpa harus susah tidur dan terjaga sampai pagi menjelang ataupun bermimpi kerja dan ini itu di dalamnya. Iykyk. Meski saya tahu ini sedikit double standard, mengingat di kerjaan sebelum ini, saya justru jadi orang yang akan sangat “willing” untuk standby di hari libur, even lebaran dan hari besar lainnya. Ya karena saya senang aja dan merasa itu gak mengganggu waktu saya sama keluarga juga sih. Ah, another realization.
There are a lot of things that goes on my mind rn. What to write, what to reflect. The thing is, despite all the failures, stagnancy etc, I realized that I’ve been through a lot (again) this year. And I am very grateful that I’m still alive and goes on. I am still questioning a lot of thing. And, I have not found the answer yet. But, what troubles me is, that I often forget about the question itself (with the hustle and bustle of boring workload). I don’t know, but I haven’t find the joy and sparks in my daily life during 2023. It doesn’t happen often to me. Usually, I am that person who easily consoled by a little thing, a detail, but not again. So, it’s quiet hard to pass day by day. But, I’ve tried my best, meski jadi kebanyakan tidur dan tidak bisa ketemu orang kalau mentok. Hehe.
That may summarized my whole year, some realizations and lessons that I’ve learned about myself.
So, what I’ve learned throughout the year?
Despite all the failures, I began to know more about myself. Makin kesini makin malas dan lebih suka tidur yah, ketimbang pergi keluar dan bertemu orang-orang. It drains me. Bukannya introvert, justru kalau ketemu orang, saya merasa punya kewajiban untuk being “present”. That’s why mungkin energi yang keluar jadi lebih banyak. Jadi, kalau disuruh milih pergi atau di rumah, saya lebih milih di rumah. Tapi kalau sudah pergi dan ketemu orang ya gimanapun tetep “present”, gak bisa diam saja, pulangnya baru terasa dan hibernasi haha.
Then, how do I cope with the failures? Tidur and holing up in my room. This is a thing I want to change (probably). Sepertinya lebih baik cari kegiatan ya, daripada makin suram. Saya masih menganut kepercayaan bahwa segala emosi harus dinikmati, termasuk kesedihan. Tapi kalo di kamar terus dan gak ketemu orang ya emang jadi terlalu menikmati kesedihan, alias berlarut-larut atau kosong aja otak.
Another thing, another lesson that I’ve learned, not along 2023, but in the beginning of 2024, I stumbled upon a saying of public figure. She said, life will be okay if we keep improving, without comparing to other people, but compare to “the old you”. Apakah sudah menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin? And it really bothers me. Because I’m not. And that’s okay. Ya mau bagaimana lagi. Sudah lewat juga tahun 2023-nya.
So here I am, of course still without resolution or certain determination towards something, since I don’t like an "explicit ambition". It pesters me, on my own. Capek banget lihat sekeliling yang begitu “semangat”, ya meski kebanyakan mereka juga tidak mau mengakui. Hehe. Tidak apa-apa, not necessarily a toxic positivity sih, but the ambition is there. I can see it.
And the problem for me is to find internal motivation tanpa harus berambisi yang segitunya, it’s no longer as easy as before. And of course, I don’t need external motivation. It annoys me a lot. Tapi semoga di tahun 2024, I can find my self again. To improve, to be happy, to put bigger effort. Ingin lebih zen, tetapi gerak terus.
Tulisan ini mungkin tidak terlalu penting, terlalu dangkal untuk sebagian besar manusia yang beberapa tahun lagi juga sudah menginjak kepala 3 haha. Mungkin sebagian besar sudah memikirkan hal-hal strategis di hidupnya, entah untuk terus melanjutkan karir, bisnis, atau berbenah bersama keluarga kecilnya. But, since I’ve learned that it’s not wise to compare, so here I am. Reflecting to what I’ve been through during the past year and hoping the better version of me this year.
To all of my friends and acquaintances, happy new year, be happy on your own version. Be original, but better!
P.S: Abaikan ketidakteraturan tata bahasa. Tulisan ini cuma curhatan tahunan, tidak perlu serius-serius. I don’t want to think more.