Nakoa Soekarno Hatta, 20 Juni 2022 16.57, Malang
Apa kabar? Sudah lama kita tak jumpa. Jangankan berjumpa, saling sapa pun sudah tidak. Aku maklumi itu semua. Aku menghargai kehidupanmu, dan kau? entahlah masih peduli dengan hidupku atau tidak.
Mungkin kamu akan bertanya, kenapa aku menulis ini semua? Jika kau mengira, karena aku ingin mencuri perhatianmu tentu tidak. Untuk apa. Lalu jika kau mengira, aku ingin mendramatisir keadaan itupun tidak. Sama sekali tidak.
Aku menulis semua ini hanya karena rindu. Tak pernahkah kau merasakannya juga? Aku harap kau sempat merindukanku walau hanya semalam. Setidaknya kau mengingat bagaimana aku tertawa lalu menangis. Setidaknya kau mengingat bagaimana susahnya berusaha dan mudahnya menyerah.
Cinta kita mungkin belum usai, dan mungkin itu aku. Cinta yang tumbuh dibawah status mahasiswa. Cinta yang terus tumbuh hanya karena memandang dari jauh. Cinta yang terus tumbuh ketika kita bertukar sapa dan senyum. Cinta yang terus tumbuh karena pipiku merona setiap kali mendengar namamu. Manis. Aku masih bisa merasakannya walaupun hanya sedikit mengingatnya.
Aku masih ingat betapa lucunya saat pertama kali aku melihatmu. Kita terlihat canggung. Lalu saling tersenyum sesudahnya.
Aku juga masih ingat betapa indahnya hujan kala itu. Aku terus melajukan motor dengan cepat agar kau tidak lama terkena hujan. Kau hanya bisa bersembunyi sambil mengeratkan pelukan dibalik punggungku. Kau tidak tahu, seberapa banyak aku tersenyum saat itu.
Aku tidak peduli, apakah aku cinta pertamamu atau bukan. Aku menyimpan memori dalam hidupmu atau tidak. Yang aku tahu aku merasakannya.
Kau juga bukan kekasih pertamaku. Tapi percayalah, kau membuatku mengenal banyak hal untuk pertama kalinya. Kau membuat aku belajar untuk pertama kalinya.
Kau orang pertama yang membuatku merasa berharga dan merasa dihargai. Kau membuat aku merasa bahwa aku adalah seseorang yang merasa disayangi. Bukan orang yang selalu menunggu, menanti bahkan meminta.
Untuk kamu, yang sempat hadir dan semoga takdir.
Maaf aku sempat membuatmu muak dan bahkan kecewa. Dengan sikapku yang kekanak-kanakan. Yang sering mengeluh, yang sering berdrama dengan segala masalah. Kau selalu mengingatkanku. Dan lagi, aku terlambat menyadarinya. Aku tau aku salah, tapi siapa yang peduli saat itu. Yang aku tau hanya, cinta itu menyakitkan ketika kamu pergi. Itu saja. Bodoh? Iya. Sangat bodoh. Kadang aku pun hanya tertawa bila mengingatnya. Perjalanan kita amat sangat lucu ternyata. Bodohnya lagi bukan tentang kita saja, sudah melibatkan orang tua, sekali lagi bodoh, iya itu saya.
Aku ingat, kata orang kita memulai dengan cara yang salah. Entah aku, atau kamu. Tapi aku tak ingin menyalahkan siapapun, karena untuk masalah perasaan semua orang akan merasa benar. Meskipun penuh kebohongan dan ketidakpedulian. Cukup aku saja yang tau maksud semuanya.
Perjalanan memang kadang membuat aku terbang lalu jatuh. Dan terimakasih, kamu telah menjadi bagian perjalananku. Hidup kadang terasa manis seperti gulali yang aku beli di taman hiburan, tapi ada masanya terasa pahit sama seperti aku yg tidak sengaja menyesap ampas kopi yang menjadi favoriteku. Dan kamu telah menjadi keduanya di saat yang bersamaan. Sekali lagi, terimakasih. Untuk pernah hadir lalu pergi dan untuk sempat memulai lalu mengakhiri.
Untuk kamu, yang sempat hadir dan semoga takdir.
Aku tadi bilang bahwa aku merindukanmu, tapi setelah aku menulis ini semua aku tak lagi merasakannya. Aku sedang tersenyum, percayalah. Aku bahagia. Bohong jika rasa rinduku tak semakin bertumpuk, aku bahagia bila kau juga merasakannya entah dengan siapapun itu. Tak perlu aku yang merindukanmu lagi. Tugasku sudah cukup. Tugasku kini pergi lalu menghilang. Untuk tak saling mengenal akan lebih baik, mungkin? Hahaha aku hanya bercanda. Aku tidak kekanak kanakan lagi. Aku hanya berharap aku dan kamu baik baik saja. Kita bahagia bersama, di jalan yang berbeda.
Untuk kamu, yang sempat hadir dan semoga takdir
Tidak semua hal akan berjalan sesuai keinginanmu, pada satu waktu impianmu akan dipukul mundur, harapanmu terpatahkan dan langkahmu dihentikan paksa. Dunia yang begitu luas terasa menyesakkan, ramai tapi sepi. Ingin terus melangkah, takut salah. Ingin putar balik, jarak yang begitu jauh susah untuk ditempuh. Ingin menyerah? Apalagi, tak akan pernah menyelesaikan masalah. Setiap pilihan serasa tak mampu untuk menerima konsekuensinya
Terus melangkah adalah salah satu pilihan dan harapan suatu saat aku dapat bertemu kamu, dengan senyuman. Tak ada lagi kecanggungan. Lalu berbincang. Dan aku akan mengenalkan seseorang padamu, begitu sebaliknya.
Entah mengenalkan orang tua, saudara masing masing atau bahkan rasa takutku terjawab dengan kita mengenalkan pasangan.
Jika ditanya kenapa masih menunggu atau berharap?
Baca sekali lagi tulisan ini, kau akan paham makna dari setiap kata.
Untuk kamu. Yang sempat hadir dan semoga takdir.
Aku mohon maaf atas segalanya, atas ketidaksempurnaanku dalam mewujudkan impian-impian kita. Perihal cinta? Tidak akan berkurang apalagi sampai hilang. Ia abadi punya tempat tersendiri dihati. Dalam bukunya, Buya Hamka pernah berkata “Cinta bukan mengajari kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajari kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat”. Jangan sesekali mengucap selamat tinggal bila kamu masih mau mencoba. Jangan sesekali menyerah jika kamu masih merasa sanggup dan ingin merubah. Cinta adalah satu-satunya kebebasan di dunia karena ia begitu tinggi mengangkat jiwa, dimana hukum-hukum kemanusiaan dan kenyataan alam tidak mampu menemukan jejaknya. Cinta itu tak kasat mata, ia dapat dirasa, entah dari raga atau jiwa.