Terdengar dari dalam kamarku sesaat sebelum saya keluar, percakapan antara seorang anak yang masih berstatus pelajar dengan ibunya,
“Buk matematikaku dapet nilai 58 tapi ojok marah ya”
“Kok isok oleh nilai 58, berarti remidi?”
“Iyo buk remidi, temenku ada yang nilaine 84 76 ada yang 93 bahkan 100”
“La iku koncomu nilaine apik apik”
“Tapi mereka contekan buk saling tanya ada juga yang bawa kertas”
“Yawes pokok kon ojok nyontek, sinau maneh matematika ben nilaimu apik”
Begitulah kira kira percakapan yang saya dengar, banyak pelajaran yang saya ambil dari mereka. Tentang sebuah kejujuran yang sudah ditanamkan sejak kecil dan parenting dari seorang ibu yang membuat anaknya berani bercerita tentang apa yang dialaminya. Nilai hanya sebuah angka, bukan menjadi tolok ukur dari semua tanpa terkecuali kejujuran.
Dari perspektif saya tadi, tidak jarang ada yang bilang “iku cuma gawe alasan tok cek gak diseneni”. Ya kadang seperti itu, tetapi disisi lain anak tersebut tidak “menyalahkan” temannya dengan bilang “tapi koncoku onok buk seng nilaine sak ngisorku”. Terimakasih
Labcoffee.eatery, 23 September 2022 17.26, Malang