Sesaat saya melewati rumah tetangga, saya mendengar "plak!". Menyusul tangisan anak kecil 2 detik kemudian.
Saya dapat memastikan, orangtuanya yang memukul anak kecil itu. Spontan saya berkata, "Diluar sana banyak pasangan suami istri yang menginginkan anak, tapi belum Allah kasih. Ini udah dikasih kepercayaan, malah asal keplak aja. Kalau ga siap punya anak, gausah nikah, ga usah punya anak!"
Itu baru satu anak, belom lagi 2, 3, 4 dan seterusnya...
Ada yang bilang, "Kamu kan belum punya anak! Kamu belom ngerasain jadi orangtua, Nis!"
Hei Esmeralda! Memang kau pikir muridku bukan anakku???!! Dua tahun saya menjadi guru di sekolah, saya semakin faham bahwa anak kecil itu memang aktif sekali (gerak dan mulutnya). Gabisa diem, kalo bahasa awamnya pecicilan. Kesana kemari, lari ujung ke ujung, loncat sana sini, bahkan ga jarang mereka terluka akibat keaktifan mereka. Itu baru di sekolah. Sepulang kerja, tak jarang Nasya ponakan saya sering mengajak saya main. Yang tentunya dia kesana kemari dan yang mendampingi pun membutuhkan energi yang tidak sedikit.. Capek? Banget!! Tapi saya sadar bahwa energi mereka itu besar, sehingga wajar jika mereka sangat aktif.
Kita sebagai orang dewasa, yang akalnya lebih sempurna dari mereka, tolong gunakan akal sehatnya. Gausah asal keplak anak. Kita sebagai orang dewasa, harus faham karakter anak bahwa mereka emang gabisa diem, alias aktif dan pecicilan.
Jangan sampai kehilangan akal karena kelakuan anak yang akalnya belum sempurna..
Jika memang capek dan anak minta ini itu, kasih pengertian yang baik. Pun jika emosi memuncak, tolong jangan asal keplak anak. Harus suabaaaar, ingat mereka adalah ujian untuk orangtuanya..
Anak itu polos, makanya Allah itu nitipin anak ke orangtuanya buat dididik bukan dikeplak.
Ya Allah ampuni orangtua yang masih seperti itu dan mampukan kami menjadi orang tua yang baik.. Aamiin..