“Ya Allah, jangan Engkau ambil nyawaku secara tiba-tiba, jangan pula Engkau panggil aku saat aku lalai. Anugerahkanlah kepadaku tenggang waktu agar aku sempat kembali kepadamu, bertobat dari dosa-dosaku, sebelum tibanya kematian”
— Doaku jumat sore
#phm#ryland grace#rocky the eridian#project hail mary spoilers



#dc comics#dc#batman#bruce wayne#dick grayson#tim drake#batfamily#batfam#dc fanart

seen from Poland

seen from China
seen from Germany

seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from Brazil

seen from Finland
seen from Belgium
seen from United Kingdom
seen from Brazil

seen from United States
seen from China
seen from China
seen from United Kingdom
seen from Türkiye

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States
“Ya Allah, jangan Engkau ambil nyawaku secara tiba-tiba, jangan pula Engkau panggil aku saat aku lalai. Anugerahkanlah kepadaku tenggang waktu agar aku sempat kembali kepadamu, bertobat dari dosa-dosaku, sebelum tibanya kematian”
— Doaku jumat sore
Kita sering merasa perlu menjelaskan diri, membela posisi, atau memastikan orang lain mengerti. Padahal, beberapa hal lebih baik dibiarkan berlalu. Tidak semua hal butuh respons. Tidak semua orang layak mendapat jawaban. Dan diam, juga adalah bentuk keberanian untuk tidak ikut bermain dalam dinamika yang melelahkan. Pilah mana yang penting, mana yang hanya sekadar bising.
Dulu aku sibuk mencari siapa yang akan bertahan. Sekarang, aku lebih sibuk memastikan bahwa diriku tetap berjalan dengan baik. Bukan karena tidak butuh siapa-siapa, tapi karena tidak semua hal harus bergantung pada orang lain.
Biarlah kita keliatannya jelek, hidupnya amburadul, tapi diem-diem berusaha buat jadi kecintaan-Nya Allaah. Beneran senyaman itu gak keliatan jadi apa-apa di hadapan manusia, tapi usahanya kenceng banget buat bikin Allaah jatuh cinta.
@terusberanjak
doa yang dipungut dari pecahan harapan.
Aku doakan, semoga langkahmu selalu menemukan jalan pulang menuju mimpi-mimpimu, meski arahnya terasa seperti labirin panjang yang menguji sabar dan percaya.
Kita punya doa itu. Doa-doa yang tidak selalu lantang, namun setia berangkat ke langit lewat hati yang jujur. Doa-doa yang lahir dari lelah, dari dada yang sesak, dari malam panjang saat dunia terasa asing. Doa yang dipungut satu persatu dari pecahan harapan, lalu dirapikan kembali dengan keyakinan Allah tidak pernah salah menulis takdir.
Maka jika hari ini air matamu jatuh karena merasa tujuan itu terlalu jauh untuk dijangkau, biarkan ia jatuh. Sebab bahkan langit pun memilih hujan untuk menenangkan bumi yang terlalu lama menahan gemuruh. Dan ingatlah, Allah Maha melihat, Allah Maha mengetahui; bahkan pada resah yang tak sempat kau jelaskan pada siapa pun. Tidak ada langkah yang terlalu kecil di hadapan-Nya, tidak ada air mata yang jatuh tanpa sampai pada pengetahuan-Nya.
Kamu boleh berhenti sejenak. Menepikan riuh. Duduk sebentar di bawah rindangnya sabar. Lalu melihat betapa sepatu kotormu adalah bukti bahwa kamu tidak diam. Lumpur yang menempel itu bukan kegagalan, ia adalah saksi bahwa kamu pernah melewati jalan-jalan sulit yang tidak semua orang sanggup lalui.
Jangan sibuk pada mereka yang terlihat lebih cepat sampai. Bintang tidak bersinar bersamaan; masing-masing memiliki waktunya sendiri untuk menyalakan langit. Ada yang dipertemukan dengan tujuannya lewat jalan yang tersesat, harus berputar, perlu patah lebih dulu, agar saat sampai, ia tahu caranya bersyukur dengan sebenar-benarnya.
Maka jika hari ini terasa seperti hari yang berat, jangan buru-buru merasa kecil. Barangkali itu cara Allah menguatkan bahumu sebelum menitipkan hal besar yang selama ini kamu minta.
Tetaplah berjalan, meski pelan. Tetaplah percaya, meski gelap belum selesai. Sebab fajar tidak pernah gagal datang setelah malam yang paling panjang. Begitu pula kamu—akan ada saatnya segala doa itu pulang sebagai jawaban yang terasa seperti rumah🪽
Di dunia yang terlalu bising ini aku ingin hidup pelan-pelan saja, beribadah lebih lama, dan berharap Tuhan memanggilku saat aku sedang baik-baik saja.
Jakarta, 27 Maret 2026, ditulis sehabis minum obat flu.
Kita ngga pernah tahu Allah ngasih jalan buat kita masuk ke surga dari "pintu" apa.
Entah kenapa kalimat tersebut tiba-tiba terbesit di otak ketika aku merasa lelah dan mengeluh karena menjadi sandwich gen, meskipun tidak terlampau parah. Saat ini, aku memang hanya memikirkan ibuku yang tidak memiliki suami dan tidak punya penghasilan tetap.
Terkadang, jika sedang lelah dan khilaf, aku berpikir, "Kenapa ya ada orang yang ngga perlu repot-repot bekerja keras buat hidup, udah bisa dapet enak? Punya modal dari ortu atau keluarganya buat kuliah ke luar negeri, buat bikin usaha..
Sedangkan aku? Ingin resign dan belajar lagi ke luar kota saja perlu memikirkan banyak hal seperti, 'Ini nanti kalau penghasilanku per bulannya ngga segini, ibuku di rumah gimana? Cukup apa engga tabunganku?'"
Aku sempat protes dalam hati, "Kenapa aku ngga dilahirin di keluarga yang "normal" aja sih? Yang punya bapak dan bisa jadi penopang keluarga, yang ortunya utuh, jadi aku bisa lebih bebas buat memilih jalan hidup, ngga perlu mikirin dapur keluarga, cukup mikirin diriku sendiri aja, jadi aku bisa sukses lebih cepat."
...dan tiba-tiba kalimat ini muncul di kepalaku.
"Kita ngga pernah tahu Allah ngasih jalan kita masuk surga dari pintu mana. Bagi kita yang ibadahnya masih banyak kurangnya ini, mungkin Allah memberikan kesempatan untuk kita memasuki pintu surga yang dikhususkan bagi orang yang bertaubat, bertawakal, bersabar, atau ridha terhadap ketetapan-Nya.."
Mungkin, jalan yang kita lalui ini, meskipun terasa lebih lambat dari orang lain, bisa menjadi jalan kita menuju surga-Nya nanti.
Mungkin kita ngga terlihat sekeren orang lain, secerdas orang lain, sesukses orang lain, tapi kalau kita menghadap ke Allah nanti, Allah ngga akan bandingin kita sama orang lain kan? -ditulis Mei 2025, disempurnakan Mei 2026-
Keshalihan adalah penghubung
Di surat Al Kahfi ayat 82 Allah kisahkan tentang dua orang anak yatim yang mendapatkan penjagaan dan perlindungan dari Allah tersebab keshalihan orang tuanya atau bahkan nenek moyangnya semasa hidup.
Maka, boleh jadi, kebaikan-kebaikan yang kita dapat hari ini, adalah manifestasi dari berbagai macam amal shalih yang ditanam oleh para orang tua kita semasa hidup mereka.
Yang kemudian menjadikan Allah ridha untuk menganugerahi kita buah dari amal shalih para orang tua kita.
'Umar bin 'Abdil 'Aziz pernah berkata;
"Setiap mukmin yang meninggal dunia (dalam keadaan ia senantiasa menjaga kewajibannya kepada Allah (menjaga hak-hak Allah), maka Allah akan senantiasa menjaga anak dan keturunannya setelah itu." [Jami' Al-'Ulum wa Al Hikam, 1:467].
Saya jadi teringat, salah satu sunnah yang diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, ketika ada dari keluarga tercinta kita yang telah berpulang menghadap Allah lebih dulu, adalah dengan menyambung silaturahim atau memberi hadiah kepada saudara, kerabat atau bahkan sahabat-sahabat karibnya.
Sebagaimana disebutkan juga dalam shahih muslim, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, setiap kali menyembelih kambing, selalu membagi-bagikannya kepada sahabat-sahabat karibnya ibunda kita, Sayyidah Khadijah radhiyallahu 'anha. Semua itu dilakukan Rasulullah sebagai bentuk penghormatan beliau kepada sang istri tercinta.
Belakangan, saya baru memahami hikmah terindah dari sunnah tersebut. Ternyata, itulah obatnya, ketika rasa rindu itu tiba-tiba datang, rindu pada orang-orang tercinta yang telah berpulang.
Bukankah kadang, kebahagiaan itu sesederhana bertemu dengan orang yang mengenal keluarga kita yang telah berpulang, lalu ia bersaksi dan berkata dengan setulus hati;
"Ayahmu / ibumu / kakekmu / nenekmu itu adalah orang baik".
Atau ketika kita duluan yang menyambung silaturahim dengan mereka (saudara/kerabat/sahabat dekat dari orang-orang tercinta yang telah berpulang), entah dengan mengunjungi atau memberi hadiah (sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam), lalu mereka membalasnya dengan do'a-do'a terindah bagi orang-orang tercinta yang telah berpulang. Tidakkah itu membahagiakan?.
Keshalihan adalah penghubung antara kita dengan orang-orang tercinta yang telah berpulang. Bahkan kelak di surga, buah dari keshalihan itu, atas izin Allah, bisa jadi washilah yang mempertemukan kita dengan keluarga kita yang belum pernah sekali pun kita lihat wajahnya, karena memang belum sempat bertemu dengan kita di dunia.
Sebagaimana yang Allah janjikan dalam Al Qur'an;
"Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga)..." [QS. Ath-Thur : 21].
“(Yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama orang-orang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya.” [QS. Ar Ra'du : 23]
Keshalihan adalah penghubung antara kita dengan orang-orang tercinta yang telah berpulang.
Itulah mengapa Ibnu al-Musayyib berkata kepada anaknya;
“Sungguh aku akan menambah panjang shalatku demi dirimu, dengan harapan aku dijaga, begitu juga dirimu.” (Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, 2/554).
Di hari Jum'at yang penuh berkah ini, ayat ke 82 dari surat Al Kahfi itu kembali saya tadabburi dan saya baca berulang-ulang.
"...wa kaanaa abuhumaa shaalihaa..."
Seiring rindu yang kembali datang, pada dua sosok lelaki yang telah berpulang.
Jika kalian temukan ada kebaikan dalam diri saya atau dalam tulisan-tulisan saya, maka tolong do'akanlah kakek dan ayah saya, semoga Allah senantiasa merahmati mereka berdua.
Sebab kebaikan-kebaikan yang telah mereka tanam semasa hidup mereka, Allah jadikan washilah terbukanya banyak pintu-pintu kebaikan untuk saya.
@rizqan-kareema.