Keni
occasionally subtle
𩵠avery cochrane š©µ
$LAYYYTER
Xuebing Du

JVL

No title available

No title available
untitled
Cosimo Galluzzi
Three Goblin Art

Andulka

romaā

Origami Around
macklin celebrini has autism
Peter Solarz
taylor price

shark vs the universe

No title available
Monterey Bay Aquarium
seen from Switzerland
seen from Kuwait

seen from Israel
seen from Jordan

seen from Poland
seen from Jordan
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Argentina

seen from Singapore

seen from Argentina
@chatarinaerni
"Konsep tentang keterbatasan, penyangkalan, serta pengorbanan tidak lagi memiliki makna mendalam sehingga orang tidak saja sulit memahami arti 'cukup' tetapi juga tidak mampu memilih apa yang baik serta benar sebagai suatu prasyarat dasar dalam menggapai segala apa yang bernilai lebih tinggi dan luhur"__Kutipan disadur dari buku Yohanes Paulus II : Gereja, Teologi, dan kehidupan
Hidup di jaman ini bukanlah hal yang mudah. Kita cenderung melihat dan membandingkan kehidupan kita dengan orang lain. Tentang apa yang telah dimiliki orang lain dan tentang apa yang telah orang lain capai. Social-media menjadi ajang yang menawarkan segala perasaan: rasa iri, cemburu, insecure, rasa ingin terima, rasa ingin diperhatikan, bahagia, ketenangan, ketakutan, dan lain sebagainya. Kita dengan mudah mengalami perasaan-perasaan itu.
Membandingkan kehidupan orang lain dengan kehidupanku, membandingkan sisi finansial orang lain dengan kehidupan finansialku, membandingkan sisi pendidikan yang telah dicapai orang lain dengan pendidikan yang sedang ku tempuh, membandingkan keluarganya yang utuh dan menyenangkan dengan keluargaku yang 'mungkin' bukan tempat yang nyaman bagiku.
Ku rasa hidup ini tentang melihat keterbatasan yang kita miliki, bahwa aku tak akan sama secara finansial dengan orang lain yang kehidupan finansialnya lebih terjamin dariku. Aku tak bisa membandingkan pendidikan yang ditempuhnya dengan gelar pendidikan yang sedang aku perjuangkan, aku juga tak bisa membandingkan kehidupan keluargaku yang tak sempurna dengan kehidupan keluarga orang lain yang sempurna. dan perbandingan lain yang kadang tak di sadari.
Iya, bahwa baik mengatakan 'hidup ini aneh, kadang tidak adil. Suatu kali hidup melambungkanmu setinggi langit. kali lainnya hidup menghempaskanmu begitu keras ke bumi'. Mungkin tidak akan sesakit itu, bila aku belajar menerima bahwa kehidupan ku tak sama dengan dirinya, keluargaku tak sama dengan dirinya, dan apa yang sedang aku perjuangkan tak sama dengan apa yang sedang ia perjuangkan.
Ingat bahwa: aku berbeda dengan dirinya.
Kita belajar menerima setiap keterbatasan kita bukan hanya fisik, finansial, keutuhan keluarga, pendidikan, dan tentang segala hal yang membuatku iri dari cemburu. Ingat bahwa tiap orang berbeda, tentang apa yang telah Tuhan berikan padanya, tentang berkat yang telah diterimanya, Tentang segala hal yang menjadi segala segi hidupnya.
Kita berbeda satu sama lain.
Tiap orang memiliki prosesnya masing-masing, tiap orang sedang berjuang dengan apa yang menjadi kerinduan terdalamnya, setiap orang sedang menuju kebebasan yang ia rindukan, tiap orang memiliki fase jatuh-bangunnya, dan tiap orang pasti pernah berada di titik terendah sehingga merasa dihempaskan sedemikian keras ke bumi.
Tak perlu membandingkan dirimu dengan orang lain karena kamu unik, kamu dicintai, dan kamu berharga. Bila kamu merasa dirimu tak berharga bagi dirimu dan orang disekitarmu. Ingatlah bahwa ada satu orang yang selalu mencintaimu, iya Dia adalah orang yang menciptakanmu dan mengizinkanmu berada saat ini di tempat dimana kini kamu berada.
So,
kamu bebas untuk segala keterbatasanmu yang unik. Kamu bebas menyangkal perasaan-perasaanmu untuk tidak insecure atas diri orang lain. Kamu bebas mengorbankan apapun yang kamu miliki selama tidak melukai dirimu dan orang lain..
dan
pada akhirnya kita belajar menerima diri kita apa-adanya, sebagaimana Ia menciptakan kita. Berani mengatakan dengan penuh kebebasan bahwa apa yang ada saat ini: keluarga, prosesku, apa yang ku miliki, dan segala hal di hidupku sudah cukup dan lebih dari sekedar cukup. Dengan cara itulah, kita belajar menjalani hidup dengan sepenuh hati dengan makna hidup yang terus menggema di hati kita bahwa 'cukup untuk segala hal yang ku miliki, terimakasih semesta'..
Untuk Perempuan yang Terlukaā¦
Untukmu para perempuan yang sedang bersedih lara, berjuang untuk dirinya sendiri, berjuang untuk pulih dari keterpurukan. Untuk bangkit meskipun sakit meski hanya untuk memapah diri. Luka selalu membenamkan asa. Asa dari tiap luka.. kita sedang berjuang untuk āhidupā. utuh dengan perasaan kita. utuh dengan diri kita, utuh tanpa luka.
Luka itu sedemikian hebat, hingga membuatmu ingin berlari,pergi jauh dari sekian juta dan miliran orang di bumi ini.
Kamu ingin menghilang karena tak sanggup menghadapinya. Ingin mati saja rasanya. Membunuh fisik dan jiwa.. Ketidaksanggupan ini menghentikan langkahku. Berhenti maju dan mati dalam seketika.
Jiwa butuh pulih, untuk memperbaiki relasi luka. Tubuh perlu bernafas dengan tenang dan damai.
Melambung-melambung meski kamu terluka..
Terluka teruskan dengan mendobrak-mendobraknya dan kemudian kamu akan semakin terluka.
Hidup ini aneh kadang tidak adil, suatu kali hidup melambungkanmu setinggi langit. Kali lainnya hidup menghempaskannya begitu kerasnya ke bumi.
Semua ini terus berjalan meski dengan luka.
Melambung-melambung dalam keterlukaan, ketidaksanggupan, dan dalam kematian.
Semoga hidup memberi anugerah untukmu bertahan dari sakit,pengkhianatan, keterlukaan, dan duka tak terperikan..
Melambung-melambung jauh ke langit dan dapatkan bahagiamu,
Disana ada hati yang pulih dan tak ada luka (lagi).
Pendikkat 2017
Perpustakaan Unika Atmajaya
Sosialisasi Pancasila
Panti Asuhan Desa Putera,
Depok,
September 2017
Seminar Nasional āKaum Muda Menggereja di kota megapolitan, masihkah?ā
Jakarta, 4 November 2017
Universitas Katolik Indonesia Atmajaya
Bakti Sosial BEM FPB
Manggarai, 16 November 2017
komunitas Jendela Jakarta
Menjadi Martir Masa Kini
Oleh Erni Dameria Simare-mare
Dalam bahasa yunani, secara harafiah : āMartyrā yaitu āmartusā atau āmarturā (μαĻĻĻ Ļ-μαĻĻĻ Ļ) berarti āsaksiā dan kata-benda marturion (μαĻĻĻ Ļιον) berarti ābuktiā atau āsaksiā sehingga kata-kerja marturomai (μαĻĻĻ Ļομαι) dapat berarti āmemanggil menjadi saksiā atau āmemberi kesaksianā. Dalam kamus bahasa Indonesia, kata martir Ā adalah orang yang mati dalam memperjuangkan kebenaran agama. Dalam agama islam dikenal juga dengan mati syahid, yakni orang rela mempersembahkan hidup mereka kepada Tuhan dan menjadi teladan inspirasi bagi generasi berikutnya. Sementara dalam sejarah kristianitas pada masa kekaisaran roma, kristianitas dianugerahi banyak saksi yang memperlihatkan keteguhan imannya. Seseorang yang menjadi martir bukan pertama-tama mengalami tindakan kekerasan tetapi tampil sebagai saksi kesetiaan kepada Tuhan. Maka, menjadi jelas bahwa martir dan mati syahid mengajarkan kepada kita tentang semangat rela berkorban, yang mengajak kita untuk mementingkan Tuhan dan sesama dari pada diri sendiri. dengan cara itulah manusia menghayati hidup sebagai saksi Tuhan. Dari sudut pandang ini, pelaku bom bunuh diri tidak dapat dikatakan mati syahid atau martir, karena mati syahid tidak menyuarakan kematian, dan martir pertama-tama bukan berarti kematian. Orang yang mati syahid ataupun martir melakukan suatu tindakan demi kemuliaan Allah bukan untuk kemuliaan diri. Sebagai contoh mati syahid adalah orang yang ikut berperang demi membela agama. Sementara contoh yang dilakukan martir adalah dengan mengalami tindakan kekerasan karena memperlihatkan diri atas keyakinannya. Hal yang mendasari seseorang untuk rela berkorban adalah iman yang teguh pada keyakinan agamanya. Ada berbagai bentuk pengorbanan yang dilakukan, yaitu dengan mengorbankan pikiran, perasaan, kehendak, tenaga, waktu, meninggalkan keluarga. Seluruh pengorbanan ini dilakukan demi kepentingan umum. Sebagai contoh tokoh masa kini yang mengorbankan dirinya untuk menjadi martir adalah Basuki Tjahaja Purnama, sebagai tokoh masyarakat kini, beliau menunjukan ekspresi iman, dengan menerima hukuman dipenjara atas kasus penistiaan agama, yang sebenarnya beliau tidak bermaksud demikian. Sikap penerimaan inilah yang menjadi wajah iman dari basuki Tahaja Purnama. Basuki Tjahaja Purnama mengorbankan dirinya dengan meninggalkan keluarganya dan tinggal dipenjara, tentu dengan perasaan yang kecewa tetapi ia percaya pada keyakinannya, ia mengorbankan waktunya sebagai pejabat pemerintah, dan ia juga mengorbankan diri dengan di cap sebagai penista agama karena menerima keputusan hakim. Buah dari apa yang Basuki Tjahaja Purnama lakukan adalah umat beriman meneladan apa yang telah ia lakukan, dan pertama-tama iman basuki tjahaja purnama pun semakin teguh dalam berelasi dengan Tuhannya. Makna kemartiran masa kini yang dikutip dari radio vatikan : Paus Fransiskus mengatakan bahwa martir di masa ini, adalah mereka yang menjadi orang yang konsisten pada apa yang dikatakan, apa yang diperbuat, dan apa yang diterima sebagai saksi Injil, bahkan ketika ia harus mempertaruhkan nyawanya. Orang Kristen yang menjalankan hidupnya secara serius dengan tidak melakukan yang jahat pada orang lain, berbohong, maupun hidup secara setengah-setengah dan bahwa orang Kristen dipanggil untuk mencintai, meskipun tak selalu dicintai. Setiap orang Kristen itu bukan orang kompromis karena mereka dipanggil untuk mewartakan Injil di dunia yang penuh dosa dan ketidakadilan. Mereka harus rendah hati dan bersemangat miskin, punya semangat lepas bebas dari harta kekayaan dan tak jatuh pada godaan untuk balas dendam dan melakukan kekerasan. Orang Kristen harus selalu ditemukan ādi sisi lainā dunia. Orang yang dipilih oleh Tuhan: bukan penganiaya, tetapi dianiaya; bukan arogan tapi rendah hati, bukan pembohong, tapi tunduk pada kebenaran, bukan penipu, melainkan jujurā (http://en.radiovaticana.va/news/2017/04/21pope_francis_to_pay_tribute_to_modern_day_martyrs/1307162).
Kemartiran masa kini yang dimaksudkan oleh Bapa Paus jelas telah dicerminkan oleh Basuki Tjahaja Purnama. Tetapi perlu disadari bahwasanya tidak semua orang mau menjadi martir, terlebih di masa kini. Ada banyak hal yang mendasari hal ini, salah satunya dengan kamajuan teknologi. manusia semakin sibuk dengan perkembangan teknologi dibandingkan dengan perkembangan iman, yang di dalamnya justru umat beriman diajak menjadi martir masa kini. Teknologi sangat mempengaruhi pembentukan karakter individu seperti egoisme, individualisme, dan lain sebagainya. Misalnya dengan adanya gadget, seseorang semakin sering menghabiskan waktu dengan gedgetnya, akhirnya tidak menyadari keberadaannya dalam suatu komunitas. Maka, menjadi jelaslah bahwa memperjuangkan iman atau menjadi martir di masa kini sangat sulit, seiring dengan perkembangan zaman yang dapat mengubah pola pikir manusia jika manusia tidak bijaksana dalam menggunakan teknologi. Dalam Tradisi Gereja Katolik, martir disebut sebagai orang kudus, biasa disebut santo atau santa. Mereka memperoleh gelar ini dari hubungan mereka dengan Kristus dan mereka telah menerima kepenuhan misteri paska, yakni wafat, kebangkitan, dan kenaikan-Nya ke surga. Dengan kata lain iman mereka teguh di dalam Kristus. Dalam katekismus Gereja katolik dikatakan āGereja menggelari orang-orang yang beriman tertentu, artinya mengumumkan dengan resmi bahwa mereka telah menjalankan kebajikan-kebajikan dengan ksatria dan telah hidup dengan setia kepada rahmat Allah, Gereja mengakui kekuasaan Roh kekudusan yang ada di dalamnya. Ia memperkuat harapan umat beriman, Karena Ia memberi orang kudus kepada mereka sebagai contoh dan perantaraā Ā (KGK. Art.828) Mereka mau melakukan pengorbanan sampai mati demi iman sesama, bukan bagi kemuliaan diri mereka tetapi karena mereka bersekutu di dalam cinta Kristus. seperti yang tertulis dalam surat rasul paulus kepada jemaat di roma : āTidak ada seorang pun diantara kita yang hidup untuk dirinya sendiri dan tidak ada seorang pun yang mati untuk dirinya sendiri.ā (Rm 14:7.) Martir melakukan pengorbanan bukan untuk diri-Nya sendiri tetapi untuk orang lain ācinta tidak mencari keuntungan diri sendiri.ā (1 Kor 13:5.) Gereja mengenangkan para kudus, untuk mengingat jasa yang telah dilakukan mereka, baik dalam hal mengamalkan cintakasih maupun keteladanan mereka. Seperti tertulis dalam lumen gentium : āKita merayakan kenangan para menghuni surga bukan hanya karena teladan mereka. Melainkan lebih supaya persatuan segenap Gereja dalam Roh diteguhkan dengan mengamalkan cintakasih persaudaraan. Sebab seperti persekutuan kristiani antara para musafir mengantarkan kita untuk mendekati Kristus, begitu pula keikutsertaan kita dengan para kudus menghubungkan kita dengan Kristus, yang bagaikan sumber dan Kepala mengalirkan segala rahmat dan kehidupan umat Allah sendiriā (LG. 50) Mereka yang telah wafat untuk semua orang karena iman mereka dengan berbagai upaya, menghendaki yang baik bagi pertumbuhan Gereja selanjutnya, supaya setiap jiwa meneladani cara hidup mereka. Seperti yang tertulis dalam katekismus Gereja Katolik : āUngkapan ini berarti juga persekutuan antara orang-orang kudus (sancti) dalam Kristus, yang telah wafat untuk semua orang sehingga apa yang setiap orang lakukan atau derita dalam dan untuk Kristus, berguna bagi setiap orangā (KGK. Art.961). Martir pertama dalam sejarah Gereja Katolik adalah Kristus Yesus, tetapi Kristus Yesus bukanlah orang kudus, Dia menjadi central dari iman para orang kudus setelah pengorbanan yang telah Ia lakukan. Sebagai Tuhan dan Allah, Ia mati demi membela iman dengan cara mengorbankan diri-Nya dengan wafat di kayu salib untuk keselamatan iman umat israel yang mesti diperbaharui. Tentu hal yang mendasari kemartiran Yesus adalah relasi yang intim dengan Allah Bapa. Kristus Yesus memberikan diri bagaimana membela iman dengan sikap iman yang radikal. Sepanjang jalan salib-Nya, Ia mengorbankan seluruh pikiran dan perasaan-Nya pada jalan salib, yang pasti berkambuk. Selain perasaan Ia juga mengorbankan tenaga untuk memanggul salib ke bukit golgota, belum lagi perlakuan yang dilakukan tentara romawi terhadap Yesus, suatu perlakuan yang sungguh sangat tidak manusiawi : ditendang, dipukuli, dicambuki, diludahi, dicemooh, dihina, diasingkan dan berbagai perlakuan yang tak pantas. Dan sampai pada puncaknya Ia disalibkan dan wafat di kayu salib, bahkan ketika Ia sudah wafatpun lambung-Nya ditikam. Buah dari pada sikap rela berkorban Kristus Yesus adalah keselamatan bagi umat beriman dan relasi yang semakin mendalam dengan Allah Bapa, dan menjadi teladan umat beriman.
Martir di zaman Kristus Yesus dan martir masa kini tentu tidak sama, tetapi menjadi martir merupakan tugas semua umat beriman, maka peserta diharapkan mampu memahami bagaimana menjadi martir di masa kini seperti yang serukan oleh Bapa Paus, dengan semangat rela berkorban dalam kerangka kemartiran masa kini dan tentu dengan meneladan iman para martir dalam membela iman.
Profil Pendidik Iman dalam diriku Erni Dameria Simare-mare
Ā Ā Ā Ā Ā Ā Sumber semangat dan spiritualitas seorang katekis, yang pertama dan utama ialah Allah Tritunggal, untuk melakukan suatu panggilan sebagai persembahan hidup. Ketiga pribadi ini yang menopang hidup panggilan seorang katekis. Dia yang menjadi Guru utama dan katekis sebagai murid yang senantiasa mendengarkan Dia dan belajar dari-Nya dengan mendekatkan diri kepada-Nya dan membiarkan Dia memandang pribadi yang dipanggil-Nya, dan senantiasa bertopang pada-Nya seperti pohon anggur dan ranting-rantingnya. Yang kedua kehadiran Bunda Maria sebagai Bunda yang memberikan teladan. Yakni teladan kelemahlembutan, kesabaran, kerendahan hati, ketaatan, dan lain sebagainya. Keteladanan inilah yang senantiasa diusahakan oleh seorang calon katekis belajar untuk melakukan apa yang Bunda Maria lakukan dan melakukan kehendak Bapa salah satunya adalah menjalankan tugas sebagai katekis yang merupakan bentuk ketaatan kepada Bapa. Yang ketiga, kehadiran keluarga dan orang lain merupakan semangat untuk senantiasa melakukan pelayanan kepada sesama dengan memberikan dukungan dan semangat.
Ā Ā Ā Ā Ā Ā Paus Fransiskus mengatakan bahwa gereja membutuhkan katekis yang baik, maka katekis yang baik adalah katekis yang pertama-tama membentuk dirinya dan memulai segala sesuatu yang baru dalam dirinya, dengan membentuk sikap, perkataan, dan perbuatan yang baik yang akhirnya menjadi suatu kesaksian hidup bagi sesama. Maka ada keinginan untuk mengubah sikap yang kurang baik menjadi baik merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas diri sebagai katekis.
Ā Ā Ā Ā Ā Ā Keterampilan sebagai katekis, adalah berkembangnya kemampuan untuk berbicara dengan lantang dan tanpa takut tentang kabar gembira, melalui berbagai proses kemampuan yang kurang akan disempurnakan oleh Allah. Dalam hal ini, katekis yang masih belum mampu berbicara di depan umum, pada akhirnya menjadi berani berbicara dengan terampil tentang kerajaan Allah melalui proses, seperti yang katekis yang saya wawancarai.
Ā Ā Ā Ā Ā Ā Paus Fransiskus menegaskan bahwa pertama-tama katekis bukanlah pekerjaan dan katekese bukanlah program. Tetapi katekis adalah panggilan. Menjadi katekis adalah suatu tugas mulia, yang merupakan cinta Kristus kepada saya, sebagai seorang yang telah terpilih dan terpanggil menjadi calon katekis. Saya menyadari kelemahan saya, saya adalah orang berdosa. Perkataan dan cara hidup saya belumlah mencerminkan Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Saya menyadari bahwa saya belumlah pantas menjadi pewarta kabar baik bagi orang lain, bahkan kehidupan rohani saya pun Kepada Allah Tritunggal belum konsisten untuk menghadirkan diri dihadapan-Nya. saya tahu benar dan menyadari saya belumlah sampai pada iman yang bertumbuh dan radikal. Tetapi saya mau melakukan tugas itu, yakni menghantar setiap pribadi untuk mengalami Allah dan mengintegrasikan imannya dalam komunitas yang dimulai dari komunitas basis.
Ā Ā Ā Ā Ā Ā Dalam Evangelli gaudium dikatakan bahwa, ada banyak godaan-godaan di zaman kini, terlebih sebagai katekis saya menyadari, bahwa kecenderungan untuk mengikuti keegoisan diri sangatlah besar untuk melindungi waktu senggang (pribadi) adalah semacam tantangan bagaimana saya sebagai calon katekis harus mampu untuk melawan diri saya dalam situasi yang egois tersebut, tetapi mengarahkan diri untuk mengatasi keegoisan diri dan mengarahkan diri pada pemberian diri yang total.
Ā Ā Ā Ā Ā Ā Banyak sekali pekerja pastoral yang kini tidak menyadari penuh tentang panggilan sebagai katekis, yang menganggap karya adalah suatu tambahan bukan lagi identitas atau milik mereka sebagai persembahan hidup kepada Bapa, dan mereka melakukan doa, tetapi hanya ditekankan pada individualisme saja. Sementara kepada diri saya, sebagai calon ketekis yang pertama-tama untuk mewartakan kabar baik, adalah Allah Bapa sebagai pusat panggilan, maka doa menjadi sarana yang mutlak yang menghasilkan daya dampak bagi pelayanan kepada sesama bukan semata-mata hanya untuk diri sendiri.
Ā Ā Ā Ā Ā Ā Sebagai calon katekis saya harus memulai dari dalam diri saya, membentuk suatu relasi yang intim dengan Dia. Belajar dari Yesus, mengenai segala maksud dan tindakan-Nya. Pergi dari zona nyaman saya, pergi dari kesenangan pribadi saya, pergi karena cinta yang telah diberikan Kritus kepada saya, dan saya harus memberikan cinta itu juga kepada Gereja. Mengambil waktu khusus berdoa yang menghantar saya untuk tinggal di dalam cinta-Nya, membiarkan Dia menatap dan membentuk saya.
Ā Ā Ā Ā Ā Ā Menjadi seorang katekis bukanlah suatu pencapaian akan gelar sarjana, tetapi apa yang nantinya dapat saya perbuat bagi Gereja dan apakah saya mampu menghantar mereka kepada pengalaman Allah yang menciptakan segala sesuatu.
Ā Ā Ā Ā Ā Ā Sebagai calon katekis, terkadang saya merasa takut. Takut bila saya tak dapat berbuat apa-apa bagi Gereja saya takut gagal dan ditolak. Tetapi Bapa selalu mengingatkan āPergilah karena Aku menyertaimuā. Kata-kata cinta inilah yang membuat saya mengerti dan memahami bahwa Bapa senantiasa ada bersama saya dengan berkat-Nya.
Ā Ā Ā Ā Ā Ā Pada akhirnya,
Saya berharap saya dapat mengerti bahwa segala sesuatu adalah rencana-Nya yang indah termasuk keterpilihan saya sebagai katekis, dan harapan terbesar saya adalah saya dapat menjadi katekis yang baik, dan memulai sesuatu yang baru nantinya dengan cinta Kristus bagi Gereja.
The Holy See
ADDRESS OF HOLY FATHER FRANCIS TO PARTICIPANTS IN THE PILGRIMAGE OF CATECHISTS ON THE OCCASION OF THE YEAR OF FAITH AND OF THE INTERNATIONAL CONGRESS ON CATECHESIS Paul VI Audience Hall Friday, 27 September 2013 Video
Dear Catechists, Good evening! I am pleased that this meeting was organized for the Year of Faith. Catechesis is a pillar of faith education and we need good catechists! Thank you for your service to the Church and in the Church. Even if at times it may be difficult and require a great deal of work, and although the results are not always what we hope for, teaching the faith is something beautiful! It is perhaps the best legacy we can pass on: the faith! To educate in the faith, to make it grow. To help children, young people and adults to know and love the Lord more and more is one of the most exciting aspects of education. It builds up the Church! To ābeā catechists! Not to āworkā as catechists: this will not do. I work as a catechist because I like to teach⦠But unless you āareā a catechist, it is no good! You will not be successful ⦠you will not bear fruit! Catechesis is a vocation: ābeing a catechistā, this is the vocation, not working as a catechist. So keep this in mind: I didnāt say to do the āworkā of catechists, but to ābeā catechists, because this is something that embraces our whole life. It means leading people to encounter Christ by our words and our lives, by giving witness. Remember what Benedict XVI said: āThe Church does not grow by proselytizing; she grows by attracting othersā. And what attracts is our witness. Being a catechist means witnessing to the faith, being consistent in our personal life. This is not easy! We help, we lead others to Jesus with our words and our lives, with our witness. I like to recall what Saint Francis of Assisi used to say to his friars: āPreach the Gospel at all times; if necessary, use wordsā. Words come⦠but witness comes first: people should see the Gospel, read the Gospel, in our lives. To ābeā a catechist requires love, an ever stronger love for Christ, a love for his holy people. And this love canāt be bought in stores, even in Rome. This love comes from Christ! It is Christās gift! And if it comes from Christ, it also starts with Christ, and we too need to start anew with Christ, from the love he gives us. What does this starting anew from Christ mean for a catechist? For you, but also for me, sinceI am a catechist too? What does it mean? I am going to speak about three things: one, two, three, the way the old-fashioned Jesuits did⦠one, two, three! 1. First of all, to start anew from Christ means being close to him, being close to Jesus Jesus stresses the importance of this with the disciples at the Last Supper, as he prepared to give us his own greatest gift of love, his sacrifice on the Cross. Jesus uses the image of the vine and the branches and says: Abide in my love, remain attached to me, as the branch is attached to the vine. If we are joined to him, then we are able to bear fruit. This is what it means to be close to Christ. Abide in Jesus! This means remaining attached to him, in him, with him, talking to him. Abide in Jesus! The first thing for a disciple is to be with the Master, to listen to him and to learn from him. This is always true, and it is true at every moment of our lives. I remember, in the diocese, the other diocese I had first, how I would often see catechists finish their training courses and say: āI have the title of catechist!ā This means nothing, you have nothing, you took a little journey. What good will it do you? But one thing is true. Being a catechist is not a title, it is an attitude: abiding with him, and it lasts for a lifetime! It means abiding in the Lordās presence and letting ourselves be led by him. I ask you: How do you abide in the presence of the Lord? When you visit the Lord, when you look at the tabernacle, what do you do? Without speaking⦠āBut I speak, I talk, I think, I meditate, I listenā¦ā Very good! But do you let yourself be looked at by the Lord? Letting ourselves be gazed upon by the Lord. He looks at us and this is itself a way of praying. Do you yourselves be gazed upon by the Lord? But how do you do this? You look at the tabernacle and you let yourselves be looked at⦠it is simple! āIt is a bit boring, I fall asleepā. Fall asleep then, sleep! He is still looking at you. But know for sure that he is looking at you! This is much more important than having the title of catechist. It is part of ābeingā a catechist. This warms the heart, igniting the fire of friendship with the Lord, making you feel that he truly sees you, that he is close to you and loves you. In one of my visits here in Rome, at a Mass, a fairly young man came up to me and said: āFather, it is nice to meet you, but I donāt believe in anything! I donāt have the gift of faith!ā He understood that faith is a gift. āI donāt have the gift of faith! What do you have to say to me?ā āDonāt be discouraged. God loves you. Let yourself be gazed upon by him! Nothing elseā. And this is the same thing I would say to you: Let yourselves be gazed at by the Lord! I understand that for you it is not so easy; especially for those who are married and have children, it is difficult to find a long period of quiet time. Yet, thanks be to God, it is not necessary for everyone to do this in the same way. In the Church, there are a variety of vocations and a variety of spiritualities. What is importantĀ is to find the way best suited for you to be with the Lord, and this everyone can do; it is possible forĀ every state of life. Now each one of you could ask: how am I experiencing ābeingā with Jesus?Ā This is a question I leave you: āHow do I experience this remaining with Jesus, abiding in Jesus? Do I find time to remain in his presence, in silence, to be looked upon by him? Do I let his fire warm my heart? If the warmth of God, of his love, of his tenderness is not in our own hearts, then how can we, who are poor sinners, warm the heart of others? Think about it!
2. The second ā two! ā element is this: starting anew with Christ means imitating him by leaving ourselves behind and going out to encounter others. This is a beautiful experience, and yet a paradox. Why? Because when we put Christ at the centre of our life, we ourselves donāt become the centre! The more that you unite yourself to Christ and he becomes the centre of your life, the more he leads you out of yourself, leads you from making yourself the centre and opens you to others. This is the true dynamism of love, this is the movement of God himself! God is the centre, but he is always self-gift, relationship, love that gives itself away . . . and this is what we will become if we remain united to Christ. He will draw us into this dynamism of love. Where there is true life in Christ, there follows an openness to others, and so a going out from oneself to encounter others in the name of Christ. And this is the job of the catechist: constantly to go forth to others out of love, to bear witness to Jesus and to talk about Jesus, to proclaim Jesus. This is important because the Lord does it: it is the Lord himself who impels us to go forth. The heart of a catechist always beats with this systolic and diastolic movement: union with Christ ā encounter with others. Both of these: I am one with Jesus and I go forth to encounter others. If one of these movements is missing, the heart no longer beats, it can no longer live. The heart of the catechist receives the gift of the kerygma, and in turn offers it to others as a gift. What a little word: āgiftā! The catechist is conscious of having received a gift, the gift of faith, and he or she then gives that gift in turn to others. This is something beautiful. We donāt keep a percentage for ourselves! Whatever we receive, we give! This is not commerce! It is not a business! It is pure gift: a giftreceived and a gift given. And the catechist is right there, at the centre of this exchange of gifts. That is the nature itself of the kerygma: it is a gift that generates mission, that compels us to go beyond ourselves. Saint Paul says that āthe love of Christ compels usā, but this ācompels usā can also be translated as āpossesses usā. And so it is: love attracts us and sends us; it draws us in and gives us to others. This tension marks the beating of the heart of the Christian, especially the heart of the catechist. Let us all ask ourselves: Is this what causes my heart to beat as a catechist, union with Christ and encounter with others? With this movement of āsystole and diastoleā? Are we being fed by our relationship with the Lord, so that we can bring him to others, and not to keep it for ourselves? Iāll tell you, I donāt understand how a catechist can remain stationary, without this movement. I donāt understand!
3. The third element ā three! ā is along these lines: starting anew with Christ means not being afraid to go with him to the outskirts. Here I think of the story of Jonah, a really interesting figure, especially for these times of great change and uncertainty. Jonah is a devout man, with a tranquil and ordered life, which causes him to have a clear-cut way of seeing things and to judge everything and everyone accordingly. He has it all figured out: this is the truth! He is rigid! So, when the Lord called him and told him to go and preach to Nineveh, the great pagan city, Jonah doesnāt like it. āGo there? But I have the whole truth here!ā He doesnāt like it. Nineveh is outside his comfort zone; it is on the outskirts of his world. So he escapes, he sets off for Spain; he runs away and boards a ship that will take him there. Go and re-read the Book of Jonah! It is short, but it is a very instructive parable, especially for those of us in the Church. What does all this teach us? It teaches us not to be afraid to pass beyond our comfort zone and to follow God, because God is always pushing, pressing forward. But do you know something? God is not afraid! Do you realize this? He isnāt afraid. He is always bigger than our little way of seeing things! God is not afraid of the outskirts. If you go to the outskirts, you will find him there. God is always faithful and creative. But, really, is there such a thing as a catechist who is not creative? Creativity is what sustains us as catechists. God is creative, he is not closed, and so he is never inflexible. God is not rigid! He welcomes us; he meets us; he understands us. To be faithful, to be creative; we need to be able to change. To change! And why must I change? So that I can adapt to the situations in which I must proclaim the Gospel. To stay close to God, we need to know how to set out, we must not be afraid to set out. If a catechist gives in to fear, then he or she is a coward. If a catechist has an easy time of it, he or she will end up being a statue in a museum. We have a lot of these! Please, no more statues in the museum! If a catechist is rigid, he or she will dry up and wither. I ask you: does any of you want to be a coward, a statue in a museum, dried up and withered? Is that what you want to be? [the catechists reply: No!] No? Are you sure? Good! I am now going to say something I have already said many times before, but it comes from the heart. Whenever we Christians are enclosed in our groups, our movements, our parishes, in our little worlds, we remain closed, and the same thing happens to us that happens to anything closed: when a room is closed, it begins to get dank. If a person is closed up in that room, he or she becomes ill! Whenever Christians are enclosed in their groups, parishes, movements, they take ill. If a Christian goes to the streets, or to the outskirts, he or she may risk the same thing that can happen to anyone out there: an accident. How often have we seen accidents on the road! But I am telling you: I would prefer a thousand times over a bruised Church than an ill Church! A Church, a catechist, with the courage to risk going out, and not a catechist who is studious, knows everything, but is always closed: such a person is not well. And sometimes he is not well in the headā¦.But careful! Jesus does not say: Go off and do things on your own. No! That is not what he is saying. Jesus says: Go, for I am with you! This is what is so beautiful for us; it is what guides us. If we go out to bring his Gospel with love, with a true apostolic spirit, with parrhesia, he walks with us, he goes ahead of us, he gets there first. As we say in Spanish, primerea. By now you know what I mean by this. It is the same thing that the Bible tells us. In the Bible, the Lord says: I am like the flower of the almond. Why? Because that is the first flower to blossom in the spring. He is always the first! This is fundamental for us: God is always ahead of us! When we think about going far away, to an extreme outskirt, we may be a bit afraid, but in fact God is already there. Jesus is waiting for us in the hearts of our brothers and sisters, in their wounded bodies, in their hardships, in their lack of faith. But can I tell you about one of the āoutskirtsā which breaks my heart? I saw it in my first diocese. It is children who donāt even know how to make the sign of the cross. In Buenos Aires there are many children who canāt make the sign of the cross. This is one of the āoutskirtsā! And Jesus is there, waiting for you to help that child to make the sign of the cross. Heās always there first. Dear catechists, I have made my three points. Always start anew from Christ! I thank you for everything that you do, but above all, because you are part of the Church, the pilgrim People of God, and you accompany Godās People on that pilgrimage. Let us remain with Christ ā abiding in Christ ā and let us always try to be one with him. Let us follow him, let us imitate him in his movement of love, in his going forth to meet humanity. Let us go forth and open doors. Let us have the audacity to mark out new paths for proclaiming the Gospel. May the Lord bless you and the Blessed Mother be always at your side. Thank you!
Mary is our Mother, Mary always leads us to Jesus! Let us say a prayers for one another to Our Lady. [Hail Mary] [Blessing] Thank you very much! Ā© Copyright - Libreria Editrice Vaticana
Krispatih - Lagu rindu
Sebuah Keputusan
Menulis benang-benang diatas asa..Ā
melangkah perlahan namun pasti, namun tetap ingin berlari dan berlari sampai ujung kehidupan ku dapatkan.Ā
Kemana sebenarnya kaki harus melangkah?Ā
Kemana sebenarnya jiwa yang telah mencicipi surga-Nya akan melangkah sementara sisi manusiawi merasa tidak sanggup melangkah.Ā
kemana rasa, dimana rasa yang merasakan segala situasi bagi orang lain dan bagi diri sendiri? seperti rasa yang telah mati.Ā
Rasa untuk mencintai.Ā
rasa untuk memiliki.Ā
rasa untuk menggapai kebahagiaan.Ā
sebenarnya dan seharusnya demikian.Ā
mengenal-Nya tentu berbahagia, lalu mengapa aku tidak?Ā
padahal berapa banyak jiwa yang menegaskan sebuah relasi yang sangat dekat. tapi rasanya jiwa ini menuntut untuk mengatakan bahwasanya semuanya itu bohong.Ā
bahwa tak pernah ada pengalaman yang pernah dialami.Ā
Katanya Dia mencintaiku?Ā
katanya Dia menginginkan yang terbaik bagi?Ā
lalu,Ā
mengapa aku seperti ini? gelisah diantara situasi dunia kini. aku tahu, aku sadar, aku menyadari penuh bahwa utuh dan sepenuhnya bahagia hanya bersama Dia dan di dalam DIa.Ā
rasanya, kini aku menyadari tak ada hal yang ingin ku lakukan dalam hidup ini. bukan karena aku sebenarnya dan seharusnya (MATI) tapi karena kehendak-Nya aku ada disini dan tetap melangkah, walau sebenarnya aku tak pernah sanggup lagi.Ā
Sebuah keputusan yang harusnya menjadi milikku tidak pernah ku dapatkan. dan mengapa aku tak pernah mampu memutuskan bahagia untuk diriku mengapa hanya untuk orang lain.Ā
kenapa aku tak pernah mampu mengatakan tidak?Ā
sebuah keputusan itu bukan datang dari dalam diriku, kebanyakan dari Dia yang memelihara ku sampai kini.Ā
seluruh keputusan ku ada ditangan-Nya dan aku tak pernah mampu mengambil keputusan menurut kehendakku sendiri.Ā
Ya Tuhan aku ingin semuanya ini berakhir. apa yang sebenarnya membuat aku tak sanggup? walaupun sebenarnya Engkau menyanggupi aku.Ā
katakan yang sebenarnya? bahwa aku ingin semuanya berakhir. tapi aku tetap harus melangkah berdasarkan keputusannya.Ā
sebuah keputusan yang selalu menjadi kontradiksi hati, biar Dia yang memelihara aku yang memutusakan segala sesuatu nya.Ā
walaupun seluruh keputusan itu dijalani dengan langkah ditas benang-benang asa.Ā
27 desember 2015 Gereja Hati Maria Tak bernoda Cicurug Mama :) (di Jl.raya Sukabumi Km 18 Caringin 16730 Bogor)
:) (di Jl.raya Sukabumi Km 18 Caringin 16730 Bogor)
Cianjur _ Jhon World (di Jl.raya Sukabumi Km 18 Caringin 16730 Bogor)
Ingat ngga trust US? Curhatan kita ini... (di Jl.raya Sukabumi Km 18 Caringin 16730 Bogor)